NovelToon NovelToon
Bukan Yang Pertama Untuk Cinta Pertama

Bukan Yang Pertama Untuk Cinta Pertama

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / CEO / Selingkuh / Dijodohkan Orang Tua / Nikah Kontrak / Cintapertama
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Pertiwi1208

"Jadi kamu melangsungkan pernikahan di belakangku? Saat aku masih berada di kota lain karena urusan pekerjaan?"

"Teganya kamu mengambil keputusan sepihak!" ucap seorang wanita yang saat ini berada di depan aula, sembari melihat kekasih hatinya yang telah melangsungkan pernikahan dengan wanita lain. Bahkan dia berbicara sembari menggertakkan gigi, karena menahan amarah yang menyelimuti pikirannya saat ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pertiwi1208, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Ting tong.

Tepat saat Mery selesai merangkai bunga, bel rumah berbunyi. Arya juga menghentikan aktivitasnya karena mendengar bunyi bel tersebut.

“Kayla…”

“Andra…”

Saat Arya hendak turun, terdengar suara Mery memanggil nama sahabatnya, sehingga Arya pun masuk kembali ke kamar dan menyisakan sedikit celah pintu.

“Apa kami mengganggu?” tanya Kayla.

“Tidak, masuklah,” ucap Mery dengan antusias.

Kayla dan Andra pun segera masuk. Andra mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Dilihatnya foto pengantin yang cukup besar menggantung di dinding. Mery tersenyum bahagia, sementara Arya? Andra melihat Arya biasa saja di foto tersebut. Saat duduk di sofa, Andra langsung fokus dengan bunga mawar merah lengkap dengan vasnya. 

“Sejak kapan dia suka mawar merah?” monolog Andra dalam hati.

“Kalian dari mana? Atau… kalian memang sengaja mau kesini?” Andra segera fokus pada Mery dan berhenti memperhatikan sekitar.

“Kami baru keluar makan malam, tiba-tiba aku teringat rumahmu ada di sekitar sini.”

“Jadi… kami bungkuskan makanan kesukaan kamu.” Andra segera menyahuti ucapan Kayla.

“Wah… makasih ya… aku memang belum makan malam,” ucap Mery sembari menerima kantong kresek dari Kayla dan meletakkannya di meja.

“Kenapa belum makan? Gak mungkin gak dikasih uang bulanan kan sama suamimu?” goda Andra.

“Ya gak mungkin lah, suamiku selalu memberi uang bulanan lebih-lebih. Hanya saja aku tadi terlalu asyik merangkai bunga ini,” jelas Mery.

Jawaban Mery memaksa Andra untuk menanyakan sesuatu yang sedari tadi ia pendam. “Sejak kapan kamu suka bunga mawar merah? Tidak mungkin suamimu tidak tahu apa yang kamu suka dan tidak kan?” cecar Andra.

“Memang aku tadi yang memintanya membeli warna merah,” dusta Mery, membuat Andra hanya mencebikkan bibirnya saja. Sementara Kayla segera memberi kode melalui matanya, agar Andra tidak terus menyerang Mery.

Sementara Arya. Dia tengah mengepalkan tangan saat ini di balik pintu. 

“Sebentar, aku buatkan kalian minum dan ambilkan cemilan dulu,” ucap Mery yang segera memecahkan kecanggungan yang tiba-tiba saja tercipta.

“Eh, tidak perlu Mery. Aku kan tadi bilang kalau kita baru saja makan malam bersama,” sahut Kayla, seraya menarik tangan Merry yang hendak berdiri, dan membuat Mery duduk kembali.

“Iya, tidak perlu repot. Kami hanya ingin berbagi kebahagiaan saja. Karena tadi di tempat kami malam ada makanan kesukaan kamu,” ucap Andra.

“Ya sudah kami pamit dulu, agar kamu segera makan malam,” ucap Kayla.

“Apa mungkin kamu mau kami temani makan malam juga?” goda Andra.

“Tidak perlu Andra, aku bisa makan malam dengan suamiku,” ucap Mery.

“Oh iya, dimana dia? Aku lihat mobilnya ada di depan,” ucap Andra.

“Dia sedang mandi, mungkin sudah hampir selesai. Kalian tunggulah sebentar lagi,” jawab Mery.

“Tidak perlu, aku juga ada janji lagi malam ini.” Baru saja Andra menarik nafas dan hendak menjawab ucapan Mery, Kayla segera bersuara lebih dulu, sehingga membuat Andra mengurungkan niatnya.

Kayla berdiri. “Salam aja ya untuk Arya. Kapan-kapan kami mampir lagi. Semoga Arya tidak keberatan,” ucap Kayla.

“Oke Kay,” jawab Mery.

Andra pun tidak ada pilihan lain. Melihat Kayla yang sudah berdiri, dia juga ikut berdiri, dan mereka bertiga berjalan ke arah pintu.

“Makasih ya… kapan-kapan aku yang traktir,” ucap Mery saat kedua temannya berjalan ke arah mobil.

“Oke, aku tunggu kapan-kapan itu,” ucap Andra.

Mereka saling mengulas senyum sebelum akhirnya masuk ke mobil. Mery juga tetap berdiri di ambang pintu, hingga mobil Andra hilang dari pandangan.

Setelahnya Mery segera masuk, menutup pintu, dan membawa kantong kresek tadi ke meja makan. Mengambil piring, serta segera membuka kantong kresek tersebut.

“Hmbb…” Mery mengulas senyum puas saat melihat isi kantong kresek itu.

Arya yang ada di lantai atas pun juga bisa mencium aroma masakan yang sedap dari saan. 

“Udang asam manis, cumi krispi, mie pedas. Hmb…. benar-benar makan malam yang sempurna,” ucap Mery. 

Dengan antusias, Mery segera makan malam, tanpa memanggil ataupun hanya sekedar menawari Arya. 

***

“Tampak senang sekali.” Baru seperempat porsi yang Mery makan, tiba-tiba saja terdengar suara Arya.

“Eh Arya, apa kamu juga mau makan?” tanya Mery tanpa menoleh dan masih fokus makan. Terlihat Arya sudah ganti piyama, yang berarti dia sudah mandi.

“Bukannya tadi ada yang bilang gak lapar,” ejek Arya, sembari menghampiri Mery dan ikut duduk di meja makan. 

Melihat hal itu, Mery segera bangkit dan berjalan ke dapur, dia mengambil piring, sendok, garpu, dan juga sarung tangan untuk Arya.

“Nih, makan seadanya saja. Kita kan memang gak pernah masak nasi sejak sama-sama kembali bekerja,” ucap Mery sembari duduk lagi di tempatnya.

“Tenang saja, untuk udang dan cuminya tidak pedas. Atau kamu mau aku buatkan mie instan? Biar menu makan malam kita sama?” Melihat Arya yang tidak merespon, Mery segera memecah keheningan.

“Oh tidak perlu. Kamu makan saja sepuasmu,” ucap Arya.

“Mesti saja dia tidak selera, dia pasti udah makan malam dengan pacarnya,” monolog Mery dalam hati.

“Tapi aku juga gak bodoh sih, aku tadi udah makan kebab sebelum masuk rumah.” Mery terus berbicara dalam hati, seraya menikmati makan malamnya.

“Maaf aku lupa beli makan malam tadi,” ucap Arya dengan raut wajah menyesal.

“Lain kali ingatlah kalau sudah beristri,” ucap Mery sembari memberikan tatapan tajam.

“Dia tidak tanya aku dapat semua ini dari mana? Apa… dia tahu kedatangan Andra dan kayla tadi?” batin Mery.

“Karena kamu sudah melanggar perjanjian, jadi kamu harus dihukum,” ucap Mery.

“Dihukum?” tanya Arya sembari mengernyitkan kening.

“Hmb.”

“Kan sudah tertera apa saja yang ada dikontrak. Sudah kamu tanda tangani juga,” ucap Mery.

“Kenapa aku tidak membaca adanya hukuman disana?” sanggah Arya.

“Kamu yang bacanya tidak teliti,” ucap Mery.

“Memang apa hukumannya?” tanya Arya.

Mery berhenti makan sejenak. “Setiap hari, selama satu minggu berturut-turut, setiap pagi, setelah bangun tidur, kamu harus cium keningku,” ucap Mery yang membuat Arya sedikit terkejut.

“Mencium kening?” Arya mencoba memperjelas.

“Atau kamu mau mencium area yang lain?” tanya Mery.

“Area lain?” tanya Arya.

“Bibir misalnya,” ucap Mery.

“Bibir?” Arya semakin terkejut, sementara Mery melanjutkan makan tanpa beban.

“Dan lagi, kalau bunga-bunga itu sudah layu, kamu harus membelikan lagi.” Belum sampai Arya mencerna yang diucapkan istrinya. Mery sudah meminta hal yang lain.

“Sebenarnya… itu hukuman, atau kamu cari kesempatan?” tanya Arya.

“Ya… sekalian aja sih,” jawab Mery sembari tersenyum tanpa beban.

Arya hanya diam saja, karena dari tadi setelah berhenti sejenak dan berbicara, Mery akan fokus lagi pada makan malamnya. Tidak ada obrolan yang berat, maupun membicarakan tentang materi. Sedikit banyak membuat Arya membandingkan sifat Mery dan Hany dalam diam.

Suasana menjadi hening beberapa saat.

“Arya, kamu beneran gak mau cobain makanan ini?” tanya Mery memecah keheningan.

“Melihat kamu makan sepertinya aku sudah kenyang,” ucap Arya sembari mengeluarkan ponsel dari sakunya.

“Berhentilah bermain ponsel saat di meja makan,” ucap Mery. 

“Nih, cobain. Meskipun aku sebenarnya bisa menghabiskan semua makanan ini, tidak mungkin aku membiarkan suamiku kelaparan.” Mery menyodorkan cumi krispi tepat di mulut Arya, tapi Arya hanya diam mematung.

“Ayo buka mulut. Aaaaa…” Sikap Mery bak tengah menyuapi anak kecil yang mulai belajar makan.

Entah kenapa Arya menurut saja untuk membuka mulut, padahal dia masih cukup kenyang. Kali ini Mery bahkan fokus menyuapi Arya saja. Mengupas kulit udang terlebih dahulu sebelum ia berikan pada suaminya.

Seperti Arya juga menikmati dimanja oleh istrinya, hingga Arya tidak menyadari, bahwa sejak dia membuka mulut, Mery sudah berhenti makan. Semua makanan Arya yang menghabiskan. Mery juga menyuruh Arya membalik ponsel, agar waktu untuk istrinya tidak terpecah. Mereka bercerita dan bersenda gurau di meja makan tersebut cukup lama.

***

Sementara itu di sisi lain.

“Apa kamu sudah puas?” tanya Kayla.

“Apa maksud kamu?” tanya balik Andra sembari terus fokus pada kemudinya.

“Ya kamu dari kemarin maksa aja mau mampir ke rumah Mery,” kesal Kayla.

“Sepertinya… aku sudah mendapatkan jawaban,” ucap Andra yang terdengar mengalihkan pembicaraan.

“Jawaban apa?” 

“Aku memutuskan untuk tinggal dan tidak akan kembali ke luar negeri,” jawab Andra.

“Kenapa?” tanya Kayla.

“Aku tahu Mery tidak bahagia, mungkin aku bisa mendapatkannya kembali.”

“Apa kamu sudah gila!” pekik Kayla.

“Jangan jadi perebut istri orang dong.” Kayla terdengar tidak terima.

Andra menarik nafas dalam sebelum berbicara. “Tidak, bukan seperti itu maksudku.” 

“Lalu?” 

“Sepertinya Mery sedang membutuhkan dukungan kita,” ucap Andra.

“Benarkah?” 

“Hmb.” Andra mengangguk tipis.

“Apa kamu mau membantuku?” tanya Andra.

“Asalkan semua itu untuk kebaikan Mery,” jawab Kayla.

“Tenang saja, Mery tidak pernah menganggapku sebagai pria dari dulu. Sejak awal memang bukan aku orangnya,” ucap Andra.

“Sejak kapan kamu menjadi bijaksana dan tidak terobsesi dengan Mery?” tanya Kayla.

“Aku masih terobsesi. Bahkan tujuanku kembali kesini, ingin mencoba melamarnya lagi, tapi…” Andra menghentikan ucapannya. Sementara Kayla tetap diam dan menunggu Andra menyelesaikan kalimatnya.

“Entah ada sedikit rasa yang mengganjal saat melihat Mery menutupi lukanya,” imbuh Andra.

“Apa dia benar-benar semenderita itu?” gumam Kayla yang suaranya masih bisa didengar oleh Andra. Namun Andra memilih tidak menanggapi, takut juga jika praduganya salah, tapi hati kecilnya terus mengatakan bahwa Mery sedang membutuhkan bantuan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!