"Setelah lima tahun menjadi pelayan tak bergaji bagi suami dan keluarga mertuanya, Rania pergi membawa luka dan kembali sebagai badai yang akan menghancurkan kerajaan mereka."
Selamat membaca...jangan lupa dukung authir yaa...terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perubahan Kecil yang Mengusik
Suasana ruang tengah rumah mewah milik Rania di kawasan elite Menteng sore itu terasa begitu hangat. Sinar matahari senja yang mulai meredup menembus jendela-jendela kaca besar yang menjulang tinggi, memantulkan warna jingga keperakan di atas lantai marmer yang bersih mengkilap. Di atas sofa empuk, Rania duduk sembari memeriksa beberapa berkas laporan bulanan Arania International melalui tablet di tangannya. Sesekali, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman manis saat mendengar gelak tawa kecil dari arah ruang bermain anak yang berada tidak jauh dari sana.
Di ruangan itu, Elang Danuarta sedang asyik menemani Abid menyusun balok-balok kayu menjadi sebuah gedung bertingkat. Sebagai pria terhormat yang sangat mencintai Rania, Elang selalu menyempatkan diri berkunjung ke rumah Menteng sepulang kerja. Dia tulus memberikan seluruh perhatian dan waktunya demi bisa membangun kedekatan dan melihat senyum keceriaan di wajah bocah laki-laki berusia empat tahun itu, meskipun dirinya dan Rania belum resmi terikat tali pernikahan.
Namun, sore ini ada sesuatu yang terasa berbeda di mata Elang. Sebagai pria dewasa yang memiliki insting tajam, Elang menangkap ada sebuah riak kecil yang tidak wajar pada sikap Abid.
"Nah, Abid, balok yang merah ini ditaruh di paling atas ya, supaya jadi menara gedung yang paling tinggi," ucap Elang dengan nada suara yang sangat lembut sembari mengulurkan sebuah balok kayu berukuran sedang ke arah Abid.
Biasanya, Abid akan langsung bersorak riang, merebut balok itu dengan penuh antusias, atau bahkan langsung menghambur memeluk leher Elang sembari memanggilnya Papa Elang dengan manja. Namun kali ini, respon dari bocah kecil itu membuat gerakan tangan Elang sempat tertahan di udara.
Abid hanya menatap balok kayu di tangan Elang dengan pandangan yang mendadak ragu. Ada kilat ketakutan dan kebingungan khas anak kecil di dalam sepasang mata bulatnya yang polos. Bocah itu menarik tangannya sedikit ke belakang, memilih untuk mengambil balok kayu lain yang ada di dekat kakinya.
"Abid... Abid pakai yang biru aja, Om... eh, Papa Elang," jawab Abid dengan suara yang agak pelan, kepalanya tertunduk dalam-dalam menghindari tatapan mata Elang.
Elang mengernyitkan dahi yang bersih. Panggilan yang sempat canggung di awal kalimat tadi benar-benar mengusik telinga Elang. Bukan cuma itu, bahasa tubuh Abid yang biasanya sangat lengket dan manja, kini tampak sengaja menjaga jarak beberapa sentimeter dari posisi duduk Elang. Benih-benih hasutan Rendra di balik pagar sekolah TK rupanya mulai bekerja dan meracuni otak suci anak kecil itu. Abid mulai memandang Elang sebagai "orang asing" yang berniat jahat, persis seperti apa yang dibisikkan oleh ayah kandungnya.
"Abid capek ya, Sayang? Kok menaranya gak diselesaiin?" tanya Rania dari arah meja tengah, mencoba mengalihkan pandangannya sejenak dari layar tablet. Rania tidak menyadari perubahan halus itu karena baginya, Abid hanya sedang malas bermain seperti anak-anak pada umumnya.
"Enggak kok, Bunda. Abid cuma... cuma mau simpan mainan aja," sahut Abid gugup. Dengan gerakan terburu-buru, bocah kecil itu mulai memasukkan balok-balok kayu ke dalam kotaknya, seolah ingin menyudahi interaksinya dengan Elang secepat mungkin.
Elang diam membeku di tempatnya duduk. Matanya yang tajam terus mengawasi setiap gerak-gerik Abid. Saat Abid mengangkat tas ransel sekolahnya yang ditaruh di sudut ruangan, Elang melihat bocah itu protektif terhadap tas tersebut. Abid memeluk erat tas ranselnya, seolah menyembunyikan sesuatu yang berharga—dan rahasia—di dalam sana. Mainan robot pemberian Rendra yang disembunyikan Abid membuat anak itu dilingkupi rasa bersalah yang luar biasa kepada Bundanya.
Selesai merapikan mainan, Abid langsung berlari kecil menuju kamarnya di lantai dua tanpa berpamitan manja pada Elang seperti yang biasa dia lakukan setiap sore.
Melihat hari yang mulai beranjak malam, Elang tahu diri bahwa dia harus pamit pulang demi menjaga kehormatan Rania yang tinggal berdua saja dengan sang anak. Di depan pintu teras rumah Menteng, Elang menghentikan langkahnya dan menatap Rania dengan serius.
"Rania," panggil Elang dengan suara beratnya yang tenang. "Apa akhir-akhir ini Abid ada cerita sesuatu sama kamu? Atau... apa ada orang asing yang mencoba menghubungi kalian di luar sepengetahuanku?"
Rania mengernyitkan dahi, merasa heran dengan pertanyaan Elang yang tiba-tiba. "Tidak ada, Lang. Jemputan sekolah Abid selalu ketat, dan di rumah Menteng ini pun penjagaan sekuriti di gerbang depan dua puluh empat jam. Memangnya ada apa? Kamu melihat sesuatu yang aneh dari Abid?"
Rania tipe ibu yang protektif, namun karena kesibukannya memulihkan kejayaan bisnisnya pasca kehancuran keluarga Rendra, dia tidak sepeka Elang dalam membaca perubahan psikologis anak sekecil Abid. Rania mengira Abid hanya sedang tumbuh menjadi anak yang sedikit lebih mandiri.
Elang sempat terdiam beberapa saat, menimbang apakah dia harus mengutarakan kecurigaannya atau tidak. "Sikap Abid sore ini agak berbeda, Rania. Dia sengaja menarik tangannya saat aku mau membantu, dan tadi... dia hampir memanggilku dengan sebutan 'Om' lagi sebelum buru-buru meralatnya. Bahasa tubuhnya menunjukkan kalau dia sedang menyembunyikan sesuatu yang besar dari kita."
Rania seketika terkekeh pelan, menganggap kekhawatiran calon suaminya itu terlalu berlebihan. "Sepertinya itu cuma perasaan kamu saja, Lang. Mungkin Abid cuma lagi bosan atau ngantuk dan kelelahan di TK, Kamu. Jangan terlalu dipikirkan. Kamu juga harus istirahat, ini sudah malam. Gak enak kalau tetangga lihat kamu kemalaman di sini."
Melihat Rania yang masih menganggap remeh hal itu dan demi menjaga norma kesopanan, Elang memutuskan untuk pamit pulang ke rumah pribadinya sendiri. Namun, di dalam otaknya yang cerdas, Elang tidak bisa membohongi instingnya sendiri. Perubahan sikap Abid yang terjadi secara mendadak tepat setelah pulang dari sekolah TK hari ini sangat tidak masuk akal. Permainan halus Rendra telah memicu alarm bahaya di kepala Elang Danuarta, dan roda penyelidikan diam-diam akan segera dimulai dari kediamannya sendiri tanpa melibatkan Rania.
pst dapat cap pelakor😄🤭