Mohon dukungannya🙏
Klarybel terlahir dari keluarga yang terpandang. Apa pun yang dia inginkan pasti akan di kabulkan oleh kedua orang tuanya. Hidup Klarybel sudah terbilang sempurna. Dari paras yang cantik, Dan juga semua serba bisa.
Namun satu hal, yang tak dapat di kabulkan oleh orang tuanya. Yaitu Cinta, mommy dan daddy Klarybel, tak merestui hubungannya dengan pria yang dia cintai. Karena pria itu adalah uncle Klarybel.
Hingga suatu hari, Klarybel harus berpisah dengan orang yang di cintainya. Klarybel pergi jauh hanya untuk menempuh pendidikan, dan masih tetap mencintai orang yang sama. Yaitu uncle-nya.
Sedangkan mommy Klarybel tak merestui hubungan mereka karena mempunyai alasan tersendiri. Yang di sembunyikan dari Lerry.
Apakah setelah mendapat restu mereka akan kembali berpisah jika mengetahui yang sebenarnya?
Ayo simak ceritanya!
Dukung author ya🤗 dengan vote sebayak banyaknya, like dan juga komen.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fatra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 28 (Revisi)
"Sini, biar ku bantu!!" Devan mengulurkan tangan membantu Grisa berdiri. Dia membantu Grisa, karena tak ingin di katai sebagai penganiayaan.
Kesempatan ini tidak di sia-siakan oleh Grisa. Dia berpura-pura mengadu kesakitan, tak bisa berdiri. Hingga mau tak mau Devan menggendong tubuh Grisa.
"Kau ini, sungguh menyusahkan saja." Ucap Devan membuang muka. Dia mengangkat tubuh Grisa tanpa melihat wajah gadis itu.
Grisa tak peduli dengan kekesalan Devan. Yang penting dia dekat dengan Devan, sekarang pria itu sudah menggendongnya. Dia mengalungkan tangan di leher Devan.
"Mana mobilmu?" tanya Devan tiba di parkiran. Grisa menggelengkan kepalanya.
"Aku tak membawa mobil, tadi di antar sama pak sopir. Apa kak Devan bisa mengantarku pulang? Aku gak bisa berjalan." Grisa memasang wajah memelas.
"Hufff ..." Devan membuang napas kasar, lalu dia melangkah menuju mobilnya.
Dia mendudukan tubuh Grisa, dan juga ikut masuk. Sebelum dia melajukan mobil dia menatap Grisa dengan tatapan dingin, dia tau bahwa Grisa hanya berpura-pura.
Grisa menundukan pandangannya. Dia merasa takut saat Devan menatapnya dingin. Dia meremas jari-jarinya, keringat dingin membasahi tubuh Grisa. Di sepanjang perjalanan tak ada obrolan sedikit pun.
Tiba di rumah Grisa mengucapkan terima kasih dan langsung berlari, tanpa menatap wajah Devan.
"Dasar gadis sinting, awas saja kau. Bisa-bisanya kau menipuku." Gerutu Devan, lalu dia kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata menuju rumah.
Tiba di rumah, dia melihat Klarybel yang sedang duduk bersantai di ruang tamu. Dia berjalan menghampiri Klarybel.
"Kenapa udah pulang Baby?" tanya Devan seraya menjatuhkan tubuhnya di atas sofa.
"Ley, banyak pekerjaan jadi Ybel pulang duluan saja. Gak mau ganggu pekerjaannya." Jawab Klarybel memakan kripik kentang yang ada di tangannya.
"Oh ..."
"Gimana kencan sama Risa apa seru?" tanya Klarybel antusias menatap wajah Devan.
"Gak, Baby bisa kan kamu jangan menjodohkan uncle sama dia. Teman kamu itu sinting," tutur Devan lembut.
"Hah?" Klarybel menautkan alis heran. "Dia gak sinting kok, dia itu cewek paling ceria. Aku ingin dia menjadi pacar uncle," sambungnya memohon.
Deven mengusap wajahnya, walau dia selalu memenuhi permintaan Klarybel. Tapi kali ini dia menolak, karena hal ini menyangkut masa depannya.
"Baby, permintaanmu tidak masuk akal. Kamu kan tau uncle tidak mau berpacaran dengan gadis yang masih di bawah umur. Jadi Baby tenanglah uncle bisa mencari pacar sendiri."
"Risa bukan gadis di bawah umur. Bahkan dia tua setahun dari Ybel, dia sudah 22 tahun. Pokonya Ybel gak mau uncle mencari pacar sendiri, uncle harus berpacaran dengan Risa."
Devan melototkan matanya, suara Klarybel terdengar meninggi. Pertanda bahwa dia sedang marah, jadi, mau tidak mau dia harus mengiyakan. Dari pada Klarybel akan marah padanya.
"Baiklah uncle mau," ucap Devan pasrah.
"Nah, gitu dong!" seru Klarybel. "Ybel mau uncle menyatakan cinta pada Risa sebentar malam."
Menyatakan cinta? Apa dia tidak salah dengar? Jujur saja Devan belum pernah berpacaran. Walau kini usianya sudah 31 tahun, dia tidak pernah lagi membuka hati kepada siap pun setelah cintanya dulu di tolak.
"Bagaimana caranya? Kalau Risa menolaknya?" tanya Devan dengan wajah khawatir.
"Caranya uncle pikir sendiri. Kalau soal Risa, dia tak mungkin menolak. Dia mencintai uncle," jawab Klarybel tersenyum senang.
"Baby, jangan kegini dong. Cinta uncle dulunya suram, jadi uncle gak—"
"Gak ada bantahan, okay?" potong Klarybel beranjak dari duduknya menghampiri Lerry yang berdiri di depan pintu.
"Kok pulang?" tanya Klarybel menggandeng tangan Lerry.
"Aku khawatir sama kamu pulang sendiri tadi, jadi aku ikut pulang. Aku juga sudah menyuruh Andika menghendel semua pekerjaanku." Jawab Lerry.
"Tuh dengar uncle, demi istrinya Ley rela pulang sementara pekerjaan belum selesai. Uncle harus meniru suamiku, agar kisah cinta uncle tidak akan suram lagi." Tutur Klarybel di iringi tawa. Lalu dia mengajak Lerry ke atas. Namun, sebelum itu Lerry menghentikan langkahnya di depan Devan.
"Ternyata kisah cintamu suram ya? Pantas saja kau bersikeras menjodohkan istriku dengan pria lain. Apa sakit hatimu belum terobati? Atau kau tidak laku?" Lerry tersenyum mengejek, kemudian dia melangkah menyusul Klarybel ke kamar.
Devan mengepalkan tangan erat, urat-urat di tangannya menonjol jelas. Bukannya dia tak berani membantah, hanya saja dia kehabisan kata-kata.
"Bagaimana cara menyatakan cinta pada gadis sinting itu?" Devan memijat pelipisnya. Rasanya dia benar-benar menyesal datang ke indonesia. Awalnya ke datangnya kemari untuk menjodohkan Klarybel dengan Exaen. Dan membuang Lerry. Tapi malah jadi senjata makan tuan.
Dia yang berniat menjodkan malah dia yang di jodohkan. Apalagi dengan seorang gadis yang merutnya sinting. Tapi dia tidak bisa menolak, karena Klarybel adalah keponakan satu-satunya juga yang paling dia sayangi.
☆☆☆
Klarybel duduk di sofa menonton tv, sambil menunggu Lerry keluar kamar mandi. Tiba-tiba di kagetkan dengan suara deringan ponsel.
"Halo?" ucap Klarybel menempelkan benda pipi ke telinganya.
"Ybel, hiks ...hiks ... Uncle kamu jahat bangat, dia cuekin aku. Apa dia gak tau aku cinta mati sama dia, hanya uncle kamu yang bisa nyelamatin aku dari perjodohan." Cerocos Grisa di sela-sela tangisannya.
"Kamu tenang saja, uncle aku tuh memang dingin banget. Tapi aslinya dia baik kok!" Ucap Klarybel terhenti saat Lerry keluar kamar mandi.
"Aku memberitahumu satu hal," lanjutnya menyandarkan kepala di dada Lerry yang sudah duduk di sampingnya.
"Apa?"
"Uncle akan menyatakan cinta padamu malam ini. Kamu harus bersiap-siap, harus dandan yang cantik."
"Serius? jangan boong."
"Aku serius, sumpah."
"Kalau gitu sudah dulu ya, aku mau mempersiapkan dress yang paling cantik dulu." Girsa mematikan panggilan telponnya.
Klarybel menggeleng-geleng kepala, dia menaruh ponsel ke atas meja. Lalu menatap wajah Lerry sejenak.
"Mau makan?" tanya Klarybel kembali memfokuskan pandangannya ke arah tv. Yang sedang menayangkan film marsha anda the bear.
"Masih kenyang," jawab Lerry ikut memandang tv. Dia meraih remote untuk memindah siaran. Namun, Klarybel langsung menahan remote itu.
"Gak bisa, aku suka film ini. Kalau kamu gak mau nonton tutup mata saja." Pinta Klarybel.
"Aku mau tidur di ranjang," Lerry memindahkan kepala Klarybel ke sandaran sofa.
Dia berjalan ke arah ranjang. Sebenarnya dia ingin bersama istrinya, tapi film yang di tonton istrinya membuat rasa kantuk menyerang secara tiba-tiba. Karena tak seru.
"Udah punya suami, masih aja kayak anak kecil." Guman Lerry pelan sembari memperhatikan Klarybel yang fokus menonton film itu.
"Sayang, temani aku tidur dong." Ucap Lerry.
Klarybel berbalik menghadap Lerry, "Gak mau ah, lagian kamu bisa tidur sendiri kan." Tolak Klarybel.