NovelToon NovelToon
Haruskah Seperti Ini

Haruskah Seperti Ini

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:840
Nilai: 5
Nama Author: Pengamat Senja

​Di balik apron Cafe Nuansa, Alan hanyalah mahasiswa biasa berpesona luar biasa. Ia berjuang menopang keluarga, tanpa menyadari cinta tulus Rahmi, sang pewaris properti yang selalu menjadi pelindungnya. Namun, saat takdir mempertemukan Alan kembali dengan Bunga, primadona masa SMA, persahabatan dan cinta pun mulai diuji. Di antara pengorbanan tersembunyi, patah hati yang bisu, dan garis takdir yang membingungkan, kepada siapakah hati Alan akan berlabuh? Rahasia besar menanti untuk segera terungkap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Perwujudan Bidadari

​Waktu seakan kehilangan fungsinya. Putaran jarum jam di pergelangan tangan seolah berhenti berdetak, digantikan oleh ritme debaran di dalam dada yang menggila. Angin pagi Kota Bandung yang biasanya terasa dingin menusuk tulang, kini tak lagi mampu menembus kesadaran Alan. Di depan gerbang besi megah bercat hitam dengan ornamen emas itu, dunia Alan Prawija menyempit, hanya menyisakan satu objek yang menyita seluruh kapasitas visual dan kognitifnya.

​Gadis bergaun peach pastel itu berdiri tak lebih dari satu meter di depannya. Aroma parfumnya yang manis, campuran antara wangi kelopak mawar pagi dan kesegaran vanilla, menyeruak masuk ke dalam indra penciuman Alan, memabukkan kewarasannya. Bunga terlihat sangat sempurna. Sinar matahari pagi yang menembus celah dedaunan pohon besar di atas mereka memberikan efek halo di sekitar rambut panjangnya yang tergerai. Ia adalah perwujudan bidadari yang turun dari khayalan paling liar seorang pemuda miskin, berdiri membumi di atas trotoar, dan tersenyum hanya untuknya.

​Alan masih terdiam. Mulutnya sedikit terbuka, namun pita suaranya mogok kerja. Tangannya yang masih memegang stang motor sport tuanya terasa kaku. Matanya tak berkedip, merekam setiap inci pahatan senyum di wajah Bunga, seolah takut pemandangan ini akan menguap seperti fatamorgana jika ia memalingkan wajah sedetik saja.

​Melihat pemuda di depannya mematung seperti arca, Bunga memiringkan kepalanya sedikit. Senyum di bibirnya yang dipoles lip tint merah muda itu kian melebar, membentuk lengkungan yang meluluhkan hati. Ia mengibaskan tangannya pelan di depan wajah Alan.

​"Alan," panggil Bunga dengan suaranya yang lembut bak lonceng kristal yang tertiup angin.

​Tidak ada respons. Pemuda berjaket khaki itu masih menatapnya dengan pandangan kosong namun sarat akan kekaguman absolut.

​Bunga terkikih pelan, mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan untuk menyejajarkan pandangannya dengan mata Alan. "Kamu kenapa kok diem aja?" tanyanya lagi, kali ini dengan nada yang sedikit menggoda, menyiratkan keheranan namun juga secercah rasa senang yang diam-diam menari di hatinya.

​Pertanyaan yang meluncur dari bibir Bunga itu bagaikan mantra yang mendobrak alam bawah sadar Alan. Pemuda itu tersentak pelan. Kelopak matanya mengerjap beberapa kali secara cepat, mencoba menarik kembali jiwanya yang sempat melayang. Namun, di saat sistem kesadarannya belum sepenuhnya pulih, sebuah kalimat meluncur begitu saja dari bibirnya, murni tanpa melewati filter logika atau benteng pertahanan gengsinya.

​"Gak kenapa-napa, cuman terpesona aja ngeliat kamu."

​Hening.

​Angin pagi seketika terasa berhenti berembus. Daun-daun yang tadinya bergesekan kini terdiam.

​Deg.

​Hati Alan mencelos hebat, seakan baru saja terjun bebas dari lantai puncak gedung pencakar langit. Matanya seketika membelalak lebar. Darah yang sedari tadi berdesir hangat di sekujur tubuhnya, kini seolah tersedot habis kembali ke jantung, meninggalkan kulit wajahnya pucat pasi bagai mayat hidup. Ia tak percaya dengan apa yang baru saja ia ucapkan. Kalimat itu meluncur terlalu jujur, terlalu polos, dan terlalu telanjang untuk seorang Alan Prawija yang selalu menyembunyikan perasaannya di balik sikap ketus dan cuek.

​Berbeda seratus delapan puluh derajat dengan kepanikan Alan yang seperti orang terkena serangan jantung, Bunga justru tertegun. Mata bening gadis itu sedikit melebar, menangkap ketulusan murni yang tak dibuat-buat dari sepasang mata elang milik Alan. Rona merah tipis seketika menjalar di kedua belah pipi Bunga. Namun, alih-alih merasa risi atau canggung, sebuah senyum yang jauh lebih manis dan hangat dari sebelumnya merekah di wajah cantiknya.

​Bunga menatap lekat wajah Alan yang kini sepucat kertas HVS. Hatinya menghangat, merasakan desiran aneh yang menyenangkan di dalam dadanya.

​'Ngeliat muka kamu yang sampai pucat kaya gini setelah muji aku...' batin Bunga berbisik lembut, matanya mengunci pandangan Alan yang tampak panik. 'Mungkin ini pertama kalinya kamu bicara kaya gitu sama seorang cewek ya, Lan? Kamu yang biasanya irit ngomong, kamu yang selalu kelihatan keras dan dingin kalau di kampus... tiba-tiba ngeluarin kata-kata manis yang bikin lututku lemes. Mungkin lebih tepatnya... ini kejujuran yang datang dari mulut tanpa kamu sadari. Makin gemes aja kamu tuh, Lan. Ternyata di balik jaket kumal dan wajah sangarmu itu, ada hati yang sangat rapuh dan jujur.'

​Mungkin bagi orang lain, bagi gadis-gadis metropolitan yang sering dikelilingi pria-pria hidung belang, kalimat Alan barusan hanyalah sebuah gombalan murahan ala kadarnya. Namun tidak bagi Alan, dan ajaibnya, tidak juga bagi Bunga. Bunga tahu persis, itu adalah sebuah kejujuran tak ternilai yang tak pernah Alan berikan kepada siapa pun. Itu adalah pengakuan dari jiwa yang tulus.

​Sementara Bunga sedang tenggelam dalam rasa haru dan senangnya, di seberang sana, Alan sedang sibuk merutuki dirinya sendiri. Perang dunia ketiga sedang berkecamuk di dalam kepalanya.

​'Sialan nih mulut!' maki Alan dalam batinnya dengan tingkat keputusasaan yang maksimal. Ia ingin rasanya menelan kembali kata-katanya, atau jika bisa, ia ingin bumi membelah dan menelannya bulat-bulat detik ini juga. 'Kenapa gak bisa gue kontrol?! Ngomong kok tanpa aba-aba dari gue sih! Bego! Bego banget lu, Alan! Lu kelihatan kayak cowok gampangan yang jago ngegombal! Gimana kalau Bunga ilfeel? Gimana kalau dia ngira gue cowok buaya darat yang cuma modal omong kosong?!'

​Kepanikan itu memicu reaksi fisik yang tak bisa disembunyikan. Dahi Alan mulai mengeluarkan keringat dingin yang tipis. Ia menelan ludah dengan susah payah, tenggorokannya terasa kering kerontang. Tangannya yang berada di atas tangki motor saling meremas satu sama lain.

​"Ma.. maaf, Nga," ucap Alan dengan suara terbata-bata, nyaris seperti cicitan tikus yang ketakutan. Ia menundukkan pandangannya, tak berani lagi menatap mata Bunga. "Aku... aku gak maksud ngomong kaya gitu... maksud aku, bukan mau kurang ajar atau ngegombalin kamu pagi-pagi... aku..."

​Namun, sebelum Alan sempat menyelesaikan rentetan permintaan maafnya yang menyedihkan dan merusak suasana yang sudah terlanjur indah itu, Bunga melangkah satu tindak lebih dekat. Jarak mereka kini menyempit drastis. Gadis itu tidak membiarkan Alan menghancurkan momen manis ini dengan rasa insecure-nya.

​"Jalan sekarang yuk," potong Bunga dengan suara riang, membiarkan kalimat Alan menggantung di udara.

​Bunga tersenyum maklum. Ia menatap wajah Alan yang masih tertunduk gugup. 'Aku tau, Lan,' ucap Bunga dalam batinnya yang penuh kehangatan. 'Wajah kamu yang merah padam, keringat dingin kamu, tangan kamu yang gemetar... semuanya udah ngejawabnya tanpa kamu ngomong juga. Aku tau kamu tulus, dan aku menghargai itu lebih dari apa pun.'

​Alan mendongak dengan ragu, separuh tak percaya bahwa Bunga tidak marah atau menganggapnya aneh. Melihat senyum teduh di wajah gadis itu, beban berton-ton yang menindih dada Alan perlahan terangkat. Ia mengangguk kaku, gerakannya masih diliputi kecanggungan tingkat dewa.

​Alan mengambil helm half-face berwarna hitam polos dari gantungan jok motornya. Helm itu memang sengaja ia bersihkan semalaman, dicuci busanya hingga wangi dan dilap kacanya hingga mengkilap, khusus untuk dipakai oleh gadis istimewa hari ini.

​"Ini... helmnya," ucap Alan pelan, menyodorkan helm tersebut.

​Bunga menerimanya, namun tangannya sedikit kesulitan karena ia memegang tas selempang kecil di satu tangan. Melihat itu, insting kepedulian Alan bergerak lebih cepat dari logikanya.

​"Biar aku bantu," tawar Alan tanpa pikir panjang.

​Bunga menatap Alan, lalu mengangguk pelan, menyerahkan kembali helm itu.

​Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, Alan memegang kedua sisi helm tersebut. Bunga sedikit menunduk. Alan memasangkan helm itu ke kepala Bunga secara perlahan, memastikan busanya pas dan tidak merusak tatanan jepitan rambut gadis itu. Saat helm sudah terpasang sempurna, Alan menurunkan tangannya untuk mengaitkan tali pengaman di bawah dagu Bunga.

​Di sepersekian detik saat jari-jari kasar Alan secara tak sengaja menyentuh kulit lembut di sekitar rahang Bunga untuk mengunci klip helm... waktu kembali berhenti.

​Bunga mendongak tepat pada saat Alan menunduk. Jarak wajah mereka hanya tersisa beberapa jengkal. Mata elang yang tajam dan sedikit sayu milik Alan beradu pandang secara langsung dengan mata bening kecokelatan milik Bunga.

​Hening. Tidak ada suara kendaraan lewat, tidak ada suara burung berkicau. Hanya ada suara napas mereka yang saling beradu.

​Seketika, atmosfer di sekitar mereka berubah menjadi tegang dengan letupan-letupan tak kasat mata. Darah memburu naik ke wajah keduanya. Pipi Alan yang tadinya pucat pasi, kini berubah menjadi merah merona seperti kepiting rebus. Begitu pula dengan Bunga; rona merah di pipinya kian pekat, menyebar hingga ke ujung telinganya. Mereka sama-sama terjebak dalam magnet kasat mata yang menarik mereka ke dalam pusaran salah tingkah yang luar biasa.

​Buru-buru, seolah tersengat aliran listrik bertegangan tinggi, Alan menarik tangannya mundur. Ia berdeham keras, membuang muka ke arah jalanan aspal untuk menyembunyikan wajahnya yang terbakar malu. Dadanya naik-turun memompa oksigen yang terasa menipis.

​"Be.. berangkat se.. sekarang yuk," ucap Alan, suaranya kembali gagap parah. Ia segera menaiki motor sport-nya, menghidupkan mesin dengan sekali injakan keras, berusaha menutupi kegugupannya dengan deru mesin yang bising.

​Melihat tingkah laku Alan yang sangat salah tingkah dan kaku, Bunga tidak bisa menyembunyikan rasa gelinya. Ia menutupi mulutnya yang tersenyum tipis penuh menggoda di balik kaca helm yang setengah terbuka. Gadis cantik itu mengangguk.

​"Iya, yuk berangkat," sahut Bunga riang. Dengan anggun, ia menaiki jok belakang motor Alan. Walaupun jok sport itu sedikit menungging, Bunga bisa memosisikan dirinya dengan nyaman. Ia memegang ujung besi belakang motor sebagai pegangan. "Udah, Lan."

​"Pegangan yang kuat, Nga," pesan Alan dengan suara bergetar yang dipaksakan tegas, menatap dari kaca spion ke arah Bunga.

​Setelah memastikan Bunga sudah aman, Alan menarik tuas gas. Motor hitam itu pun melaju membelah jalanan perumahan elite, membawa dua anak manusia yang hatinya sedang mekar di musim semi buatan mereka sendiri, menuju selatan Kota Bandung.

​Perjalanan di pagi hari yang cerah itu terasa seperti fragmen mimpi bagi Alan. Matahari mulai meninggi, mengusir sisa-sisa kabut yang masih bergelantungan di pucuk-pucuk pohon kota. Jalan raya masih terbilang lengang, belum dipenuhi oleh rutinitas kemacetan akhir pekan yang menyebalkan.

​Sepanjang jalan, Alan memacu motornya dengan kecepatan sedang. Ia sangat berhati-hati. Biasanya, jika berkendara sendirian atau membonceng Randi, Alan akan meliuk-liuk seperti pembalap liar yang mengejar setoran. Tapi hari ini, ia membawa seorang bidadari. Ia berkendara dengan sangat halus, memastikan tidak ada jalan berlubang yang terlewat oleh pandangannya.

​Angin menerpa jaketnya, mengibarkan kerah kemejanya. Namun, ada satu hal yang terus-menerus mengganggu konsentrasi Alan: keheningan di antara mereka. Di atas motor, deru mesin dan hembusan angin membuat suara sulit terdengar. Alan yang pada dasarnya canggung, kebingungan setengah mati memikirkan topik pembicaraan. Ia hanya bisa sesekali melirik Bunga dari kaca spion. Gadis itu tampak menikmati perjalanan, memandangi deretan toko dan pohon yang berlalu dengan pandangan kagum, seolah ini adalah kali pertamanya melihat Kota Bandung.

​Memasuki kawasan Kopo yang terkenal dengan lampu lalu lintasnya yang sering tak terduga, fokus Alan sedikit teralihkan oleh deretan toko di pinggir jalan.

​Tiba-tiba, lampu lalu lintas di perempatan depan yang berjarak belasan meter darinya berubah warna. Dari kuning, langsung berganti merah secara mendadak.

​Sebuah angkot berwarna hijau di depan Alan mengerem secara tiba-tiba.

​Mata Alan membelalak. Refleks berkendaranya yang terbentuk dari kerasnya jalanan mengambil alih. Dengan cepat, Alan menarik tuas rem tangan depan secara keras, diiringi injakan kuat pada pedal rem belakang.

​Ciiiiittt!

​Ban motor sport itu berdecit nyaring bergesekan dengan aspal. Tubuh motor sedikit terdorong ke depan sebelum akhirnya berhenti sempurna hanya beberapa sentimeter di belakang bumper belakang angkot hijau tersebut.

​Hukum inersia berlaku tanpa ampun. Tubuh Bunga yang berada di belakang, yang tak sempat bersiap dan tak punya pegangan yang kokoh, seketika terdorong kuat ke depan mengikuti daya kejut pengereman.

​Grep.

​Tanpa sempat meminta persetujuan, tanpa sempat memikirkan norma atau batas kesopanan, kedua belah lengan Bunga yang ramping secara refleks melingkar erat memeluk pinggang Alan. Tubuh Bunga menabrak punggung tegap pemuda itu, dadanya bersandar penuh di balik jaket kanvas yang Alan kenakan.

​Waktu seakan berhenti untuk yang ketiga kalinya hari ini.

​Alan tidak bersuara. Tak ada makian kepada sopir angkot yang berhenti mendadak, tak ada keluhan, tak ada helaan napas. Di atas motor yang mesinnya masih menderu di lampu merah itu, Alan berubah menjadi patung batu bernyawa. Ia berhenti bernapas selama beberapa detik penuh.

​Suhu tubuhnya mendadak naik drastis. Ia bisa merasakan dengan sangat jelas hangatnya tubuh Bunga di punggungnya. Ia bisa merasakan pelukan kedua lengan mungil itu yang mengunci pinggangnya erat. Sensasi itu mengalirkan sengatan listrik jutaan volt langsung ke pusat sarafnya, membuat otak Alan mati lampu total. Jantungnya berdegup dengan ritme yang bisa menghancurkan tulang rusuknya sendiri.

​Di kursi belakang, Bunga yang perlahan memulihkan kesadarannya dari efek terkejut, baru menyadari apa yang telah ia lakukan. Posisi wajahnya kini berada tepat di celah antara punggung dan leher Alan. Aroma parfum musk bercampur dengan aroma maskulin khas keringat bersih Alan memenuhi rongga dadanya.

​Alih-alih langsung melepaskan pelukannya sambil meminta maaf dengan panik, Bunga terdiam. Ada rasa nyaman yang aneh menyelimuti hatinya saat bersandar pada punggung lebar pemuda itu. Punggung yang selalu terlihat menanggung beban dunia, kini menjadi tameng pelindungnya.

​Namun, di balik rasa nyaman itu, Bunga merasakan sebuah keganjilan. Ia merasakan otot-otot di tubuh Alan, dari mulai bahu, punggung, hingga perutnya yang terbalut kemeja, menegang layaknya papan kayu. Bunga bisa merasakan getaran kecil—getaran kegugupan—yang menjalar dari badan Alan.

​Bunga tersenyum simpul di balik helmnya, sebuah senyuman geli bercampur sayang.

​'Alan... Alan...' bisik Bunga dalam batinnya. Matanya menatap punggung tegap di depannya itu dengan pandangan lembut. 'Sampe grogi gitu badannya kaku semua. Getaran kamu berasa banget sampai ke pelukanku. Padahal... padahal kalau kamu mau tau, aku juga baru pertama kali meluk cowok dari belakang, Lan. Ini pertama kalinya aku jalan sama cowok naik motor ke luar kota. Itu pun sama kamu sekarang di motor kaya gini. Kita sama-sama pemula, Lan.'

​Bunga perlahan melonggarkan pelukannya, namun ia tidak menarik tangannya sepenuhnya. Ia membiarkan kedua tangannya berpegangan pada kedua sisi jaket Alan di area pinggang, menjaga jarak yang aman namun tetap dekat secara emosional.

​Lampu kembali hijau.

​"Ma... maaf, Nga. Tadi angkotnya rem mendadak," ucap Alan dengan suara parau yang dipaksakan keluar dari tenggorokannya yang terasa terkunci.

​"Gak apa-apa, Lan. Untung kamu jago bawa motornya," balas Bunga santai, suaranya sedikit diredam oleh helm, namun kehangatannya terasa hingga ke ubun-ubun Alan.

​Perjalanan dilanjutkan. Memasuki wilayah Kabupaten Bandung menuju arah Ciwidey, kontur jalan mulai berubah menjadi tanjakan berliku. Suhu udara perlahan namun pasti mulai menurun secara drastis, berganti dengan hawa sejuk khas pegunungan yang menusuk pori-pori. Kabut tipis mulai terlihat menyelimuti perbukitan di kejauhan. Hamparan pohon-pohon rindang mulai menggantikan gedung-gedung beton dan toko-toko kelontong di pinggir jalan.

​Di perjalanan menuju dataran tinggi ini, mereka mulai mengobrol sedikit demi sedikit. Alan yang tadinya bisu, berusaha keras membangun percakapan untuk mengusir hawa dingin, meskipun kegugupan di setiap patah katanya masih terbilang sangat kental.

​"Dingin nggak, Nga?" tanya Alan dengan setengah berteriak agar suaranya mengalahkan deru angin pegunungan. Matanya menatap Bunga dari spion.

​Bunga merapatkan cardigan rajutnya dengan satu tangan. "Lumayan, Lan! Tapi seger banget udaranya! Di kampus mana bisa nyium udara sebersih ini!" balas Bunga ceria.

​"Kalo kedinginan, tangan kamu masukin aja ke saku jaket aku, Nga!" tawar Alan nekat. Begitu kalimat itu keluar, Alan langsung menggigit bibir bawahnya sendiri, merutuki mulutnya yang lagi-lagi bertindak tanpa izin dari komite logika otaknya.

​Namun, Bunga hanya tertawa kecil. Tawa yang membunyikan lonceng kebahagiaan di telinga Alan. "Gak usah, Lan. Nanti konsentrasi kamu bawa motornya buyar. Aku tahan kok," jawab Bunga menolak dengan halus.

​Sepanjang sisa perjalanan, mereka bertukar cerita ringan. Bunga bercerita tentang tugas-tugas dari dosen Manajemen yang killer, sementara Alan merespons dengan lelucon-lelucon kaku khas mahasiswa Akuntansi yang sering telat masuk kelas. Meskipun percakapan itu sederhana, namun bagi Alan, ini adalah harta karun paling berharga.

​Namun, di balik kebahagiaan yang meluap-luap ini, di sudut terdalam hati Alan, sebingkai pedih diam-diam merayap mengiris nuraninya. Semakin Bunga tertawa lepas bersamanya, semakin keras pula realita menampar wajah Alan.

​'Gue ini siapa, sih?' batin Alan merintih pilu di balik senyum yang ia paksakan saat merespons cerita Bunga. 'Gue cuma kuli kafe yang nyambi jadi kuli angkut kadang-kadang. Tabungan gue buat bayar kos aja masih megap-megap. Sedangkan dia... dia bidadari yang tinggal di rumah bak istana. Keluarga dia punya segalanya. Apa pantes tangan kasar gue yang tiap hari nyuci piring kotor di kafe ini, pegang tangan dia yang putih mulus itu? Sampai kapan gue bisa ngasih dia kebahagiaan kayak gini? Gimana kalau besok, bidadari ini sadar kalau dia salah mendarat di bumi orang miskin kayak gue?'

​Rasa insecurity itu adalah hantu yang paling menakutkan bagi Alan. Kebahagiaan ini terasa fana, seperti gelembung sabun yang memantulkan warna pelangi yang indah, namun siap pecah kapan saja tersentuh oleh realita kejam.

​Setelah menempuh perjalanan yang cukup memakan waktu dan menguras emosi batin Alan, akhirnya hamparan hijau mahaluas mulai memanjakan mata mereka. Motor Alan memasuki kawasan kebun teh Ciwidey. Pemandangannya sungguh menakjubkan. Bukit-bukit bergelombang yang dilapisi karpet daun teh berwarna hijau segar tampak membentang tak berujung, diselimuti kabut putih tipis yang menari-nari ditiup angin lembah. Udaranya sangat sejuk, bersih, dan membawa aroma wangi khas pucuk daun teh yang menenangkan jiwa.

​Mata Bunga berbinar terang layaknya anak kecil yang baru pertama kali dibawa ke taman hiburan. Ia menepuk-nepuk pelan bahu Alan dengan antusias.

​"Lan, Lan! Poto-poto yuk di sana!" seru Bunga dengan suara sedikit melengking kegirangan. Gadis itu menunjuk ke arah gundukan kebun teh indah yang melandai di samping jalan berliku. Di sana terdapat sebuah area kecil yang menjorok ke dalam kebun, dengan latar belakang bukit teh yang terlihat paling hijau dan dramatis. "Bagus banget tempatnya, Lan! Berhenti di situ, ya!"

​Mendengar permintaan gadis impiannya, tak ada kata tidak dalam kamus Alan hari ini. Ia mengangguk, menggerakkan tuas rem secara perlahan, menepikan motornya ke bahu jalan tanah yang ditumbuhi rumput liar.

​Alan menghentikan motornya, menuruni standar samping dengan sekali hentakan kaki, lalu mematikan mesin. Keheningan pegunungan langsung menyambut pendengaran mereka, hanya diisi oleh desiran angin yang membelai dedaunan teh.

​Bunga turun lebih dulu. Ia melepas helmnya, mengibaskan rambut panjangnya yang sedikit berantakan akibat angin dan helm, lalu merapikannya dengan jari-jemari lentiknya. Gerakan sederhana itu kembali menyita napas Alan yang baru saja melepas helmnya sendiri.

​Gadis itu tidak sabar. Ia berdiri di pinggir aspal, menunggu Alan dengan senyum tak sabar menghiasi wajahnya. Setelah Alan selesai mengunci setang motornya dan berjalan menghampirinya, sebuah kejadian di luar prediksi Alan kembali terjadi.

​Tanpa aba-aba, tanpa rasa ragu sedikit pun, Bunga mengulurkan tangan kanannya dan memegang tangan kiri Alan. Jari-jari lentik dan halus milik Bunga menyusup lembut, menggenggam telapak tangan Alan yang kapalan, kasar, dan lebih besar darinya.

​Alan tersentak hebat seakan tersengat arus listrik dari bumi Ciwidey. Matanya refleks menatap ke arah tautan tangan mereka. Tangannya yang kasar dan tak terawat, kini digenggam erat oleh tangan selembut sutra milik seorang bidadari. Kontras yang teramat kentara itu menorehkan kebahagiaan luar biasa, sekaligus perih yang menyayat hati di dalam dada Alan. Ia merasa dirinya kotor menodai kemurnian itu, namun genggaman Bunga terlalu erat dan terlalu nyata untuk ia lepaskan.

​"Poto di sana yuk, Lan!" ajak Bunga riang, menarik tangan Alan dengan setengah berlari kecil menyusuri jalan setapak kecil yang membelah kebun teh tersebut.

​Alan hanya bisa pasrah terseret oleh tarikan lembut Bunga. Tubuhnya mengikuti arah langkah Bunga, namun pikirannya tertinggal di belakang. Jantung Alan berdegup kencang tak beraturan. Deg-deg-deg. Suaranya begitu keras di telinganya sendiri, mengalahkan suara angin Ciwidey. Setiap langkah kecil mereka di antara rimbunnya pohon teh setinggi pinggang itu, seolah mengukir kenangan abadi di dalam otak Alan.

​Setelah berjalan beberapa puluh meter dari jalan raya, mereka sampai di spot yang ditunjuk Bunga. Tempat itu benar-benar indah. Kabut tipis berada tepat di belakang mereka, memberikan efek cinematic alami.

​Bunga melepaskan genggaman tangannya untuk merogoh tas selempangnya. Kehilangan kehangatan sentuhan itu, tangan Alan mendadak terasa kosong dan dingin. Pemuda itu berdiri kaku, menatap sekeliling dengan canggung.

​"Poto di sini, Nga?" tanya Alan dengan bodohnya, suaranya terdengar canggung dan serak di tengah keheningan kebun teh. Ia menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, kebingungan harus berpose seperti apa. Ia kira Bunga hanya memintanya untuk memotret gadis itu sendirian dengan pemandangan ini.

​Mendengar pertanyaan polos Alan, Bunga yang baru saja mengeluarkan ponsel berlayar lebarnya dari dalam tas, mendengus pelan sambil tersenyum geli. Ia melangkah maju, mendekati posisi Alan hingga jarak mereka hanya tersisa setengah lengan.

​Lalu, Bunga kembali mengulurkan tangan kirinya, memegang lengan tangan Alan, dan menarik pemuda itu agar merapat ke sampingnya.

​"Potonya sama kamu," ucap Bunga dengan suara lembut yang tegas, menatap lurus ke dalam mata Alan, mengunci pergerakan pemuda itu. Kata-kata itu sederhana, namun sanggup menghancurkan sisa-sisa tembok keraguan di hati Alan berkeping-keping.

​Bunga mengangkat ponselnya tinggi-tinggi dengan tangan kanan, mengaktifkan kamera depan. Di layar ponsel itu, terpampang jelas dua wajah yang sangat bertolak belakang namun terlihat menyatu sempurna. Wajah Bunga yang glowing dan cerah dengan senyum sumringah, bersanding dengan wajah Alan yang tegas, maskulin, namun terlihat tegang seperti pesakitan yang akan dieksekusi mati.

​"Kamu senyum dong," tegur Bunga pelan, menyenggol pinggang Alan dengan sikunya. "Masa lagi jalan sama orang cantik mukanya ditekuk kayak kanebo kering gitu. Senyum dikit kenapa sih, Mas kuli."

​Mendengar ledekan itu, pertahanan Alan jebol. Sebuah senyuman tulus, senyuman lebar yang jarang sekali ia perlihatkan kepada dunia, perlahan merekah di wajah kerasnya. Matanya yang tajam menyipit, menampilkan gurat kebahagiaan sejati yang selama ini terkubur oleh kerasnya beban hidup.

​Melihat senyum Alan di layar kamera, Bunga merasa hatinya menghangat tak terlukiskan. Di detik terakhir sebelum jarinya menekan tombol potret di layar, Bunga memiringkan kepalanya ke arah kiri.

​Dengan sangat natural dan penuh kasih, Bunga menyandarkan kepalanya di bahu tegap Alan. Aroma rambut Bunga langsung menyeruak masuk ke hidung Alan, membuat tubuh pemuda itu kembali membeku sesaat dalam kenikmatan absolut.

​Klik!

​Suara shutter kamera terdengar jelas, mengabadikan momen magis itu ke dalam piksel digital. Di layar, terekam sebuah gambar yang sempurna: seorang gadis cantik yang menyandarkan kepalanya dengan damai di bahu seorang pemuda sederhana yang sedang tersenyum canggung namun bahagia luar biasa dengan latar belakang hijau yang berkabut.

​"Lagi, Lan! Geser sini sedikit!" seru Bunga antusias.

​Klik! Klik!

​Bunga mengambil beberapa foto dengan berbagai gaya. Ada yang Bunga menjulurkan lidah dengan lucu sementara Alan hanya menatapnya dengan bingung. Ada pula foto di mana mereka berdua sama-sama tertawa karena tiba-tiba ada hembusan angin kencang yang meniup rambut Bunga hingga menutupi separuh wajah Alan.

​Di setiap bunyi klik yang terdengar, hati Alan mengucapkan doa yang sama dalam diam.

​'Tuhan...' ratap batin Alan, menahan air mata haru yang entah mengapa menggenang di pelupuk matanya saat melihat Bunga tertawa di sampingnya. 'Gue tahu gue ini hina. Gue tahu gue ini cowok miskin yang gak punya masa depan yang jelas. Gue tahu, cepat atau lambat, bidadari ini pasti bakal kembali ke kahyangannya yang mewah, dan ninggalin gue di kubangan lumpur ini lagi. Tapi... tolong... tolong hentikan waktu saat ini saja. Biarkan gue merasa jadi cowok paling beruntung di dunia walau cuma untuk sehari ini. Tolong, Tuhan... biarkan senyum ini jadi milik gue hari ini... karena besok, gue gak tahu apa gue sanggup melihat dia menjauh.'

​Kebahagiaan yang terlalu besar ini justru melukai hati Alan. Ia sadar, kebersamaan mereka hari ini adalah sebuah utopia. Ada jurang yang terlalu lebar, tembok yang terlalu tinggi, dan realita yang terlalu kejam untuk bisa dipersatukan.

​Namun untuk saat ini, di tengah dinginnya kabut kebun teh Ciwidey, Alan memilih untuk menjadi egois. Ia membalas genggaman tangan Bunga yang sedari tadi tak dilepaskan, menggenggamnya lebih erat, seolah ingin menyalurkan seluruh sisa nyawa dan cinta yang ia punya melalui satu tautan tangan yang menyayat hati itu.

1
Reza Reva
kasihan Rahmi cinta tak terbalas
Yuni Uni
paling ga suka baca novel on going,,,capek nungguh up nya tp tetep nungguin kapan up nya thor
falea sezi
lanjut Thor q ksih Hadiah
falea sezi
pindah kuliah rahmi🤣 laki g tau diri emank sih dia g tahu siapa yg bantu dia kira hendri tp dia uda buang berlian demi jalang🤣
falea sezi
pergi jauh rahmi pengorbanan mu g di hargai
falea sezi
kacian bgt rahmi klo lu lebih milih bunga lu salah besar alan🤭ada yg tulus nrima lu apa adanya loh malah lirik bunga bangke
Reza Reva
lanjut Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!