Kehidupan Milly yang tenang di sebuah kota kecil, Glenmore, perlahan mulai berubah menjadi mencekam. Perburuan demi perburuan mengejarnya. Ia harus lari, sejauh mungkin dari rumah, menjauhkan dari nenek Dorothy. Nenek yang mengadopsinya dari panti asuhan.
Pelarian demi pelarian membawanya ke sebuah misteri hidup yang selama ini ia pertanyakan. Siapa dirinya? Darimana asalnya? Kenapa ia memiliki kemampuan yang tidak dimiliki orang sekitarnya? Mengapa mereka mengejarnya?
Akankah takdir akan membawa Milly menemukan jawaban?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liza Navy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 Malam Panjang Harus Dilewati
Sekujur tubuh Milly dibanjiri keringat. Obatnya telah diminum, tapi sepertinya kali ini tidak mempan. Kesakitan melanda seluruh tubuhnya dari ujung kaki sampai ujung rambut. Ia masih belum mengerti-kesakitan dahsyat yang dialaminya ini sebandingkah dengan segel yang harus terbuka. Tidak bisakah segel itu tidak usah terbuka selamanya. Kenapa juga harus disegel jika akhirnya harus dibuka. Ia sungguh tak mengerti.
Sementara punggungnya masih sedikit menyisakan nyeri menusuk. Sekarang masih harus ditambah kesakitan lain yang dialami sekujur tubuhnya. Ia mencengkram erat tangannya sendiri. Sakit--batinnya meringis menahan nyeri. Ia tak berani mengeluarkan sepatah katapun. Ia ingat pesan Dokter Hani jika semua ini harus ia lewati mau tidak mau. Ia mulai paham kenapa Wayne berkali-kali mengatakan, "Tahan!" Karena memang satu kata itu yang bisa dikatakan. Ia tidak bisa lari dari sakitnya ini.
Lama-kelamaan ia makin tidak bisa menahannya lagi. Kesadarannya melayang. Entah apa yang terjadi di dalam kepalanya. Seperti ada dua kekuatan yang saling bergelut. Ia kembali tak sadarkan diri.
Beberapa jam kemudian ketika ia bangun, ia melihat senja sudah turun. Langit di luar kamarnya berwarna jingga kemerahan. Sedikit mendung. Ia melihat jam yang ada di salah satu nakas di kamar. Jam rupanya sudah menunjukkan pukul 5 sore.
Wayne menawarkan makan malam lebih awal. Seharian ini Milly belum sempat mengunyah secuil makanan pun. Kesakitan menjelang terbukanya segel hampir setiap kesempatan mengejarnya. Beberapa datang sebagai serangan pendek. Tapi juga datang sebagai serangkaian serangan panjang yang menyakitkan. Karenanya sebelum sakit itu datang lagi, Wayne berinisiatif mengajak Milly makan. Entah sesuap atau dua suap, setidaknya harus ada yang masuk ke dalam perut.
Milly mengangguk lemah. Ia ingin mengatakan pada Wayne, sakit sekali dirinya, tapi ia mengurungkannya. Ia bahkan tidak menemukan ketenangan atau wajah dingin pada diri Wayne saat ini. Yang dilihatnya hanya wajah cemas dan empati berlebihan.
Wayne segera meminta bibi membawakan semangkuk nasi goreng ke dalam kamar. Milly menerima nampan itu dan dengan susah payah memasukkan sesuap demi sesuap ke dalam mulutnya. Entah bagaimana tapi mulutnya terasa pahit. Ia tak merasakan kenikmatan sama sekali dari makanan yang ada di nampannya.
"Apa yang kau rasakan sekarang?" tanya Wayne masih dengan kekawatiran yang sama.
Milly memaksakan diri buat tersenyum. "Aku masih bisa menahannya," katanya lirih. Bibirnya udah pucat. Wajahnya semakin memutih.
Tak beberapa lama menit berselang, sakit kepalanya datang menyerang lagi. Ia buru-buru mengembalikan nampannya kepada Wayne. Ia menyandarkan badannya ke kepala ranjang. Kesepuluh jemarinya meremas bantal yang ada di pangkuannya.
"Obat," katanya lirih. "Obat," suaranya nyaris tak terdengar. Ia benar-benar butuh obatnya lagi sekarang.
Wayne segera tanggap. Ia memasukkan dua kapsul ke dalam mulut Milly.
Dengan tangan gemetar, Milly meneguk air di gelas yang diberikan Wayne.
"Kau tak apa?" tanya Wayne terlihat lebih cemas dari sebelumnya. Baru kali ini ia melihat pegangan tangan Milly tremor.
Milly menggeleng lemah. Tokh andai ia bilang makin lebih intens sakitnya pun, tak ada yang berubah. Ia tidak bisa lolos dari kesakitan ini. Dan Wayne tidak bisa merasakan penderitaannya.
Wayne hendak memegang tangan Milly tapi ditepisnya. Ia tak ingin Wayne bisa merasakan betapa kesakitan dirinya saat ini. Perlahan ia melorot dari sandaran duduknya dan meringkuk berbaring di tempat tidur. Ia mencengkram mulai dari bantal, selimut, seprei dan mengacak-acak semuanya. Sakitnya luar biasa. Mau meledak rasanya.
Wayne panik melihat Milly bergulingan seperti itu. Ia ingin membantu tapi tidak bisa melakukan apapun. Ia hanya bisa mengecilkan suhu AC ruangan supaya tidak terlalu dingin.
Tiba-tiba semua kaca dan benda pecah belah meledak. Wayne segera membungkuk dan menutupi tubuh Milly dengan selimut tebal. Namun ia sendiri tak selamat dari pecahan kaca di ruangan kamar itu. Beberapa serpihan gelas yang tadinya ada di atas nakas menancap ke lengan atas dan pinggangnya.
Setelah suasana kembali reda seperti semula, ia berpikir untuk memindahkan Milly ke kamar lain. Kamar itu harus dibersihkan dulu dari pecahan kaca, dan juga besok siang setidaknya jendelanya harus diperbaiki. Kacanya benar-benar pecah dan sekarang menyisakan lubang besar.
Milly kehilangan kesadarannya sekali lagi. Dengan tangan yang terluka Wayne menggendong Milly ke kamar sebelah. Setelah membaringkan tubuh Milly dan menyelimutinya, baru ia menarik pecahan kaca yang menancap di tubuhnya sendiri. Ia kemudian meminta bantuan anak buahnya yang sedang berjaga untuk mengobati dan memperban lukanya. Untungnya tidak banyak terjadi pendarahan di lukanya.
Sayup-sayup ketika malam tiba, Milly terbangun dari tidurnya. Ia melihat jam dinding, jam menunjukkan pukul 9 malam. Ia melihat disisi ranjang, Wayne tertidur.
Tak ingin membangunkan Wayne, ia pelan-pelan menyeret badannya duduk lalu mengambil air di sampingnya. Meski sekarang tidak sakit, tapi ia merasakan ketegangan besar diantara saraf-saraf yang terhubung di dalam kepalanya.
"Apakah sakit ini masih bakal berlanjut?" gumamannya lirih. Ia tidak tahu apakah masih sanggup menghadapinya. Ada yang salah pada dirinya, tapi ia tidak tahu apa.
Datang lagi. Kepalanya menjadi sakit dalam sekejap. Sakit itu mengendalikan seluruh tubuhnya. Ia meringis menahannya. Tapi juga sudah tak bisa menahannya lagi. Ia hanya bisa pasrah. Ia tidak mencengkram apapun lagi dan membiarkan sakit itu menguasai dirinya sepenuhnya.
Ia tidak melawan lagi sakitnya. Ia tidak lagi mencoba menahan dirinya. Meskipun rasa sakit bertubi-tubi menggerogoti tubuhnya. Ia hanya pasrah. Ia mulai belajar menerima rasa sakit itu menjadi bagian dari dirinya. Ia tidak mengeluh. Ia tidak berteriak. Hanya menyerah.
Anehnya semakin bertambah intens nya kesakitan yang dideritanya, semakin tidak menyakiti dirinya. Ketika penderitaan kesakitan itu menguasai dirinya, kesakitan itu juga mulai menyatu menjadi bagian dari dirinya. Ia memejamkan mata dan tertidur.
Wayne terbangun melihat cahaya terang menyelimuti tubuh Milly. Cahaya itu seperti benang sutra yang terajut satu persatu membebat tubuh Milly seperti ulat dalam kepompong.
Milly kelihatannya masih tertidur dan tak melihat apa yang sebenarnya terjadi padanya.
Wayne berdiri tak jauh dari Milly. Ia mematikan lampu kamar, antisipasi supaya tidak meledak lagi. Wajahnya tegang menyaksikan apa yang terjadi pada Milly.
Di depannya tubuh Milly perlahan terangkat ke udara ketika kepompong cahaya itu telah terbentuk sempurna. Samar-samar Wayne masih bisa melihat wajah Milly yang teduh dan hangat. Seolah kesakitan telah menyatu dengan dirinya.
Tepat tengah malam, mata Milly terbuka. Ia hanya melihat kabut cahaya putih dalam pandangannya. Dimana aku--batinnya bertanya. seluruh bagian tubuh tak ada satupun yang bisa digerakkan. Karena terlalu lemah, matanya kembali terpejam.
Sementara Wayne masih berdiri di samping ranjang Milly. Ia berjaga dan tak berkedip sedikitpun. Ia menemani proses yang harus dilalui oleh Milly dari luar kepompong cahaya yang membalut Milly makin lama makin tebal.
***