NovelToon NovelToon
SI JUTEK DAN PAK DOSEN KILLER

SI JUTEK DAN PAK DOSEN KILLER

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nina Sani

Ana—si “Jutek" cantik yang keras kepala—tidak pernah takut pada siapa pun di kampus. Kecuali satu orang yang benar-benar membuatnya naik darah: **Adi**, dosen muda yang terkenal killer, dingin, dan terlalu sexy untuk diabaikan.

Pertemuan mereka selalu penuh ketegangan—tatapan tajam, debat panas di kelas, dan permainan kecil yang hanya mereka berdua pahami.

Ana yakin ia membenci Adi.
Adi justru menikmati setiap detik perlawanan itu.

Namun di balik kebencian yang keras dan gengsi yang tinggi, ada sesuatu yang perlahan tumbuh—**panas, berbahaya, dan semakin sulit disembunyikan.**

Karena kadang…
orang yang paling ingin kita lawan adalah orang yang paling membuat jantung kita berdebar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAYANGAN MASA LALU YANG TERLALU DEKAT

Malam itu, kamar kos Ana terasa jauh lebih sempit dari biasanya. Harum sisa parfum Adi masih samar-samar tertinggal di keningnya—jejak kecupan yang seharusnya terasa manis, namun kini justru terasa seperti beban yang menghimpit dada. Kata-kata Ibu Myra tentang "setahun yang lalu" dan "hubungan selama di Australia" berdenging di telinga Ana layaknya alarm bahaya yang enggan berhenti.

Ana merebahkan diri di tempat tidur, menatap langit-langit kamar yang suram. Pikirannya liar, berkelana ke masa-masa awal ia memulai bimbingan skripsi. Jika Adi baru putus setahun lalu setelah bertahun-tahun menjalin hidup dengan Eva di negeri orang, bukankah kehadiran Ana muncul di saat yang sangat... tepat?

Ia mulai meragukan segalanya. Apakah ia hanya sekadar pengalih perhatian? Seorang mahasiswi bimbingan yang selalu sedia, yang memandang Adi dengan binar kekaguman yang tak disembunyikan, dan yang paling menyakitkan: mahasiswi polos yang dengan bodohnya membiarkan batasan profesional luruh bahkan sebelum ada ikrar pasti soal hubungan mereka.

"Apa mungkin Mas Adi sejahat itu?" gumamnya pada kesunyian.

Di kampus, Adi dikenal sebagai dosen killer dengan standar akademik yang mencekik leher. Namun, di mata Ana, Adi adalah pria yang menjaganya, yang membimbingnya dengan ketegasan yang penuh kasih. Ana yakin Adi bukan lelaki brengsek. Setidaknya, itulah fondasi keyakinan yang ia bangun selama berbulan-bulan ini. Namun, bayangan Eva Mariana—wanita yang sepadan, matang, dan memiliki sejarah panjang dengan Adi—membuat fondasi itu mulai retak.

"Aku bukan pelarian," bisik Ana pada kegelapan, sebuah kalimat yang ia lontarkan lebih untuk meyakinkan harga dirinya yang sedang terluka daripada mencerminkan kenyataan yang ada.

*

Ruang Penelitian: Medan Perang Baru

Keesokan harinya, sinar matahari pagi yang menembus jendela ruang penelitian tidak mampu mengusir kegelisahan Ana. Namun, sebagai asisten penelitian yang masih dalam masa uji coba, ia tetap menjunjung tinggi profesionalitas. Ia tiba di laboratorium tepat waktu, namun langkahnya terhenti saat melihat lampu ruangan sudah menyala terang.

Di sana, di balik meja kayu besarnya yang penuh tumpukan jurnal internasional, Adi sudah duduk dengan kacamata bertengger di hidungnya.

"Lho, Mas udah di sini? Tumben Mas dateng duluan," Ana menyapa dengan riang. Rasa rindunya mendadak mengalahkan rasa galaunya semalam. Melihat wajah Adi yang serius namun tampan di pagi hari selalu punya cara ajaib untuk menghapus sisa-sisa air mata.

Ana melangkah mendekat, hendak melingkarkan lengannya ke bahu pria itu—sebuah gestur kasih sayang yang biasanya disambut Adi dengan senyum tipis atau usapan di tangan. Namun, pagi ini berbeda. Adi sedikit menggeser duduknya, sebuah gerakan halus namun jelas bertujuan untuk menghindari kontak fisik.

"Ana, Hari ini akan ada tamu," ujar Adi datar, matanya tetap tertuju pada layar laptop.

Ana melongo, tangannya tertahan di udara. Rasa canggung menyergapnya seketika. "Tamu? Siapa Mas? Pagi-pagi banget datengnya."

Belum sempat Adi menjawab, ponsel di atas meja bergetar hebat. Nama yang muncul di layar tidak sempat terbaca oleh Ana, namun reaksi Adi sangat cepat. Ia menyambar ponsel itu dan bangkit berdiri.

"Nanti saya jelasin detailnya ya, ini orangnya kayaknya udah di depan," kata Adi dengan nada yang sedikit terburu-buru.

Ana hanya bisa mengangguk kaku, memperhatikan punggung pria itu yang berjalan menjauh menuju pintu keluar. Saat Adi mengangkat panggilan teleponnya, suaranya yang berat dan tenang terdengar jelas di ruangan yang sunyi itu.

"Hi, Va. Udah sampai depan jurusan? Iya, aku di ruang penelitian... Oke, aku jemput sekarang."

Darah Ana terasa berhenti mengalir.

Va? Eva? Nama itu terasa seperti sembilu yang menyayat kesadarannya. Mas Adi janjian dengan Ibu Eva Mariana? Di ruang penelitian ini? Di tempat yang selama ini Ana anggap sebagai "ruang mereka"?

*

Sepuluh menit kemudian, pintu laboratorium terbuka. Adi masuk kembali, namun kali ini ia tidak sendiri. Di sampingnya, berjalan dengan anggun seorang wanita yang semalam telah menghancurkan rasa percaya diri Ana. Eva Mariana tampak sangat profesional dengan blazer berwarna cream yang dipadukan dengan celana kain senada. Wajahnya yang cantik dan gestur penuh percaya diri membuatnya tampak bersinar, kontras dengan Ana yang merasa kuyu karena kurang tidur.

"Selamat pagi, Ana," sapa Eva dengan suara lembut yang terdengar sangat tulus. "Senang bisa ketemu lagi. Maaf ya, saya merecoki pagi kalian."

Ana memaksakan sebuah senyum yang terasa kaku di wajahnya. "Pagi, Bu Eva. Tidak apa-apa, Bu."

Adi berdeham, mencoba mencairkan suasana yang mendadak beku bagi Ana. "Ana, saya lupa memberitahumu semalam. Proyek hibah Dikti kita kali ini memerlukan validasi data dari perspektif biostatistik yang lebih mendalam. Dan karena Bu Eva adalah ahli di bidangnya, fakultas menunjuk beliau sebagai konsultan eksternal untuk tim kita."

Kalimat itu bagaikan vonis bagi Ana. Konsultan eksternal? Itu artinya, ia harus berbagi ruang, waktu, dan fokus Adi dengan wanita ini selama berbulan-bulan ke depan.

"Saya harap kita bisa bekerja sama dengan baik, Ana," ujar Eva sambil meletakkan tas bermereknya di meja, tepat di sebelah tumpukan skripsi Ana yang sudah dijilid. "Adi bilang kamu asisten yang sangat cekatan. Saya butuh bantuanmu untuk merapikan dataset mentah sebelum saya olah di tahap lanjut."

*

Diskusi dimulai. Ana yang biasanya duduk di kursi sebelah Adi, kini harus mengalah dan duduk di kursi tambahan di seberang mereka. Ia menyaksikan bagaimana Adi dan Eva berdiskusi. Mereka bicara dalam frekuensi yang sama—frekuensi para doktor yang sudah terbiasa beradu argumen di universitas top dunia.

"Ingat metode yang dipakai Prof. Miller di Queensland dulu, Di? Sepertinya itu lebih relevan untuk kasus ini," kata Eva sambil menunjuk sebuah grafik di layar.

Adi mengangguk setuju, matanya berkilat penuh minat. "Kamu bener. Saya hampir lupa soal variabel pengganggu yang pernah kita bahas di seminar tahun ketiga."

Mereka tertawa kecil, sebuah tawa yang mengandung ribuan kenangan yang tidak bisa Ana masuki. Ana merasa seperti penonton asing dalam sebuah film romansa intelektual. Ia hanya bisa menatap tumpukan data di depannya dengan mata yang mulai memanas.

Setiap kali Eva menyentuh lengan Adi untuk menekankan sebuah poin, atau setiap kali Adi memanggil nama Eva dengan nada yang begitu akrab, Ana merasa harga dirinya sedang diinjak-injak secara perlahan.

Puncaknya adalah saat jam makan siang tiba.

"Di, mau makan di tempat biasa? Aku kangen ayam bakar depan kampus," ajak Eva dengan santai.

Adi melirik Ana sebentar, ada keraguan di matanya. "Ana, kamu..."

"Saya bawa bekal, Pak," potong Ana cepat. Ia sengaja kembali menggunakan panggilan formal. "Bapak dan Bu Eva silakan pergi duluan aja. Lagian selesai makan siang masih banyak data yang harus saya input."

Adi menghela napas panjang. Ia tahu Ana sedang marah, namun di depan Eva, ia tidak bisa berbuat banyak selain menjaga wibawanya sebagai ketua peneliti. "Baiklah. Kalau ada kesulitan, hubungi saya ya, An."

Begitu pintu laboratorium tertutup dan langkah kaki mereka menghilang di lorong, Ana menyandarkan punggungnya ke kursi. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya luruh juga. Ia menatap map wisudanya yang tergeletak di pojok meja. Gelar sarjana sudah di tangan, namun posisi di hati pria yang ia cintai terasa semakin menjauh, seolah ia sedang mengejar bayangan yang tak pernah bisa digenggam.

Ana menyadari satu hal: Eva Mariana bukan sekadar mantan. Eva adalah cermin dari segala sesuatu yang belum Ana miliki—kemapanan, kecerdasan yang setara, dan sejarah yang mendalam. Dan di tengah pusaran gengsi antara dirinya dan Adi, Ana mulai bertanya-tanya, apakah ia cukup kuat untuk bertahan sebagai 'rekan kerja' saat hatinya masih meronta sebagai 'kekasih yang tak dianggap'?

1
Fitriani
😄😄
Murni Asih
dr pertama sy lngsng suka
dr pertama cerita nya kngsng seru ka
Nina Sani: makasih ya kak, stay tune ikutin kelanjutannya😇
total 1 replies
Sartini 02
kayaknya menarik ya kak Krn masih bab 1
lanjut kak....🤭🙏👍
Nina Sani: siaap 😇😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!