Handi harus meregang nyawa akibat kecelakaan, meninggalkan Lisa dan kedua anak mereka.
Haris yang hidupnya diselamatkan Handi dan menyaksikan kematian Handi secara tragis mengalami trauma dan hampir gila. Dia menutup diri selama 1 tahun sejak kepergian sahabatnya.
Dini dan Bu Nani sudah kehilangan akal untuk memaksa Haris mendapatkan perawatan. Hingga akhirnya, Dokter Van Heerdt memberikan ide kepada Dini untuk mendekatkan Lisa dan anak-anaknya kepada Haris.
Di sela-sela usaha Lisa membantu Haris mendapatkan pengobatan atas traumanya, Arga hadir dengan menjanjikan cinta tulus kepada Lisa dan anak-anaknya. Saat itulah Haris menyadari bahwa dia jatuh hati kepada Lisa.
Bagaimana kelanjutan kisah mereka?
Akankah usaha Lisa membantu Haris berhasil?
Apakah Haris tega mengkhianati Dini dan beralih hati kepada Lisa?
Baca sampai tamat ya 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GELUNGAN RAMBUT
Haris baru saja pulang kerja dan baru selesai mandi ketika Lisa keluar dari wardrobe menata pakaian yang baru saja dia cuci dan setrika. Haris berpapasan dengan Lisa begitu keluar dari kamar mandi. Rambut Lisa digelung lagi ke atas, menampakkan leher panjangnya. Perut Haris langsung bergejolak. Dia tak sabar memeluk dan menciumi leher Lisa.
Tanpa banyak kata dan tanpa aba-aba, Haris menyambar lengan kanan Lisa dan mendekapnya. Haris memeluknya dari belakang. Kemudian menciumi lehernya bertubi-tubi. Lisa kegelian. Dia membungkukkan kepalanya tetapi Haris terus menyerangnya.
" Haris...Hentikan!," pekik Lisa sambil tertawa lepas. Dia mencubiti lengan besar Haris yang melingkar di perutnya.
Haris pun tertawa. Dia sedikit mengguncang-guncangkan tubuh Lisa ke kiri dan ke kanan sebelum akhirnya berhenti. Dia membenamkan hidungnya ke leher Lisa dan Lisa mengusap rambutnya dengan lembut.
" Kamu kok ngga keramas?," tanya Lisa.
" Seharian aku hanya di kantor," jawab Haris.
" Haris, ada sesuatu yang membuatku penasaran. Boleh aku bertanya sesuatu?," kata Lisa.
" Apa?"
" Kenapa kamu malah memajang foto suamiku? Bukannya memajang fotomu dan Dini?'
" Karena aku mencintai Handi," jawab Haris.
" Apa?," sahut Lisa.
" Aku kan saingan terberatmu selama ini, Lisa."
" Kamu kok menakutkan gitu sih?," kata Lisa sambil tertawa.
Haris tersenyum. Ditopangkannya dagunya di bahu Lisa. Dia ikut memandangi fotonya dan Handi yang dia pajang besar di kamarnya. Foto itu foto terbaik yang pernah dia ambil bersama Handi. Mereka kelihatan tampan dan rapi. Biasanya kalo sudah kena panas dan debu jalanan, muka mereka bisa cemong-cemong.
" Apa kamu cemburu?," katanya lirih di telinga Lisa.
" Ngga, aku cuma geli. Kalian ini bersahabat atau suami istri sebenarnya," timpal Lisa sambil tertawa.
Haris menoleh kepada Lisa tanpa Lisa tahu. Haris memandangi wajah Lisa yang sedang tertawa. Sungguh menggemaskan. Dia harus menahan dirinya untuk tidak menggigit leher Lisa.
" Dini juga mengatakan hal yang sama. Dia cemburu pada Handi."
" Wajar kan. Dia itu kekasihmu, tapi kamu memperlakukan Handi seperti istrinya. Ya sudah jelas Dini cemburu."
" Tapi kamu ngga cemburu."
" Buat apa cemburu sama kamu? Kan kamu laki-laki. Kamu kan ngga bisa diajak bercinta. Kalau aku kan bisa."
Bulu kuduk Haris meremang mendengar Lisa mengatakan bercinta. Seperti apa rasanya bercinta dengan orang yang dicintai? Dia dan Dini berkomitmen untuk saling menjaga diri. Mereka tidak akan melakukan hubungan suami istri sebelum menikah. Mereka tidak ingin menodai hubungan mereka sebelum mereka benar-benar terikat. Bukan berarti mereka tidak pernah khilaf. Tentu pernah. Untunglah, akal sehat mereka masih berfungsi. Saat salah satu lupa diri maka yang lain mengingatkan. Bagaimana bila bersama Lisa? Hati nurani Haris dan akal sehatnya harus bersatu demi menghentikan gejolak setannya. Dia harus sadar sepenuhnya saat bersama Lisa.
" O iya, kita kan mau menelpon Dini, Ris," kata Lisa.
Haris berpura-pura tidak mendengarkan. Dia malah membenamkan lagi hidungnya di leher Lisa. Dia bergeming saat Lisa menepuk-nepuk punggung tangannya yang melingkar di perut Lisa.
" Haris.... Kamu itu menyebalkan ya," seru Lisa. Dia tidak marah, justru malah tertawa terbahak-bahak.
****
" Mas, sehat?," tanya Dini. Dia sedang melakukan panggilan video dengan Haris. Dia menggunakan aplikasi di laptop supaya wajahnya terlihat besar dan jelas.
" Iya, aku sehat, Din. Kamu juga sehat kan?," tanya Haris.
" Aku habis kena flu. Maklum cuaca di sini mulai dingin. Aku belum terbiasa."
" Jaga kesehatanmu! Banyak mengkonsumsi vitamin dan istirahat cukup! Aku tahu kamu sering begadang kan?"
" Hahaha....Mas kok tahu kalau aku sering begadang."
" Kamu kan selalu begitu kalau sedang bersemangat."
" Betul! Betul! Mas betul sekali!"
" Bagaimana mata kuliahnya? Apakah menyenangkan?"
Raut muka Dini langsung tampak sumringah dan bersemangat sekali ketika ditanya seperti itu. Dia nyerocos tentang perkuliahannya, teman-temannya, dosennya, dan kampusnya. Dini terus saja bicara. Saking senangnya, gestur tubuhnya selalu berubah-ubah saat dia mengubah topik. Haris hanya menatapnya dengan bertopang dagu. Dia menonton Dini bercerita ngalor-ngidul tentang dirinya. Dia hanya tersenyum sepanjang Dini bicara. Dia ikut bahagia melihat Dini bahagia di sana.
" Mas kok diam aja sih?," tanya Dini.
" Aku mendengarkanmu," kata Haris. Dia mengganti posisi duduknya.
" Kamu selalu begitu!," ucap Dini sambil manyun.
" Mendengarkanmu saja sudah membuatku senang."
" O iya, Lisa mana?," tanya Dini.
Haris berada di ruang kerjanya saat ini. " Lisa sedang di kamarnya bersama anak-anaknya."
" Tolong panggilkan dia, Mas! Aku kangen padanya."
" Baiklah." Haris mengirimkan pesan kepada Lisa untuk segera datang ke ruang kerja.
" Kamu masih belum bisa bertemu Hana dan Hamza ya, Mas."
" Belum," Haris tampak sedih, apalagi dia ingat apa alasan yang menyebabkannya belum bisa berada dekat dengan Hana dan Hamza. Dia sakit hati.
" Kasihan anak-anak. Mereka jadi lebih banyak di kamar kalau kamu di rumah, Mas," kata Dini memprovokasi.
" Ya....semua kan butuh proses."
" Kamu sudah pernah mencobanya?," tanya Dini.
" Sudah, tapi gagal."
" Kamu pingsan?"
"Iya," Haris menutup wajahnya dengan tangannya yang besar. Dia malu mengakuinya kepada Dini. Setelah itu Lisa masuk ke ruang kerja. Haris melambaikan tangannya menyuruhnya mendekat. Dia beringsut meninggalkan kursinya, menyuruh Lisa duduk disana.
" Hai, Lisa.....," seru Dini. Dia melambaikan tangannya.
" Halo, Din..." Lisa ikut melambaikan tangannya kepada Dini. "Kamu sehat?"
" Aku habis terkena flu."
" Ya ampun, jaga kesehatanmu! Kamu kecapekan shopping ya?," goda Lisa.
" Hahahaha.....bohong kalau aku bilang tidak."
" Kamu pasti memborong seisi mall. Benar kan?" Haris membawa kursi lain dan duduk di sebelah Lisa. Baik Lisa maupun Dini terkejut dibuatnya. Haris mengambil jarak dekat sekali dengan Lisa, membuat Lisa harus memajukan posisi duduknya lebih dekat ke laptop agar Dini tidak merasa curiga.
" Aduh, Mas. Ya ngga begitu juga," sanggah Dini malu-malu.
Lisa dan Dini mengobrol cukup lama. Mereka lebih membicarakan tentang gaya hidup dan seputar trend fashion. Pembahasan khusus wanita. Harusnya membosankan, namun Haris tetap ikut menyimak disana. Dia memandangi Lisa dan Dini secara bergantian. Baru kali ini dia melihat Dini punya lawan bicara yang seimbang. Pengetahuan Lisa tentang lifestyle, fashion, dan segala sesuatu yang trending tentang wanita sungguh mengejutkan Haris. Dia tampak biasa-biasa saja. Dia tampak tidak mengikuti tren. Ternyata dia tahu model baju yang ngetren saat ini, dia tahu siapa artis atau model yang sering memakainya, dia juga tahu seni memoles make up, padahal dia tidak pernah memakai make up.
Haris menguap. Dia mengantuk sekali. Dia malah capek meladeni dua orang perempuan yang sedang bicara. Pembahasan mereka tiada habisnya.
" Kalau mengantuk, Mas Haris tidur saja sana!," seru Dini sembari tertawa.
Lisa menoleh ke arah Haris dan mendapati Haris mulai merosot di kursinya. Bola matanya mulai memerah. Dia tertawa melihat Haris begitu.
" Jangan menunggui kami! Kamu nanti yang capek sendiri!," kata Lisa.
Haris menguap lagi. Entah untuk kesekian kali. " Kalian berdua ini ya. Benar-benar!"
Lisa dan Dini tertawa keras. Dini sampai bertepuk tangan di seberang sana.
Haris akhirnya menyerah dan dia beranjak pergi meninggalkan Lisa dan Dini. " Aku tidur dulu!," pamit Haris.
" Tidur yang nyenyak, Mas," kata Dini. Dia memberikan ciuman jauh kepada Haris melalui kamera laptopnya.
" Jangan lupa matikan laptopku dengan benar, Sa!"
" Siap, Bos," jawab Lisa sambil memberi hormat.
Haris meninggalkan ruang kerja dengan langkah sempoyongan. Dia pasti lelah dan mengantuk.
****
" Selamat pagi," sapa Lisa ketika dia melihat Haris berjalan keluar dari kamarnya keesokan paginya. Rambutnya kusut dan acak-acakan. Matanya masih belum terbuka sepenuhnya.
" Pagi," jawab Haris tidak semangat. Dia masih menguap.
Lisa sedang memotong sayur kacang panjang di dapur. Hari ini dia mau memasak sayur asem dengan lauk perkedel jagung. Haris berjalan ke arah Lisa dan langsung memeluknya dari belakang. Dia juga menciumi leher Lisa yang bebas, sebab Lisa menggulung rambutnya ke atas. Sungguh pemandangan favorit Haris. Dia jadi bisa menciumi setiap senti leher Lisa baik kiri dan kanan.
" Haris, hentikan! Aku bau trasi!," kata Lisa.
" Aku suka bau trasi," jawab Haris tidak peduli. Dia terus bergelayutan kepada Lisa. Tidak menghiraukan Lisa yang sedang bekerja, Haris mengikuti Lisa bergerak kesana kemari dengan terus memeluknya.
" Haris, tolong lepaskan dulu tanganmu! Aku jadi tidak nyaman memasak."
" Aku ngga mau!"
" Nanti masakannya ngga cepat matang. Kamu kan harus segera sarapan. Nanti kamu terlambat berangkat kerja."
" Suka-suka aku dong! Kan aku bosnya!"
Lisa menghela napasnya. Dia bicara dengan nada memelas," Anak-anak juga harus berangkat sekolah, Ris."
Haris baru ingat hal itu. Dia akhirnya melepaskan tautan tubuhnya dari tubuh Lisa. Dia berjalan menjauhi Lisa dan duduk di meja bar. Setidaknya dia bisa memandangi Lisa yang sedang memasak.
" Aku kesal ngga kamu peluk sebelum tidur. Aku jadi ngga bisa tidur," kata Haris sambil cemberut.
" Kamu mimpi buruk lagi?," tanya Lisa.
" Iya."
" Maaf ya..." Lisa sedang memasukkan semua sayuran ke air yang sudah mendidih. Kini dia mengulek bumbu untuk membuat perkedel jagung.
" Kamu sih terlalu lama ngobrol dengan Dini. Aku kan tidak bisa memelukmu."
" Hahaha....kamu cemburu?"
Haris manyun. " Aku tidak cemburu. Aku sebal."
" Iya, maaf, aku tidak paham maksudmu kemarin malam."
" Bolehkah aku meminta sesuatu sebagai gantinya?"
" Apa?"
Baik Lisa dan Haris saling berpandangan. Lisa menebak apa yang diminta Haris adalah sesuatu yabg saama seperti permintaannya untuk tidur bersama tempo hari. Lisa sedikit deg-degan menunggu jawaban Haris.
" Tolong gelung rambutmu seperti ini setiap hari!"
Lisa terbelalak. " Hanya itu?"
" Memangnya kamu pikir aku mau minta apa? Minta dicium?"
Wajah Lisa bersemu merah. Dia sudah berpikir yang tidak-tidak. " Baiklah. Aku akan melakukannya. Kamu sudah puas?"
Haris mengganguk sambil tersenyum. Dia menunggui Lisa sampai dia selesai masak dan dia sarapan setelahnya.
/Angry//Angry/
kadang kondisi kesehatan ga memungkinkan buat up tiap hari 😄
terimakasih sudah setia membaca 🥰