Dewangga tak menyangka di usianya yang menginjak 42 tahun, dia harus menikahi sahabat putrinya karena kesalahan pahaman. Pernikahan mereka pun harus dirahasiakan dari sang putri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Escendol94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29~
Dewangga menatap Wira dingin. Ia hendak pergi, tetapi Wira lebih dulu menahan lengannya.
"Tidak ada yang ingin kamu jelaskan?" tanyanya sambil menyunggingkan senyum tipis penuh arti.
Dewangga menepis tangan itu kasar. "Sepertinya kau tidak sepenting itu untuk diberi penjelasan."
Wira terkekeh pelan. Kedua tangannya disilangkan di depan dada, menatap Dewangga dengan sorot meremehkan.
"Oh, ya?" Ia mengangkat ponselnya pelan. "Kebetulan aku sempat mengabadikan momen kalian. Mau lihat?" Wira mengedip singkat, sengaja memancing emosi pria di hadapannya.
Dewangga mengeraskan rahangnya. "Sialan!" desisnya geram. "Hapus sekarang."
Wira malah tertawa mengejek. "Wah... ternyata kamu suka memanipulasi daun muda ya."
"Jaga ucapanmu."Tatapan Dewangga berubah semakin dingin.
"Haish! Kenapa sih wajahmu selalu seseram itu?" Wira merangkul pundak Dewangga santai, lalu menepuk dadanya pelan. "Hebat juga kamu. Diam-diam mainnya sama daun muda. " Ia menyeringai jahil. "Pantas saja selama ini selalu menolak wanita matang."
Dewangga mengeraskan rahangnya, lalu menyikut perut Wira cukup keras. "Menjauh dariku!" Ia mengusap pundaknya seolah jijik bekas rangkulan itu, kemudian melangkah pergi meninggalkan Wira.
"Hei! Kenapa malah pergi?!" teriak Wira sambil meringis memegangi perutnya. "Aku masih menyimpan foto kalian!"
Dewangga sama sekali tidak menoleh.
Mau tak mau, Wira pun berlari kecil mengejarnya.
Kini mereka berada di mini bar kapal.
Wira sibuk membuat kopi untuk dirinya dan Dewangga. Aroma kopi hitam memenuhi ruangan, bercampur samar dengan aroma laut.
Ia meletakkan secangkir kopi hitam tanpa gula di depan Dewangga sebelum duduk di samping pria itu.
"Ceritakan. Bagaimana bisa?"
Wira menyeruput kopi miliknya pelan, lalu menghembuskan napas puas.
"Pagi tanpa kopi itu menyedihkan." Ia melirik Dewangga jahil. "Seperti pria kesepian yang tiba-tiba melihat kemesraan."
Dewangga menggeleng pelan sambil menghembuskan napas panjang. Ia menghirup aroma kopi hitam itu sebelum menyesapnya perlahan.
"Jadi bagaimana rasanya jadi sugar daddy dadakan?" goda Wira sambil menyeringai.
Dewangga hanya melirik malas.
Wira tertawa kecil lalu mengangkat cangkir kopinya. "Apa ada pahit-pahitnya juga? Seperti kopi hitam ini?"
Dewangga merutuk dalam hatinya. Kenapa harus Wira yang melihatnya bersama Riri?
Sial.
Ia tahu betul seperti apa pria ini. Wira tidak akan berhenti mengusik sebelum mendapatkan jawaban yang diinginkan. Dengan berat hati, Dewangga akhirnya mulai menceritakan semuanya.
"Wow... jadi kamu menikahi sahabat putrimu sendiri?" Wira bertepuk tangan pelan sambil menggeleng tak percaya. "Luar biasa." Ia menyenderkan tubuh ke sofa, lalu terkekeh kecil.
"Tua-tua keladi ternyata." Wira berdecak. "Pantas auramu akhir-akhir ini berbeda. Ternyata lagi dimabuk daun muda."
"Diam!" bentak Dewangga kesal. Ia melirik sekitar dengan rahang menegang. "Jangan sampai ada yang mendengar."
Wira menggeleng tak habis pikir. "Kau sebenarnya bisa menceraikannya setelah pergi dari kampung itu. Warga juga tidak akan tahu."
Dewangga langsung menatap tajam.
"Dia masih terlalu muda untukmu," lanjut Wira. "Masa depannya masih panjang. yang lebih muda darimu. Contohnya, Dirga."
Rahang Dewangga mengeras. "Jaga ucapanmu!"
Wira mengangkat kedua tangan pura-pura menyerah, tetapi senyum jahilnya tak hilang. "Baiklah, baiklah. " Ia mencondongkan tubuh pelan. "Tapi melihat caramu melindunginya... sepertinya kau sudah benar-benar jatuh hati. Apa kalian sudah-"
Dewangga tampak salah tingkah. Ia berdehem pelan sebelum memalingkan wajah.
"Bukan urusanmu," ketusnya.
Wira berdecak geli. Ia mengambil cangkir kopinya, lalu menyesapnya santai sebelum meletakkannya kembali di atas meja.
"Sudah kuduga," ujarnya sambil melirik remeh. "Nyali besarmu ternyata cuma di luar."
Tatapan Dewangga langsung menusuk tajam. "Apa maksudmu? Jangan meremehkanku!"
Wira terkekeh kecil. "Memang kau bisa?"
Dewangga mendengkus pelan sebelum berdiri dari duduknya.
"Mau ke mana? Kopimu belum habis," protes Wira.
"Minum saja sendiri." Tanpa menoleh lagi, Dewangga melangkah pergi meninggalkan mini bar.
Wira berdecak kesal sambil menatap punggung sahabatnya itu menjauh.
"Sialan... pria brengsek itu malah dapat gadis cantik, daun muda." Ia menyenderkan tubuh ke kursi sambil mengacak rambut frustasi.
"Dua kali pula."
*,*
Tepat pukul delapan pagi, kapal mulai berlayar menuju perairan Indonesia. Dua jam kemudian, mereka tiba di Nongsa Point Marina, Batam.
Dari marina itu, mereka langsung melanjutkan perjalanan menuju bandara untuk kembali ke Jakarta.
Di Bandara semua terlihat biasa saja, setidaknya di mata orang lain, tapi tidak di mata Dewangga. Sejak masuk ke dalam pesawat dan menemukan nomer tempat duduk masing-masing, Dewangga menahan kesal saat Nura meminta Riri duduk di samping Dirga.
"Tapi, tempat dudukku di sebelah kamu, kan?" Riri menggaruk belakang telinga bingung, ia melirik Dewangga yang berdiri di belakang Nura. Tatapan tajam pria itu membuatnya takut.
“Aku pengen duduk sendiri. Kamu duduk di sebelah Om Dirga."
"Tapi-"
Belum selesai Riri bicara Nura sudah mendorong lengannya untuk duduk di sebelah Dirga. "Sudah sana duduk."
Terpaksa Riri menuruti Nura. "Permisi Om. Aku duduk di sini," kata Riri.
Dirga tersenyum hangat pada Riri. Ia berusaha bersikap biasa saja sejak penolakan gadis itu beberapa waktu lalu.
Sementara itu, Sarah duduk di sebelah Dewangga.
"Mas, aku akan di Jakarta selama seminggu," katanya memberi tahu.
"Hem." Dewangga hanya menjawab singkat tanpa menoleh.
"Aku menginap di rumah, ya?"
Kali ini Dewangga hanya mengangguk pelan. Tak ada pertanyaan, tak ada tanggapan lain.
Sikap dingin pria itu membuat Sarah menahan kesal.
Kenapa sih, Mas? kamu selalu dingin sama aku? batin Sarah.
**
Perjalanan memakan waktu hampir dua jam hingga akhirnya pesawat mendarat di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta.
Dua mobil sudah menunggu mereka di pintu keluar bandara.
Nura segera menarik tangan Riri untuk ikut masuk ke mobil Dirga, sementara Sarah memilih duduk di mobil Dewangga.
Sepanjang perjalanan, Dewangga hanya diam menahan kesal. Bayangan kedekatan Riri dan Dirga terus berputar di kepalanya, membuat dadanya panas setiap kali mengingatnya.
Sarah melirik Dewangga yang sejak tadi hanya diam menatap jalanan. Wajah pria itu tampak dingin dan sulit didekati.
"Mas, kamu ada masalah?" tanya Sarah hati-hati.
"Tidak," jawab Dewangga singkat.
Sarah mengerutkan kening. "Tapi dari tadi wajahmu kelihatan kesal."
Dewangga tetap diam beberapa detik sebelum akhirnya menyenderkan kepala ke kursi. Ia menarik napas pelan. "Aku hanya lelah."
Hanya itu yang keluar dari mulutnya. Setelahnya, pria itu kembali tenggelam dalam diam.
Suasana di dalam mobil kembali hening. Sarah menghembuskan napas panjang sambil menatap ke luar jendela. Entah kenapa, beberapa hari terakhir ia merasa Dewangga semakin menjaga jarak darinya.
*,*
Sesampainya di rumah, Nura langsung menarik Riri masuk ke dalam.
"Nur, aku mau balik ke kosan," kata Riri. Tubuhnya terasa lelah dan ia hanya ingin merebahkan diri di kasurnya sendiri.
"Kamu menginap saja di sini. Kuliah juga baru mulai minggu depan."
Riri menggeleng pelan. "Nggak ah. Aku balik ke kosan aja." Tanpa sadar, matanya melirik sekilas ke arah Dewangga.
Melihat wajah suram pria itu membuat Riri semakin ingin menghindar. Kembali ke kos terasa menjadi pilihan terbaik saat ini.
Dewangga langsung naik ke lantai atas menuju kamarnya, meninggalkan Nura dan Riri di ruang tengah. Sementara Sarah dan Dirga sudah lebih dulu masuk ke kamar masing-masing.
"Kenapa sih, Ri? Kamu nggak mau tinggal di sini saja?" tanya Nura lagi.
Riri tersenyum tipis. Sejak dulu, Nura memang sering memintanya tinggal di rumah itu, tetapi ia selalu menolak dengan berbagai alasan.
"Aku pikir-pikir dulu, ya."
Nura langsung cemberut. "Kamu serius mau pulang sekarang?"
Riri mengangguk pelan. "Iya. Aku capek banget, pengen langsung rebahan."
Nura menghembuskan napas panjang sebelum akhirnya menyerah.
"Baiklah. Tapi kita makan siang dulu, ya. Setelah itu biar Om Dirga yang antar kamu balik ke kosan."
Riri sebenarnya ingin menolak, tetapi melihat wajah memelas sahabatnya itu membuatnya tidak tega. Pada akhirnya, ia pun mengangguk setuju untuk tinggal lebih lama.
Nura mengajak Riri ke kamarnya yang berada di lantai atas. Begitu sampai, gadis itu langsung merebahkan tubuh di atas kasur.
"Nur, aku mandi dulu ya," pamit Riri. .
Nura hanya mengangguk malas, membiarkan sahabatnya masuk ke kamar mandi.
Beberapa saat kemudian, Riri keluar dengan wajah segar setelah mandi. Ia mengenakan kaos oversize dipadukan dengan celana kulot yang nyaman.
Saat hendak ikut naik ke atas tempat tidur, ponsel Riri tiba-tiba berbunyi menandakan pesan masuk.
Riri segera meraih ponselnya.
Datang ke kamar sekarang! --Dewangga.
Napas Riri langsung tertahan sesaat setelah membaca pesan itu.
Ia meneguk ludah gugup. Jemarinya bahkan mencengkram ponsel sedikit lebih erat. Riri melirik Nura yang sudah berbaring santai di atas kasur. Wajahnya tampak ragu saat hendak meminta izin keluar kamar.
Bagaimana ini?
*,*