18+ SESUAIKAN BACAAN DENGAN USIA!
Disaat tuntutan hidup terus mendesaknya, Alana memutuskan untuk menukar dirinya dengan harta. diatas pernikahan kontrak Alana berhasil merubah hidupnya dalam sekejap.
"Kau boleh melakukan apapun, selama aku menjadi istrimu dan kau terus memanjakanku dengan kekayaan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mys05, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Alana terus berjongkok dengan tangan yang menyilang kedinginan. sudah satu jam lamanya pasangan itu hanya terus terdiam, menunggu redanya hujan. gemuruh disertai angin yang sedikit kencang membuat Alana sesekali tersentak dan menggigil. Nathan terus mencoba memberikan kehangantan pada sang empu dengan cara memeluk dan mendekap tubuh Alana penuh perhatian.
"Nathan, Aku dingin." rengek Alana manja.
Tak hentinya Nathan mengelus pipi Alana. mengeratkan pelukan setiap kali Alana mengeluh. "Hujan seperti ini pasti akan memakan waktu, bersabarlah."
Alana mengangguk, dengan tubuh yang menggigil wanita tersebut terus mencengkram Nathan. tatapan Alana sedikit berbeda, matanya mengembun seolah takut untuk ditinggalkan meskipun Nathan sudah mengatakan jika ia tidak mungkin meninggalkan Alana sendirian.
"Berjalan sedikit kedepan, setidaknya kita bisa berteduh ditempat yang lebih layak dari ini."
Alana memang wanita yang sangat patuh. ia bahkan selalu mengiyakan segala sesuatu yang Nathan putuskan. besarnya kepercayaan Alana terhadap sang suami menjadi alasan utama dirinya bersikap demikian. ditambah perjanjian yang Alana sendiri katakan, jika ia akan mengikuti semua yang Nathan katakan tanpa keluhan.
Nathan sama sekali tidak melepaskan Alana. keduanya berjalan menuju ujung gang untuk mendapat tempat berteduh yang lebih layak. dengan jas yang mereka gunakan sebagai penutup kepala sekaligus menyembunyikan wajah mereka untuk menghindari paparazi.
"Nathan apa kita akan berpisah sekarang?" tanya Alana memelas setelah suasana sudah mulai sedikit ramai.
"Tidak!"
"Bagaimana jika media melihat kita?"
"Jangan banyak bicara, aku sengaja menggunakan jas ini untuk menyembunyikan wajah kita berdua." ucap Nathan menjelaskan.
Tatapan sendu Alana terlalihkan pada wajah Nathan. dalam jarak dekat ia bisa melihat keseriusan Nathan dalam menjaganya, rahang tegas dengan tatapan tajam Nathan yang mengarah lurus kedepan. Alana tersenyum kagum kemudian menyandarkan kepalanya pada dada Nathan sambil berjalan. Alana memeluk erat tubuh kekar Nathan, ia selalu saja mendapatkan ketengan meskipun sesekali Nathan sering bersikap menyebalkan.
"Kesana," Nathan dan Alana pun memasuki sebuah penginapan kelas bawah.
"Kenapa kesini?" tanya Alana heran sambil mengabsen setiap titik ruangan pelayanan.
Nathan menghembuskan nafas panjang, senyum tampannya terpancar untuk sedikit menjawab rasa penasaran Alana. "Menurut saja, percaya padaku!"
Alana mengangguk pasrah. ia terduduk disebuah kursi besi yang berjejer. sedangkan Nathan pergi kepengurus pelayanan untuk memesan kamar.
Bukan tanpa alasan Nathan memilih tempat tersebut untuk tempatnya dan Alana bersembunyi. Nathan berpikir jika di tempat murah ini ia bisa menyogok pihak penginapan dengan memberikan sejumlah uang tutup mulut. dan media sepertinya berpikir tentu Nathan tidak mungkin bersedia memilih tempat tersebut bersama Alana, mengingat kekayaannya bisa lebih dari cukup untuk membeli hotel berbintang sekali pun.
Bukan cardlock yang biasa Nathan dapatkan sekarang. pihak penginapan hanya menyediakan kamar dengan kunci pintu pada umumnya.
"Ayo," Nathan meraih tangan Alana membawanya untuk mengekor mengikuti pelayan yang akan menunjukan kamar yang telah mereka sewa.
Astaga, bahkan kondisinya sudah bisa dikatakan aman, mereka ada didalam ruangan sekarang. tapi Nathan tetap saja terus menggenggam tangan Alana, tidak membiarkan wanita itu jauh darinya sedikitpun.
"Ini adalah kamar terbaik, mohon maaf jika ada kekurangan." ucap pelayan sopan.
Alana hanya terdiam, lebih dulu memasuki kamar yang telah ditunjukan tersebut. sementara Natha terlihat berbincang dan memberikan uang tambahan untuk menutup mulut pelayan tersebut.
Alana terduduk disebuah kursi yang tersedia disana. ia meraih ponsel dan melirik beberapa artikel didalam ponselnya tersebut.
"Ini pasti ulah, Monica." gumam Alana kesal.
Setelah Nathan menyelesaikan rusannya dengan pelayan. pria itupun langsung masuk menutup dan mengunci pintu kamar tersebut. Nathan langsung mendekati Alana untuk menanyakan keadaan istrinya, "Kau baik-baik saja?"
"Aku baik, tapi aku takut." sahut Alana berkaca-kaca.
"Tenanglah, aku ada bersamamu."
Alana meraih tangan Nathan dan menggenggamnya, "Kau akan pergi sekarang?"
Sejenak Nathan terdiam, memutar bola matanya. mengabsen ruangan yang berukuran empat kali empat tersebut. "Apa jika aku pergi sekarang kau tidak keberatan?"
Alana tertunduk, bibirnya mengerucut. ia tidak menjawab sepatah katapun.
"Baiklah, aku akan menemanimu malam ini. besok pagi kita akan pergi terpisah, Juan sudah menyediakan apartemen atas namamu dipenjuru kota."
Alana meloloskan air matanya menatap bola mata indah milik Nathan, bibirnya bergetar kemudian berkata. "Jangan tinggalkan aku," lirih Alana memohon.
Nathan tersenyum tipis, ia langsung menyeka air mata Alana penuh kelembutan. "Aku bersamamu,"
Tangisan Alana semakin deras. mendengar jawaban itu dari Nathan tidak cukup membuat batin Alana puas. kesedihan itu terus menyelimuti Alana, entah jawaban seperti apa yang Alana inginkan.
Nathan meraih handuk kecil disebelah Alana yang sudah pihak penginapan sediaka . pria itu duduk sejajar dengan Alana, menyentuh rambut Alana perlahan untuk mengeringkan rambut basah tersebut.
Alana hanya terdiam. Nathan benar-benar memperlakukan Alana layaknya istri. perhatian dan sikap lembutnya sukses membuat Alana menjadi tidak tahu diri dan ingin melupakan kontraknya. sadar atau tidak, hati Alana berhasil dilumpuhkan oleh Nathan untuk sekarang.
"Lepaskan pakaianmu," titah Nathan santai.
Alana hanya mengangguk sambil terus menenggelamkan dirinya dibola mata indah milik Nathan. keduanya larut dalam keheningan, keheningan yang akan membuat mereka terperangkap dalam api hasrat.
Didetik berikutnya, Nathan mendekatkan wajahnya pada Alana hingga kini nafas mereka telah saling beradu. mata Alana terpejam saat bibir Nathan sudah menepel pada bibirnya. Nathan menghisap perlahan, melepaskan handuk ditangannya lalu memeluk Alana dengan penuh keinginan.
Alana menikmatinya, ia membuka sedikit mulutnya agar Nathan bisa lebih leluasa memainkan lidahnya didalam rongga mulut Alana. lidah mereka saling berkelit, Alana terdorong keatas ranjang saat ciuman tersebut semakin menuntut. satu-persatu pakaian yang mereka kenakan berhasil terhempas. Alana dan Nathan sudah tenggelam dilautan gairah
"Jangan pergi," lirih Alana setelah ciuman tersebut terhenti.
"Aku disini, bersamamu!"
Alana kembali meraup bibir Nathan. mengalungkan tangannya diatas bahu pria tersebut. Alana memeluk mencengkram prianya dengan begitu erat. penyatuan yang ia rasakan sekarang terasa sedikit berkesan, entah apa yang membuat Alana merasa demikian. tidak ingin membohongi dirinya sendiri, ia benar-benar menginginkan Nathan meskipun permintaannya disalah artikan.
KOMEN PANJANG PLISS...
jangan lupa mampir di loser man ya semuanya. 🔥🔥🔥🔥 panas dan bikin merinding sih tapi ceritanya juga bagus. yuk cuss mampir di karya mak . makasih semua
kenapa eh kenapa berjud itu haram??
eh malah nyanyi lagu pak aji rhoma pulak wkwkkwk
satu pesan untuk kalian berdua...Nathan n Alana...kalau cinta jangan gengsi...perjanjian kontrak hanya antara klen berdua tohh???udindut alias udaaah langgar tabrak libas gelinding ajaaaaa.....ciyus dehh dengerin kaya uwekkkk