Halo readers semuanya..!
Othor kembali dengan kisah rumah tangga yang penuh liku-liku. Perjodohan, penghianatan, dan banyak lagi kisah di dalamnya.
Kisah seorang gadis yang menikah karena perjodohan yang membawa pada kekecewaan. Harapan terakhir sang kakek cucu satu-satunya akan hidup bahagia bersama pria pilihan, putra dari asisten pribadinya.
Namun takdir kehidupan tak sejalan dengan apa yang ia harapkan.
Bram tak mencintai Habibah!
"Aku meminta hak ku sebagai seorang istri!" Begitu Habibah sudah tidak tahan ketika mendapati suaminya sedang bersama wanita lain.
Walaupun terus saja terjadi.
"Ternyata..." ucap Habibah di tengah guyuran air, dia tersenyum getir, menangis bersamaan membayangkan betapa hangatnya ciuman mereka. Dadanya bergemuruh seolah sedang terisi penuh dengan bara api.
"Ku rasa neraka tak hanya ada di perut bumi, tapi di dadaku." ucapnya pelan, mengadukan kekecewaan yang sudah sangat keterlaluan.
Bagaimana kisah Habibah selanjutnya?
Yuk baca>>
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dayang Rindu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Takut
Cinta sudah bersemi...
Lupa akan pekerjaan dan semua masalah di luar sana, keduanya larut dalam manisnya madu cinta. Tak ada lagi kaku dan beku, pria tampan berkumis tipis itu kini sedang memeluknya erat, tak henti mengecup keningnya hingga berkali-kali.
Habibah tersenyum bahagia sekali, mendapat perlakuan yang tak pernah ia bayangkan akan seperti itu.
Jika kemarin ia sangat iri melihat Bram melakukannya dengan Larisa, sekarang ia sudah merasakannya, memilikinya dan membiarkannya tetap seperti itu. Matahari yang mulai bersinar tak juga membuat keduanya beranjak.
Bram menarik nafas lalu menghembuskan begitu lega, memandang ke luar jendela yang menyilaukan, dia tersenyum tipis.
"Mas, aku ingin mandi." rengek Habibah hanya bisa berdiam tak bisa berkutik dalam pelukan Bram suaminya.
"Tidak perlu mandi." jawabnya tak bergerak sedikitpun.
"Bau keringat Mas." Habibah masih merengek.
"Bukankah kau menyukai keringatku. Bahkan kau memintanya dengan terang-terangan." Bram menggodanya.
"Jika tidak diminta kau tidak akan memberikannya." Jawab Habibah tidak merasa sedang di goda.
"Kalau sudah ku berikan?" tanya Bram menunduk melihat wajah Habibah.
"Tentu saja aku ingin kau melakukannya lagi." jawabnya, melebarkan matanya yang indah.
Bram terkekeh sendiri. "Kau bilang tidak pernah jatuh cinta. Tapi mengapa kau sangat agresif sekali?" Bram masih menertawai istrinya.
"Karena aku istrimu, menjadi penggoda untuk suami tidak ada dosa di dalamnya. Jika selingkuhan mu saja bisa agresif dan merayumu, maka aku akan melakukan yang lebih dari itu. Mungkin hal yang kau sukai adalah kedekatan yang tak berbatas, tanpa kau sadar jika dengan istrimu lah kau lebih dekat dan tidak ada batas. Aku hanya ingin membuatmu sadar, jika aku bisa menjadi apapun untukmu, untuk mencintaimu, dan kau bisa melakukan apapun kepadaku, sesukamu."
Bram tersenyum sedikit, walaupun matanya tetap saja tajam jika menatap Habibah. Bak mata elang yang sedang mengincar mangsanya. Tapi bukan benci, entah mengapa dia menyukai sikap gadis kecil yang tidak takut dengan sikapnya yang terkadang sengaja menakut-nakuti.
"Bisa tidak, kau memandangku penuh cinta seperti kepada Larisa?" ucapnya menatap mata Bram, dia melebarkan matanya.
"Tidak, dia dan dirimu berbeda." jawab Bram melepaskan pelukannya.
"Tapi aku istrimu." Habibah meraih lengan Bram ingin dipeluk lagi.
"Tidak bisa." jawab Bram, dia tidak berbohong.
"Kau harus bisa. Jangan hanya ketika sedang diatasku kau terdengar sangat romantis. Setelah selesai kau kembali lagi seperti sedang membenci diriku." terdengar menggerutu, bibir merahnya mengerucut.
Bram memiringkan tubuhnya. "Apakah ada yang lebih penting dari sikapku ketika bercinta denganmu?" Bram mengangkat alisnya.
"Tentu saja, aku ingin kau mesra kepadaku." pintanya lagi.
"Kalau begitu kita bercinta setiap waktu, agar aku bisa terbiasa bersikap mesra kepadamu."
"Itu terlalu mesum." bisik Habibah, membuat Bram tertawa lepas.
Tiba-tiba ponsel keduanya berdering membuat dua insan yang baru saja memadu cinta tersebut saling berpandangan.
Bram meraih ponselnya lebih dulu, lalu Habibah juga bergeser menjangkau ponsel miliknya. Tapi yang terjadi malah Bram menahan tangan kecil itu.
"Dasar egois." gumamnya kembali masuk ke dalam pelukan Bram.
"Apa, sekarang?" ucap Bram memandang Habibah dengan serius, dia sedang mendengarkan seseorang berbicara.
"Siapa?" tanya Habibah pelan.
"Baiklah." Bram menutup ponselnya.
"Siapa Mas?" dia mengulang pertanyaannya.
"Aku juga dirimu diminta datang ke kantor sekarang, ada yang penting." ucap Bram masih memandangi Habibah.
"Apakah ada hubungannya dengan Larisa?" tanya Habibah lagi.
"Aku tidak tahu." Bram masih berpikir.
"Kalau begitu kita datangi saja, agar semuanya jelas." Habibah beranjak dari tidurnya, kembali tangan kecilnya meraih ponsel.
Sedikit menoleh Bram, tapi kali ini tidak menghalanginya.
Habibah menekan nomor ponsel seseorang. "Assalamualaikum, Lee." ucapnya membuat Bram menatap tajam.
Habibah memegang pipi suaminya itu, menepuk sedikit lalu menekan tombol speaker agar Bram ikut mendengarkan.
"Di kantor Media Utama ada istri ke dua ayahmu. Kau boleh tidak datang jika tidak siap." ucap Lee tanpa basa-basi.
"Apakah dia sangat menakutkan Lee?" tanya Habibah penasaran.
"Dia sudah menunggu." jawab Lee tak menjawab pertanyaan Habibah.
Panggilan berakhir dengan kekhawatiran, baik Bram juga Habibah keduanya sama saja.
"Aku akan datang."
Habibah beranjak dari ranjang segera menuju kamar mandi.
Sementara Bram juga masih terlihat bingung. Dia yakin sekali akan ada yang terjadi di kantor nanti. Walau hatinya sudah berkata akan tetap bersama Habibah, tapi segala kemungkinan buruk tetap saja membuatnya takut.
Dia tahu persis bagaimana Larisa, dia tidak akan terima begitu saja.
Tapi membiarkan Habibah datang sendirian sungguh tidak mungkin baginya. Terlebih lagi Lee sudah menunggu.
Bram jadi kesal sendiri jika mengingat pria muda itu selalu saja menguntit istrinya. Bahkan wajahnya itu sangat menyebalkan, tidak takut sama sekali sekalipun Bram menunjukan sikap tak suka.
Kantor Media Utama.
Habibah menoleh Bram yang masih duduk memegang setirnya. Meskipun mereka sudah lebih dekat, tapi jika sudah berhadapan dengan Larisa? Habibah tidak yakin.
Habibah turun lebih dulu, membiarkan Bram berpikir sejenak. Biarkan semua mengalir sesuai kehendak hati Bram, sesuai dengan apa yang sudah di tentukan Allah saja.
Percuma memaksa Bram untuk bersamanya jika hatinya masih memilih Larisa.
"Yang penting, aku sudah berusaha." ucapnya menarik nafas, mempersiapkan diri untuk bertemu orang-orang dimasa lalu ibunya.
"Aku tidak bisa menemanimu masuk ke dalam." Lee ikut berjalan sejajar dengan Habibah, kehadirannya sedikit mengejutkan.
"Tidak apa-apa Lee." Habibah tersenyum, dia tahu Lee orang yang baik.
"Tapi dapat ku pastikan, kau tidak sendiri di dalam sana." ucapnya berhenti di lobi, membiarkan Habibah berjalan sendiri.
"Tentu saja." sahut Bram yang juga melangkah masuk. Dia menatap kesal kepada Lee.
"Meskipun aku tidak yakin." jawab Lee berbalik meninggalkan Bram yang mendelik tajam.
"Dia pikir dia siapa." Bram melanjutkan langkahnya, masuk ke kantor tersebut mengiringi Habibah.
Habibah berusaha tenang, walaupun sedikit gemetar akan bertemu dengan Rudy, istrinya dan kemungkinan Larisa juga di sana.
"Ya Allah. Aku tidak sendirian, Kau selalu ada bersamaku. Bismillah." ucapnya menarik nafas berkali-kali.
"Di sini saja." Kiki menahan lengan Habibah.
"Ki."
Habibah menoleh sahabatnya itu, merasa heran dengan sikap Kiki hari ini.
"Jangan naik ke atas, kau di sini saja agar mereka turun mencari mu." ucapnya seperti sudah mengetahui semua kondisi.
Bram ikut berdiri di depan ruangan Habibah. Dia juga enggan naik ke atas sebelum mereka memintanya lagi.
"Ada apa ya Ki?" tanya Habibah semakin gugup.
"Aku tidak tahu, hanya ku rasa mereka tidak menyukai kehadiranmu." Kiki menoleh Bram yang terlihat diam saja.
"Itu sudah pasti Ki." jawabnya semakin takut.
Tapi, Habibah tidak akan menyerah begitu saja, kepalang sudah berhadapan dengan mereka semua, sebaiknya mereka semua tahu jika Habibah adalah putri dari Rudy Utama, bukan anak orang lain seperti kata Rudy Utama.
*
*
*
jangan lupa like, favorit, komentar, dan votenya ya..
terimakasih...🙏🙏😍