Setelah ayahnya meninggal, Azalea hidup bagai pembantu di rumahnya sendiri di bawah kekejaman ibu dan kakak tirinya. Hingga suatu hari, Rosalinda menjual Azalea seharga miliaran rupiah kepada Daxon Ravenzo, penguasa mafia kejam.
Azalea diserahkan ke pria iblis itu bukan untuk menjadi istri, tapi hanya sebagai kandang pewaris. Daxon menginginkan tubuhnya hanya untuk melahirkan anak, tanpa cinta, tanpa belas kasihan.
"Kau kubeli untuk jadi BENIH keturunanku. Jangan bermimpi aku akan menyayangimu, karena bagiku... kau hanya alat."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ᴀᴜᴛʜᴏʀ_ʀᴀʙʙɪᴛ¹⁸, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Setelah dokter dan perawat keluar, Daxon segera membereskan barang‑barang kecil yang dibawa mereka selama dirawat, tapi tetap melakukannya dengan tenang agar tidak membuat Azalea merasa tergesa. Ia lalu mendekat dan membantu Azalea berdiri perlahan, menopang tubuh gadis itu dengan kedua lengannya agar tidak terasa berat.
"Pelan saja, jangan dipaksakan. Kalau terasa pusing atau sakit, katakan saja," ucapnya lembut, matanya tak lepas mengawasi setiap gerakan Azalea.
Azalea mengangguk pelan, sedikit tersenyum meski masih terasa lemas. "Aku baik‑baik saja, Daxon. Cuma terasa sedikit kaku di bagian pinggang, mungkin efek jatuh."
Daxon mengerutkan kening mendengarnya, lalu langsung mengangkat tubuh Azalea dalam gendongannya tanpa ragu.
"Kalau begitu lebih baik digendong saja. Jangan melangkah terlalu banyak dulu, nanti malah menambah beban perutmu," katanya tegas namun lembut.
Sebelum keluar, Daxon memastikan semua pintu dan jendela sudah tertutup rapat, lalu melangkah keluar dari ruang rawat dengan langkah hati‑hati. Di lorong, beberapa perawat dan pasien lain menoleh melihatnya—sosok yang dikenal menakutkan itu kini terlihat sangat lembut dan penuh perhatian pada wanita di gendongannya.
Begitu sampai di depan pintu utama rumah sakit, mobil mewah sudah terparkir rapi dengan sopir yang siap membukakan pintu. Daxon menurunkan tubuh Azalea dengan hati‑hati, menyandarkannya dengan bantal tambahan agar posisi duduknya nyaman dan tidak terguncang. Ia lalu duduk di sampingnya, langsung melingkarkan satu lengan melindungi bahu dan pinggang Azalea.
"Jalankan dengan sangat pelan dan hati‑hati. Jangan ada guncangan sedikit pun," perintah Daxon pada sopir dengan nada tegas.
"Siap, Tuan," jawab sopir, lalu melajukan mobil dengan kecepatan sangat stabil.
Di dalam perjalanan, suasana terasa tenang. Azalea menyandarkan kepalanya di bahu Daxon, sesekali mengusap perutnya dengan lembut sambil mengingat kata‑kata dokter tadi.
"Kau tidak perlu terlalu khawatir. Dokter bilang jangan memikirkan apa pun," bisiknya pelan, seolah ingin menenangkan Daxon yang terlihat masih memikirkan hal itu.
Daxon mencium ubun‑ubunnya, lalu mengusap punggung tangan Azalea dengan lembut.
"Aku hanya ingin memastikan kalian berdua benar‑benar aman. Tidak ada salahnya berhati‑hati. Mulai hari ini, tidak ada yang boleh mengganggu istirahatmu. Aku sudah menyuruh pelayan di mansion menyiapkan makanan yang bergizi, dan semua kebutuhanmu. Bahkan aku akan memanggil bidan khusus untuk memantau kondisimu setiap hari sampai jadwal periksa nanti," jawabnya dengan nada penuh kepastian.
Azalea menatap wajah Daxon, hatinya terasa hangat dan tenang. Meski ada sedikit kekhawatiran soal detak jantung janin, rasa aman yang diberikan Daxon membuatnya tidak lagi merasa takut sendirian.
Tak lama kemudian, mobil berhenti di depan gerbang mansion besar milik Daxon. Begitu pintu terbuka, beberapa pelayan sudah berdiri menunggu dengan wajah penuh hormat. Daxon kembali menggendong Azalea dan melangkah masuk menuju kamar.
Setelah membaringkan Azalea di atas tempat tidur, Daxon duduk di sisi tempat tidur dan tetap tidak beranjak.
"Di sini lebih tenang, kan? Istirahatlah yang cukup. Aku ada di sini, tidak akan pergi ke mana pun hari ini," ucapnya lembut.
Azalea hanya mengangguk, lalu memejamkan matanya perlahan, merasa sangat nyaman dan terlindungi.
...****************...
Beberapa saat kemudian, Azalea membuka matanya kembali. Ia menoleh ke samping dan melihat Daxon masih duduk setia di sisi tempat tidur, tangannya sesekali mengusap lembut punggung tangannya.
Azalea tersenyum tipis, lalu bertanya dengan suara lembut. "Daxon... kenapa kau tidak pergi ke kantor? Pasti banyak pekerjaan yang menumpuk, kan? Jangan sampai urusanku membuat kau terabaikan tugasmu."
Daxon menatapnya dalam. "Tidak perlu dikhawatirkan. Ada Aldric yang menggantikan aku menangani semua urusan di kantor dan perusahaan. Dia sudah mengerti betul apa yang harus dilakukan, jadi semuanya akan berjalan lancar tanpa aku harus ada di sana." jawab Daxon penuh keyakinan.
Ia mendekatkan wajahnya sedikit, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih lembut.
"Bagimu dan anak kita, urusan kantor itu bisa ditunda kapan saja. Tapi keamanan dan kesehatan kalian tidak bisa diganggu gugat. Selama kondisimu belum pulih sepenuhnya dan sampai pemeriksaan nanti, aku akan tetap di sini menemanimu. Tidak ada yang lebih penting dari ini."
Azalea terdiam mendengar jawabannya, hatinya terasa semakin hangat. Ia menggenggam tangan Daxon lebih erat, matanya sedikit berkaca‑kaca karena rasa terharu.
"Terima kasih, Daxon... aku merasa sangat beruntung bisa bertemu denganmu," bisiknya pelan.
Daxon tersenyum tipis, senyum yang hanya muncul untuknya saja, lalu mencium punggung tangan Azalea dengan lembut.
"Aku yang harusnya berterima kasih padamu. Kau telah memberiku kebahagiaan yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Sekarang istirahatlah lagi, ya."
Azalea menatapnya lekat-lekat, senyum di bibirnya perlahan memudar. Ia mengangkat wajahnya sedikit, suaranya terdengar tenang namun menyimpan rasa ingin tahu yang dalam, bahkan sedikit ragu.
"Kebahagiaan?" ulangnya pelan, lalu melanjutkan dengan tatapan yang tak lepas dari wajah Daxon. "Bukan begitu, kan? Dari awal kau mendekatiku, semuanya hanya berencana... hanya ingin menjadikanku wadah untuk mendapatkan pewarismu saja, bukan?" tanya Azalea.
Suasana di dalam kamar seketika menjadi hening. Daxon terdiam sejenak, matanya menatap Azalea dengan pandangan yang berubah — bukan lagi sikap dingin atau formal, tapi terlihat jujur dan terbuka. Ia tidak menyangkal, tapi juga tidak membiarkan kesan itu terus menggantung.
Daxon menghela napas panjang, lalu menggenggam kedua tangan Azalea dengan lembut namun erat.
"Kau benar," jawabnya perlahan, terus terang tanpa berbohong. "Di awal memang begitu. Aku hanya memikirkan keturunan, hanya melihatmu sebagai wanita yang bisa mengandung anakku. Tidak ada perasaan apa pun, tidak ada niat lebih dari sekadar rencana itu."
Ia mendekatkan wajahnya lebih dekat, suaranya menjadi lebih lembut dan tulus.
"Tapi semuanya berubah seiring berjalannya waktu. Semakin aku mengenalmu, semakin aku melihat sisi dirimu yang ceria, keras kepala, polos, dan tulus... rencana itu perlahan tidak lagi menjadi tujuan utamaku. Anak ini memang pewarisku, tapi kau, Azalea... kau bukan sekadar wadah. Kau adalah wanita yang telah masuk ke dalam hatiku tanpa aku sadari. Kebahagiaan yang aku rasakan sekarang bukan karena aku punya calon penerus, tapi karena aku punya kau dan anak ini."
Daxon mengusap pipi Azalea dengan punggung jarinya, tatapannya dalam dan penuh keyakinan.
"Kalau hanya soal pewaris, aku bisa mendapatkannya dari wanita mana pun. Tapi hati ini hanya memilihmu. Percayalah, perasaanku sekarang jauh lebih nyata daripada rencana apa pun yang pernah aku buat dulu."
Begitu mendengar kalimat "wanita mana pun" keluar dari mulut Daxon, raut wajah Azalea langsung berubah. Jantungnya terasa dicengkeram erat, dan tanpa sadar tangannya mengepal kuat di atas selimut, kuku hampir menekan ke telapak tangannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
tega banget si valeria mpe celakai azalea😔😔😔
aldric paling penakut iiih🤣
rasaiin kau daxon beli sate ayam sana🥰😂
lanjut thor😄