💞 NOVEL ini sedang dalam tahap REVISI demi perbaikan kualitas karya. Namun, alur dan isi tetap sama. Pemberitahuan akan saya hapus setelah REVISI SELESAI. Terimakasih.
Bunga seorang gadis desa yang mengawali karirnya sebagai karyawan biasa menjadi seorang asisten pribadi CEO tampan dan mapan yang sangat cemerlang di kantornya, harus pasrah dengan keadaan. Setelah berpisah dengan Dirga, lelaki yang sudah menjadi tunangannya dalam waktu empat tahun karena perjodohan kesalah pahaman keluarga saat itu. Dia pergi menjelajahi tempat-tempat yang pernah di singgahi untuk mengenang jejak kebersamaan mereka. Hidup begitu pilu baginya. Hingga ia teringat dengan seseorang yang selalu ingin ada di dekatnya.
Bunga mengenang kegagalan percintaan di masa lalunya dan bercerita pada kakak angkatnya Jeny. Namun belum sempat Bunga menceritakan keseluruhan kisah hidupnya, Jeny mengatakan agar Bunga tidak perlu risau akan hari esok, sebab Ryan sang CEO tampan mantan bosnya akan membuatnya bahagia.
Nb: Ini kisah sedih petualangan hidup gadis desa, menguras emosi dan air mata.
"Jika penasaran... baca terus lanjutan ceritanya ya... jangan lupa like dan komentar positifnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lintang Lia Taufik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anugerah Atau Musibah
Bunga menatap datar tanpa ekspresi, hatinya bingung harus senang atau harus sedih saat ini. Dunianya akan hancur atau justru akan bahagia. Pikiran Bunga semakin berkecamuk, matanya berkaca-kaca. Ayahnya hanya bisa memeluk erat tubuh putrinya sambil mengelus punggung Bunga agar sedikit tenang. Mereka pun enggan menolak pernikahan tersebut.
"Maafkan ayah ya Nak, mau gimana lagi mereka sudah menentukan tanggal pernikahan kalian." ucap Pak Samsu sambil menatap sendu wajah putrinya.
"Do'ain yang terbaik ya Ayah." balas Bunga sambil menahan tangisnya di pelukan ayahnya.
"Pasrahkan semuanya pada Allah Nak, jika ini memang kehendak-Nya biarkan berjalan dengan semestinya. Kami pulang dulu, Kamu hati-hati ya." ucap Pak Samsu yang di jawab anggukan oleh Bunga sebab bibirnya terlalu kelu untuk berkata-kata.
"Kenapa hatiku seakan tidak terima? Kenapa ada sisi lain yang sakit di hatiku? Bukankah seharusnya aku bahagia dengan pernikahan ini, bukankah Dirga adalah kekasih ku sejak dulu. Tapi kenapa hatiku serasa ingin menolak?! Mungkin sebab aku takut dengan perlakuan kasar keluarganya saja." gumam Bunga dalam hatinya.
"Bunga ikut aku ke butik dekat sini ya, sekalian ukur kebaya pengantin kita." Ajak Dirga pada Bunga, membuat Bunga terkejut dan reflek memegang dadanya dengan kedua telapak tangannya.
Entah mengapa tiba-tiba Bunga ingat ucapan Ryan jika sepupunya pernah melihat Dirga sedang bermesraan dengan wanita lain, seketika ia merasa frustrasi. Bunga pun beranjak berdiri dan mengikuti langkah Dirga meski dengan berat hati.
Keluarga Dirga saat ini bersikap baik tidak seperti sebelumnya, meskipun Dirga sendiri pernah bercerita pada Bunga jika sebenarnya keluarga besarnya sangat menentang pernikahan ini.
Dirga saat itu bersikap biasa, tidak ada ekspresi wajah bahagia atau pun sedih. Membuat Bunga merasa heran dengan sikap Dirga sekaligus curiga, namun Bunga menepisnya ketika Dirga lagi-lagi menunjukkan perhatiannya dengan memanjakan Bunga.
Setelah memesan baju pernikahan Dirga mengajak Bunga berbelanja keperluannya sehari-hari. Sebenarnya Bunga telah menolak. Tapi Dirga meyakinkan dengan sedikit memaksa sehingga Bunga pun menuruti keinginan tunangannya.
Usai berbelanja merekapun makan bersama, Bunga mengajak makan di sebuah rumah makan kecil, sebab memang gaya hidup Bunga yang sederhana. Ia selalu menolak diajak makan ke tempat yang mewah.
Bunga yang merasa bingung dan aneh dengan sikap Dirga dan keluarganya merasa ingin mencari tahu dengan apa yang sebenarnya terjadi.
Tentu saja Bunga tidak bersalah kebingungan, sebab keluarga Dirga terang-terangan sangat menentang hubungan mereka sejak awal.
Bunga bingung apa yang membuat pertunangan mereka tetap terjadi bahkan keluarga Dirga menentukan tanggal pernikahan padahal jelas-jelas semuanya sangat membencinya.
"Dir ..."
"Ya, Bunga?" tanya Dirga sambil menatap datar tunangannya.
"Aku boleh tanya nggak sama kamu, tapi kamu jangan marah ya?" tanya Bunga penasaran.
"Tanya aja Bunga nggak usah basa-basi!" ucap Dirga seraya memasukkan sesendok makanan dalam mulutnya.
"Lho kok Kamu seperti nggak suka gitu aku ajak ngomong? Sebenarnya perasaan Kamu sama aku itu gimana sih? Bukannya Kamu pernah bilang keluarga Kamu menolak hubungan kita?" tanya Bunga dengan suara serak menahan tangisnya.
"Mau gimana lagi, keluarga Kamu datang ke rumah meminta kepastian! Aku pasrah kalau memang kamu jodoh ku ya harus aku terima!" jawab Dirga yang tanpa disadarinya membuat hati Bunga hancur.
"Kenapa sampai melamar ku jika tidak ada rasa cinta? Kenapa menentukan tanggal pernikahan? Seharusnya tadi kamu tolak saja saat ada keluargaku." ucap Bunga sambil berderai air mata.
"Sudah ku bilang kan, semua sudah terlanjur terjadi ya jalani saja?!!" balasnya sepele tanpa perduli dengan perasaan Bunga.
Bunga terdiam mendengar perkataan Dirga. Pikirannya melayang entah kemana. Ada rasa sesal telah menjalin hubungan Dirga yang sebelumnya dirasakannya sangat mengerti dan menyayanginya, tapi Dirga yang di hadapinya saat ini justru lebih cuek dan tidak peka terhadap perasaan Bunga.
"Setelah ini ikut ke rumah sebentar, pamit sama keluargaku terus aku antar kamu ke perumahan kantormu." jelas Dirga.
"Ya," jawab Bunga singkat dengan suara bergetar.
Dirga menatap sinis wajah Bunga seperti ada benci yang tertahan namun tidak diungkapkan.
"Kamu sebulan sebelum pernikahan harus berhenti kerja!! Diam di desa kamu, nggak usah kelayapan." pinta Dirga kemudian.
"Aku masih ingin kerja, nanti kalau aku nggak kerja kalian meremehkan ku! Aku sulit mencari kerja, kamu tahu sendiri ayah bangga padaku saat ini. Aku gadis desa sederhana, tidak mudah bagiku ada di titik ini." jelas Bunga.
"Lebih penting mana aku dan pekerjaan Kamu, jika sudah bersedia menikah dengan ku harusnya kamu sudah siap terima apapun resikonya." ancam Dirga yang tahu jika atasannya sangat menyukai Bunga.
Mereka pun kemudian pulang ke rumah Dirga untuk berpamitan mengantarkan Bunga. Semua keluarga Dirga pun berkumpul di ruang tamu saat itu.
"Tas Kamu bagus Bunga, beli sendiri?" tanya Nita 'Mama Dirga' menyelidik.
"Bunga kan kerja Tante. Bunga punya gaji, dan Bunga nggak pernah tuh biasakan meminta pada siapapun." ujar Bunga memberanikan diri.
"Tinggi juga ya selera kamu untuk ukuran gadis desa! Oh ... cukup ya gajinya, kirain cuma cukup buat makan saja!" jawab Nita yang sengaja menyayat hati Bunga dengan ejekan dan tatapan mata sinisnya.
Bunga hanya menjawab dengan senyuman sinis, meski hatinya sangat sakit saat ini tapi ia memilih diam dan mengalah.
"Hallo kenalin ya, aku Dini ... sepupu Mas Dirga, Mas Dirga itu kesayangan Eyang looo! Kalau sampai Mas Dirga kenapa-kenapa gara-gara Kamu!! Awas saja nanti, tahu Kamu Eyang sampai masuk Rumah Sakit gara-gara Mas Dirga akan nikahi Kamu." ucap gadis belia yang tiba-tiba nyelonong mengulurkan tangannya ke arah Bunga sambil mengomel tidak jelas.
Bunga semakin bingung dengan sikap keluarga Dirga yang saat itu seketika memojokkan dirinya.
"Maaf kenapa ya kalian bersikap seperti ini, seharusnya jika memang hubungan ini tidak dapat dilanjutkan kalian ngomong langsung tadi ketika masih ada kedua orangtuaku disini." ucap Bunga lirih sambil menangis.
"Heh ... Dini memang gitu orangnya!" jelas Nita sambil mengedipkan matanya ke arah Dirga dan Dini. Entah apa yang mereka rencanakan sebenarnya.
"Saya harus apa sekarang? Jika kalian tidak menginginkan pernikahan kami tidak usah di lanjutkan saja." balas Bunga sambil mengusap air matanya.
"Sudah terlanjur, meskipun sebenarnya Dirga itu bisa cari 1000 gadis yang jauh lebih baik di atas kamu sih, tapi mau gimana lagi kalau memang sudah takdir Dirga." kata Nita yang kembali menusuk hati Bunga kala itu.
Pak Ryan ... apa yang harus aku lakukan? Hiks...hiks...hiks." batin Bunga sambil menangis.
Entah kenapa ketika sedih, Bunga ingin mencurahkan kesedihannya pada atasannya tersebut. Mungkin karena terbiasa, atau mungkin sudah tumbuh rasa cinta diantara keduanya yang tidak mereka sadari.
Bersambung ...
**Jangan lupa like, komentar positifnya, dan juga VOTE-nya setelah membaca ya ... 😄
Terimakasih banyak sudah mampir ke karyaku**.