tiga tahun sudah pernikahan kita...Dipaksa menikah di usia muda ketika kita masih duduk di bangku SMA..
Tak ada kontak fisik. Di rumah seperti orang asing. Aku tahu Aksa memiliki ke kasih tapi apa salah ku. Hingga batas kesabaran ku hilang juga.
"Kak Aksa aku ingin gomong".
"Kalau ngomong ya ngomong aja Bintang".
"Kak mari kita berpisah".
Apa Aksa mengabulkan permintaan Bintang. Atau mempertahankan pernikahannya ???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vita no, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ujian Semester
Pagi ini aku sampai disekolah dan disambut dengan suara cempreng Mila. Mila orangnya sangat heboh dan suka panikan,apa lagi harus mempersiapkan ujian semester.
“Bin, kamu sudah belajar belum. Soalnya kita tiga hari lagi mau ujian. Boleh nggak aku belajar di rumah kamu atau kita belajar di rumah aku aja. Gimana Bin, mau ya Bin.”
“Lihat dulu Mil. Kamu tahu kan, aku disini tinggal dengan sahabat mam aku. Nggak mungkin dong aku ngajakin teman aku kesana apa lagi jika belajar di luar rumah, aku harus izin dulu dong Mil.”
“Iya juga ya Bin. Kenapa kamu nggak ngekos aja sih Bin. Kan nggak ada rasa sungkan gitu.”
“Mama aku itu takutnya aku nanti nggak ada yang jagain dan ngawasin pergaulan ku disini. Kamu kan tahu sendiri Mil, gimana pergaulan anak sekarang ini apa lagi ini di kota besar.”
“Benar Mil apa yang diucapkan Bintang. Kamu coba deh Bintang nanti telpon mommy mu kalau kamu mau belajar gitu sama-sama teman mu.”
“Ih Silvi kamu datang-datang ngagetin aja tahu, bikin aku kaget aja.”
“Udah yuk kita masuk kelas lagi. Nanti di pergok ketos disini, di kira cabut lagi.”
“Yuk lah Bin, Sil.” Kami berjalan beriringan ke kelas IPA XI. Dan ditengah jalan kami berpapasan dengan ketos. Dan mereka hanya menegur kami, agar kami tidak berkeliaran di jam belajar.
Bel istirahat pun berbunyi. Dan aku juga sahabat ku pergi menuju perpustakaan. Kami lagi mencari materi untuk kami bahas nantinya pas kami belajar bersama. Sambil berjalan ke perustakaan aku menelpon mommy, meminta izin untuk bisa belajar bersama teman-teman ku.
“Assalammu’alaikum mom. Mom Bintang mau minta izin, kalau Bintang telat pulang hari ini karena Bintang mau belajar sama teman-teman Bintang. Apa boleh mom?”
“Wa’alaikumsalam. Boleh kok sayang. Tapi nggak ada cowok kan. Dan mommy harap kamu jangan sampai malam pulangnya ya sayang.”
“Siap mom. Bintang belajar bersama teman Bintang Mila dan Silvi aja kok mom. Nggak ada cowok kok mom.”
“Ya udah, belajar yang benar dan jangan ngegosip tapi belajar ya.”
“Iya mom.” Jawab ku.
Akhirnya kami sampai di perpustakaan dan menuju rak buku yang kami tuju. Tak disangka disana juga ada gengnya ketua osis. Dan disana tidak ada lagi cewek sok kecentilan yang selalu dekat dengan kak Aksa yaitu Selli.
“Eh Bin, itu bukannya gengnya ketos. Kok formasinya berkurang satu. Biasanya ada bunga diantara kumbang-kumbang itu.”
“Us berisik. Kenapa itu yang kamu perhatikan, yang harus kamu perhatikan itu buku apa yang harus kamu ambil jangan sampai di ambil sama yang lain.”
“Iya iya Silvi, gitu aja ngegas. Kan kalau bisa sambil menyelam minum air Silvi.” Ucap Mila sambil cemberut karena di tegur oleh Silvi.
Aku cari tempat duduk yang agak disudut, biar bisa kosentrasi untuk memahami apa yang ada dibuku. Dan tanpa aku sadari di sebelah meja ku, juga disana meja kak Aksa dan kawan-kawannya. Tapi aku bodoh amat, aku tetap berkosentrasi dengan buku yang aku ambil tanpa mempedulikan lingkungan disekitar ku.
Setelah selasai membuat rangkuman dari buku yang ku ambil, aku meletakkan lagi ke tempat semula setelah itu aku dan teman-teman ku pergi menuju ke kelas kami. Tak berapa lama kami masuk ke kelas, guru walas pun masuk. Dan beliau membagikan kisi-kisi soal ujian untuk kami ujian dua hari lagi.
“ok anak-anak, ini ada kisi-kisi ujian anak tahun kemarin. Ibuk harap kalian belajar di rumah, pahami soal ujian nya. Agar nanti pas ujian, kalian sudah tahu gambaran soal apa yang keluar. Ada paham anak-anak ibu.”
“Ada buk.” Ucap kami satu sekolah serentak.
Setelah pulang sekolah aku, Mila dan Silvi berjalan keluar dari area sekolah dan kami menuju cafe yang tenang untuk belajar. Aku dan Silvi nebeng dengan Mila karena membawa mobil ke sekolah. Dan kami memilih cafe Hit. Karena Mila yang rekomendasikan. Ya meski pun aku pernah kesini sih. Kami memilih ruang privat agar tidak ribut dan belajar tenang. Kami mengeluarkan soal kisi-kisi yang di berikan oleh bu walas kami tadi. Kami bahas jawaban kisi-kisi tersebut sama-sama.
“duh belum ujian aja otak ku udah bersap Bin, gimana kalau ujian nanti ya.”
“Masak calon dokter ngomong gitu sih. Ini baru sekolah apa lagi nanti kuliah banyak tugas dan prakteknya. Apa kamu sanggup Mil.”
“Iya iya aku nggak akan ngeluh lagi Sil. Gitu aja galaknya minta ampun. Kamu lebih cocok jadi pengacara deh kayaknya Sil.”
“Apaan sih kamu Mil. Aku juga pinging jadi dokter juga kali.”
“What…jadi kamu juga ingin jadi dokter juga Sil. Kok aku baru tahu sih. Dan kamu Mil kenapa nggak kasih tahu. Enak ya kita bisa satu se frekwensi gitu. Jadi yang duduk belajar disini calon dokter semua ya.” Dan di anggukan oleh teman ku serentak. Aku bahagia, bisa dapat teman yang satu cita-cita.
Setelah selesai belajar, kami pulang kerumah masing-masing. Karena rumah ku berlawanan arah dengan Mila, akhirnya aku memilih naik taksi online. Dan taksi yang kupesan akhirnya sampai, bertepatan dengan kak Aksa yang sampai ke cafe ini. Aku nggak tahu kenapa kak Aksa selalu kesini, apa kak Aksa bekerja ya.
Aku berjalan melewati kak Aksa dan tak lupa aku menyapa kak Aksa. Aku nggak mau nanti di bilang istri durhaka. Ya walaupun pernikahan kami hanya sampai batas waktu yang tak tentu.
“Assalammu’alaikum.”ucap ku masuk rumah. Dan aku dapati mommy lagi diruang keluarga. Kuhampiri mommy dan mencium tangannya dengan takzim.
“Wa’alaikumsalam sayang. Sudah sana ganti baju dan setelah itu turun untuk makan malam.”
“Iya mom, kalau gitu Bintang mandi dang anti baju dulu ya mom.”
Makan malam pun tiba. Dan kami berkumpul di ruang makan. Seperti biasa aku duduk di sebelah kak Aksa. Dan mommy mulai mengajarkan aku jadi seorang istri. Bagaimana cara melayani suami di meja makan. Dan aku lihat mommy mengambilkan makanan untuk deddy, dan aku juga mengikuti cara mommy. Ku ambil piring kak Aksa dan ku isi dengan nasi dan lauk pauknya.
“Kak Aksa mau sambal apa kak.”tanya ku.
“Apa pun aku suka.” Hanya itu jawaban dari kak Aksa yang aku dengar. Dan ya terpaksa aku ambil apa adanya aja lagi. walaupun aku sedikit kecewa dengan sikap cueknya kak Aksa. Bukan salah ku juga kalau kita menikah. Trus kenapa dia seakan-akan menyalahkan aku.
Akhirnya ujian semester pertama di mulai. Beruntungnya aku sudah belajar semalam. Aku nggak mau jika nilai ku jatuh hanya karna pindah sekolah atau karena masalah yang sedang aku hadapi.
"Bin, gimana ujian hari ini, apa bisa jawabnya ?"
"Alhamdulillah Mil. Kamu dan Silvi gimana, apa juga bisa jawab. Percuma belajar dong kalau nggak bisa jawab."
"Tentu kami bisa dong."jawab mereka serentak." Tapi nggak tahu juga apa jawabanya benar atau nggak." Lanjut Mila.
"Semoga aja hasil ujiannya memuaskan kita semua. Dan ingat masih ada beberapa hari lagi untuk kita ujian, jadi kita harus belajar sungguh-sungguh."
Akhirnya ujian pun selesai. Dan kami mulai belajar seperti biasa. Dan aku sama kak Aksa seperti biasa, masih tidur di kamar kami masing-masing. Seakan-akan kami nggak pernah nikah. Tapi itu keberuntungan bagi ku, aku nggak canggung dengan situasi ini.