Walaupun semua berawal tanpa didasari oleh rasa Cinta dan hanya sebuah perwujudan rasa berbaktinya kepada sang ayah, Cinta terpaksa harus menerima perjodohan dari orang tuanya.
Namun keterkaitan ia dengan lelaki itu membuat sedikit demi sedikit terkuaknya masa lalu yang kelam dan juga sebuah kenyataan yang mulai terbongkar.
Apakah Cinta mampu menghadapi itu semua dan menerimanya?
Ataukah ia memilih untuk mundur dan menyerah begitu saja akan takdir yang mempermainkannya.
Ikuti terus "Takdir Cinta," novel romance dengan cerita yang akan menguras emosi kalian!
Np : Mungkin, "Takdir Cinta" akan terus berlanjut akan tetapi kemungkinan besar slow update dikarenakan Author pindah lapak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bungaspt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Firasat Buruk
Mereka semua sedang menunggu Iqbal di waiting room, sejak sampai di bandara kedua orang tua Iqbal dan juga adiknya, Aldi tak henti-hentinya mencoba menghubungi Iqbal yang sampai sekarang pun tak ada kabar.
Untuk ketiga kalinya Aldi berdecak saat suara operator wanita yang menjawab penggilan teleponnya dan bukan kakaknya, Iqbal.
"Ck, Kak Iqbal tak bisa dihubungi Ma"—Aldi melepaskan ponselnya dari telinga—"bahkan whatsappnya saja ceklis satu, tidak aktif."
Keluarga Iqbal sudah dirundung kekhawatiran, ibu dengan dua orang anak itu menampakkan gurat kecemasan dari wajahnya, khawatir akan keadaan putra sulungnya.
"Kalian masuk saja ke pesawat lebih dulu, aku akan menyusul,"—Aldi memeluk ibu dan juga ayahnya—"aku yang akan menunggu Kak Iqbal di sini, jika kami terlambat kami akan naik pesawat berikutnya."
Mereka semua terkecuali Aldi berjalan keluar ke pintu tempat landasan pesawat, namun di antara mereka ada yang memberhentikan langkahnya tiba-tiba lalu berbalik arah sembari berkata, "Aku juga akan menunggu Iqbal."
Tak ada pilihan lain bagi mereka selain membiarkan gadis cantik itu tetap tinggal, sang tante hanya tersenyum dan mengecup keningnya.
"Jangan nakal, cepatlah bawa Iqbal pulang."
Mereka terus berjalan sampai hilang dari pandangan gadis itu.
"Seharusnya kamu tidak perlu ikut menunggu Cinta, biar aku saja."
Gadis yang bersikeras untuk tetap tinggal dan menunggu Iqbal ternyata ialah Cinta, tunangannya.
"Tidak,"—Cinta kembali duduk di salah satu bangku di waiting room itu—"aku juga ingin menunggu."
Aldi pasrah, ia tak akan bisa membujuk gadis keras kepala di depannya ini.
"Baiklah, "jawab Aldi menyerah.
Mata Cinta menatap ke arah luar, menerobos kaca besar yang menampakkan landasan pacu pesawat-pesawat lainnya yang akan take-off atau landing. Cinta menghela nafas berat mendadak merasa gugup dan resah secara bersamaan.
Keduanya berjalan keluar dari waiting room, mereka harus kembali membeli tiket dan check-in untuk kedua kalinya.
Pesawat yang seharusnya mereka tumpangi sudah lepas landas sejak beberapa menit yang lalu, namun Iqbal tak juga menampakkan dirinya, membuat kedua orang yang sedang menunggunya di ruang tunggu dekat konter check-in itu gelisah di tempat mereka duduk.
"Tenanglah, Kak Iqbal akan baik-baik saja dan tak akan ada hal buruk terjadi padanya," ucap Aldi tiba-tiba melirik ke arah Cinta.
Aldi sedikit tau gadis di sampingnya ini yang tidak lain adalah sahabatnya sendiri, Cinta sedang merasakan perasaan khawatir terhadap Kakaknya.
"Aku tau," sahut Cinta masih menatap lurus tanpa melihat lawan bicaranya.
"Aku hanya berusaha menenangkanmu," sekarang giliran Aldi yang menghela napas.
"Aku tak mengkhawatirkan lelaki menyebalkan itu,"—Cinta mengalihkan padangannya pada Aldi—"aku hanya merasa kesal ia membuat kita berdua harus menunggu lama seperti ini."
Aldi tertawa kecil, membuat kening Cinta mengkerut heran akan reaksi lelaki di sampingnya itu.
"Kenapa kamu tertawa?" Cinta mengubah posisi duduknya sedikit menyerong ke arah Aldi.
"Aku tau kamu memang mengkhawatirkannya, terlihat jelas di wajahmu. Kamu hanya belum mengakuinya."
Sekarang giliran Cinta yang tertawa kecil menanggapi ucapan Aldi yang menurutnya hanya sebuah bualan kosong.
Aldi melirik jam tangannya, waktu sudah menunjukkan jam 2 siang, tanda jam makan siang sudah terlewat.
"Apa kamu lapar Cinta?" tanya Aldi dan jawaban Cinta mengangguk.
"Aku akan membeli makan siang dulu."
Aldi sudah akan bangkit dari duduknya namun pergelangan tangannya ditahan oleh Cinta, "Aku ikut."
"Tidak,"—Aldi kembali duduk dan memegang bahu Cinta—"kamu tunggu saja di sini. Takutnya Kak Iqbal datang dan kita tak ada di sini."
Cinta mengangguk pasrah, benar kata Aldi.
"Baiklah, tapi belikan aku ayam goreng tanpa nasi tetapi dengan kentang goreng yang banyak," ujar Cinta seakan mengajukan sebuah syarat.
"Iya-iya, siap laksanakan."Aldi berdiri dan mengangkat tangannya hormat.
Cinta tertawa kecil dengan tingkah konyol Aldi yang seperti anak kecil itu, "Sudah sana, cepat aku lapar."
"Iya-iya, bos besar."
Sepeninggalnya Aldi, Cinta merasa bosan jika harus menunggu tanpa melakukan apapun, ia mulai membuka ponsel dan memainkan salah satu game online yang telah terpasang di ponsel pintar miliknya itu.
Sudah beberapa kali ia memenangkan permainan di game tersebut membuat iya tersenyum puas. Baru saja ia akan melanjutkan permainannya lagi masuk sebuah notifikasi kabar berita terkini dari google otomatis.
Berita Terkini, di Bali sedang terjadi...
Belum sempat Cinta selesai membaca notifikasi berita itu Aldi sudah duduk di sampingnya dan menyerahkan sekantong plastik berisi makanan. Otomatis Cinta lebih menomor satukan makanannya ketimbang ponselnya, sehingga ia abaikan sebuah notifikasi yang sekilas membuat ia penasaran, ia matikan layar ponsel pintarnya dan meletakkannya ke samping tubuhnya.
"Lama banget,"—Cinta membuka kantong plastik putih itu dan mengeluarkan isi di dalamnya—"makasih."
"Lagi banyak yang antre"—Aldi menggigit paha ayam di tangannya lalu meletakkannya kembali ke kotak nasi—"jadi itu membuatku harus lama menunggu."
Cinta mengangguk paham dan mulai memakan ayam goreng juga kentang goreng yang ia titip belikan pada Aldi.
Selesai makan Cinta dan Aldi mencuci tangan ke toilet yang telah tersedia di bandara.
Cinta keluar lebih dahulu dan kembali duduk di ruang tunggu. Kembali ia teringat akan notifikasi breaking new dari ponselnya, gadis itu merogoh saku kantong celananya mengambil ponsel hitam bermotif bunga lily putih dan mulai menyalakan layarnya.
Berita Terkini!
Di Bali, lebih tepatnya di kisaran arah menuju bandar udara Internasional Ngurah Rai sedang terjadi kecelakaan maut yang menewaskan seorang lelaki muda.
"Kau lihat kecelakaan tadi? Mengerikan sekali, aku kasihan dengan korbannya, lelaki itu terlihat begitu masih muda," ucap seseorang pada temannya yang berdiri tak jauh dari Cinta, membuat gadis itu mengalihkan pandangannya pada kedua lelaki itu.
"Iya, aku dengar dari pihak kepolisian tadi sepertinya korban bukan asli orang sini, mungkin dia wisatawan dari daerah lain," jawab temannya menimpali. Setelahnya keduanya berjalan menjauh.
Deg!
Mendadak Cinta terduduk lesu, kakinya mendadak terasa lemas. Pikirannya sekarang mulai kacau dan mulai menerka-nerka kemungkinan terburuknya.
Cinta dengan cepat menggeser layar ponselnya, mencoba menghubungi seseorang di seberang sana yang bahkan tak bisa dihubungi sejak tadi.
"Bodoh!"—Cinta kembali mencoba menempelkan ponselnya ke telinga, untuk kedua kalinya berusaha menghubungi seseorang—"kenapa kau tak bisa dihubungi?!" makinya dengan bergumam entah pada siapa.
"Ck, ini percuma," pasrah Cinta menundukkan wajahnya.
Tanpa bisa di tahan setitik bulir bening mulai menggenang di bawah pelupuk matanya.
"Menyebalkan"—Cinta menghapus dengan kasar liquid bening yang mulai mengalir menuruni pipinya—"kau membuatku khawatir."
To Be Continue...