Kesalahan di masa remajanya membuat Dewi harus menerima konsekuensi dari semua itu. Memiliki dua orang anak tanpa suami membuat Dewi menjadi bahan pembicaraan di kampungnya. Hingga suatu hari dia menerima lamaran dari saudara ayahnya yang memiliki seorang anak laki laki. Bertahun-tahun berumah tangga Dewi dan Randi belum memiliki anak. Segala cara mereka melakukan, pengobatan tradisional sampai ke dokter kandungan yang terbaik di kota mereka tidak menunjukkan tanda-tanda kehamilan.
Dewi mulai lelah menghadapi tuntutan suami dan keluarga suaminya yang menginginkan keturunan. Hingga semua keluarga besarnya berprasangka buruk pada Dewi, mereka mengatakan kalau Dewi itu mandul karena minum obat ketika belum bersuami.
Suami Dewi juga mulai terpengaruh dengan pembicaraan orang orang. Pertengkaran menjadi hal biasa. Setiap kali ada pertemuan keluarga, mereka selalu mengatakan agar Randi menikah lagi. Agar bisa memiliki anak.
Bagaimana kisah selanjut
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvy Anggreny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Setelah uang hasil penjualan rumah Dewi di kembalikan kepada Hendra, Randi mengajak keluarganya kembali ke rumah mereka. Jika saat ini ada yang bilang Randi tidak punya pendirian yang teguh. Itu betul sekali, seharian dia harus berusaha keras menghubungi Dewi namun tidak satupun panggilan telepon atau pesan masuknya di baca.
Mariam bisa melihat perubahan pada Randi, Mariam berpikir saja kalau suaminya sedang marah pada ibunya dan ibu mertuanya.
"Langsung turunkan ibu di rumah Randi saja nak Jack" Kata ibu Randi
Kening Randi berkerut..
"Kenapa ibu ke sana? Bukannya ibu ke rumah kak Rani dan nginap di sana ? " Tanya Randi
"Ibu harus ngomong sama Dewi tentang uang yang ibu kembalikan pada Hendra, Kalian tau kan ibu pinjam uang itu dari rentenir di kampung mertua mu " Kata ibu Randi lagi
"Lalu kenapa harus ngomong sama Dewi Bu ?" Tanya Randi yang tidak puas dengan jawaban ibunya.
"Dia juga harus bantu membayar uang itu ke rentenir gila di kampung mertua kamu itu. Ibu nggak mau menanggung sendiri" Jawaban yang sangat tidak masuk akal sama sekali.
"Tapi Bu, kenapa harus nak Dewi yang membayar?' Suara ayah Randi terdengar sangat pelan dan terkesan takut bicara. Dia juga merasa tidak masuk akal dengan jawaban istrinya.
"Udah deh, Ayah diam saja. Apa ayah mau bayar pakai gaji pensiunan ayah yang nggak seberapa itu ?" Sahut ibu Randi
"Tapi nggak harus kak Dewi juga kan tante yang bayarin hutang tante ke rentenir itu, Malah sebaliknya tante punya hutang permintaan maaf sama kak Dewi karena tante sudah lancang menjual rumah dari ibu kandung Dewi. Kalau kak Dewi tau, dia bisa menuntut tante berdua karena sudah berani melakukan itu dan sekarang malah tante minta kak Dewi yang membayar uang pinjam itu? Hahahaha..... Wow Ren... saya heran sama keluarga kamu, ada apa dengan kalian ?" Jack sudah sangat kesal mendengar bagaimana calon ibu mertuanya menyalahkan Dewi.
Kali ini Reni tidak suka dengan ibunya yang tidak bisa menunggu membicarakan semua di rumah Rani. Di sini masih ada Jack, Semakin banyak yang Jack tau tentang keluarganya. Reni sangat malu dengan kata kata Jack.
Dan Jack berpikir, dia mungkin harus memikirkan kembali tentang pernikahannya bersama Reni yang tinggal dua bulan lagi.
Dia akan menunjukkan pada ibunya bagaimana wujud asli dari keluarga calon menantu pilihannya ini. Entah apa yang di lihat ibunya pada Reni.
Randi sama sekali tidak memberi tanggapan, dia sedang memikirkan kenapa Dewi tidak membalas satupun pesan dan panggilan darinya.
Lalu apa yang terjadi pada Dewi...?
Saat ini Dewi sedang kebingungan sendiri karena dia harus bertemu Johan kakak iparnya di rumah kos kosannya tempat Amalia.
Dewi tidak bisa menghindari Johan karena Johan juga berada di parkiran. Johan terkejut melihat Dewi.
"Loh Dewi, kamu kok di sini juga ?
"Saya mau mengembalikan mobil kak " Jawab Dewi
Sebuah teriakan membuat Dewi dan Johan sama sama membisu.
"Sayang, ayo dong...lama banget kamu disitu ?"
"Eh.. Dewi..ini...ini tidak seperti yang kamu pikirkan " Kata Johan suaranya sedikit bergetar saat mengatakan itu.
"Apa yang saya pikirkan kak ? Saya nggak mikir apapun" Jawab Dewi enteng.
"Ah iya.. Kakak ke sini ada perlu sama teman juga " Di balas anggukan kepala Dewi
"Oh iya kak, hmm...saya ke dalam dulu ya kak. pemilik mobil udah menunggu kayaknya " Kata Dewi tanpa menunggu jawaban dari Johan.
Johan menatap punggung Dewi sampai menghilang.
"Duh ..gimana ini, dia sudah melihat saya di sini." Batin Johan.
*
Dewi kembali ke hotel, hari ini Deni ingin mengajak Dewi bertemu seseorang ldan setelah itu mereka akan bersama sama ke satu lokasi karena paman Deni ingin membeli lahan yang kosong untuk membuat cafe.
"Lokasinya jauh ya Den." Tanya Dewi dalam perjalanan.
"Nggak terlalu jauh, Sebelumnya kita akan bertemu seseorang. Dia yang akan membantu kita. Dia suami ibu Aini" Kata Deni.
"Suami ibu Aini ? Dia mengenal pemilik lahan itu ya? Apa itu pekerjaannya ?"
"Dia dosen, ya..kebetulan dia mengenal pemilik lahan yang akan kita beli. Ayo.. Dia sudah menunggu kita"
"Ayo..."
Dewi dan Deni masuk ke dalam rumah makan, tempat mereka sedikit privat.
"Maaf bang kami sedikit terlambat" Kata Deni, Dewi masih sedikit jauh. Dia sedang melihat pesan masuk dari suaminya karena sejak pagi dia mengabaikan semua panggilan dan pesan masuk dari Randi.
"Sorry Den, saya lagi balas pesan anak anak saya " Suara Dewi membuat seseorang yang sedang bicara dengan Deni mematung menatap Dewi.
Dewi menoleh ke arah tamu lain di hadapan Deni.
Dewi membeku, matanya membulat emosinya terpancing dengan apa yang di lihat di hadapannya.
Tubuh Dewi bergetar, ia berusaha menahan diri agar tidak bicara kasar. Dewi menundukkan kepalanya menghindari tatapan Rama. Pria yang tidak pernah ingin Dewi temui namun selalu saja Tuhan mempertemukan mereka.
Dewi segera duduk di samping Deni
"Abang sudah lama menunggu ? Tanya Deni
"Baru sepuluh menit yang lalu Den.."
Dewi tak memberikan tanggapan apapun, ingin rasanya dia pergi dari tempat itu. Dan untuk pertama kalinya Dewi begitu membenci pertemuan tak sengaja seperti ini. Dewi seakan-akan tuli sama sekali tidak mendengar suara di sekitarnya. Hal yang membuatnya kaget dan tidak percaya adalah dia suami dari bos nya. Ibu Aini. Jadi selama ini Aini tau tentang dirinya dan kedua anaknya.
Dewi ingat ketika anak-anaknya ikut ke tempat kerjanya, Aini mengajak mereka foto bersama.
Ya Tuhan.....
"Apakah kamu yang menyuruh istri kamu untuk mengambil gambar anak anak saya? " Suara Dewi yang menghentikan pembicaraan Deni dan Rama.
"Kamu kenapa ngomong ngelantur kayak gitu sayang?" Tanya Deni dan Dewi bisa melihat kerutan di kening Rama pria yang tidak pernah ingin Dewi temui lagi.
"Sayang..? Apakah semua laki-laki memanggil kamu dengan panggilan sayang?" Sekarang kerutan itu berpindah di kening Deni.
Ada apa ini?
"Hei.... Ini ada apa? Sayang kamu kenapa? Kamu juga Ram.. Kenapa ngomong kayak gitu?' Tanya Deni kebingungan
"Apakah kamu sangat ingin melihat anak anak saya atau kamu sudah tidak bisa menghasilkan anak lagi ?' Dewi menatap tajam kepada Rama.
Deni terkejut dan dengan cepat Deni sudah mengerti. Jika selama ini dia selalu merasa familiar dengan wajah kedua anak Dewi. Walaupun baru dua kali bertemu. Ternyata karena dia melihat wajah Rama di sana. Dan hari ini dia tau semuanya.
"Wi.. saya hanya ingin meminta maaf sama kamu dan kedua anak kita " Kata Rama.
"Hahaha.... anak kita ? wow, saya nggak tahu harus gimana ngomong sama kamu. Mereka itu bukan anak anak kamu, jangan sebut kata kita. Kamu hanya akan mempermalukan diri kamu sendiri dengan mengatakan kita. Saya saja malu mengakui kamu sebagai ayah mereka " Kata kata Dewi sangat menusuk.
"Bahkan permintaan maaf mu saja nggak pantas kamu sampaikan pada anak anak saya. Kamu harus ingat ini.. Kami sangat membencimu, jadi jangan pernah muncul di hadapan anak anak saya. Mereka anak anak saya, bukan kita, ingat itu " Dewi berdiri dan berlalu pergi, Deni sama sekali tidak mencegah.
Rama juga tidak berani menghentikan Dewi, dia sama terkejutnya dengan Dewi. Bedanya pertemuan tak terduga ini membuatnya senang sekali, Rama begitu bahagia melihat Dewi berdiri di hadapannya.
Kata kata Dewi yang menyakitkan dan menjatuhkan harga dirinya sama sekali tidak mengurangi rasa bahagia Rama bertemu Dewi.
Tapi Rama tidak bisa merasakan kegembiraan ini terlalu lama.
"Setelah ini dia pasti akan mengundurkan diri dari tempat kerjanya" Kata Deni tanpa melihat Rama, Deni terus menatap Dewi hingga Dewi hilang dari pandangan matanya.
"Kenapa?"
"Bukankah di sana ada Aini, Istri kamu? Apakah kamu berpikir Dewi akan bekerja sama dengan orang istri dari orang yang sudah memberinya luka? " Kata Deni lagi
Rama terdiam, dia tidak tau kalau hari ini dia akan bertemu Dewi.
"Oh ya apakah Aini tau tentang Dewi dan anak anaknya? "Tanya Deni lagi dan di balas dengan anggukan kepala dari Rama.
"Jangan bilang kalau kalian berdua yang mengatur semua ini, Apakah Aini yang minta pekerjaan ini sama om Max ? " pertanyaan Deni semakin membuat Rama terdiam
"Abang yang menyuruh istri abang kerja di hotel juga ?" Tanya Deni tidak puas dengan jawaban Rama
"Saya ingin dekat dengan anak anak saya tapi saya nggak tau caranya, Dewi nggak mau bicara sama saya. Setelah mencari tau tentang Dewi ,saya merasa beruntung karena Dewi bekerja di hotel om max, Aini akhirnya mengatakan akan bekerja di hotel itu dengan satu syarat saya nggak boleh menunjukkan wajah saya di tempat kerja kalian " Jawab Rama
"Sebaiknya kamu suruh istri kamu mengundurkan diri hari ini juga "
"Loh kenapa?' Tanya Rama lagi
"Kamu ingin melihat Dewi kehilangan pekerjaannya atau ingin melihat anak anak Dewi hidup berkecukupan" Tanya Deni lagi.
Tak lama kemudian Deni melihat Rama sedang mengotak atik ponselnya.
Ting....
"Kamu serius sayang?"
"Ya dan menurut Deni,dia pasti akan mengundurkan diri dari pekerjaannya"
"Apa kamu bilang kalau kamu suami saya sayang?" balasan dari istri Rama
"Sebelum mereka ke sini, Deni udah ngomong itu sama Dewi di mobil. Deni nggak tau kalau saya adalah ayah dari Yan dan Arumi "
"Jadi saya harus berhenti bekerja ya... padahal saya udah merasa nyaman dengan pekerjaan ini dan om max pasti akan merasa kalau saya nggak totalitas bekerja"
Rama tidak membalas pesan itu, dia pun dilema. Dia juga tidak ingin mengorbankan pekerjaan istrinya.
"Den... Apakah kamu yakin Dewi akan berhenti? Dan kalau itu betul apa kamu nggak bisa ngomong sama Dewi agar dia tetap bekerja ?"
"Bang.... sayang nya saya nggak bisa melakukan itu, Saya juga nggak begitu mengenal gimana karakternya " Jawaban Deni membuat Rama tidak bisa bicara apa-apa lagi.
Sementara di tempat lain, Dewi sedang terduduk di pinggir jalan di bawah sebuah bangku taman. Dewi menangis dan Dewi sama sekali tidak menyadari jika seseorang yang baru saja lewat taman itu terus memperhatikan dia dari dalam mobil.
.
.
.
.
Bersambung...
Up lagi , Jangan lupa tinggalkan jejak ya, gimana sama ceritanya? komen dong...😁😁
sudahlah miskin belagu pulak tuh