Sequel Tentara Tampanku
Menceritakan tentang perjalanan cinta Nial dan Maudy mulai dari pertemuan mereka dan perjuangan mereka berdua untuk tetap bersama hingga akhirnya mereka bisa bersatu, tapi apakah setelah mereka bersama mereka bisa hidup dengan tenang dan bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saya Tidak Memiliki Pasangan
Sore harinya Maudy bersiap untuk pulang, hari ini cukup melelahkan karena ada rapat yang cukup lama bahkan sampai sore.
"Bu Maudy," panggil Daisy.
"Bu Daisy ada apa?" tanya Maudy.
"Bu Maudy mau pulang ya," ucap Daisy.
"Iya Bu, ada apa memangnya?" tanya Maudy.
"Gapapa sih, ayo saya ikut keluar," ucap Daisy.
Mereka berdua pun keluar sekolah dan Daisy langsung liat mobil Nial yang terparkir rapi seperti tadi pagi, "Sepertinya Bu Maudy udah di jemput," ucap Daisy.
Maudy pun menatap arah mata Daisy dan melihat sebuah mobil yang tadi pagi baru saja ia tumpangi.
"Mungkin Sersan Nial ingin menjemput Bu Daisy," ucap Maudy.
"Kayaknya gak deh Bu Maudy, soalnya kalau Kak Nial jemput saya itu selalu di depan sekolah, tapi ini justru jauh dari sekolah bahkan mobil itu ada di tempat seperti tadi pagi," ucap Daisy.
"Mungkin Sersan Nial hanya iseng, lebih baik saya pulang menggunakan bus saja Bu," ucap Maudy dan bersiap untuk pergi.
Tapi, belum sempat menjauh tiba-tiba Daisy menarik tangan Maudy hingga mereka berdua masuk ke dalam mobil tersebut, Daisy dan Maudy duduk di kursi belakang sedangkan Nial duduk sendirian di depan.
"Ngapain masuk juga?" tanya Nial.
"Maaf Sersan saya salah," ucap Maudy.
"Bukan kamu, tapi Daisy," ucap Nial.
"Biarin sih, ayo pulang Kak. Aku capek pengen istirahat," ucap Daisy.
"Mana mobilmu?" tanya Nial.
"Tadi berangkatnya kan bareng Ayah," ucap Daisy dan diangguki Nial.
"Oh iya, Bunda nyuruh saya bawa kamu ke rumah," ucap Nial.
"Saya?" tanya Maudy.
"Iya," ucap Nial.
"Tapi, untuk apa saya ke rumahnya Tante Rea?" tamat Maudy.
"Di rumah lagi kumpul-kumpul sahabat Ayah sama Bunda, jadi karena itu Bunda nyuruh saya ajak kamu," ucap Nial.
"Tapi, nanti kalau saya justru mengacaukan acara kumpul keluarganya gimana?" tanya Maudy.
"Gak akan, ada saya kok di sana," ucap Nial.
Maudy melirik Daisy yang asik dengan ponselnya tanpa berbicara apapun, 'Apa Bu Daisy marah ya sama aku?' tanya Maudy dalam hati.
"Tidak usah deh Sersan, lebih baik saya langsung pulang aja," ucap Maudy.
"Panggil Kak," ucap Nial.
"Eh, maaf maksud saya Kak," ucap Maudy.
"Ikut aja kasihan nanti Bunda sedih," ucap Daisy dan masih fokus pada ponselnya.
'Bu Daisy sabar banget ngelihat pasangannya perhatian ke perempuan lain. Aku janji gak bakal baper karena sikap baik Kak Nial,' ucap Maudy dalam hati.
Beberapa saat kemudian, mereka bertiga pun sampai di rumah Ayah Alan. Maudy yang melihat rumah megah tersebut pun kagum karena ini adalah pertama kalinya bagi Maudy menginjakkan kakinya di rumah megah seperti ini.
"Ayo masuk," aja Nial.
"Iya Kak," ucap Maudy.
"Kamu gak masuk?" tamat Nial.
"Sebentar Kak, tadi kata Kak Kyra. Kak Kyra pesan pizza jadi Daisy di sini nunggu pizza nya," ucap Daisy.
"Yaudah, Kakak duluan," ucap Nial.
"Okey Kak," ucap Daisy.
"Ayo," ajak Nial.
Nial dan Maudy pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah dan baru saja pintu terbuka suara bising dari ruang tamu terdengar.
"Eh Nial udah datang mana Maudy nya?" tanya Bunda Rea.
"Ayo masuk," ajak Nial karena Maudy justru berdiri di depan pintu.
Maudy benar-benar ragu untuk masuk karena di dalam adalah keluarga Nial dan ia dapat pastikan semuanya pasti memiliki hidup yang lebih baik darinya, Maudy terus bertanya-tanya pada dirinya apakah dia pantas saat ini berada di sini sebab itu Maudy memilih diam di depan pintu.
"Saya pulang aja Kak, gak usah Kak Nial antar saya bisa pulang sendiri kok," ucap Maudy dan berbalik.
Nial tentunya terkejut dan refleks berlari lalu menahan lengan Maudy, "Ngapain pulang? udah sampe sini juga," tanya Nial.
"Gapapa kak, saya pulang aja lagian kan ada Bu Daisy di sini gak enak kalau saya juga di sini," ucap Maudy.
"Loh ngapain Kak nial sama Bu Maudy di luar bukannya masuk?" tanya Daisy yang menenteng pizza.
"Kita masih ada urusan, kamu masuk aja dulu," ucap Nial.
"Oke, Daisy masuk dulu ya dadah," ucap Daisy dan pergi.
"Oke, sekarang jelasin kenapa kamu mau pulang aja?" tanya Nial.
"Gapapa, tapi saya rasa lebih baik saya pulang," ucap Maudy.
"Kenapa harus pulang? kan Tante yang meminta kamu datang ayo masuk," ucap Bunda Rea dan menarik lembut tangan Maudy.
Maudy ingin sekali melepaskan tangan Bunda Rea yang tengah menariknya, tapi merasakan sentuhan Bunda Rea tiba-tiba saja Maudy merasakan lembutnya tangan ibunya saat sebelum mengalami musibah.
"Siapa dia?" tanya Qilla, saat melihat bunda Rea membawa Maudy masuk ke dalam rumah.
"Ini Maudy, yang waktu itu aku ceritain," ucap bunda Rea.
"Oh ini, cantik loh ya," ucap Nina.
"Loh Kak Maudy!" panggil Elvan dengan suara yang menggelegar.
"Elvan," ucap Maudy.
"Gimana keadaan Kak Maudy?" tanya Elvan.
"Keadaan Kakak baik kok," ucap Maudy.
"Kenapa Kak Maudy ada di sini?" tanya Elvan.
"Karena Tante Rea yang minta Maudy di sini," ucap Maudy.
"Bukan karena Kak Nial ya," goda Elvan.
"Seratus persen untuk Elvan," ucap Lea.
"Gimana Daisy, setuju gak kalau Nial nikah?" tanya Ryan.
"Setuju aja sih uncle, tapi jangan ejekin Daisy karena belum nikah," ucap Maudy.
"Katanya pernikahan Ardi diundur," ucap Erika.
"Doanya Daisy kuat juga ya sampe pernikahannya Ardi di undur," ucap Ryan.
"Iya dong uncle, Daisy gitu loh," ucap Daisy.
Maudy menatap heran semua orang, bukannya menjaga perasaan Daisy mereka justru menggoda Nial.
'Kenapa jadi kayak gini ya?' tanya Maudy dalam hati.
"Emang udah siap ditinggal Nial?" tanya Lea.
"Ya siap aja sih Kak, yang penting nanti istri Kak Nial harus sering sama aku. Enak aja udah ngerebut kembaranku," ucap Daisy.
Ucapan Daisy tentunya membuat Maudy terkejut bahkan ia yang saat ini membawa gelas pun terjatuh dan membasahi karpet mahal bunda Rea.
Tapi, untung saja minuman tersebut air mineral sehingga tidak berbau dan menimbulkan bekas.
Kebenaran apa ini yang tidak ia tau jika Daisy adalah kembaran Nial bahkan selama Nial bertugas tidak pernah ada yang menyinggung masalah kembaran Nial.
"Maaf Tante, Maudy gak sengaja," ucap Maudy.
"Iya gapapa kok," ucap Bunda Rea.
"Ehm, Bu Daisy saudaranya Sersan Nial?" tanya Maudy.
Semua orang yang ada di sana pun menatap Maudy, "Iya, Bu Maudy gak di kasih tau Kak Nial?" tanya Daisy dan Maudy menggelengkan kepalanya.
"Wah, jangan-jangan Bu Maudy salah paham nih antara saya sama Kak Nial," ucap Daisy.
Maudy pun tersenyum canggung dan menganggukkan kepalanya.
"Pasti Maudy ngiranya mereka pacaran ya?" tanya Nina.
"Iya Tante," ucap Maudy.
"Astaga, Bu Maudy. Saya gak pacaran sama Kak Nial, saya ini kembarannya Kak Nial," ucap Daisy.
"Ehm, maaf saya gak tau soal itu," ucap Maudy.
"Iya, gapapa kok. Makanya tadi Bu Maudy terus menjelaskan mengenai hubungannya Bu Maudy sama Kak Nial karena Bu Maudy mikirnya saya pacarnya Kak Nial," ucap Daisy dan lagi-lagi Maudy hanya tersenyum canggung.
"Saya tidak memiliki pasangan," bisik Nial dan Maudy hanya tersenyum canggung.
Bisikan Nial mampu membuat jantung Maudy berdetak lebih cepat dari biasanya, 'Jangan baper Maudy,' ucap Maudy dalam hati.
.
.
.
Tbc