Follow ig author @tulisan_bee 😚
Menggantikan posisi anak majikannya untuk menikah dengan seorang lelaki bangsawan, sungguh tidak pernah terlintas dalam benak Luana Casavia.
Karena lelaki itu menatapnya dengan sorot mata dingin, bahkan ketika ia memasangkan cincin ke jari manis Luana.
My Fake Bride: Jika aku ini palsu, akankah kau bisa mencintaiku meski sedikit saja?
Terima kasih sudah mampir dan selamat jatuh cinta~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NadiraBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28 - Lari
"Aku tidak punya jalan untuk kembali. Pikiranku kosong, dengan rasa kecewa yang datang bertubi-tubi." ~Luana Casavia.
.
.
.
Luana hanya bisa terduduk lunglai, dengan tubuh yang bersandar pada dinding kamar mandi.
Terpaan air yang mengalir tepat di atas kepalanya membuat seluruh tubuh perempuan itu basah, dengan baju yang masih melekat sempurna di tubuh rampingnya.
Berhasil melarikan diri dari Rey tadi, Luana memacu langkah untuk kembali ke kamar. Karena tidak ada lagi tempat yang bisa dia tuju, dengan harapan Rey si bangsawan brengsek itu tidak akan datang malam ini.
Suara sorak sorai dari orang-orang yang berpesta masih terdengar jelas, meski semua kembang api yang disiapkan khusus oleh Rey sudah terlontar seluruhnya ke atas langit.
Kini seiring malam yang menggelap, semakin kencang pula musik di bar itu dimainkan. Semua orang berkumpul di bar yang menjadi tempat utama untuk pesta malam ini, melupakan bahwa ada satu perempuan yang sedang meratapi nasib di salah satu kamar penginapan.
Entah sudah berapa lama Luana berada di sana, menikmati bagaimana air yang terasa dingin itu mengalir di tubuhnya.
Dengan pandangan kosong yang menerawang ke arah lantai, Luana memeluk kedua kakinya dengan dagu yang bertumpu di atas lutut.
Tidak mempedulikan ujung jemarinya yang kini mulai mengeriput, karena perempuan itu telah terlalu dalam tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Desahan yang yang terlontar dari bibir Rey tadi masih terngiang di telinga Luana, yang semakin lama semakin membuat perempuan itu merasa sakit yang menusuk hingga ke tulang.
Memandangi sekilas pantulan dirinya yang tampak berantakan malam itu, Luana mendapati beberapa bercak merah yang kini tercetak jelas di sekitaran leher jenjangnya.
"Tamat sudah riwayatmu, Luana," gumam perempuan itu pelan sekali, dengan kerjapan mata yang menatap sendu.
"Apa yang akan kau lakukan sekarang? Masa depanmu sudah hilang, bahkan kau mungkin tidak pantas lagi untuk hidup."
Bergetar bibir Luana saat menyelesaikan kalimatnya, dengan potongan memori yang masih tercetak jelas di pelupuk mata.
Bagaimana Rey mendorongnya, bagaimana Rey menindih tubuh mungilnya, dan bagaimana cara Rey menahannya sekuat tenaga hingga dia tidak mampu berkutik sama sekali.
Rintihan yang terucap dari bibir Luana seakan tidak terdengar, karena Rey sungguh tidak menaruh atensi pada perempuan itu.
"Brengsek sialan," lirih Luana lagi. Di sela-sela pikirannya yang bercampur ruah, Luana bahkan tidak mampu berpikir dengan jernih.
Tubuhnya terasa sangat kotor, dan dia merasa dia tidak lagi memiliki harga diri meski secuilpun.
Masih tidak beranjak dari posisinya tadi, Luana memejamkan mata saat gemuruh di dadanya kembali terasa.
Menundukkan kepala, perempuan itu menikmati bagaimana tubuhnya terasa remuk redam dan kedinginan, tetapi dia sungguh tidak punya jalan kembali.
Akan jadi apa hidupnya nanti? Bagaimana dia akan melanjutkan hidup? Dan apakah dia punya kesempatan untuk membangun rumah tangganya sendiri?
Air yang mengalir dari shower itu masih terus menghujani Luana, dan perempuan itu benar-benar sendirian.
***
Jovi tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Tetapi lelaki itu tidak punya pilihan lain, selain menuruti apa yang baru saja diperintahkan oleh Rey.
Asisten pribadi Rey itu baru saja hendak menutup mata, sudah terlalu lelah akibat pesta yang baru saja usai.
Tetapi ketukan beruntun di pintu kamarnya membuat Jovi melompat dari ranjang, berjalan sempoyongan ke arah pintu dan tergagu ketika melihat tuannya berada tepat di hadapan.
Rey tampak sedikit berantakan, dengan rambut yang tidak lagi tertata rapi. Bau alkohol jelas tercium dari tubuh lelaki itu, saat begitu saja Rey mengucapkan satu perintah kepada Jovi.
Perintah yang diterima Jovi pada pukul tiga dini hari, yang mau tidak mau harus dilaksanakan meski melawan rasa kantuk yang telah lebih dulu menyergap.
Rey sudah memacu langkah di depan sana, diikuti dengan Jovi yang bergerak mengekor di belakangnya.
"Pastikan dia baik-baik saja," pesan Rey terakhir kali, sebelum lelaki itu melompat ke atas kapal.
Jovi masih mengerutkan kening, sebab Rey sama sekali tidak menjelaskan apa alasan lelaki itu kembali ke Heidelberg dini hari seperti ini. Terlebih lagi, nyonya mereka tidak ikut serta.
"Aku tidak menerima pertanyaan, Jovi," Rey sudah lebih dulu memperingatkan, tepat saat bibir Jovi baru saja hendak terbuka.
Semilir angin yang berembus mengirimkan rasa dingin, saat kini pulau itu sudah cukup lengang. Pesta telah sepenuhnya usai, dan penghuni yang lain tampaknya sudah kembali ke tempat masing-masing.
"Hubungi aku jika kau sampai besok," perintah Rey lagi. "Kau mengerti?"
Jovi lagi-lagi tidak punya pilihan, selain hanya memberikan satu anggukan tanda bahwa ia mengerti.
Memperhatikan Rey yang kini melompat ke atas kapal dengan gerakan tegas, Jovi menarik dan mengembuskan napas perlahan-lahan.
'Pasti ada yang tidak beres,' batin lelaki itu.
Beberapa saat setelah Rey memasuki kapal, begitu saja kapal itu melaju untuk membelah lautan. Menciptakan jarak yang mulai terbentang antara Rey dan Jovi, sang bangsawan sungguh tidak lagi menoleh ke belakang.
Jovi masih berdiri di tepi pelabuhan, memperhatikan bagaimana kapal yang ditumpangi Rey itu menjauh dari detik ke detik.
Setelah memastikan kapal itu berlayar dengan baik, Jovi akhirnya memutuskan untuk berbalik badan dan mulai melangkah dari sana.
Dinginnya embusan angin membuat lelaki itu merindukan sensasi hangat, merapatkan jaket yang ia kenakan ketika kini ia berjalan dengan tangan yang merogoh ke dalam saku celana.
Rasa kantuk yang menderanya tadi menghilang begitu saja, dengan bola mata lelaki itu yang sudah sepenuhnya melebar.
Bulan masih bersinar di atas sana, saat tanpa sadar Jovi mengayun langkah untuk menyusuri bibir pantai yang terletak tidak jauh dari pelabuhan kecil itu.
Bersusah payah pada awalnya untuk memantikkan api, akhirnya Jovi berhasil menghidupkan sebatang rokok yang telah ia selipkan di sela bibir.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" gumam lelaki itu di sela keheningan, berbicara dan bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
"Apa Tuan Rey mengetahui perihal keberadaan Nona Beatric?" Jovi mencoba menerka-nerka. "Tetapi sepertinya tidak, karena Mark bahkan belum menghubungiku lagi."
___________BENTAR, IKLAN DULU_________
INI YA JOVIAN MASSIO, OKEH SCROL LAGI
Semakin dekat langkah lelaki itu untuk mencapai bibir pantai, semakin banyak pula spekulasi yang muncul dan berterbangan di benaknya.
Memperhatikan keadaan sekitar, Jovi mengedarkan pandangan. Hingga tanpa sadar lelaki itu tertegun, dengan mata yang kini memicing perlahan-lahan.
Sepasang mata kebiruannya menangkap sosok seseorang selain dirinya, yang sedang berada tidak jauh dari bibir pantai.
Embusan angin menerbangkan rambut tergerai perempuan itu, saat kini Jovi tidak bisa menahan diri untuk semakin memperhatikan.
"Mungkin dia terlalu banyak minum," gumam lelaki itu lagi. "Tetapi berenang di dini hari seperti ini, sungguh bukanlah pilihan yang tepat."
Menghentikan langkah, Jovi masih mengamati. Mengisap dan mengembuskan asap rokoknya bergantian, sudut mata Jovi tidak lepas dari siluet perempuan yang kini tampak semakin jelas.
Perempuan itu melangkah tanpa ragu menyusuri bibir pantai. Seiring dengan gerakan kakinya, maka semakin dalam pula ia masuk ke dalam laut.
Jovi mengernyitkan dahi, mencoba menebak apa yang mungkin akan dilakukan oleh si perempuan tadi.
Langkah wanita itu sungguh tidak mengendur sedikit pun, meski debur ombak telah beberapa kali menerjang tubuhnya yang tampak dia coba tegakkan sekuat tenaga.
"Kali ini, perempuan itu yang sepertinya tidak beres," ujar Jovi lagi-lagi pada dirinya sendiri. "Apa dia berencana untuk bunuh diri?"
.
.
.
~Bersambung~
sekarang tanya pada diri kalian jika ada sosok Pedro versi wanita dan menyukai suami kalian, apakah kalian juga akan kagum wanita lain yang itu
pakai ajala biar tidak jadi wanita jablay yang lebih melebih pria lain dari pada suami sendiri
coba dibalik Thor suami mu nyaman duduk dan ngobrol berduaan dengan wanita lain apakah kau anggap itu hal benar juga
pakai akal sehat biar bisa bedakan mana salah mana benar