Benua Kasturia yang damai berubah menjadi medan pertempuran tiada henti. Sudah 200 tahun lamanya benua Kasturia terpecah menjadi tiga kekuatan besar. Masing-masing kekuatan saling bertempur. Pengkhianatan, agresi, politik, semuanya adalah hal penting bagi setiap negara untuk tetap bertahan di zaman peperangan ini.
Abyad, pemuda jenius yang tumbuh di pedesaan yang berbatasan langsung dengan negara berkonflik, bertekad untuk membawa perdamaian ke tanah Kasturia. Bersama dua teman setianya, Basril dan Sabina, Abyad terjun ke dalam dunia dengan kebusukan yang abadi, yang dipenuhi intrik yang membingungkan. Apakah perdamaian yang dicita-citakan Abyad akan terwujud? Ikuti terus petualangan Abyad mengarungi pertempuran tiada henti.
NB : Sumber cover dari Google
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mungka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29 : Musuh Lama
"Kuatkan diri kalian! Serang!" Ali Pasha berteriak keras. Dia sendiri baru saja merobohkan dua pengendara kuda.
Pertempuran di tengah hujan badai sedang terjadi antara pasukan Kesultanan Ammaruz melawan pasukan yang tidak diketahui asalnya. Bunyi guruh petir membuat suasana pertempuran semakin dramatis. Tubuh-tubuh mulai berjatuhan. Ringikan kuda yang terbunuh juga terdengar. Kasihan sekali hewan malang ini, harus meregang nyawa karena pertempuran para manusia.
"Argh!" Basril mengeluh. Dia hampir ditabrak oleh pengendara kuda. Tombak penyerang itu berhasil menggores lengannya.
Basril cukup kesulitan menghadapi serangan-serangan dari para pengendara kuda. Dengan kegelapan malam, serta rintikan hujan yang deras, penglihatan menjadi sangat terbatas. Suara adalah indra yang tersisa untuk bisa mengetahui arah serangan musuh selanjutnya. Tidak jelas mana lawan maupun kawan.
"Awas!" Basril berseru keras melihat salah satu pengendara kuda datang ke arah salah satu prajurit Kesultanan Ammaruz. Tombak pengendara kuda itu terhunus mantap ke depan.
Terlambat sekali, belum sempat prajurit itu sadar, tombak itu sudah menembus lehernya. Bagaikan rumput yang dicabut, kepala prajurit itu sudah terlepas dari badannya. Mata Basril terbelalak menyadari keterlambatannya.
Emosi Basril meluap dengan cepat. Matanya memerah. Dia sadar bahwa ini adalah kesalahannya karena lalai memberi peringatan. Tangannya bergetar hebat. Dengan sekali entakan, Basril sudah berlari menuju si penunggang kuda yang baru saja menghabisi nyawa prajurit malang itu. Dengan gesit dia melewati para pasukan yang sedang bertempur di dalam gelap. Badannya dengan lincah meliuk-liuk di antara kekacauan yang sedang terjadi.
Basril menyilangkan tangannya. Dua pedang kilijnya sudah siap. Basril pun sudah siap menghabisi nyawa si penunggang kuda itu. Masih dengan kecepatan yang luar biasa, Basril sudah meloncat. Dia menggunakan tubuh salah satu pasukan lawan yang tersungkur sebagai batu loncatannya.
"Gya!" Basril berteriak. Tangannya menggenggam erat pedang kilij. Lompatan Basril sangat tinggi sampai-sampai si pengendara kuda itu harus menengadah melihatnya. Dengan memfokuskan semua kekuatan di tangannya, Basril mengayunkan dua pedang kilijnya dengan kekuatan penuh. Pedang itu bergerak dengan sangat cepat menuju leher si pengendara kuda.
Ctang!
Bunyi besi yang beradu menggema di medan tempur. Suaranya hampir menyaingi bunyi petir yang sedang mengamuk. Sangat mengejutkan, serangan terkuat Basril berhasil ditahan oleh si pengendara kuda itu dengan tombaknya.
Dengan sekali ayunan, si pengendara kuda mendorong badan Basril dengan tombaknya dan membuat Basril terguling ke atas tanah yang berlumpur. Basril refleks berdiri setelah terguling dan membuat badannya menjadi penuh dengan lumpur.
"Kita bertemu lagi, Basril. Sungguh kejutan yang luar biasa." Suara si pengendara kuda itu terdengar familiar di telinga Basril.
"Ka-kau?" Basril terkejut setelah berhasil melihat wajah si pengendara kuda yang menyala karena sambaran petir. Wajah si pengendara kuda menyeringai lebar.
"Kau terkejut, Basril? Aku pun juga merasakan hal yang sama. Siapa sangka, setelah kau berhasil mengalahkanku di lembah Bursa, sekarang kita malah bertemu di sini." Si pengendara kuda berkata sambil memainkan tombaknya.
"Jenderal Marco dari Kerajaan Havelar." Basril mengeram. "Bagaimana bisa pasukan Kerajaan Havelar datang ke sini?"
Marco, si pengendara kuda, mengangkat bahunya. "Entahlah, aku juga penasaran." Marco tersenyum licik. Wajahnya terlihat dingin dan menyeramkan.
Timbul banyak pertanyaan di kepala Basril. Apa yang membuat pasukan Kerajaan Havelar berada di provinsi Raxomensia? Bukankah mereka seharusnya sedang bertempur di front utara? pikir Basril.
"Tidak baik berpikir di saat sedang bertempur, Basril. Kau bisa jadi akan kehilangan nyawamu." Marco berkata. Perkataannya membuyarkan lamunan Basril.
Basril masih menatap tajam Marco. Dia tahu keberadaan Marco adalah ancaman. Marco sendirian saja mungkin bisa menghabisi seratus tentara Kesultanan Ammaruz.
"Basril! Kau tidak apa-apa?" Abyad tiba-tiba muncul di sebelah Basril. Keningnya berdarah. Bibirnya juga terluka. Kondisi Abyad sudah sangat berantakkan.
Basril mengangguk menjawab pertanyaan Abyad. "Aku tidak apa-apa, Abyad. Kita punya masalah yang lebih serius."
Abyad tampak kebingungan melihat Basril yang tiba-tiba berubah menjadi sangat waspada. "Ada apa?"
Belum sempat Basril menjawab, Abyad sudah menjawabnya sendiri. "Jenderal Marco? Jadi yang menyerang kita adalah pasukan Kerajaan Havelar?"
Tiba-tiba, sebuah tombak mengarah cepat ke arah Abyad. Basril dengan sigap segera menangkisnya. Abyad terpaksa meloncat mundur beberapa langkah.
"Aku paling tidak suka melihat orang yang malah mengobrol di saat sedang berperang! Ini adalah peperangan! Tempat bertemunya kehidupan dan kematian, bukan tempat untuk mengobrol dan bersantai!" Marco berseru keras. Dialah yang baru saja melempar tombaknya ke arah Abyad.
"Abyad, orang ini sangat kuat. Kita harus berhati-hati." Basril memperingatkan Abyad akan lawan yang akan dihadapinya. Abyad menjawab dengan anggukan yang penuh dengan keraguan.
Sama seperti Basril sebelumnya, Abyad juga sedang berpikir sekarang. Banyak pertanyaan yang muncul di kepalanya. Setahunya, penaklukan ke provinsi Raxomensia ini hanya diketahui oleh kalangan elit dari Kesultanan Ammaruz saja. Bahkan ini adalah perintah langsung dari Sultan Suleyman. Ada pengkhianat di tubuh Kesultanan Ammaruz, pikir Abyad geram.
"Basril, aku hanya ingin mengulang pertarungan kita yang terdahulu. Suruh temanmu ini untuk tidak ikut campur! Atau aku akan menghabisinya terlebih dahulu." Marco berkata dingin. Tatapan tajammya diarahkan ke Abyad. Dia melompat turun dari kudanya dan langsung mencabut pedang yang tergantung di pinggangnya.
"Apa kau bil-"
Basril menahan Abyad yang terpancing emosi mendengar perkataan Marco. Dengan senyuman terukir di bibirnya, Basril berkata, "Biarkan aku menyelesaikan ini, Abyad. Ini adalah duel ksatria. Jenderal Marco sudah menantangku, aku harus menerimanya."
Abyad sebetulnya tidak terima, tapi melihat Basril yang di matanya memunculkan kepercayaan diri serta keberanian, yang Abyad bisa lakukan sekarang hanyalah menghormati keputusan temannya itu.
"Kau harus berhati-hati." Abyad menepuk bahu Basril. "Jangan sampai membuat Sabina mengamuk jika tahu kau kalah."
Basril tertawa mendengar perkataan Abyad. Kedua orang ini masih sempat saja bergurau di tengah pertempuran yang sedang berkecamuk. "Tidak akan." Basril menjawab mantap.
Dengan langkah dan tekad yang pasti, Basril melangkah maju menuju Marco yang sedang bersiap-siap. Digenggamnya kedua pedang kilijnya. Basril menarik napas dalam-dalam. Dengan perlahan dia embuskan napas itu kembali. Basril sedang mencoba untuk rileks.
Bunyi gemuruh petir masih sahut menyahut merobek langit. Jalannya pertempuran masih berlangsung. Belum jelas siapa yang akan menang atau kalah. Entah itu pasukan Kesultanan Ammaruz dengan tujuan ke kota Belussi atau mungkin pasukan Kerajaan Havelar yang masih belum diketahui motif dan tujuannya.
"Kau sudah siap? Asal kau tahu saja, Basril, kali ini aku tidak akan mengalah. Nyawamu akan menjadi persembahan yang sangat sempurna." Marco tersenyum lebar. Bukan tersenyum, melainkan menyeringai lebar. Dia melempar-lempar pedang dari tangan kiri ke kanan.
"Aku juga akan bertarung dengan serius, Jenderal Marco. Duel antara dua orang ksatria adalah pertempuran yang suci. Setidaknya, itulah yang aku yakini." Basril menjawab. Wajahnya tampak tenang. Namun tidak dengan pikirannya. Dia sudah terluka di tangan akibat goresan dari formasi barikade sebelumnya. Basril harus mencari celah dari pertahanan Marco yang super kuat.
Bunyi petir menggelegar sekali lagi. Warna biru terang menyala di langit-langit malam. Bersamaan dengan bunyi itu, Basril dan Marco berlari dan bersiap memulai duel yang tertunda di antara mereka berdua.
tetap semangat dong
tetap semangat thor