Aaron Bernard merupakan presiden direktur dari perusahaan raksasa, dia pria yang berkuasa, dingin, dan penuh misteri.
Malam-malam, saat sedang dalam perjalanan pulang dari perusahaannya, di tengah jalan dia menemukan seorang gadis yang tergeletak di tengah jalan.
Aaron yang pensaran meminta asistennya untuk mengecek kondisi perempuan tersebut, dia takut hanya sebuah jebakan untuk membunuhnya.
Namun, ternyata salah, gadis itu benar-benar pingsan tak sadarkan diri dengan kondisi yang memprihatinkan.
Aaron meminta asistennya untuk memasukkan kedalam mobilnya, dan membawanya ke rumah.
Dia merawat gadis itu hingga sembuh sampai akhirnya menikahinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
Pukul enam sore, langit di luar jendela kantor sudah berubah jingga keemasan. Sinar matahari yang tersisa menembus kaca tinggi ruangan kerja Aaron, memantulkan bayangan siluetnya yang tengah berdiri sambil merapikan setumpuk berkas di atas meja.
Gerakannya tenang, tapi berbeda dari biasanya.
Biasanya di jam seperti ini, meja itu justru semakin penuh. Laptop menyala, kopi entah gelas ke berapa, dasi sudah longgar tapi otaknya masih bekerja tanpa jeda. Para karyawan bahkan hafal, kalau lampu ruang kerja Aaron masih menyala lewat pukul sembilan malam, berarti jangan berharap bisa pulang cepat.
Namun sore ini lain.
Aaron menyusun map-map penting ke dalam laci, memastikan semuanya kembali pada tempatnya. Tangannya lalu menekan tombol power laptop, layar perlahan menggelap. Ia menghela napas pelan, seolah benar-benar mengakhiri sesuatu.
Pintu diketuk dua kali sebelum terbuka.
Miko masuk dengan tablet di tangan, berniat melaporkan sesuatu. Namun langkahnya terhenti ketika melihat kondisi ruangan yang… terlalu rapi untuk ukuran jam enam sore.
Alisnya terangkat.
“Tumben sudah dirapihkan, Tuan? Memangnya Anda mau ke mana? Kita sudah tidak ada pertemuan lagi hari ini,” tanya Miko, nada suaranya dipenuhi rasa heran.
Aaron mengambil jasnya dari sandaran kursi. “Kita pulang, Mik. Aku pusing kerja terus,” jawabnya santai, seolah itu hal paling wajar di dunia.
Miko semakin mengernyit. “Anda tidak lembur?”
Aaron menoleh sekilas, sudut bibirnya terangkat tipis. “Tidak. Aku akan pulang.”
Jawaban singkat. Tegas. Tanpa celah negosiasi.
Miko masih berdiri di tempatnya, mencoba mencerna situasi. Ini benar-benar langka. Bahkan saat demam pun, Aaron tetap bertahan di kantor. Bahkan saat hujan deras dan jalanan macet total, dia tetap memilih menyelesaikan laporan ketimbang pulang lebih awal.
Namun kini?
Aaron sudah melangkah ke arah pintu, lalu berhenti sejenak. “Tapi sebelum sampai mansion kita mampir ke toko kue dulu. Aku mau beli kue buat Ayla.”
Kalimat itu membuat semuanya terasa masuk akal.
Miko terpaku sepersekian detik, lalu senyum tipis terlukis di wajahnya. Ooh… jadi begitu rupanya.
Kini dia paham kenapa bosnya itu ingin pulang cepat. “Jadi karena Nona Ayla,” gumamnya lirih.
Aaron berjalan lebih dulu keluar ruangan, memaksa Miko menyusul di belakangnya. Sepanjang lorong kantor, beberapa karyawan yang masih bekerja terdiam melihat bos besar mereka berjalan menuju lift sepagi ini eh, sepagi itu untuk ukuran Aaron.
“Memangnya salah kalau saya ingin membelikan Ayla kue?” tanya Aaron akhirnya, tanpa menoleh.
Miko terkekeh pelan. “Tidak salah, Tuan. Hanya saja… saya hampir berpikir perusahaan ini akan bangkrut karena Anda pulang tepat waktu.”
Aaron mendengus pelan. “Perusahaan tidak akan bangkrut selagi saya masih hidup sehat"
Jawaban itu terdengar sederhana. Tapi bagi Miko, itu luar biasa.
Lift terbuka. Mereka masuk. Pintu tertutup perlahan, menyisakan suasana hening beberapa detik.
Aaron menatap angka-angka yang turun di panel lift, namun pikirannya jelas tidak berada di sana. Bayangan Ayla muncul begitu saja. Wajah polosnya saat tersenyum. Caranya memanggil namanya terdengar menjengkelkan tapi lucu. Dan bagaimana wanita itu diam-diam sering termenung sendirian.
*
*
*
Mobil hitam itu meluncur mulus meninggalkan gedung perusahaan Bernard. Lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu, menandakan malam akan segera turun. Dari kursi belakang, Aaron duduk bersandar dengan wajah tenang.
Di depan, Miko fokus menyetir. Tangannya mantap di setir, tapi matanya beberapa kali melirik ke kaca spion tengah, mencoba membaca ekspresi tuannya.
“Kita ke toko kue mana, tuan?” tanya Miko akhirnya, memecah keheningan yang sejak tadi menggantung.
Aaron terdiam cukup lama. Pertanyaan sederhana itu justru membuatnya sedikit canggung. Selama ini, dia tidak pernah benar-benar membeli sesuatu sendiri, apalagi masuk ke toko kue. Dulu, waktu masih kecil, dia sering ikut mamanya, sambil membeli kue cokelat favoritnya. Setelah dewasa, kebiasaan itu menghilang. Kalau ingin sesuatu, dia tinggal menyuruh orang lain untuk membelikannya.
“Tempat langganan mama,” jawabnya singkat.
Miko langsung paham. Ia mengangguk kecil dan mengarahkan mobil ke bakery yang sudah puluhan tahun menjadi langganan keluarga itu. Toko tersebut terkenal elegan dan klasik, dengan aroma roti yang bahkan sudah tercium sebelum pintunya dibuka.
Tak lama kemudian, mobil berhenti di depan toko. Lampu kuning hangat menyinari etalase yang dipenuhi aneka pastry, cake ulang tahun, dan kue-kue kecil yang tertata rapi. Aaron turun lebih dulu, jasnya masih rapi seperti saat keluar kantor. Miko menyusul di belakang, setia beberapa langkah dari tuannya.
Begitu pintu kaca dibuka, lonceng kecil berbunyi pelan. Aroma mentega, cokelat, dan gula langsung menyambut mereka. Beberapa pelanggan yang sedang memilih kue menoleh sekilas. Sosok Aaron yang tinggi dengan aura dingin memang sulit tidak diperhatikan.
“Selamat malam, Tuan Aaron,” sapa salah satu pegawai yang ternyata masih mengenalinya. “Sudah lama tidak ke sini.”
Aaron hanya mengangguk tipis. Tatapannya menyapu deretan kue di etalase kaca. Warnanya cantik, topping-nya beragam. Tapi jujur saja, dia tidak tahu mana yang harus dipilih.
“Anda mau beli kue apa, tuan?” tanya Miko pelan.
“Yang manis,” jawab Aaron singkat.
Miko menahan napas sejenak. “Rata-rata semua kue di sini manis, tuan. Tidak mungkin anda membeli semuanya.”
Aaron menoleh, wajahnya datar tanpa beban. “Kalau begitu beli aja semua.”
Miko terdiam beberapa detik. Ia bahkan sempat mengira dirinya salah dengar. “Semua… yang di etalase ini?”
“Iya.”
Pegawai toko yang mendengar percakapan itu ikut membeku. “Maaf, Tuan… maksudnya semua jenis? Atau masing-masing satu?”
“Semua yang terlihat,” jawab Aaron tenang, seolah sedang memesan air mineral, bukan puluhan jenis kue.
Miko mengusap keningnya pelan. “Tuan, kue di sini jumlahnya puluhan. Bahkan mungkin lebih dari lima puluh jenis. Itu belum termasuk cake utuh di rak belakang.”
Aaron kembali menatap deretan kue itu. Dalam benaknya, dia tidak ingin salah pilih. Dia tidak tahu kue apa yang akan di sukai Ayla. Dia tidak mau ambil risiko.
“Kalau aku pilih satu, belum tentu dia suka,” gumamnya pelan, lebih seperti berbicara pada dirinya sendiri. “Kalau semua, pasti ada yang dia suka.”
Miko akhirnya mengerti. Jadi ini bukan soal uang. Ini soal perasaan yang sedang coba disampaikan tuannya dengan cara paling… tidak biasa.
“Baik, Tuan,” jawab Miko menyerah, lalu menoleh pada pegawai. “Tolong siapkan masing-masing satu dari semua jenis yang ada di etalase depan. Dan dua untuk yang paling laris.”
Pegawai itu terbelalak, tapi segera tersenyum profesional. “Baik, Tuan.”
Proses membungkus kue memakan waktu cukup lama. Kotak-kotak kue mulai memenuhi meja kasir. Ada yang kecil dengan pita merah, ada yang sedang dengan hiasan bunga gula, ada juga cake cokelat besar dengan lapisan ganache mengilap.
Aaron berdiri diam memperhatikan semuanya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dia merasa seperti anak kecil lagi, yang berdiri di samping ibunya, menunggu kue favoritnya dibungkus.
“Tuan, ini jumlahnya banyak sekali. Bagasi mobil mungkin tidak cukup.” ucap Miko.
Aaron menoleh santai. “Kalau tidak cukup, pesan mobil lain.”
Miko nyaris tersedak. “Baik, Tuan.”
Beberapa pelanggan lain mulai berbisik pelan, heran melihat seseorang membeli hampir seluruh isi toko. Tapi Aaron sama sekali tidak peduli. Fokusnya hanya satu.
Saat pembayaran selesai, totalnya mencapai angka yang membuat pegawai kasir sedikit gemetar saat menyebutkannya. Aaron bahkan tidak melihat nominalnya. Ia hanya menyerahkan kartu tanpa ragu.
Setelah semua kotak kue diangkat satu per satu ke mobil, Miko berdiri di samping pintu belakang, napasnya sedikit terengah.
“Orang kalau sudah tertarik dengan perempuan memang sedikit gila” ucap Miko tanpa sadar.