NovelToon NovelToon
Setelah Malam Pertama

Setelah Malam Pertama

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Julia And'Marian

Pernikahan adalah impian semua orang, termasuk Calista, ia terpaksa harus menikah dengan sosok pria yang seharusnya ia benci, karena sudah membunuh ayahnya. Namun, ayah Danis justru menukar semuanya dengan sebuah pernikahan dengan sang putra. Alih-alih mendapatkan kebahagiaan, Calista justru tersiksa. Ia di benci ibu dan kakak Danis, bahkan tak di anggap oleh Danis. Pria itu bersikap dingin padanya. Beberapa bulan kemudian, Calista sudah muak, apalagi saat Danis meminta akan menikah dengan kekasihnya, ia yang tak siap di madu, akhirnya memilih meminta cerai. Namun sebelum itu, Calista memberikan hak Danis, ia dan Danis malam itu melakukan hubungan suami istri untuk yang pertama kali, sebelum paginya Danis menceraikan Calista.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia And'Marian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Calista berjongkok perlahan. Satu per satu pakaian yang berserakan di lantai marmer ia punguti. Jemarinya yang masih sedikit gemetar melipatnya kembali dengan hati-hati, meski beberapa di antaranya sudah terinjak sepatu hak tinggi Rania. Ia meniup pelan debu yang menempel. Tak ada gunanya marah. Tak ada gunanya menangis. Karena sejak pertama kali tinggal di rumah itu, perlakuan seperti ini bukan lagi sesuatu yang asing baginya.

"Dasar perempuan nggak tahu diri." Suara Rania kembali terdengar sebelum ia benar-benar melangkah pergi.

Calista tidak menjawab. Ia hanya memasukkan pakaian terakhir ke dalam koper, lalu menutup resletingnya perlahan.

Klik...

Suara kecil itu terdengar begitu jelas di tengah keheningan rumah mewah tersebut.

Ratna mendengus pelan. "Kalau sudah selesai, cepat pergi. Jangan sampai calon menantuku melihat wajahmu. Nanti suasana hatinya rusak."

Ucapan itu membuat dada Calista kembali sesak. Calon menantu. Berarti... Hubungan Danis dengan Sari memang sudah direstui sejak lama. Mungkin benar. Hanya dirinya yang menjadi penghalang kebahagiaan mereka.

Calista mengangkat koper itu kembali. Tubuhnya terasa begitu lemah. Bekas semalam masih menyisakan nyeri di seluruh tubuhnya. Namun rasa sakit itu tidak sebanding dengan luka yang memenuhi hatinya. Ia menarik napas panjang.

"Kalau begitu... saya pamit. Assalamualaikum"

Ratna bahkan tidak sudi menjawab. Wanita paruh baya itu justru menggandeng tangan Rania, lalu berjalan menuju pintu utama. Tak lama kemudian suara pintu tertutup. Disusul deru mesin mobil yang perlahan menjauh dari halaman rumah.

Rumah itu kembali sunyi. Sunyi yang terasa begitu asing.

Calista masih berdiri mematung. Entah mengapa... Kakinya terasa begitu berat untuk benar-benar meninggalkan rumah itu. Padahal beberapa menit yang lalu ia sudah resmi bercerai. Tidak ada lagi alasan untuk bertahan. Namun hati memang aneh. Semakin disakiti... Semakin sulit melepaskan. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga. Ia buru-buru mengusapnya dengan punggung tangan.

"Tidak boleh menangis lagi..." Bisiknya lirih kepada dirinya sendiri. Ayah pasti tidak suka melihat Calista selemah ini...."

Nama ayahnya berhasil membuat dadanya kembali sesak. Seandainya ayahnya masih hidup... Mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi. Mungkin ia masih menjadi Calista yang ceria. Mungkin ia tidak perlu merasakan bagaimana rasanya dicintai sendirian.

Dan ia menarik koper itu dengan sesak yang luar biasa, meninggalkan rumah itu...

*

Malam mulai menyelimuti ibu kota. Lampu-lampu gedung pencakar langit berpendar menghiasi jalanan yang masih dipenuhi kendaraan.

Di sudut kota, sebuah klub eksklusif dipenuhi dentuman musik yang memekakkan telinga. Cahaya lampu berwarna-warni berputar tanpa henti, berpadu dengan gelak tawa dan suara gelas yang saling beradu.

Namun, di tengah keramaian itu... Seorang pria justru duduk sendirian.

Danis Arganta.

Di hadapannya telah berdiri tiga gelas minuman. Salah satunya bahkan sudah kosong. Ia kembali mengangkat gelas di tangannya. Baru saja hendak meneguknya, seseorang merampas gelas itu.

"Sudah cukup."

Danis mendongak ia menatap orang itu. "Faas."

Pria berjaket hitam itu mengembuskan napas panjang sebelum duduk tepat di hadapan Danis. "Aku baru dikabarin sama Dika kalau kamu ada di sini."

Tatapan Faas menelusuri wajah sahabatnya. Rambut Danis sedikit berantakan. Kancing atas kemejanya terbuka. Sorot matanya kosong. Tidak seperti Danis yang biasanya.

"Kamu kelihatan berantakan."

Danis hanya tersenyum tipis. "Perasaanmu saja."

"Bohong." Faas bersandar di kursi ia dengan santai mengetuk meja bar di depannya. "Sudah hampir sepuluh tahun aku kenal kamu. Aku tahu kapan kamu baik-baik saja dan kapan kamu sedang kacau."

Danis tidak menjawab. Ia hanya menatap cairan berwarna keemasan di dalam gelas.

Beberapa detik berlalu hanya ada keheningan, mereka menikmati suara alunan musik yang menggema di dalam ruangan remang-remang itu. Hingga Faas kembali menoleh ke arah Danis.

"Jadi?" Tanya Faas. "Masalah perusahaan?"

Danis menggeleng.

"Proyek gagal?"

Danis menggelengkan kepalanya lagi.

"Lalu?"

Hening. Beberapa saat kemudian Danis mengembuskan napas pelan. "Aku sudah bercerai."

Faas terdiam. "Bercerai?"

"Iya."

"Dengan Calista?"

Danis mengangguk singkat.

Bukannya terkejut, Faas justru menghela napas panjang. "Jadi... akhirnya benar terjadi."

Danis memicingkan mata. "Kamu sudah tahu?"

"Aku sudah menduganya sejak beberapa bulan lalu." Faas mengambil gelas air putih yang disediakan pelayan. "Rumah tangga kalian memang nggak pernah terlihat baik."

Danis kembali terdiam. Musik yang menggema di seluruh ruangan terasa begitu mengganggu kepalanya. Entah kenapa... Semakin malam, bayangan Calista justru semakin jelas di benaknya. Wajah perempuan itu ketika menandatangani surat cerai. Tatapan matanya yang memerah. Senyumnya yang dipaksakan. Dan kalimat terakhirnya... "Semoga... kamu bahagia bersama wanita pilihanmu."

Dan yang paling mengusik bagi Danis saat wanita itu dengan suka rela memberikan haknya malam itu. Dan bayangan mereka melakukan hubungan itu terus terngiang di dalam diri Danis.

Sialan!

Danis memejamkan mata sesaat. Ia mencoba mengusir semua bayangan itu. Namun usahanya tetap saja gagal.

"Kamu yakin nggak apa-apa?" Suara Faas membuyarkan lamunannya.

"Apa maksudmu?"

"Kamu kelihatan nggak tenang."

Danis langsung menggeleng. "Aku baik-baik saja."

"Lalu kenapa dari tadi kamu melamun?"

Danis tidak segera menjawab. Ia sendiri tidak mengerti. Bukankah ini yang ia inginkan? Bukankah sejak awal ia memang berniat menceraikan Calista? Bukankah kini jalan menuju Sari sudah terbuka?

Lalu... Kenapa dadanya terasa sesak? Kenapa rumah yang biasanya ingin cepat ia tinggalkan justru terasa kosong saat Calista benar-benar pergi? Dan yang paling aneh... Kenapa sejak sore tadi ia terus mengingat perempuan itu?

Faas memperhatikan perubahan raut wajah sahabatnya. "Danis."

"Hm?"

"Kamu... jangan bilang menyesal."

Danis langsung terkekeh pelan. "Menyesal?"

"Iya."

"Tidak mungkin." Jawabannya terdengar mantap. Namun... Tangannya yang menggenggam gelas justru mengencang.

Faas menyipitkan mata. "Kamu tahu?"

"Apa?"

"Orang yang benar-benar yakin sama keputusannya biasanya nggak perlu datang ke klub sendirian."

Kalimat itu membuat Danis terdiam. Benar juga. Selama ini... Ia hampir tidak pernah menginjakkan kaki ke tempat seperti ini sendirian. Biasanya jika ada masalah pekerjaan, ia memilih lembur di kantor. Jika sedang penat, ia pergi ke gym. Tetapi malam ini... Tanpa sadar mobilnya justru berhenti di depan klub. Seolah ada sesuatu yang ingin ia larikan.

"Ada yang mengganjal di pikiranmu?"

Danis menatap kosong ke arah kerumunan orang yang sedang menari. "Aku juga nggak tahu."

Faas mengernyit. "Maksudnya?"

"Aneh."

"Apa yang aneh?"

Danis mengusap wajahnya kasar. "Sejak dia pergi..." Ia menggantung kalimatnya.

Faas menunggu.

"...rumah itu terasa berbeda. Bukan rumahnya. Tapi suasananya."

Faas mengangkat sebelah alis. "Kamu kangen?"

"Tidak. Yang bener aja!" Jawaban itu terlontar terlalu cepat.

Faas justru tersenyum tipis. "Kalau bukan kangen, terus apa?"

Danis mengembuskan napas panjang. "Aku cuma..."

Ia kembali terdiam, rasanya terlalu sulit sekali menjelaskan perasaan yang sedang mengusik hatinya. Yang ia tahu hanya satu. Sejak Calista benar-benar pergi membawa koper kecilnya siang tadi... Ada sesuatu yang ikut hilang dari hidupnya.

Dan entah mengapa... Perasaan gelisah itu semakin lama semakin besar, seolah sedang memperingatkannya bahwa ia baru saja kehilangan seseorang yang suatu hari nanti akan sangat ingin ia pertahankan.

#Lanjut gak ini...

1
mama
ku pikir udh gk dilanjut ini cerita kak.. kan syg
Julia and'Marian: lanjut kak... kemarin tunggu kontrak nya dulu. lama bingit..
total 1 replies
Lia se
kalau gue jadi faas, udah gue tonjok Lo nis
Lia se
kapok, udah terasa kayaknya dia
Lia se
kau yang nggak tahu diri taiiu
Lia se
Ya ampun cal, kalau aku udah aku Jambak tuh orang
Lia se
benci banget sama keluarga kayak begitu
Lia se
😲
Lia se
Danis...🤭
partini
kena tipu ini mah
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
semoga saja ada maaf untuk mu Danis...,, dan semoga secepatnya bertemu Calista
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Herman Lim
jgn hamil aja nanti Calista
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
rupanya semesta alam belum merestui Danis bertemu Calista 🥺... tetap semangat ya Danis temukan Calista dan minta maaf,
partini
sedikit lagi bertemu tapi ga jadi macam sinet indo gumussss
Eva Karmita
ayo terus cari Calista Denis semangat 🔥💪🥰
partini
Danis tuh cari Calista mau minta rujuk
fanny tedjo pramono
semangat update ditunggu guys
partini
udah di buang sekarang di cari mejilat ludah sendiri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!