NovelToon NovelToon
Dicari: Pria Yang Siap Menikah

Dicari: Pria Yang Siap Menikah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / CEO
Popularitas:827
Nilai: 5
Nama Author: Meyrna Pratiwi

Katie Wilson sudah lelah dengan drama kencan yang selalu berujung gagal. Dia ingin segera menemukan pria yang serius untuk menikah. Karena merasa tidak berbakat menilai laki-laki, Katie meminta bantuan sahabat lamanya, Mark Barrington, untuk menjadi "konsultan" pribadinya.

Rencananya jelas: Mark bertugas menyeleksi kandidat pria dan melatih Katie agar tampil lebih memikat saat berkencan. Mark pun setuju, apalagi itu artinya Katie akan mempraktikkan semua pesonanya hanya kepada dirinya.

Namun, situasinya jadi kacau saat "ciuman latihan" yang mereka lakukan terasa terlalu nyata. Katie mulai bingung dengan perasaannya sendiri, sementara Mark mulai kesulitan bersikap profesional sebagai pelatih.

Sekarang, Mark harus berjuang meyakinkan Katie bahwa dia tidak perlu mencari pria lain. Sebab, suami yang selama ini Katie cari sebenarnya sudah ada di depan mata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meyrna Pratiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

"Lagipula, menunda-nunda tidak ada gunanya," tambah Mark Barrington membela diri. "Kamu kan sudah tidak bertambah muda lagi."

Katie Wilson langsung merengut mendengar kalimat itu. "Dan kamu benar-benar tidak punya bakat untuk bersikap taktis. Sisa usiaku yang produktif masih sangat panjang!"

Dengan gusar, Katie menyentak pintu hingga terbuka lebar dan langsung melangkah keluar dari ruangan. Benar-benar tidak bertambah muda lagi, batinnya jengkel sepanjang koridor.

Mark hanya berdiri diam, memandangi kepergian wanita itu dengan senyum tipis yang berkedut di sudut bibirnya. Siapa yang mengira kalau Katie bisa sesensitif itu jika menyangkut masalah usia? Tapi dalam hal ini, Mark tahu wanita itu keliru.

Katie tidak hanya memiliki sisa tahun-tahun yang panjang, dia adalah tipe wanita yang akan tetap terlihat menarik, cerdas, dan memesona bahkan ketika usianya menginjak sembilan puluh tahun nanti. Dan di matanya, Katie selalu memiliki daya pikat tersendiri.

Mark menelan ludah saat ingatan tentang bagaimana lekuk tubuh Katie yang bergerak anggun saat berjalan keluar tadi berputar di kepalanya. Matanya menyipit, mencoba mengunci bayangan sensual itu dalam benaknya, berusaha menerka mengapa Katie bisa terasa begitu menggoda tanpa harus bersusah payah.

Daya tarik Katie bukanlah jenis pamer kemolekan tubuh murahan seperti wanita-wanita yang pernah mendekatinya selama ini.

Wanita itu bahkan tidak pernah sengaja menyentuhnya atau memberikan tatapan genit untuk memancing gairahnya. Sialan, Mark bahkan ragu apakah Katie sadar betapa feminin dan provokatifnya setiap respons alami yang ia tunjukkan di depan Mark.

Lalu, mengapa dia selalu terjebak dalam fantasi liar setiap kali menatap wanita itu? Mark sendiri tidak yakin. Yang dia tahu, keinginan untuk menggali lebih dalam rasa penasaran itu kini terasa jauh lebih mendesak. Bagaimana rasanya bercinta dengan Katie? pikirnya menantang.

Menarik tubuh polos wanita itu ke bawah dekapan dadanya, merasakan kelembutan kulitnya yang bergesekan langsung dengan tubuhnya... Napas Mark memberat, dan tubuhnya mendadak menegang oleh gelombang hasrat yang tiba-tiba menguasai pikirannya.

Tok! Tok!

Sebuah kepala melongok dari balik pintu yang setengah terbuka. "Apakah Anda sudah siap untuk menemui Tuan Edwards sekarang, Mark?"

Mark langsung mengerutkan dahi dalam-dalam begitu kenyataan pahit menyeretnya kembali. Ia mendadak teringat bahwa David Edwards masih menunggunya di luar.

"Saya butuh kamu menghubungi pengacara kita dan mencari tahu apakah ada peraturan pemerintah atau kesepakatan serikat pekerja yang melarang seorang sukarelawan membuka klinik bayi di area pabrik untuk karyawan kita. Kalau tidak ada masalah, minta dia memastikan kalau asuransi perusahaan kita bisa menanggungnya."

Bill, yang selalu cepat menangkap maksud atasannya, langsung menyimpulkan. "Maksud Anda, Nona Wilson?"

Sudut mulut Mark Barrington terangkat, membentuk senyuman lembut yang tidak biasa. "Tepat sekali. Tampaknya, Katie akan mulai mencoba mengubah sudut kecil dunia kita ini."

"Dan suruh Edwards masuk," tambah Mark dengan suara yang mendadak kembali mengeras. Bill pun mundur dengan patuh.

Katie Wilson menghabiskan sepanjang sore itu untuk pindahan ke pondok kecil di belakang rumah Mark. Tepat pukul tujuh malam, ia sudah selesai mandi dan kini berdiri termangu di depan lemari pakaiannya, kebingungan memilih baju apa yang harus ia kenakan untuk "latihan kencan" pertama mereka malam ini.

Rasa tidak percaya diri yang sudah sangat akrab dengannya mulai merayap, merusak antusiasme yang dirasakannya sejak sore. Menurut cerita yang pernah ia dengar, mantan pacar terakhir Mark adalah seorang model high-fashion papan atas.

Katie menatap nanar pada deretan pakaiannya yang tampak begitu merana di dalam lemari besar itu. Tidak ada satu pun yang mendekati standar mode kelas atas. Ditambah lagi, Mark sudah melihat gaun terbaik yang dimilikinya saat makan malam tadi malam. Ia menggeser gaun sutra hijaunya ke samping; tidak mungkin ia memakai gaun yang sama dua kali berturut-turut.

Itu berarti pilihannya kini terbatas pada dua helai pakaian saja. Salah satunya adalah gaun sutra kuning bermotif indah yang ia beli sebelum bepergian ke Afrika—bahkan sebelum berat badannya turun drastis sebanyak dua puluh lima kilogram! Akibatnya, gaun itu sekarang tampak melonggar aneh di bagian leher, menggelembung di pinggang, dan jatuh dengan siluet yang sangat canggung di tubuhnya.

Begitu ada kesempatan, aku harus berkendara ke kota untuk merombak isi lemari ini, batin Katie frustrasi. Hal itu harus dilakukan setidaknya sebelum pesta keluarga Wheeling akhir pekan ini. Bagaimanapun juga, ia tidak bisa pergi memancing tanpa membawa umpan yang tepat, pikirnya ketir.

Katie Wilson terkikik sendiri membayangkan ide konyol untuk menutupi tubuhnya dengan helai-helai bulu unggas seperti sebuah umpan pancing buatan.

Atau lebih ekstrem lagi, bagaimana kalau dia menutupi "buruan"-nya dengan bulu-bulu itu? Katie mengerjap saat sebuah bayangan tentang Mark Barrington tiba-tiba melintas di benaknya—Mark yang hanya mengenakan bulu-bulu tanpa sehelai benang pun. Mungkin sebuah jubah bulu berwarna merah darah dan kuning terang yang mencolok, mirip seperti jubah yang dulu sering dipakai oleh raja-raja prajurit kuno di Hawaii. Dan mungkin perlu ditambahkan beberapa bulu berwarna biru sebagai kontras, yang dipasang sedikit lebih rendah di tubuhnya...

Napas Katie mendadak memendek dan tertahan saat imajinasinya mulai memetakan dengan sangat tepat di bagian mana saja ia akan menempatkan bulu-bulu itu pada tubuh atletis Mark.

Oh, ya, pikirnya dalam hati dengan tatapan menerawang penuh mimpi. Mark pasti akan menjadi umpan yang sangat luar biasa dan menggoda. Tapi umpan itu jelas bukan untuk konsumsi wanita yang kurang berpengalaman seperti dirinya.

Katie segera menarik kembali imajinasinya yang sudah melantur terlalu jauh. Mark hanyalah sebuah sarana untuk mencapai tujuannya mencari suami, bukan tujuan akhir itu sendiri, ia mengingatkan dirinya dengan tegas.

Diiringi sedikit rasa sesal yang samar-samar mulai mengusik ketenangannya, Katie akhirnya menarik sehelai gaun abu-abu berpotongan sederhana dari lemari.

Gaun itu ia beli dulu untuk menghadiri acara-acara resmi di biara. Satu-satunya hal positif yang bisa ia katakan tentang pakaian itu saat ini adalah ukurannya yang pas di tubuh. Sambil menghela napas panjang, ia pun menyandangkan gaun itu ke tubuhnya.

Saat ia sedang berhati-hati memoleskan lipstik ke bibirnya, suara bel pintu yang tiba-tiba berbunyi nyaring langsung mengagetkannya. Tangannya tersentak, membuat sapuan lipstiknya langsung tercoreng berantakan di sekitar bibir.

"Sialan!" gerutunya dengan sangat jengkel. Mark sudah datang, padahal ia sendiri belum siap sepenuhnya. Katie melirik jam tangannya sambil bergegas menyarungkan kakinya ke dalam sepatu. Meskipun, tunggu dulu, ini bahkan belum menunjukkan jam tujuh malam, melainkan baru pukul enam lewat empat puluh menit. Jangan-jangan itu orang lain, pikirnya berharap.

Namun begitu Katie membuka pintu, ia mendapati Mark sudah berdiri tegap di ambang tangga, dan gelombang rasa senang seketika membanjiri dadanya. Sayangnya, binar kebahagiaan itu tidak bertahan lama setelah mendengar kalimat pertama yang keluar dari mulut pria itu.

"Gaun itu membuat kulitmu kelihatan seperti orang sakit kuning," komentar Mark tanpa dosa.

Katie langsung melangkah mundur, memberi isyarat agar pria itu masuk ke ruang tamu kecilnya. "Silakan masuk dan buat dirimu senyaman mungkin selagi kamu melanjutkan ejekanmu padaku," balas Katie ketus.

"Aku sama sekali tidak bermaksud mengejekmu," Mark membela diri dengan nada santai. "Aku sedang memberikan edukasi kepadamu tentang apa saja yang sebenarnya disukai oleh laki-laki..."

Bersambung ....

1
afri yani
pasti masih ori. segel tertutup rapat.🤭
MyR: ntar lagi segel terbuka...ups🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!