Rara adalah gadis cantik di kampusnya. Setiap mata yang meliriknya, pasti langsung jatuh cinta padanya. Tapi sayang, sifat dinginnya itu membuat dia mengacuhkan segala perhatian cowok-cowok yang ada di kampus itu. Sampai suatu saat, dia merasa terus diikuti laki-laki. Setiap pulang menuju asrama, dia selalu ketakutan. Ia sering mendapat telepon gelap. Ia mengatakan bahwa ia telah memiliki tunangan, maksudnya agar tidak ada lagi orang yang akan mendekatinya. Pesta di kampus yang harus dia hadiri, memaksa ia untuk memperlihatkan pasangannya. Kebingungan terjadi saat itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keke, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29
"Sudah, Ra?"
tanya Rangga.
"Sudah mas. Mas, aku mau beli jus itu dulu" Rara menunjuk sebuah counter minuman.
"Kamu grogi kan, bertemu calon kamu" goda Rangga.
Rara mencubit tangan kakaknya itu.
Ya, harus diakuinya. Ia takut. Ia merasa membohongi hatinya dengan menerima perjodohan itu. Tapi, ayah.
"Mau rasa apa, mbak?" tanya pelayan itu.
Rangga menyenggol Rara.
"Ra"
"Oh. eh. ya mbak. Aku mau jus mangga aja deh. Mas mau pesan gak?"
tanya Rara.
"Gak ah.. aku tidak mau jus, aku mau air mineral saja. Pasti kamu mau air putih kan kalau habis minum jus"
ucap Rangga.
Di dalam ruang perawatan dengan nomor kamar 212 itu terdengar percakapan.
"Tidak pa, aku tidak mau dijodohkan. Aku punya pilihan sendiri."
"Jangan begitu piz. Papa sudah menjodohkan kamu sejak kecil. Apa kata sahabat Papa kalau kamu menolak.
"Opiz punya pilihan sendiri, pa"
"Ikuti kata papamu, nak. Kamu tidak akan menyesal."
"Tapi, Opiz tidak cinta pa, Nanti kalau saatnya tiba, Opiz akan mengenalkan perempuan yang Opiz cinta"
"Sampai kapan piz, sampai papa dan mama tua. Kamu tidak pernah mengenalkan temanmu kepada papa dan mama" ucap laki-laki itu tegas.
"Sudah pa. Jangan kuat-kuat, nanti jantung papa kumat"
Rara dan Rangga bingung, antara masuk ke ruang itu atau malah menghindari percekcokan dalam keluarga itu.
Rara sedikit lega. Laki-laki yang akan dijodohkan kepadanya tidak menyetujui rencana perjodohan itu.
Rangga melihat senyum tipis di bibir Rara.
Tetapi Rangga bingung. Rara seorang diri. Dan ia harus menerima ancaman dari laki-laki yang tidak dikenal. Paling tidak, dengan keluarga di Malang, ia dapat menitipkan adik tersayangnya itu. Atau, ia harus mengambil langkah, membawa adiknya pulang ke Jakarta? Ia hanya melirik ke adiknya itu.
"Mas, gak usah kesana dulu." ucap Rara menahan Rangga.
"baiklah, ayo kita duduk di sana, sambil ada yang mas mau bahas" ajak Rangga.
Mereka duduk di kursi panjang yang tidak jauh dari ruang VVIP itu.
"Ra. Mas mau bicara. Siapa teman yang sedang dekat dengan Rara? Haris?" tanya Rangga sambil mengingat nama itu.
"Hafiz, mas."
"Ya, Hafiz. Apa dia bisa selalu menjaga Rara?"
"Lah, emangnya kenapa sih mas. Udah seperti apa aja. Rara hanya berteman baik. Ya paling tidak sampai saat ini. Rara takut saja mas, kalau laki-laki misterius itu mengganggunya."
"Nah.. itu yang mas takutkan. Atau bagaimana kalau kamu pindah kuliah dan kembali ke Jakarta. Mas akan urus semua. Kamu tinggal beres saja"
Memikirkan itu, tidak mungkin. Rara takut untuk mendekati Hafiz, tapi, Rara juga tidak mau jauh dari Hafiz. Walau menjauh, pasti akan sering bertemu, Kota Malang bukan Jakarta. Paling tidak, akan bertemu. Itulah yang ada di benak Rara.
"Gak mas. Untuk saat ini, biarkan Rara bertahan. Nanti kalau Rara sudah tidak sanggup, Rara akan bilang ke mas Rangga. Tapi tolong rahasiakan semua dari ayah dan ibu. Rara tidak mau membebani pikiran mereka. Janji ya mas" Rara menatap kakaknya itu dengan memelas.
"Tapi janji, kalau ada apa-apa, kamu segera bilang ya dek. Mas gak mau kamu kenapa-napa"
"Janji. Minta air mineralnya ya mas"
Rangga mengusap kepala adiknya itu.
"Ayo, Ra.. Kita masuk. Gak enak, kita pasti ditunggu mereka"