My Husband Om-Om SEASON 2..MOHON DUKUNGANNYA KEMBALI 🤗
Enrico dan Enzio, dua anak kembar yang harus ekstra ketat menjaga sang adik.
Gadis manis yang selalu membuat kaum adam panas dingin. Elga Maurer, gadis cantik dan pintar tapi juga ceroboh, Elga yang terlalu baik tidak tahu jika banyak orang-orang disekitarnya yang memanfaatkan dirinya. Karena hal itu dua kakak kembarnya begitu posesif dengan Elga.
"Hidupku seperti burung dalam sangkar."
Itulah yang Elga rasakan, selain kakak keduanya yang posesif, juga ada Daddy nya yang begitu posesif juga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lautan Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertanyaan Edgar
Sejak tadi Edgar tidak melepaskan tangannya menggenggam Elga, pria itu menggenggam tangan Elga dengan erat karena masih merasakan getaran di tangan gadisnya.
"Sudah, jangan panik lagi." Edgar mengusap punggung tangan Elga yang berada di atas pahanya, kedua tangan itu saling bertaut.
Walaupun sudah merasa lega, karena pesawat mendarat dengan selamat, tapi bayangan buruk masih terlintas di kepala Elga. Penebangan yang mereka lakukan hampir saja membuat semua penumpang jantungan. Beruntung koneksi kembali terhubung dengan baik setelah beberapa saat mengalami hilang kontak.
"Jangan takut, sudah aku katakan kita akan selamat." Edgar kembali bicara untuk menangkan hati Elga yang masih dilanda rasa takut.
"Halo Mario, dimana keponakan ku? sejak tadi aku sudah di bandara bahkan pesawat yang Elga tumpangi sudah mendarat sejak 15 menit yang dengan selamat, tapi Elga belum juga terlihat."
Adam tampak mondar mandir di bandara menunggu Elga, dia sendiri yang menjemput keponakanya langung. Mendapat informasi jika pesawat yang Elga tumpangi mengalami hilang kontak, Adam segera datang ke bandara untuk memastikan.
"....."
"Baiklah, nanti aku hubungi lagi."
Adam pun berjalan mencari informasi, apakah keponakanya benar-benar ada di penerbangan itu.
"Uncle, terima kasih." Elga menatap Edgar yang juga sedang menatapnya.
Elga tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya jika tadi tidak ada Edgar yang menenangkan nya saat panik.
"Jangan sungkan, aku suka melakukannya." Edgar menatap wajah Elga intens, membingkai wajah cantik yang selalu dia ingat kapan pun. "Aku akan melindungi mu semampuku Elga."
Sedangkan Elga sedikit tersenyum, dirinya melepaskan genggaman tangan Edgar dari tangannya. "Pasti Papa Adam sudah menunggu ku." Elga hendak berdiri tapi Edgar kembali mencekal tangannya.
"Elga, jika aku sudah menyelesaikan masalah ku dengan Chelsea, apa aku mau bersama ku?" Tanya Edgar dengan tatapan serius, Edgar benar-benar ingin mendengar dari Elga, jika dirinya juga butuh kepastian dari Elga.
Elga yang ditanya diam seribu bahasa, dirinya tidak bisa berpikir selain memikirkan, jika Edgar adalah pria beristri, dan Elga tidak igin menjadi penyebab kehancuran pernikahan seseorang.
"Uncle tidak usah memikirkan bagaimana kita nanti, aku percaya jika takdir tidak akan salah memberikan kita jodoh." Kata Elga dengan menampilkan senyum tipis. "Dan aku yakin, jika takdir kita sama, pasti suatu saat akan tiba saatnya bersama, semoga." Elga melepaskan kembali tangan Edgar dari lenganya. Gadis itu melihat Uncle Adam yang berjalan dari jarak cukup jauh ke arahnya.
"Sekali lagi, terima kasih Uncle sudah menemaniku dalam perjalanan." Elga sedikit menundukkan tubuhnya pada Edgar, dan setelah itu berlalu pergi menghampiri Uncle Adam.
Edgar menatap nanar punggung Elga yang semakin menjauh, dirinya tidak bisa memaksakan apa yang dirinya inginkan, jika dirinya saja masih memiliki ikatan pernikahan dengan wanita lain.
Drt....Drt...
Ponsel Edgar bergetar, mendapati ada pesan masuk.
"Uhhh, kali ini kau tidak akan lolos Chelsea." Gumam Edgar melihat pesan foto yang dia dapat.
"Sayang, kau baik-baik saja." Adam langsung memeluk keponakanya, yang sudah dia anggap seperti anaknya sendiri.
"Aku tidak apa-apa papa, tapi kejadian tadi cukup membuat jantungku igin meledak." Elga tersenyum ketika mengatakan itu.
"Papa tahu kamu pasti ketakutan, sudah jangan dipikirkan lagi, yang terpenting kamu sampai dengan selamat." Adam mencium kening Elga.
"Ayoo.. Oma dan Opa sudah menunggumu, pasti mereka juga panik." Adam merangkul bahu Elga mengajaknya pergi.
Adam menoleh kebelakang dan menatap pria yang sejak tadi terus memperhatikan Elga, Adam juga melihat jika Elga berbicara dengan pria itu tadi.
"Ck, buaya darat." Gumam Adam dengan senyum miring.
pak Andres kenapa juga anda telat bertindak paakk... kalau anakmu Edgar ga bahagia di atur Alice ibu tirinya.