Regina Anatasya punya prinsip sederhana: disiplin, tenang, dan sebisa mungkin menjauhi masalah. Sebagai siswi 12 IPA 2 yang serba tertata, hidupnya berjalan sempurna sampai urusan sepele—sebuah tempat pensil biru yang tertinggal di taman—jatuh ke tangan yang salah.
Helga, anak baru di blok 12 IPS yang tengil dan punya tatapan lelah, tahu persis cara mengusik ketenangan Regina. Bukannya mengembalikan barang itu dengan mudah, Helga justru mengajukan satu syarat gila: Regina harus pulang sekolah membonceng motor sport-nya.
Di antara sekat kaku koridor IPA-IPS, candaan usil anak-anak IPS, dan aroma hujan di selasar sekolah... permainan negosiasi kecil ini perlahan menyeret keduanya ke dalam ikatan yang tak terduga.
Ketika ketenangan si anak IPA ditantang oleh nekatnya anak IPS, siapakah yang akhirnya harus mengalah—Regina dengan gengsinya, atau Helga dengan rahasianya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayunda geaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6
Kantin utama SMAN 1 riuh oleh denting sendok yang beradu dengan mangkok kaca dan riak percakapan ratusan siswa.
Jam dinding plastik merah di atas kios bakso menunjukkan pukul dua belas lewat lima belas menit.
Regina duduk di bangku panjang kayu dekat tiang tengah kantin.
Di hadapannya, semangkuk es cendol dengan parutan es yang mulai mencair membentuk genangan santan hijau muda.
Jarinya memutar-mutar gagang sendok bebek plastik warna merah.
Shinta duduk persis di seberang meja.
Ia meletakkan piring siomaynya yang masih mengepul ke atas meja kayu dengan gerakan cepat.
Klothak.
"Gin, elo utang penjelasan sama gue," bisik Shinta.
Ia memajukan badannya ke depan, menopang dagunya dengan kedua telapak tangan.
Regina mengangkat pandangannya pelan. "Penjelasan apa?"
"Ya kejadian tadi pagi di depan koridor!" Shinta mengibaskan tangannya gemas.
"Gue liat sendiri elo berdiri berdua sama Helga. Mana ada Andreas sama Varen lagi. Elo diapain sama anak-anak IPS itu?"
"Nggak diapain," jawab Regina pendek.
"Bohong," Shinta memicingkan mata, mengambil garpu lalu menusuk satu bumbu tahu di piringnya.
"Sejak kapan elo ngobrol sama Helga? Maksud gue, elo kan benci banget sama cowok yang suka bikin keributan. Kemarin dia hampir nabrak mobil mama elo, terus siang-siang lempar kaleng ke Andreas di tangga. Terus tiba-tiba pagi ini elo nungguin dia?"
"Tempat pensil gue tertinggal kemarin pas hujan," balas Regina seadanya. Ia menyeruput kuah santan di sendoknya pelan.
Shinta membeku. Garpunya menggantung beberapa sentimeter di atas piring. Ia berkedip dua kali, menatap Regina dengan mata melebar.
"Tempat pensil biru elo?" tanya Shinta, suaranya naik satu oktav sebelum ia menahannya kembali.
"Ada di Helga? Kok bisa di dia?"
"Ketinggalan di bangku selasar. Dia yang nemuin."
"Trus? Dia balikin tadi pagi?"
"Belum," sahut Regina datar.
Shinta menepuk jidatnya pelan. "Belum? Terus tadi pagi elo ngomongin apa sama dia sampai muka elo serius gitu?"
"Dia minta syarat," ujar Regina tanpa mengubah nada bicaranya. Ia mengaduk es cendolnya hingga parutan es yang tersisa larut sepenuhnya.
"Syarat apaan?"
"Nanti sore pulang sekolah gue harus pulang bareng dia naik motor."
Tuk!
Gangkang garpu Shinta terlepas dari jarinya dan jatuh mengetuk meja kayu.
Shinta menatap sahabatnya itu seolah-olah Regina baru saja menyampaikan rumor dari planet lain.
"Elo... mau pulang naik motor sama Helga Barisma?" bisik Shinta, matanya membelalak penuh.
"Regina Anatasya yang kalau diajak bareng anak cowok selalu nolak halus pakai seribu alasan, sekarang mau boncengan sama anak IPS yang paling suka bikin masalah?"
"Gue cuma mau tempat pensil gue balik," jawab Regina ringkas.
"Tapi kan elo bisa minta tolong Pak Guru atau..."
Ucapan Shinta terputus saat tiga bayangan tinggi menutupi sebagian cahaya matahari yang masuk ke area meja mereka.
Kring!
Bunyi gantungan kunci besi beradu terdengar saat Helga, Andreas, dan Renan berjalan melintasi lorong tengah kantin.
Helga berjalan di posisi tengah, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana abu-abunya. Jaket jeans belelnya dilipat dan disampirkan begitu saja di bahu kirinya.
Saat melewati meja Regina, langkah Helga agak melambat sejenak.
Helga tidak menyapa. Matanya melirik lurus ke arah mangkok es cendol Regina, lalu berganti menatap mata Regina selama satu detik.
Regina tidak mengalihkan pandangannya, tetap memegang gagang sendok plastik merahnya dengan stabil.
Renan yang berjalan di samping Helga sempat menyunggingkan senyum tipis sambil mengangguk pelan ke arah Regina, sebelum Andreas merangkul bahu Renan dan menyeretnya ke arah kios soto ayam.
"Bro, soto usus dua porsi!" teriak Andreas nyaring ke arah penjual soto, memecah ketegangan singkat di lorong kantin.
Helga terus melangkah mengikuti teman-temannya tanpa menoleh lagi.
Shinta dengan cepat mencondongkan badannya melewati meja, bahunya hampir menyentuh mangkok es cendol Regina.
Tangannya menutupi samping mulutnya saat ia berbisik setengah panik.
"Gin... elo sadar gak sih?" bisik Shinta rapat-rapat.
"Tadi Helga ngeliatin elo kayak gitu. Serius, lo yakin nanti sore mau ikut dia? Dia itu kalau bawa motor seruntulan banget, Gin! Varen aja pernah cerita helmnya Helga sampai retak gara-gara..."
"Kaca helmnya emang udah retak dari kemarin," potong Regina tenang.
Shinta menelan ludah, matanya menatap Regina tajam.
"Elo udah tau?"
"Udah."
Regina meletakkan sendok plastiknya ke dalam mangkok yang kini tersisa cairan hijau pucat.
Ia meraih selembar tisu makan putih yang terlipat rapi di sudut meja, lalu menyapu tepi bibirnya dengan satu gerakan perlahan.
Tisu itu kemudian dilipatnya rapi menjadi dua bagian simetris sebelum ditaruh kembali di samping mangkok.
"Terus elo tetap mau boncengan sama dia jam tiga nanti?" tanyanya lagi, memastikan.
Regina berdiri dari bangkunya, merapikan lipatan rok abu-abunya yang sedikit kusut di bagian samping.
"Jam tiga sore di parkiran belakang," kata Regina pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada menjawab pertanyaan Shinta.
Ia menyampirkan ransel abu-abunya di bahu kanan, melangkah meninggalkan meja kantin tanpa menunggu Shinta yang masih tertegun memegangi garpunya.
Saat Regina berjalan melewati deretan loker dekat pintu keluar kantin, ponsel di dalam saku roknya bergetar pelan.
Bzzzt.
Regina merogoh sakunya, menarik ponsel hitamnya keluar, dan membuka satu notifikasi pesan singkat yang baru masuk dari nomor tak dikenal yang sama seperti semalam:
'Jas hujan cuma ada satu. Kalau nanti sore hujan deras lagi, lu yang pakai.'