Selama lima tahun, Arka Pradana hidup sebagai suami miskin yang dianggap gagal. Ia bekerja siang malam demi membayar utang keluarga istrinya, Hana. Namun semuanya hancur ketika Arka menemukan kenyataan pahit: Hana dan selingkuhannya diam-diam meracuninya selama bertahun-tahun.
Saat pernikahannya runtuh, sebuah liontin tua justru membangkitkan Warisan Hantala dalam tubuh Arka. Ilmu pengobatan, feng shui, tenaga dalam, dan kemampuan melihat rahasia manusia mengalir ke dalam dirinya.
Dari pelayan klub malam yang diremehkan, Arka berubah menjadi pria berbahaya yang ditakuti dunia bawah Jakarta. Di sisinya muncul Maya Santoso, wanita matang pemilik klub malam; Bianca Lestari, CEO cantik yang dingin dan penuh rahasia; serta wanita-wanita lain yang terseret oleh kekuatan dan pesonanya.
Dulu ia diinjak. Sekarang, siapa pun yang berani mengkhianati, menghina, atau menyentuh orang-orangnya harus siap berlutut di hadapannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Bab 20
Menjelang malam, Arka duduk di dalam mobil di depan gedung Lestari Intimates. Ia menelepon Yulia lebih dulu untuk memberi tahu bahwa ia tidak pulang makan malam.
Di ujung telepon, suara Yulia lembut. "Jangan minum terlalu banyak. Kalau capek, pulang saja. Pak Sari sudah menyiapkan makan malam untuk Ayah."
"Aku usahakan tidak lama."
"Hati-hati."
Panggilan berakhir. Arka menatap layar sebentar. Nada Yulia terdengar biasa, tetapi ia bisa menangkap sedikit rasa sepi di baliknya. Setelah pindah ke tempat baru, wanita itu mungkin baru sadar hidupnya berubah lagi terlalu cepat.
Pintu penumpang terbuka.
Liana masuk dengan aroma parfum manis dan senyum terlalu cerah. "Pacar menelepon?"
"Guru."
"Guru cantik?"
"Jangan mulai."
Mata Liana berbinar. "Berarti kamu belum punya pacar?"
"Tidak."
Liana tiba-tiba mendekat. Bibirnya hampir menyentuh telinga Arka, suaranya dibuat lembut. "Kalau begitu, aku jadi pacarmu bagaimana?"
Tangan Arka hampir salah memutar setir meski mobil belum bergerak.
"Liana, jangan bercanda."
"Aku kelihatan bercanda?"
"Justru karena kamu selalu kelihatan bercanda, aku harus curiga."
Liana tertawa dan duduk kembali, menarik sabuk pengaman melewati dadanya. "Baiklah. Untuk malam ini, kita makan hotpot dulu. Ada tempat baru di Jakarta Barat. Aku sudah pesan meja."
Arka menyalakan mobil. Ia seharusnya curiga sejak awal. Liana terlalu mudah memaksa makan malam, terlalu semangat, dan terlalu banyak tersenyum seperti orang yang menyembunyikan rencana.
Kecurigaan itu terbukti saat mereka tiba.
Di meja dekat jendela, dua pria sudah duduk menunggu. Yang satu berusia awal tiga puluhan, rapi, berwajah dingin, dan memiliki tatapan orang yang terbiasa memerintah. Yang satu lagi lebih muda, bahunya lebar, ekspresinya sudah tidak senang bahkan sebelum Arka duduk.
Liana langsung menggandeng lengan Arka.
"Kak Leon," katanya manis, "kenalkan. Ini pacarku, Arka."
Arka menatapnya.
Liana menatap balik dengan mata berbinar seolah berkata, tolong kerja sama atau aku menangis di sini.
Pria yang dipanggil Kak Leon menatap Arka dari atas sampai bawah. "Leon Putra. Kakak Liana."
"Arka Pradana."
Pria muda di samping Leon langsung mengerutkan dahi. "Pacar? Liana, kamu serius?"
Liana tersenyum semakin manis. "Sangat serius, Mario."
Mario. Dari nada suaranya, Arka langsung tahu pria ini bukan sekadar teman makan.
Leon menatap Arka. "Kerja di mana?"
"Sopir."
Wajah Leon menggelap.
Liana cepat-cepat menambahkan, "Sopir Bianca Lestari. Dan konsultan khusus Lestari Intimates. Dia juga yang membantu kami mendapatkan imperial green hari ini."
Leon tidak langsung percaya. "Konsultan bidang apa?"
"Feng shui, kesehatan, batu, kadang memukul orang kalau diperlukan," jawab Liana.
Arka menoleh. "Deskripsi kerja yang menarik."
Mario mendengus. "Jadi dukun jalanan."
Arka menatapnya. "Kamu suka Liana?"
Mario mengangkat dagu. "Aku dan Liana teman sejak kecil."
"Oh." Arka mengangguk. "Dia tidak pernah menyebutmu."
Liana langsung menutup mulut, bahunya bergetar menahan tawa.
Mario berdiri setengah badan. "Kamu..."
"Duduk," potong Leon.
Mario duduk kembali, tetapi matanya masih ingin meninju Arka.
Leon bersandar di kursi. "Arka, kalau kamu hanya orang yang Liana tarik untuk berpura-pura jadi pacar, katakan sekarang. Aku beri kamu Rp100 juta, kamu pergi, dan aku anggap ini tidak pernah terjadi."
Liana langsung memeluk lengan Arka lebih erat. "Kak! Dia benar pacarku."
"Aku mengenalmu. Kamu tidak suka Mario, aku paham. Tapi jangan menghina orang dengan drama murahan."
"Aku tidak drama!" Liana tampak kesal. "Kalau Kakak tidak percaya, aku buktikan."
Sebelum Arka sempat bereaksi, Liana menarik tangannya dan menaruhnya di atas dadanya sendiri.
Arka membeku.
Lembut, hangat, dan terlalu tiba-tiba.
Detik berikutnya, Liana sudah merangkul lehernya dan mencium bibirnya.
Ciuman itu tidak lama, tetapi cukup membuat meja mereka sunyi total. Liana jelas tidak sematang Maya, tidak sedingin Bianca, dan tidak semalu Yulia. Ia nakal, nekat, dan tahu persis bagaimana membuat orang lain kehilangan kata-kata.
Saat ia menjauh, wajahnya merah, tetapi senyumnya menang.
"Sekarang percaya?"
Leon terdiam.
Mario meledak. "Kalau kamu laki-laki, lawan aku di luar!"
Arka baru pulih dari ciuman mendadak itu. Ia menunjuk panci hotpot yang mulai mendidih. "Aku datang untuk makan."
Mario mengepalkan tangan.
Leon mengangkat tangan. "Cukup. Kalau memang kamu ingin masuk hidup Liana, ada aturan keluarga. Kamu harus bisa minum."
Liana langsung panik. "Kak, dia nanti harus mengemudi!"
"Bisa panggil sopir pengganti." Leon melambaikan tangan ke pelayan. "Bawa sepuluh botol arak paling kuat."
Arka menatap Leon, lalu Liana yang sudah cemas.
"Tidak apa-apa."
Liana berbisik cepat, "Jangan sok kuat. Kakakku terkenal tahan minum."
"Aku juga lumayan."
Pelayan membawa botol-botol arak. Leon menuang satu gelas penuh, mengangkatnya, lalu meminum habis tanpa mengubah wajah.
Mario tersenyum sinis, menunggu Arka malu.
Arka tidak mengambil gelas.
Ia mengambil satu botol.
Liana membelalakkan mata. "Arka!"
Arka membuka botol itu, mengangkatnya, lalu meminum langsung dari botol. Cairan keras itu turun cepat. Tenggorokannya bergerak beberapa kali, dan dalam waktu singkat botol itu kosong.
Ia meletakkan botol kosong di meja.
Wajahnya tidak memerah. Napasnya tidak berubah.
"Kalau minum," kata Arka pada Leon, "begini lebih terasa."
Leon menatap botol kosong itu. Sudut matanya berkedut.
Mario terdiam.
Liana membuka mulut kecilnya, lalu perlahan tersenyum seperti baru menemukan mainan yang lebih menarik.
Leon berdeham dan berdiri. "Aku baru ingat ada urusan kantor. Mario, ikut."
"Tapi..."
"Ikut."
Mario menatap Arka dengan penuh kebencian, tetapi tetap mengikuti Leon keluar.
Begitu mereka pergi, Liana langsung menghela napas lega. "Kamu benar-benar tidak apa-apa? Itu satu botol penuh."
Arka mengambil sumpit dan mencelupkan daging ke kuah pedas. Qi Hantala sudah mengurai alkohol di tubuhnya seperti membakar kertas tipis.
"Aku lapar."
Liana menatapnya beberapa detik, lalu tersenyum licik.
"Kalau begitu makan yang banyak. Setelah ini kamu belum boleh pulang."
Arka berhenti mengunyah. "Kenapa?"
Liana mendekat, bibir merahnya melengkung.
"Karena sebentar lagi kamu harus ikut aku..."
Ia berhenti sengaja, membuat Arka merasa firasat buruknya tepat.
"Check-in hotel."