Layaknya residu yang menggumpal dan sudah mendangkal, sulit sekali untuk dibersihkan. Ingatan yang sangat membekas itu juga sulit sekali disingkirkan-tentang dia yang ternyata tereliminasi oleh waktu.
Arinta masih tak menyangka kejadian ini benar-benar menimpanya. Kejadian yang melemparnya kembali ke dua puluh tahun silam. Tahun dimana bibit-bibit kehancuran dari rasa damai dikeluarganya dimulai.
Kejadian yang entah bisa dibilang membawa berkah atau justru membawa bencana?
Mulai: 6 Juni 2026
Selesai:
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yopoyoi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Gaya Baru
"Rambut baru, kah?" tanya Tami sedikit antusias menatap Arinta yang baru datang lagi setelah matahari terbenam.
Arinta tersenyum sambil menatap Tami bergantian dengan pekatnya langit malam, "Yoi. Kata orang-orang sih kalo potong rambut bisa buang aura negatif."
Tami mengangguk, menunduk dan tak sengaja melihat kedua tangan Arinta yang diperban.
"Tangan lu kenapa?"
Arinta yang baru sadar langsung memasukan kembali kedua tangannya ke saku jaket. "Nggak apa-apa, cuma buat gaya-gayaan doang."
Tami memicingkan mata curiga. "Gaya-gayaan apaan begitu?"
Arinta berdecak malas, "ini fesyong kocak!"
Tami berdeham mendengarnya.
"Oh iya, kembaran lu belum sadar sama sekali daritadi pagi?"
Tami menggeleng. "Luka bakarnya parah, nggak tau sih apa hubungannya sama koma selama itu."
Arinta duduk disebelah Tami, dikursi taman halaman rumahsakit. Ia menarik napas pelan dan kemudian merangkul pundak kawannya itu.
"Gua kangen bang Ari, Aru sama Aguil. Gua juga kangen ayah."
"Nyender aja kali, Ta, nggak usah ragu-ragu," Tami membiarkan pundaknya disenderi, walaupun ia juga butuh sandaran.
"Kapan ya kita balik lagi ke tempat asal kita? Gua nggak pengen ngerubah apapun disini, gua cuma pengen menghabiskan waktu berharga bareng orang-orang yang gua sayang, yang masih dikasih kesempatan buat hidup."
"Gua jadi kepikiran, apa mungkin Tama berhasil balik ya? Jadi dia ngga sadar-sadar karena ya ngapain dia sadar disini kalo dia udah berhasil balik."
"Bisa jadi, Mi," Arinta menegakkan posisi duduknya, "terus? berarti kita bisa balik kalo kita kecelakaan gitu?"
"Waktu awal kita ketahun ini juga karena kecelakaan, kan?" Tami ikut berteori.
"Nah iya. Tapi masa iya kita harus mencelakai diri kita sendiri disini, ngga mau lah gua."
Tami menatap kosong kearah langit, "apa mungkin kita harus ngelewatin tragedi kematiannya bang Fara dulu disini, terus kita baru bisa balik ketahun kita?"
"Kalo bener begitu, berarti masih ada dua bulan lagi sampe ditanggal itu. Tanggal dua puluh enam Desember, sekarang baru awal Oktober."
"Hah.. Gua ngga sanggup pliss, gua ngga sanggup lebih lama lagi disini," Tami menjambak rambutnya frustasi.
"Bisa kok bisa, dua bulan ngga bakal lama," bujuk Arinta.
"Ya lu enak ege, punya keluarga, punya rumah, punya duit, masih bisa pergi sekolah, dianter jemput pake mobil. Lah gua sama Tama? Istirahatnya pas tidur doang, hari-hari ngemong bocah," gerutu Tami.
Arinta merasa ada hujan pecahan kaca yang baru saja menimpanya.
"Enak kata lu?" suara Arinta terdengar sedikit terbawa emosi.
"Ya jelas.." jawab Tami sedikit nyolot.
"Kok lu jadi nyolot gitu sih?! Lagian hidup mana yang lu bilang enak? Hidup gua enak? Yang lu liat emang bagian yang enaknya aja!!"
"Lu juga kenapa jadi ngegas? Kan emang bener hidup lu enak. Kurang bersyukur lu begitu!" ketus Tami tanpa sadar.
"Kurang bersyukur?! Hal apa yang bisa gua syukurin dari hidup berantakan dan penuh masalah ini? Ngga usah kolot anjir, semua orang punya masalah hidupnya masing-masing yang ngga selalu dipublish."
Tami terlihat lebih antusias untuk berdebat. "Ya udah, masalah apa yang ngga bisa diselesain pake duit? Selama ada duit lu happy, sist. Galau? Jalan-jalan aja, cari kesenangan. Sedih? Stress? Kesel? Beli aja apa yang lu mau. Lu happy, kelar semua! Ngga usah munafik, ngga usah banyak drama. Realistis dikit lah, sist!" ucapnya sambil menunjuk kepalanya sendiri dengan telunjuk.
Arinta menatap Tami tidak percaya.
"Gua tau, lu emang anak orang kaya. Dan sekarang lu harus adaptasi jadi rakyat jelata yang rebahan sebentar udah dibilang pemales. Gua tau itu. Ya mungkin sewaktu lu jadi orang kaya yang lu tau cuma kebahagiaan, yang lu tau cuma gimana caranya ngabisin duit orangtua lu. Pewaris yang terhormat, sebahagia apa sih diri lu pas ada duit? Seberlimpah apa sih duit orangtua lu sampe lu menganggap orang kaya bisa menyelesaikan semua masalah hidup dengan uang?"
Arinta mengangguk paham. "Oh, atau emang lu tuh tipe orang yang suka nyuap orang supaya lu ngga terlibat masalah? Kriminal lu?"
Tami berdiri dari duduknya. Menunjuk wajah Arinta yang lebih pendek dari dirinya.
"Dijaga omongannya."
Arinta masih menegang ditempat, disaat Tami mulai meninggalkannya.
Ia mengendurkan seluruh otot-otot ditubuhnya, lalu berjongkok dan menarik seluruh rambutnya kebelakang dengan kasar.
"Baj*ngan!"
***
Dua bulan berlalu begitu saja. Padahal Arinta sudah mengharapkan kepulangan Mario yang sudah menjanjikan akan balik ke Indonesia diawal November. Namun ternyata sampai Desember masih belum pulang juga.
Arinta berjalan dilorong sekolah dengan penuh percaya diri, walaupun dalam sebulan terakhir ia selalu dikomentari mengenai penampilan barunya. Arinta yang sebelumnya; pemalu, pendiam, rambut selalu panjang terurai dengan jepit rambut khasnya, seragam tangan panjang, rok panjang, backpack butut. Arinta yang sekarang; berani, blak-blakan, rambut sebahu ala polwan, seragam lengan pendek yang ujungnya sedikit ditekuk, rok sedikit dibawah lutut—sesuai aturan sekolah, serta backpack yang modelnya sudah upgrade tersampir hanya disatu pundak saja.
Penampilan bisa mengubah aura? Itu 99% benar. Arinta terlihat lebih fresh dan lebih menarik. Tak ayal, banyak yang sebelumnya mengabaikan keberadaan Arinta, tapi kini malah mencuri-curi pandang, termasuk Andre dan Deri.
Andre bersiap menghadang Arinta, tapi urung karena Arinta malah membuang muka dan berjalan menjauh. Andre tak tahu kenapa tiba-tiba ia dicampakkan begitu, ia malah semakin minder dengan dirinya sendiri. Namun walaupun begitu, gelang yang Arinta berikan masih setia bertengger ditangannya.
"Pagi, Taa.." sapa Deri.
Arinta hanya menaikan sedikit alis kanannya. Entah kenapa, Arinta masih bisa merespon Deri, tapi tidak ada toleransi dengan Andre, padahal ia belum memvalidasi kebenaran dari tulisan itu, pasalnya tidak ada ingatan apapun.
Teruntuk teman sekelasnya pun Arinta stecu, ia sekolah hanya karena ia harus sekolah, bukan untuk mencari teman. Diah dan Wiwin pun hanya direspon seperlunya saja oleh Arinta.
"Ta.. Andre minta aku buat kasih ini ke kamu," Diah menyodorkan secarik kertas, sepertinya surat.
"Oh, oke. Makasih ya."
Arinta menerimanya, lalu melipat dan memasukkan kertas itu kedalam saku seragam, tanpa niat untuk membacanya.
"Aku duluan ya."
Kini hari itu tiba, tanggal 26 Desember 2004. Arinta terburu-buru untuk pulang. Ingin segera menyusulkan diri ke panti mengikuti rencana Tama untuk mencegah Fara dan ibunya pergi.
Mengingat Tama.. Arinta jadi teringat tentang kebakaran di panti waktu itu, Tama sudah benar-benar pulih dan kembali beraktivitas dengan normal.
Tama bilang, kalau Fara semakin lengket dengannya dan jadi sering berkunjung ke Panti, begitupun Ari digendongan ibunya. Arinta bisa sedikit bernapas lega, walaupun belum ada momen kebetulan yang mempertemukan dirinya dengan sang ibu.
***
"Neng Arinta.. Tadi ada telepon dari panti, dari... Tama. Dia mau ngomong sama neng langsung, jadi katanya nanti telepon balik aja," sambut bi Asih saat Arinta baru sampai rumah.
"Oh iya, bi. Makasih ya."
Arinta langsung menelepon sesuai yang dipinta, tak lama suara seseorang terdengar dari seberang.
"Ta.. Pliss bantuin gua, gua nggak tau harus gimana. Rencana kita gagal, Ta."
Suara Tami terdengar sangat gelisah.
"Kenapa? Kenapa? Tama kemana? Dia kenapa? Gagal kenapa?" Arinta ikutan panik.
"B-bukan Tama, ini Tami- eh bukan, maksudnya-"
"Hallo Arinta?" Tiba-tiba suara berganti menjadi suara Tama.
"Apa? Iya apa? Kenapa?"
"Ibu lu sama Fara udah mau otw Balikpapan siang ini, kalo lu mau nyegah ibu lu pergi sore ngga bakal keburu, ini diluar rencana kita. Kita nggak bisa nyegah apa-apa. Sebelum pergi tadi mereka ke panti dulu, mau nitipin bang Ari ke gua, dia nangis-nangis terus. Sekarang bang Ari udah sama ayahnya sih. Tapi terus gimana sama ibu lu? Gua ngga bisa apa-apa."
Arinta berusaha mengatur napas supaya bisa berpikir lebih tenang.
"Oke oke. Ibu gua pergi naik apa? Angkot atau taksi?"
"Taksi! Lu cegat taksi aja, biar cepet. Soalnya kalo ibu lu naik taksi pergerakannya pasti cepet, soalnya langsung dianter sampe bandara."
Tut... Tut... Tut...
Arinta langsung melempar tasnya dan berlari keluar. Ia berlarian seperti orang gila sampai ke jalan raya, mencari taksi kosong yang juga tak kunjung ketemu.
***