Theo, seorang bocah jenius dengan pemahaman luar biasa tentang pasar modal, lahir di keluarga yang serba kekurangan. Kehidupannya yang sederhana berbanding terbalik dengan kecemerlangannya dalam menganalisis grafik saham dan memprediksi tren pasar. Suatu ketika, sebuah kesempatan tak terduga datang saat ia menemukan sebuah buku tua berisi strategi investasi legendaris. Dengan modal nekat dan kecerdasannya yang tak tertandingi, Theo mulai merintis jalan dari nol. Ia bertekad membuktikan bahwa kecerdasan finansial dapat mengubah nasib, bahkan bagi anak dari keluarga miskin sekalipun, dan membawa keluarganya keluar dari jurang kemiskinan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon (Rahu)l, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Janji di Ujung Senja
Elsa tersenyum pada Theo, senyumnya tulus dan menenangkan. Ia melihat Theo yang masih sedikit cemas, dan ia ingin memastikan Theo tidak merasa sendirian menghadapi beban akademis dan kesibukannya.
"Oke, Theo," katanya, suaranya terdengar lebih lembut. "Aku harus kembali ke kelasku sekarang. Tapi, temui aku sepulang sekolah ya." Ucap Elsa sambil beranjak pergi.
Theo sedikit terkejut dengan permintaan mendadak itu, namun ia mengangguk. "Baik, Elsa. Aku akan menemuimu."
Sepanjang sisa hari sekolah, pikiran Theo terusik oleh janji temu dengan Elsa. Apa yang ingin dibicarakan Elsa sepulang sekolah? Apakah ini berkaitan dengan kesibukannya, atau ada hal lain yang ingin ia sampaikan? Theo mencoba menebak-nebak, namun ia tidak bisa menemukan jawaban yang pasti.
Ketika bel pulang sekolah berbunyi, Theo segera membereskan buku-bukunya. Ia melihat sekeliling, mencari sosok Elsa. Tak lama kemudian, Elsa melambai padanya dari ambang pintu kelas. Theo pun bergegas menghampirinya.
"Sudah siap?" tanya Elsa, matanya berbinar.
"Siap," jawab Theo, sedikit penasaran. "Kita mau ke mana?"
"Ke taman belakang sekolah saja," usul Elsa. "Di sana lebih tenang. Kita bisa bicara tanpa gangguan."
Theo mengangguk setuju. Mereka berjalan berdampingan menuju taman belakang sekolah yang rindang, tempat yang jarang dikunjungi siswa lain. Suara angin yang berdesir di antara dedaunan dan aroma bunga yang samar menciptakan suasana yang damai.
Mereka duduk di bangku taman yang terbuat dari kayu. Matahari sore mulai condong ke barat, memancarkan cahaya keemasan yang hangat. Theo menatap Elsa, menunggu apa yang akan dikatakannya.
"Theo," Elsa memulai, suaranya sedikit lebih serius sekarang. "Aku tahu kau sedang mengerjakan sesuatu yang penting, dan aku menghargai itu. Tapi aku juga tahu betapa sulitnya ujian di Glory School.
...****************...
Theo menatap Elsa, menunggu apa yang akan dikatakannya. Mereka duduk berdampingan di bangku taman, cahaya keemasan matahari sore menyelimuti mereka.
"Theo," Elsa memulai, suaranya terdengar lebih serius sekarang. "Aku tahu kau sedang mengerjakan sesuatu yang penting, dan aku menghargai itu. Tapi aku juga tahu betapa sulitnya ujian di Glory School. Dan aku melihat kau sedikit terbebani belakangan ini."
Ia berhenti sejenak, menarik napas dalam. "Aku hanya ingin mengingatkanmu tentang janji kita. Ingat kan, dulu kita pernah berjanji untuk menjadi siswa terbaik di sekolah ini? Kita berjanji untuk saling mendukung dan saling mendorong agar bisa mencapai itu."
Mata Elsa menatap Theo dengan penuh keyakinan. "Mulai sekarang, kita harus belajar lebih giat lagi. Aku tahu kau punya banyak kesibukan, tapi kita harus bisa membagi waktu. Kita tidak bisa mengorbankan pendidikan kita. Aku akan membantumu sebisa mungkin, dan aku harap kau juga begitu."
Theo terdiam sejenak, merenungkan kata-kata Elsa. Ia memang sempat melupakan janji lama mereka di tengah kesibukan proyek dan kekhawatiran akan ujian. Namun, mendengar Elsa mengingatkannya kembali, ia merasa ada dorongan semangat baru.
"Kau benar, Elsa," kata Theo, suaranya kini lebih mantap. "Aku benar-benar lupa tentang janji kita. Maafkan aku." Ia tersenyum tulus. "Terima kasih sudah mengingatkanku. Aku tidak sendirian dalam hal ini."
Elsa tersenyum lega. "Tentu saja tidak. Kita adalah tim, kan?" Ia menepuk pelan lengan Theo. "Jadi, bagaimana? Mulai besok, kita mulai sesi belajar intensif kita?"
Theo mengangguk mantap. "Setuju! Aku siap. Kita akan buktikan kalau kita bisa sukses di semua bidang, baik akademis maupun di luar sekolah."
...****************...
Theo mengangguk mantap. "Setuju! Aku siap. Kita akan buktikan kalau kita bisa sukses di semua bidang, baik akademis maupun di luar sekolah."
Mereka berdua saling tersenyum, janji baru terucap di bawah cahaya senja. Beban di pundak Theo terasa sedikit lebih ringan, digantikan oleh semangat baru untuk menghadapi tantangan.
"Oh iya, Theo," kata Elsa tiba-tiba, matanya berbinar lagi dengan rasa ingin tahu. "Kau tahu kan, setelah ujian semester ini selesai, akan ada pembagian cabang ekskul baru. Ada banyak pilihan yang menarik tahun ini."
Theo mengernyitkan dahi sejenak, memproses informasi itu. "Oh iya, aku lupa soal itu," katanya. "Kau sudah memikirkan ekskul apa yang akan kau pilih?"
Elsa mengangguk dengan mantap. "Tentu saja aku akan masuk ekskul Studi Grup."
Theo terkejut mendengar jawaban Elsa. Ia menduga Elsa akan memilih ekskul yang lebih berorientasi pada seni atau sosial, mengingat kepribadiannya yang ramah dan kreatif.
"Benarkah?" tanya Theo, sedikit heran namun juga senang. "Aku juga sama."
Elsa menatap Theo dengan senyum lebar. "Benarkah? Wah, bagus sekali! Aku pikir kau akan memilih ekskul yang berhubungan dengan bisnis atau kewirausahaan, mengingat kesibukanmu belakangan ini."
Theo tertawa kecil. "Aku memang tertarik dengan bisnis, tapi aku juga sadar pentingnya dasar akademis yang kuat. Ekskul Studi Grup sepertinya paling cocok untuk membantuku mempersiapkan diri menghadapi ujian-ujian berikutnya, dan juga untuk memperdalam pemahaman materi yang mungkin terlewat karena kesibukanku."
"Aku setuju," kata Elsa. "Aku juga berpikir begitu. Dengan kita berdua di Studi Grup, kita bisa saling mengingatkan untuk belajar, berbagi catatan, dan mungkin membentuk kelompok belajar yang lebih efektif. Ini bisa jadi cara kita untuk tetap unggul secara akademis sambil tetap mengejar minat kita di luar sekolah."
...****************...
Theo dan Elsa kembali ke rutinitas mereka, kini dengan tujuan yang lebih jelas: mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk ujian semester. Janji untuk menjadi siswa terbaik di sekolah kembali menguat di antara mereka, diperkuat oleh keputusan untuk bergabung dengan ekskul Studi Grup.
Hari-hari pun berlalu dengan cepat, meninggalkan jejak kesibukan di setiap sudut SMP Glory School. Suasana di sekolah berubah drastis. Koridor yang biasanya ramai dengan canda tawa kini lebih sering diisi dengan bisikan diskusi, suara halaman buku yang dibalik, dan tatapan mata yang fokus pada catatan.
Semua siswa dan siswi, tanpa terkecuali, disibukkan dengan belajar. Perpustakaan menjadi tempat favorit baru, dipenuhi oleh para pelajar yang tenggelam dalam buku-buku teks dan lembar soal latihan. Ruang kelas pun tak luput dari aktivitas belajar tambahan, baik yang diadakan oleh guru maupun yang diinisiasi oleh para siswa sendiri.
Theo dan Elsa tidak ketinggalan dalam gelombang kesibukan ini. Mereka memanfaatkan setiap waktu luang yang ada. Saat jam istirahat, mereka tidak lagi menghabiskan waktu untuk mengobrol santai, melainkan menggunakannya untuk membahas materi pelajaran atau mengerjakan soal-soal latihan bersama. Di luar jam sekolah, mereka seringkali bertemu di perpustakaan atau di rumah salah satu dari mereka untuk sesi belajar yang lebih intensif.
Jhonatan melihat perubahan pada Theo. Ia senang melihat adik angkatnya itu kembali fokus pada studinya, namun ia juga tahu bahwa Theo masih menjalankan proyeknya dengan serius.
"Kau terlihat lebih tenang sekarang, Theo," ujar Jhonatan suatu sore, saat mereka sedang mengerjakan tugas bersama. "Bagaimana persiapan ujianmu?"
Theo tersenyum. "Sudah lebih baik, Kak. Elsa sangat membantuku. Kami berdua sepakat untuk benar-benar serius menghadapi ujian ini."
"Baguslah," kata Jhonatan. "Ingat, keseimbangan itu penting. Kau bisa mengejar impian bisnismu, tapi jangan sampai melupakan dasar pendidikanmu."
Theo mengangguk.