Hati Lilian hancur seketika setelah sang suami, "Alen" kembali dari dinas di luar kota membawa seorang perempuan hamil bersama nya.
"Siapa wanita itu mas? Kenapa kau membawanya pulang ke rumah kita?"
Tiga tahun pernikahan Lilian tidak memiliki anak, karena itu ia memiliki untuk mengabdi sebagai menantu, ipar serta istri yang baik di keluarga "Bayron" ia tidak pernah membocorkan tentang siapa dirinya dan siapa keluarganya, sehingga mereka semua menganggap Lilian sebagai yatim piatu yang tunduk dan patuh.
"Dia istri asisten ku, sesuatu terjadi di luar kota, asisten ku meninggal karena menyelamatkan ku dan sekarang istrinya hanya punya aku dan keluarga ini untuk melanjutkan hidup, atas wasiat asisiteku dia meminta ku untuk menjaga anak dan istrinya,"
Dilanda keputusan suami yang begitu menyakitkan, akan kah Lilian tetap bertahan? Apalagi setelah kedatangan wanita itu, Alen selalu mengabaikan nya.
Penasaran? Ayo baca kisah mereka di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
"Siapa sebenarnya wanita itu? Kenapa bukan Dimas yang mendorong kursi roda pak Karen kali ini? Kenapa malah seorang wanita? Bukan kah biasanya dia sangat tidak suka ada orang lain yang mendorong kursi roda nya kecuali Dimas? Tidak, aku tidak bisa diam saja seperti ini, pak Karen tidak boleh di rebut orang lain, dia hanya boleh jadi milikku, aku sudah berusaha mendekatinya begitu lama, masa kalah dengan orang baru," gumam Ayu yang sampai setengah hari masih memikirkan siapa sosok baru di perusahaan tersebut.
"Ayu, sedang apa kau disni? Bukan kah semua orang seharusnya berkumpul di ruang rapat?" Ucap Dimas yang sudah memperhatikan Ayu beberapa menit lalu.
"Dimas, langkah mu sama sekali tidak terdengar oleh telinga ku, kenapa kau berdiri di sini? Mengagetkan saja," ucap Ayu berbalik dan mendapati Dimas yang berdiri di belakang nya.
"Apakah aku se mengagetkan itu? Bukan kah kau yang terus melamun dan bergumam kecil sendirian dari tadi sampai tidak menyadari kedatangan ku?" ucap Dimas lagi.
"Sudahlah, lupakan saja, barusan kamu bilang semua orang berkumpul di ruang rapat? Ada apa? Kenapa aku tidak tau kalau hari ini ada rapat darurat," ucap Ayu sambil mengerutkan keningnya.
"Datang saja dan lihat, jangan sampai kau tidak hadir," Dimas merapikan dasieyang menggantung di depan kemeja nya dan kemudian berlalu pergi meninggalkan Ayu.
"pak Karen pasti mengadakan rapat secara tiba-tiba untuk memperkenalkan wanita itu, aku harus segera pergi ke sana," ucap Ayu bergegas.
Sepuluh menit kemudian,
Semua orang kini sudah berkumpul di ruang rapat, eh tunggu, tidak semuanya, hanya beberapa orang penting saja, tidak dengan karyawan bawahan.
"Semuanya, maaf aku tiba-tiba mengumpulkan kalian semua di sini, ada hal penting yang ingin aku bicarakan," ucap Karen dengan suara yang sedikit besar dan penuh wibawa.
"Kak, jangan lupa dengan janji kita," ucap Lilian, iya membungkuk sedikit untuk membisikkan sesuatu ke telinga sang kakak.
"Wanita jalang, berani-beraninya dia bicara sedekat itu dengan pak Karen," batin Ayu yang saat ini sedang terbakar api cemburu.
"Ada apa dengan pak Karen, tiba-tiba datang ke perusahaan pusat dan membawa seorang wanita,"
"Mungkin saja sebentar lagi dia akan mengumumkan pernikahannya,"
"Bisa jadi, kalau tidak untuk apa dia memenuhi ruang rapat dengan kita semua,"
Begitulah bisik-bisik para karyawan yang sudah ada di dalam ruangan tersebut.
"Semuanya, aku mohon perhatian kalian sebentar, maaf sudah menganggu waktu kerja kalian, ada hal penting yang ingin aku bicarakan," ucap Karen.
"Pak Karen, sebenarnya ada apa ini? Kenapa tiba-tiba kami di kumpulkan?" Tanya Ayu tampak sangat tidak sabar.
"Diam lah, biarkan pak Karen melanjutkan omongan nya," ucap Dimas kepada Ayu.
"Semuanya perkenalkan, dia Lilian, mulai sekarang dia akan bergabung bersama kalian semua di perusahaan ini sebagai asisten CEO, tolong kerja sama kalian," ucap Karen tampa jeda.
Seketika wajah semua orang memucat, mereka tidak menyangka kalau sosok wanita yang baru muncul bersama Karen hari ini adalah asisten CEO, dia baru saja masuk ke perusahaan Pratama grup sudah menyandang status setinggi itu.
"Hallo semua, perkenalkan, aku Lilian usiaku dua puluh lima tahun, aku senang bisa bergabung di perusahaan Pratama grup bersama orang-orang hebat seperti kalian," sapa Lilian yang sebenarnya sangat canggung.
Ia sudah tau apa yang ada di pikiran semua orang saat ini tentang dirinya, namun Lilian memutuskan untuk menyembunyikan identitasnya sebagai pewaris perusahaan Pratama grup, putri kesayangan CEO dan adik dari Karen.
"Gila, benar-benar gila, baru datang sudah jadi asisten CEO,"
"Jangan banyak bicara, lihatlah penampilan nya, tas yang dia bawa, rok dan baju yang dia pakai serta satu set perhiasan kecil yang menempel di tubuhnya, itu semua bukan barang murah, dia sudah pasti orang pilihan pak Ardan.
"Kau benar, dia pasti orang yang di pilih pak Ardan,"
Begitulah bisik-bisik para karyawan setelah mendengar pengumuman Karen.
"Apa kalian punya pertanyaan? Silahkan saja," ucap Karen yang tau kalau pengumuman tersebut akan membuat semua orang terkejut.
"Pak Karen, apa-apaan ini? Kenapa tiba-tiba ada asisten CEO? Bukan kah beberapa hari lalu pak Ardan masih mengatakan kalau dia akan seleksi karyawan terbaik untuk jadi asisten nya? Kenapa sekarang ada orang luar?" ucap Ayu
Lilian melirik Ayu dengan tatapan dingin, dia mulai merasakan sesuatu di dari wanita itu.
"Apa keputusan ku membuat mu sangat kecewa? Ini bukan saatnya untuk membantah, papaku sendiri yang menunjuk nya dan dia bukan orang luar," jawab Karen.
"Maaf pak Karen, aku hanya ..."
"Sudah cukup, aku tidak butuh bantahan dari kalian, sekarang keluar lah dan kerjakan pekerjaan masing-masing," ucap Karen lagi.
Dalam waktu singkat, ruangan itu pun seketika kosong, semua orang kembali ketempat kerja mereka masing-masing termasuk Ayu yang merasa sangat iri, malu dan kesal.
"Pak Karen, kenapa kau tidak bilang saja kalau nona besar adikmu, agar tidak ada kontroversi lain, kau tau sendiri kan bagaimana Ayu?" tanya Dimas.
Ya, yang tersisa di ruangan itu kini hanya Dimas, Karen dan Lilian.
"Aku yang melarang kakak untuk mengatakannya, aku ingin menunggu pesta pengumuman yang akan di buat papa untuk secara langsung memperkenalkan diri, lagipula dengan cara itu aku bisa melihat siapa saja yang banyak tingkah di perusahaan ini, termasuk wanita tadi," ucap Lilian sambil tersenyum tipis.
"Adiku mulai kembali ke setelan pabrik," batin Karen.
"Begitu ya nona, baiklah aku tidak mau ikut campur, intinya semoga kau nyaman di perusahaan ini," ucap Dimas sambil tersenyum setuju, dia juga mengacungkan dua jempol nya.
"Dimas, mulai sekarang kau harus selalu membantu Lilian di sini, aku akan mencari sopir baru untuk ku sendiri," ucap Karen.
"Baik pak," jawab Dimas.
"Terima kasih banyak ya kak, kau sudah merelakan asisten mu untuk ku, oh ya, Dimas aku akan ke ruangan ku dulu untuk beres-beres, antar Kakaku dan bantu dia cari sopir baru setelah itu temui aku di ruangan papa, ada banyak hal yang ingin aku bicarakan dengan mu," ucap Lilian.
Ia berpamitan dengan sang kakak dan kemudian berlalu pergi dari ruangan tersebut.
Perlahan-lahan sisi tegas Lilian mulai kembali terlihat, dia sebagai seorang nona besar keluarga Pratama mulai menunjukkan jati diri yang sebenernya.
****
bikin kwatir orang yang menyanyinya tapi
jiwa nya memang sudah seperti itu bukan jahat atau menjadi wanita ga benar cuma
orang nya kepingin tau saja gitu kadang
mengabaikan nasehat ,,
punya nama. jadi bagus ,,,ehhh malah berhianat sekarang belum tau siapa Lilian
enakan,,,coba loe kelurahan anaknya abis lah nasib loe,,,,