NovelToon NovelToon
Anak CEO Memanggilku Mama

Anak CEO Memanggilku Mama

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Angst / Pengasuh / Ibu Tiri / Pelakor jahat
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: Chandria

Dikhianati keluarga kandung yang kejam, Naya dipenjara empat tahun demi menutupi kesalahan adiknya Rania. Malam sebelum ditangkap, ia bertemu pria misterius Arkan Wiratama di kebun dan mengandung bayi kembar. Satu bayi dicuri Rania jadi pewaris keluarga Wiratama, satu lagi dibuang paksa. Saat bebas penjara, takdir mempertemukan mereka lagi—semua kebohongan akan terbongkar, dan Naya akan menuntut kembali semua haknya yang dirampas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29

Bab 29 - Kamar di Rumah Wiratama

"Dia tinggal di rumah ini."

Nenek Ratih mengucapkan keputusan itu saat sarapan, seperti sedang meminta pelayan menambah teh.

Rania yang baru masuk ruang makan langsung berhenti.

"Siapa?"

Nenek Ratih mengangkat wajah. "Naya dan Lila. Untuk sementara."

Bu Mira hampir menjatuhkan sendok. "Bu Ratih, Anda tidak bisa memasukkan perempuan itu ke rumah yang sama dengan Rania."

"Ini rumah Wiratama."

"Rania calon menantu."

"Belum tentu."

Rania memucat.

Arkan duduk di ujung meja, tidak berkata apa-apa. Ia baru pulang dari rumah sakit setelah memastikan Naya tidur. Rayyan tidur di sofa ruang tunggu karena menolak pulang, dan Lila baru mau makan setelah Naya membuka mata.

Pak Surya menatap Arkan. "Kamu setuju?"

"Saya yang meminta."

Nenek Ratih menoleh padanya. "Kamu meminta perlindungan. Saya yang memutuskan kamar."

Arkan hampir tersenyum, tetapi suasana terlalu tegang.

Rania memegang perutnya. "Nek, saya juga hamil."

"Maka periksa lengkap hari ini. Dokter saya sudah siap."

Rania mundur setengah langkah.

Bu Mira cepat berkata, "Kandungan Rania masih lemah. Pemeriksaan bisa menunggu."

"Kebohongan juga bisa menunggu," kata Nenek Ratih. "Tapi saya bosan."

Ruang makan sunyi.

Naya datang siang hari dengan mobil Raka. Ia tidak mau, tentu saja. Ia bahkan menolak masuk gerbang sampai Nenek Ratih sendiri keluar ke halaman memakai tongkat.

"Aku tidak mengundangmu sebagai tamu," kata perempuan tua itu.

"Lalu sebagai apa?"

"Sebagai ibu dari anak yang rumah ini gagal lindungi."

Naya tidak menjawab.

Nenek Ratih menatap Lila yang berdiri di belakang Naya.

"Dan kamu, Nak, boleh pilih kamar yang tidak dekat dengan kamar siapa pun yang membuatmu takut."

Lila menatap Naya.

Naya menggenggam tangannya.

"Kami tidak akan lama."

"Bagus," jawab Nenek Ratih. "Kalau terlalu lama, orang-orang di rumah ini bisa terbiasa punya hati."

Raka batuk kecil untuk menahan tawa.

Arkan menatapnya.

Raka langsung menunduk.

Kamar yang disiapkan berada di lantai dua, jauh dari kamar Rania, dekat kamar Rayyan. Ada jendela menghadap taman belakang, lemari kosong, dan ranjang tambahan untuk Lila.

Naya berdiri di pintu.

Terlalu bersih.

Terlalu mahal.

Terlalu mudah untuk diambil lagi.

Lila memegang ujung bajunya. "Mama, boleh?"

Naya menatap wajah anak itu. Lila lelah. Lingkar bawah matanya gelap. Kalau Naya terus berlari, anak itu yang paling dulu jatuh.

"Boleh."

Rayyan langsung bersorak dari lorong. "Kamarku sebelah! Kalau Lila mimpi buruk, ketuk tembok tiga kali."

Arkan berkata, "Tidak ada yang mengetuk tembok tengah malam."

"Kalau darurat?"

"Pakai bel."

"Tembok lebih cepat."

Lila menyentuh dinding, lalu mengetuk pelan tiga kali.

Rayyan membalas dari sisi lain, juga tiga kali.

Naya menutup mata.

Terkadang kebahagiaan kecil justru paling menyakitkan, karena ia menunjukkan apa yang seharusnya dimiliki anak-anak itu sejak lahir.

Sore itu, dokter datang untuk mengambil sampel ulang. Kali ini Nenek Ratih sendiri duduk di ruang pemeriksaan, bersama notaris, pengacara independen, dan petugas Dinsos yang dipanggil karena status Lila masih belum final.

Bu Mira tidak suka itu.

"Keluarga besar tidak perlu orang luar."

Nenek Ratih menatapnya. "Justru karena keluarga besar terlalu banyak bicara, saya panggil orang luar."

Sampel Rayyan, Lila, Naya, dan Arkan diambil di depan semua orang. Rania diminta ikut untuk pembanding, tetapi ia mendadak pusing.

Dokter menatapnya. "Kami bisa periksa di kamar."

"Tidak perlu."

Nenek Ratih mengetuk tongkat. "Periksa."

Rania menatap Arkan, berharap ia membela.

Arkan tidak bergerak.

Bu Mira akhirnya membantu Rania duduk. Pemeriksaan darah dilakukan. Tidak lama kemudian, dokter mengerutkan kening.

"Bu Rania, kami perlu USG untuk memastikan usia kandungan."

"Besok saja."

"Sekarang," kata Nenek Ratih.

Rania menggenggam tangan ibunya.

Naya melihat itu dari ujung ruangan.

Ia tidak merasa menang.

Ia hanya merasa lelah.

Malamnya, setelah anak-anak tidur, Nenek Ratih memanggil Naya ke taman belakang.

"Kamu tidak percaya kami."

"Tidak."

"Bagus. Orang yang terlalu cepat percaya mudah dijual."

Naya menatapnya.

Nenek Ratih duduk di kursi rotan, selimut tipis di lutut. Di bawah lampu taman, wajahnya terlihat lebih tua daripada di ruang makan.

"Aku tidak akan pura-pura keluargaku suci," katanya. "Rumah ini punya banyak pintu belakang. Kalau Rania bisa masuk sejauh ini, berarti ada yang membukakan."

"Siapa?"

"Itu yang akan kita cari."

Naya diam.

"Kenapa membantu saya?"

Nenek Ratih memandang jendela lantai dua. Di balik tirai, bayangan kecil Rayyan terlihat bergerak.

"Karena anak itu tidak pernah memeluk Rania seperti dia memelukmu."

Naya menunduk.

"Dan karena aku pernah kehilangan anak perempuan," lanjut Nenek Ratih. "Aku tahu bedanya perempuan yang berbohong menjadi ibu dan perempuan yang tubuhnya masih mencari anaknya."

Sebelum Naya bisa menjawab, ponsel Rania bergetar di kamar lain.

Rania mengunci pintu, lalu mengangkat telepon dengan tangan gemetar.

Suara laki-laki terdengar santai.

"Kamu benar-benar membuat kekacauan, Rania."

Rania menutup tirai. "Aku butuh bantuan."

"Tentu. Kamu selalu butuh bantuan saat barang curian hampir direbut pemiliknya."

"Kian, jangan main-main."

Di seberang, Kian Mahendra tertawa pelan.

"Aku tidak main-main. Aku hanya ingin tahu, kalau aku membantu, apa yang akan kamu berikan?"

Rania menelan ludah.

"Apa yang kamu mau?"

Kian menjawab tanpa ragu.

"Naya Prameswari."

Rania tidak langsung menjawab.

Nama Naya di mulut Kian terdengar berbeda. Bukan benci seperti Bu Mira. Bukan rasa bersalah seperti Arkan. Ada rasa ingin tahu yang membuat kulit Rania dingin.

"Untuk apa kamu mau dia?"

"Kamu cemburu?"

"Jangan bercanda."

"Aku tidak bercanda. Aku pernah melihat orang seperti Naya. Mereka menarik karena semua orang sudah merusaknya, tapi dia masih belum bisa dipakai sepenuhnya."

"Dia bukan barang."

Kian tertawa pelan. "Lucu kamu yang bilang begitu."

Rania menggigit bibir.

"Kalau kamu membantu aku, aku bisa bayar."

"Uangmu uang ibumu."

"Aku bisa kasih akses ke dokumen Wiratama."

"Dokumen bisa dicuri tanpa bantuanmu."

"Lalu apa?"

Kian diam sebentar.

"Aku ingin kamu berhenti membuat kebohongan kecil yang mudah ketahuan. Mulai sekarang, kalau aku bantu, kamu ikuti caraku."

Rania menelan ludah. "Cara apa?"

"Buat Arkan sibuk dengan keluarganya sendiri. Buat Naya curiga bahwa musuhnya bukan cuma Pradipta. Kalau dia tidak percaya pada Arkan, dia akan mencari orang lain untuk jawaban."

"Kamu?"

"Akhirnya pintar sedikit."

Rania memejamkan mata. "Kamu punya bukti tentang malam kelahiran itu?"

"Punya cukup untuk membuat Naya datang."

"Jangan kasih semua."

"Tentu tidak. Orang yang kelaparan tidak diberi meja penuh. Cukup bau makanan."

Rania merinding.

Di koridor rumah Wiratama, Naya sedang mengambil air hangat ketika mendengar langkah Arkan mendekat.

"Anak-anak tidur?"

"Rayyan tidur di lantai kamar Lila."

Arkan menghela napas. "Aku sudah bilang..."

"Dia bilang tembok tidak cukup kalau Lila mimpi buruk."

Arkan diam, lalu mengangguk kecil. "Besok aku minta kasur tambahan."

Naya menatapnya. "Bapak membiarkan?"

"Aku belajar memilih perang."

Ada lelah di wajahnya yang tidak bisa disembunyikan. Naya ingin bertanya apakah ia sudah makan, lalu membenci diri sendiri karena pertanyaan itu muncul.

Ponsel Arkan bergetar.

Raka mengirim pesan:

`Ada nama baru muncul di rekening perantara penculikan. Kian Mahendra. Pernah terkait kasus pemalsuan data medis, tapi tidak pernah terbukti.`

Naya melihat nama itu sebelum Arkan sempat menutup layar.

"Siapa Kian?"

Arkan menatapnya.

Di kamar lain, Rania masih menggenggam ponsel.

Kian sudah menutup telepon, tetapi kalimat terakhirnya tertinggal seperti racun.

"Besok, biarkan dia mengenalku."

Rania duduk lama di tepi ranjang.

Ia tahu Kian bukan orang yang bisa dikendalikan. Dulu, saat Bu Mira memakai jasanya untuk menghapus satu rekaman rumah sakit, Kian tidak pernah meminta uang lebih. Ia hanya meminta salinan dokumen lain yang seharusnya tidak ia butuhkan.

Orang seperti itu lebih menakutkan daripada pemeras biasa.

Tapi Rania sudah terlalu jauh.

Ia memegang perutnya yang datar dan berbisik pada bayangan sendiri di cermin.

"Aku tidak akan kalah dari perempuan yang seharusnya mati di penjara."

Di lorong, Naya masih menunggu jawaban Arkan.

"Siapa Kian?" ulangnya.

Arkan menutup layar ponsel.

"Orang yang sebaiknya tidak kamu temui."

Naya tersenyum dingin.

"Kalau begitu, berarti dia pasti punya jawaban."

1
Allea
emg belom tes dna juga itu si arkan 😑naya gimana sih kamu🙄
fergusooo🙈
SEMANGATTT KAKAK💪🏻💪🏻
AKU BELA2IN BEGADANG BUAT BACA INI CERITA🤧
Ceritanya baguss dan aku belum pernah baca cerita yg alurnya sedarderdor ini😍
LUVVV buat kaka💕💕
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan kamu itu Rania
Dew666
👍
Citieana Pangestu
👍👍💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!