Aku dan kamu terikat dalam sebuah ikatan yang diwali dengan kata-kata, berbahan dasar Aksara.
Cinta yang berawal dari sebuah aksara itu, awalnya tidak saling mengenal dan memahami. Takdirlah yang seolah mempertemukan, mengikat, dan berakhir dengan kebersamaan. Lantas, mengapa takdir juga yang memberikan sebuah ujian penuh liku itu? Mengapa seolah akan ada hari dimana akan ada sebuah jarak yang memisahkan mereka dan berakhir menjadi sebuah peristiwa bertajuk ANTARA.
Lalu benci dan cinta itu beda tipis KATANYA. Kata yang awalnya tak ingin kenal mengenal, caci mencaci-caci, bahkan berang memerangi, mendadak ada rasa yang tumbuh bersamaan keluarnya warna-warni bunga yang bermekaran.
Cinta itu manis, hidup tak indah bila kita tak merasakan iramanya cinta, itu JELASNYA. Tetapi seutas kata Cinta tak ada artinya, jika tak mengandung sebuah keabadian yang menjelma. Anggap saja cinta kita perlu diuji untuk menumbuhkan kesetiannya. Dari hal itu kita hanya menemukan dua opsi setelah mendapat ujian itu, BERTAHAN UNTUK KEMBALI atau PERGI UNTUK SELAMANYA.
Percayalah dibalik cinta yang hampir terkoyak itu, akan ada kebahagiaan yang tak berujung sedang menunggumu.
[PLAGIATOR DALAM JENIS APAPUN DILARANG MENDEKAT!]
*****
@Copyright: Agustus 2019.
Move: 30 Agustus 2020.
Picture by: @Vaa_Morn
Story By: Vaa_morn.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vaa_Morn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DUA PULUH SEMBILAN
Nadia bimbang, antara ingin menerima ataupun menolak saja. Sebenarnya ini kesempatan emas baginya untuk memiliki teman, akan tetapi ia juga takut akan diberikan syarat oleh Ara yang membuat dia berat untuk melakukan.
Dengan segala kesepakatan dari dalam hati, cepat-cepat ia mengangguk mengiyakan. Bisa saja Ara berubah pikiran karena menunggunya berpikir dalam jangka yang begitu lama. Ara sendiri termasuk anak yang enggan untuk menunggu kepastian.
"Nadia mau kok penuhi semua syarat dari Ara." jawab Nadia lirih.
Nadia mengangkat satu alis. Cicitan dari mulut Nadia membuat ia tersenyum menang, dan bertepuk tangan.
"Right... Lo pinter milih sekarang."
Ara memutari tubuh Nadia, yang membuat Nadia sendiri tersenyum canggung. Sepertinya Ara memiliki rencana, namun apa? Nadia harap, syarat itu benar-benar tidak memberatkan dirinya sendiri.
"Buka kepangan lo!" ucap Ara memerintah. Tentu saja membuat Nadia melongo tak percaya.
"Lo budeg, atau gimana? Gue minta lepas kepangan cupu lo!"
Nadia sontak terkejut. Ia menurut patuh pada Ara, dan membuka semuanya. Lagi-lagi Ara tersenyum menang.
"Lepas kacamata, atau semua assessoris yang berhubungan dengan warna yang gue benci."
Nadia menggeleng lemah. Baginya, semua yang ia suka akan selalu menjadi jati dirinya. Namun kenapa Ara memintanya untuk melepas.
"Nadia nggak mau. Ini kan style Nadia." jawab Nadia menolak.
"Lo lepas, atau lo nggak punya temen sama sekali." ancam Ara.
Nadia mengangguk lemah. Meskipun dari lubuk hati yang palingg terdalam, hatinya meronta untuk memberontak dari ucapan Ara.
"Ara jahat, Nadia nggak suka." keluh Nadia yang kemudian menangis lagi.
Ara sendiri hanya tersenyum sinis. Bagaimana lagi? Ia membutuhkan banyak kesabaran untuk menghadapi Nadia. Lagi pula, Ara melakukan semuanya demi kebaikannya sendiri.
"Lo tau nggak? Dengan penampilan lo yang kayak gitu, pasti akan menimbulkan orang lain buat nge bully lo." Ara menjeda kalimat. "Apa yang lo gunain dalam tubuh lo itu, menampilkan bahwa lo itu masih kayak BOCAH!"
Pedas, Nadia memang sudah mencetuskan bahwa mulut Ara itu sebagai mulut cabai. Tak pernah disaring, bahkan ucapannya terkadang membuat suasana panas dihati. Bisa juga Nadia mengatai mulut Nadia seperti mulut mercon, karena terkadang suara Ara meledak-ledak layaknya sebuah petasan.
"Ara nggak bisa ngomong lembut ya? Kok mulutnya pedes kayak mulu kaya cabai." Ujar Nadia yang sudah tidak tahan.
"Lo kalau ngomong sekali lagi, gue lempar ke planet mars."
Nadia terdiam. Membuat Ara yang baru saja mengatakan sesuatu, berjalan keluar dari arah toilet. Sudah cukup, Nadia berpenampilan seperti itu. Yang jelas, itu tak membuatnya merasakan sakit mata.
"Lo mau di sini aja, atau ngikut gue?" ajak Ara sembari melambai-lambaikan tangannya, karena Nadia yang termenung.
Nadia yang baru saja tersadar, langsung mengangguk cepat. Nadia mulai mengikuti Ara dari belakang.
"Tapi sebelum itu, lo harus ngikut bahasa gue. Karena gue nggak bisa nyesuain bahasa lo, terlalu lugu."
"Ta... Tapi..."
"Tenang, nanti gue ajarin."
Nadia dengan rasa gugupnya mengangguk saja. Menjadi teman dari seorang Ara, nyatanya terlalu berat untuk dilakukan. Terlalu banyak permintaan, bahkan perintahnya saja terlalu memberatkan hati. Namun harus bagaimana lagi, selama bertahun-tahun dalam hidupnya ia sama sekali tak memiliki teman. Jadi mendengar Ara yang memberikan kesempatan untuknya, dengan senang hati ia menerimanya.
Saat ini mereka berjalan berdampingan menuju kelas. Tak mungkin mereka pergi kantin, ketika bel pelajaran sendiri masih belum habis. Mungkin Ara sudah terbiasa, tapi tidak untuk Nadia.
Sepertinya, suasana kelas IPA-3 terlihat sangat ramai. Mungkin tidak ada guru yang mengajar, jadi banyak anak yang berkeliaran entah kemana, termasuk Ara dan Nadia sendiri.
Guru yang mengajar dikelas mereka sedang berhalangan hadir. Alasannya karena guru itu mengajukan hak cutinya karena melahirkan. Tentu saja membuat para murid yang mendengarnya bersorak ria.
Ara dan Nadia berjalan masuk ke dalam kelasnya dengan langkah santai. Tentu membuat semua penghuninya diam, terlebih lagi dengan muka asing Nadia.
"Ara, itu murid baru ya?" tanya teman kelasnya yang bernama Angga. Bisa dikatakan Angga adalah ketua kelas dari 12 IPA-3.
Ara menggeleng. "Dia udah lama jadi murid di sini kok. Masa kalian nggak tahu."
Nadia sendiri memilih untuk menunduk. Rasanya takut sekali, ketika ia menjadi pusat perhatian semua orang. Terlebih lagi, dengan ia yang tampil sesederhan ini.
'*Cantik kok, tapi masa nggak pernah lihat sih.'
'Siapa ya kira-kira.'
'Cantiknya*...'
Nadia sendiri tak menyangka dengan pujian seperti ini. Perlahan-lahan ia mengangkat kepalanya, dan tersenyum.
'*Wihhh, cantik beneran kan...'
'Semoga aja masih jomblo*.'
Ara sendiri tertawa terbahak-bahak. Kapan lagi ia melihat muka-muka bodoh seperti mereka. Rasanya seperti menjadi hiburan tersendiri bagi Ara. Terlebih lagi ia melihat Nadia yang tersipu malu, rasanya dia seperti dalam serial drama sekarang.
"Kenalin dong Ar, masa lo tega sih ngelihat kita yang mati penasarn dengan cewek cantik disebelah lo!" Angga memprotes membuat Ara terkekeh pelan mendengarnya.
"Dia Nadia Steffani. Cewek cupu yang kebangetan itu. Cantik kan?"
Nadia mencebikkan mulutnya. Bisa-bisanya Ara masih mengatainya sebagai cewek cupu. Sindiran keras itu namanya. Nadia menatap mereka dengan meringis pelan, tentu sambil melambaikan tangannya dengan rendah. Semoga saja mereka sudah mau menerimanya.
Semua murid menunduk. Sepertinya mereka merasa bersalah. Angga yang sebagai ketua kelas itu pun, berdiri ke depan kelas dan berhenti tepat di depan Nadia.
Angga si ketua kelas itu mengulurkan tangannya. Meskipun dalam matanya, menyiratkan rasa bersalah yang begitu besar
"Gue minta maaf. Karena gue selalu mendang lo hanya pada satu sisi, lo terlalu kayak bocah dulu." Angga sekarang yakin, bahwa ia harus bertindak adil pada teman-teman kelasnya.
Nadia tersenyum kikuk. "I... Iya... Nadia ma... Eh, maksudnya gue maafin."
Angga tersenyum lebar, kemudian menatap kearah anak-anak kelasnya. "Kalian juga minta maaf dong?"
Semua orang hanya kikuk mendengarnya. Membuat Ara yang tadinya berdiri, langsung mendudukkan dirinya di kursi guru.
"Kita minta maaf ya Nad, udah sering sinis sama lo." pinta semua orang kompak.
Nadia mengangguk tipis. "Iya gu... Gue maafin."
Rasanya begitu bahagia, ia tak sendiri lagi sekarang. Dan itu semua berkat Ara, Ara sangat baik kepadanya. Nadia menoleh kearah Ara dan tersenyum, senang sekali ia tak sendiri lagi sekarang. Mungkin akan ada Ara dan teman-teman kelasnya yang tidak sinis lagi kepadanya.
"Gini dong, jadi kita akur nggak pecah belah. Lagian kenapa sih kita harus ngukur orang hanya dari sebuah penampilan? Sebaik atau seburuk apapun orang itu, jika ia tulus dengan kita, maka jangan pernah kita sia-siakan. Rugi kita pada akhirnya." Ara membuka suaranya.
"Saran gue, bertemanlah dengan siapa saja. Sepinter atau sebodoh apapun, sejelek atau sebagus apapun, jika niat awal kita cuma mau nyari temen yang sepadan sama kemauan kalian, maka kalian salah besar. Penampilan tidak mencerminkan segalanya, tetapi sifat bisa memperjelas segalanya. Karena gue yakin pada suatu saat nanti, penampilan seseorang akan berubah mengikuti zaman.
"Iya, kita minta maaf." jawab mereka serempak.
Ara mengangguk dan hendak berjalan keluar kelas dengan wajah tersenyum. Dia sedikit berbaik hati hari ini. Semoga saja Mamahnya juga mau berbaik hati lagi dengannya. Tapi belum saja membuka pintu kelas, pelototan tajam seseorang membuatnya mati kutu.
"Ha... Hai Bu, selamat pagi menjelang siang." ucap Ara sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Mau kemana?" pertanyaan menusuk yang membuatnya langsung terdiam seribu bahasa.
"Mau bolos?" tanya guru itu.
Ara sendiri hanya cengengesan. Niatnya ia ingin pergi ke kantin, mau usaha mendapatkan makanan secara gratis. Namun dalam sekejap, ia tak jadi pergi. Sudah ada singa yang keluar dari kandang, menatapnya garang.
"Lari keliling lapangan sepuluh kali, sekarang!"
Ara melotot. Apa-apaan ini? Belum saja niat sarapannya terkabulkan, ia sudah harus dihukum dengan perbuatan yang belum juga ia lakukan.
Namun malas-malasan Ara mengangguk. "Baik bu. Awas jangan marah-marah lagi, nanti cepet tua tau rasa."
*****
1221 Kata.
(Maafkan jika banyak typo.)