Warning !! Kalau nggak suka sama cerita ini bisa langsung SKIP saja yaa..
Attarazka Desta Firmansyah menikah dengan gadis yang berprofesi sebagai Dokter bernama Clara Adelin. Setelah enam tahun menikah mereka belum di karuniai keturunan.
Sikap Clara mulai berubah saat diri nya kembali bertemu dengan mantan kekasihnya yang berprofesi sebagai dokter juga di Rumah Sakit tempat dia bekerja.
Dalam gejolak Rumah Tangganya , Attar di pertemukan dengan Gendhis Anindita Nastiti yang menjadi sekretaris barunya.
Dalam konflik rumah tangga nya Attar membuat keputusan untuk menikahi Gendhis dengan sebuah kesepakatan.
Bagaimana akhir nya jika pernikahan Attar dan Gendhis di ketahui Clara dan nyatanya dua istri Attar adalah sahabat dari masa SMA.Apa Gendhis akan mundur setelah tahu jika kakak madunya adalah orang yang dulu dia anggap sahabat namun nyatanya pernah mengecewakan dia di masalalu?
ikuti kisahnya ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puspa Arum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah Takdir.
Attar menatap lekat wajah cantik Gendhis. Dia pun tak ragu memberikan ci*man di kening Gendhis.
Cup
Gendhis yang mendapat perlakuan seperti itu pun hanya bisa tersipu malu.
"Kenapa, hem?"
Attar memegang dagu Gendhis dan menaikkan dagu nya. Tatapan mata keduanya pun saling bertaut.
"Kita masuk, sudah malam juga. Kita harus istirahat. Besok aku akan mengajak kamu ke suatu tempat."
Ucapan Attar membuat Gendhis meringis. Bahkan dia sempat berpikir jika Attar akan melakukan sesuatu padanya, sungguh memalukan bukan,jika Attar tahu apa yang sempat melintas di otak Gendhis.
" Ayo !!"
Attar mengulurkan tangannya untuk Gendhis beranjak dari duduknya.Dengan sedikit ragu Gendhis mengulurkan tangannya dan mereka akhirnya masuk kedalam apartemen.
Malam ini mereka benar-benar satu kamar bahkan satu tempat tidur.
Keduanya sama-sama larut dalam pikirannya masing-masing.Attar pun
tak bisa melepaskan pikiran nya pada istri pertamanya yang ada jauh di sana.
Walaupun nyatanya dia sudah tahu tentang apa yang sebenarnya melatarbelakangi dia pergi ke Korea, bukan cuma untuk menempuh pendidikan tapi menjadi simpanan mantan kekasihnya.
"Apa yang kurang dariku Cla, aku sangat mencintaimu. Bahkan aku sanggup melawan kedua orang tua ku,itu cuma untuk kamu." batin Attar saat mengingat bagaimana dia bersikeras untuk menikahi Clara disaat restu sang ibu belum dia dapatkan secara utuh.
Dalam hal ini Attar masih Danial akan semua yang terjadi pada hidupnya.
Sementara disisi Gendhis,dia pun berpikir tidak semudah itu untuk menanamkan cinta dihati Attar untuk dirinya. Mungkin baginya untuk jatuh cinta pada Attar terbilang cukup mudah tapi,cinta Attar untuk dirinya adalah sebuah PR yang sulit untuk dia wujudkan.
...----------------...
Pagi hari Attar meminta pada Gendhis untuk packing karena mereka akan pergi ke suatu tempat.
Gendhis tidak bisa menolak perintah Attar. Jam delapan pagi mereka sudah ada di bandara dan mereka siap untuk terbang ke Bali.
" Mas,kamu yakin kita akan ke Bali buat...
"Ini hadiah dari mama sama papa,tidak baik di lewati kan? Lagi pula mama minta oleh-oleh sama kamu tuh..."
" Hah... belum juga berangkat sudah minta oleh-oleh saja."
" Begitu lah ibu mertua kamu."
" Memangnya mama mau oleh-oleh apa mas?"
Pertanyaan Gendhis sontak membuat Attar tersenyum tipis dan mendekatkan wajahnya ke sisi wajah Gendhis.
"Dia mau cucu dari kita." ucapan Attar sontak membuat wajah Gendhis bersemu kemerahan karena merasa malu.Attar yang melihat ekspresi Gendhis hanya bisa mengulum senyum.
Penerbangan ke Bali berjalan lancar. Mereka sampai di sebuah resort dengan latar belakang pantai membuat Gendhis terkagum-kagum.
Gendhis dengan senyum cerah pun langsung berkeliling di dalam resort.
Saat masuk ke dalam kamar, suara ponsel milik Attar berdering.Dia pun memindai kamar itu dan terdengar gemericik air terdengar dari kamar mandi. Bisa di tebak jika Attar yang sedang mandi.
Gendhis mendadak ingin tahu siapa yang melakukan panggilan di ponsel milik suaminya.
Tangan Gendhis terulur untuk mengambil ponsel itu dan terlihat nama yang tertera disana.
"Clara.." gumam Gendhis. "Nggak mungkin Clara dia kan, nama Clara di dunia ini pun banyak.Lagi pula Clara itu sudah bahagia sama Andre."
Gendhis yang masih larut dalam pikirannya pun tidak menyadari bahwa Attar sudah keluar dari kamar mandi.
Attar mengernyitkan dahinya saat melihat Gendhis yang sedang memegang ponsel milik nya.
" Dis, kamu kenapa ?" pertanyaan Attar tak diindahkan oleh Gendhis yang masih sibuk termenung.
Attar pun langsung mendekati sang istri dan memegang bahu nya.
"Dis, ada apa?"
Gendhis pun langsung menoleh ke arah Attar dengan pandangan yang terbelalak saat melihat penampilan suaminya yang hanya menggunakan handuk yang dia lilitkan di pinggang.
"Ah mas, kenapa kamu nggak pake baju gini sih.." Gendhis sontak menutup kedua matanya dan memprotes Attar.
"Terus kenapa kalau aku begini, lagian kalau lihat juga sudah halal. Kamu kenapa ambil ponsel saya? Apa yang kamu lihat ?"
Gendhis pun reflek melihat ke arah tangan nya yang masih memegang ponsel milik Attar. "Eeemm..maaf mas tadi aku dengar ponsel kamu berdering terus, aku takut itu telpon penting, takutnya dari mama atau papa, bahkan kayaknya Niko belum juga hubungi mas kan ..tapi maaf tadi aku sempat melihat nama seseorang. Disana di tulis Clara my Wife, nama istri pertama mas itu namanya Clara?"
Attar membuang nafas nya dengan perlahan dan memandang ke arah Gendhis. "Apa perlu kamu tahu,lagi pula nggak penting juga kan?"
"Setidaknya aku tahu nama nya mas,aku nggak akan mencampuri urusan rumah tangga mas dengan istri pertama mas. Namanya Clara"
"Iya. namanya Clara, Clara Adelin.."
Deg..
Mendengar sebuah nama yang pastinya sangat Gendhis kenal dan bahkan sempat membuat hatinya sakit dan saat ini dia mendengar sebuah kebenaran soal orang itu.
" Takdir apa ini ya Allah, bagaimana bisa mas Attar menikah dengan Clara sedangkan aku tahu kalau Clara.... Astaghfirullah , apa jangan-jangan Clara ..
Belum juga selesai dengan keterkejutannya Attar membuat Gendhis langsung tersadar dari lamunannya.
"Dis, kamu kenapa? Kamu sakit, aku lihat wajah kamu kelihatan pucat."
"Ah ng_nggak mas, sebentar mas.. aku ambilkan baju ganti."
Gendhis dengan cepat mengalihkan perhatian dan langsung melangkah menuju ruangan tempat di mana pakaian ganti mereka berada.
Gendhis sekarang ini ingin melihat rupa perempuan yang punya nama sama seperti orang yang dia kenal. Jika benar dia adalah orang yang sama dengan orang yang dia kenal, sudah jelas kalau suaminya itu sudah di khianati. Hal itu membuat Gendhis merasa geram jika memang benar Clara yang sama.
Saat makan siang pun Gendhis lebih banyak diam bahkan melamun. Dia berpikir bagaimana dia bisa melihat rupa Clara yang menjadi kakak madunya.
" Dis, kamu kenapa dari tadi aku lihat kamu banyak diam, ngelamun, apa sebenarnya yang kamu pikirkan?"
"Mas, apa kamu nggak keberatan kalau aku ingin tahu bagaimana wajah istri pertama kamu?'
Attar menyipitkan matanya mendengar penuturan Gendhis.
"Untuk apa, kenapa kamu tiba-tiba ingin melihat Clara?"
"Emm..gini mas, aku kan nggak tahu nantinya hubungan kita itu seperti apa, seandainya aku punya kesempatan untuk bertemu dengan dia, pastinya aku akan melakukan apa yang seharusnya aku lakukan bukan, aku bahkan ingin menjaga hatinya saja. Aku ini istri kedua, pastinya sebelum kamu mengungkapkan kebenaran tentang pernikahan kita, mungkin aku akan bertemu dan berusaha mengakrabkan diri dengan kakak madu ku bukan?'
Mendengar alasan Gendhis membuat Attar menganggukan kepalanya dan mengutak atik ponselnya. Lalu dengan perlahan dia menyerahkan ponselnya pada Gendhis.
Gendhis pun mengambil ponsel itu dan menatap wajah yang ada di galeri foto suaminya.
Deg ..
Bersambung