NovelToon NovelToon
Cinta Mas Sepupu

Cinta Mas Sepupu

Status: tamat
Genre:Selingkuh / Nikah Kontrak / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Tamat
Popularitas:97k
Nilai: 5
Nama Author: Melaheyko

Saat Larisa ketahuan hamil, pihak keluarga syok dan juga tak menyangka.

Larisa dituntut untuk jujur siapa pria yang sudah menghamilinya sampai mencuat satu nama pria yang tak lain saudara sepupunya sendiri.

Setelah menikah hubungan Bassta dan Larisa semakin ricuh, jauh dari rukun dan tenteram. Bassta juga sudah memilih perempuan lain yang jauh di atas Larisa yakni Jema, tetapi Jema belum tahu bahwa pria yang dia cintai sudah beristri.

Dalam niat yang begitu besar, Larisa ingin mengubah rumah tangga hambarnya menjadi rumah tangga yang harmonis. Sementara Bassta sudah mengatur dan meniatkan perpisahan setelah bayi yang dikandung Larisa lahir.

Terombang-ambing dalam rasa kecewa dan juga bimbang atas perasaannya, Larisa dihadapkan pada sosok pria yang berusaha dia lupakan tetapi malah mendadak muncul dan mengaku ingin bertanggung jawab.

Lantas, apakah Larisa akan kembali ke pelukan pria berinisial J atau bertahan dengan Bassta yang mulai menyadari ketulusannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melaheyko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Emosi Jema

***

“Sakiiit! Bisa kerja, nggak?” Bentakan Jema menggelegar, membuat gaduh seisi salon, wanita di belakang tubuhnya menggigil ketakutan karena sudah membuat sang model ternama itu murka.

“Maaf,” ucap pekerja salon tersebut dengan terbata-bata.

Jema bangkit, menendang kursi, membuat dia dan wanita itu tidak memiliki penghalang lagi.

Mata Jema melotot, terus menghardiknya. “Nggak becus kerja kamu! Mending pergi dari hadapan saya sekarang juga. Saya mau ganti orang aja, saya tandain kamu!”

Jema yang terlanjur kesal menunjuknya tak henti. Pemilik salon panik mendengar keributan tersebut, termasuk Monica yang langsung meminta wanita yang sedang menanganinya berhenti.

Monica melangkah, mendekati Jema. Mata Monica menelisik sekitar, takut-takut apa yang dilakukan Jema direkam oleh salah satu dari mereka.

“Ada apa ini, Mbak Jema?” Pemilik Salon bersuara.

Jema menoleh, mendengus sebal.

“Karyawan Tante yang ini nggak becus kerja! Cuman ganti warna rambut aja sampai bikin saya kesakitan,” keluh Jema dan pemilik salon langsung melayangkan tatapan tajam kepada karyawannya.

“Maaf, Mbak.” Karyawan salon itu hampir menangis.

“Sudah, Jema.” Monica berbicara dengan berbisik. Dia tak tahu apa yang terjadi tapi memang sejak berangkat dari rumah, anaknya itu sudah mencak-mencak bahkan terus-terusan memaki sopir yang dia anggap ugal-ugalan padahal sama sekali tidak. Jema sedang melampiaskan rasa kesalnya kepada orang-orang di sekitarnya.

Pemilik salon terus meminta maaf, berusaha menawarkan service dengan potongan harga tak main-main. Jema semakin emosi, merasa harga dirinya direndahkan dengan pemotongan service yang ditawarkan. Monica sudah pusing tak tahu lagi bagaimana caranya menenangkan Jema.

“Jem,” ucap Monica dengan sedikit melotot.

Jema tak peduli sedikitpun dengan teguran dari ibunya.

Monica mengurut kening, Jema terus mengomel sampai rambutnya selesai dengan warna Caramel pilihannya. Keduanya kini keluar meninggalkan salon, Jema tampak biasa saja setelah membuat kegaduhan sementara Monica tampaknya malu atas kelakuan putrinya itu. Monica sampai terus menunduk, dan mereka kini sudah masuk ke dalam mobil. Monica lekas memerintahkan sopir untuk segera menancap gas.

Mobil pun melaju dan Jema masih saja menggerutu.

“Udah miskin, pada nggak becus kerja! Lihat aja, aku bakalan stop buat dateng ke salon itu!” kecam Jema dengan emosi yang sudah di ubun-ubun.

Monica yang merasa stress pun langsung menarik bahu anaknya dengan kasar. Keduanya bersitatap dengan sinis.

“Kamu gila? Bisa saja di tempat tadi ada yang mengabadikan momen kebrutalan kamu itu,” tegur Monica.

Jema mendengus, menangkis tangan Monica.

Monica mendesah, kemudian dia menghembuskan napas perlahan. Tenang, itu yang harus dia lakukan jika ingin Jema mendengarkan ucapannya.

Kini Monica mengelus rambut Jema dengan sangat lembut.

“Mama khawatir, Jem.” Monica menatap sendu, suaranya terdengar serak dan Jema menunduk lesu.

Monica diam, lalu dia merapatkan diri pada Jema.

“Ada masalah? Coba cerita sama Mama.” Monica membujuk.

Jema mengangkat wajahnya yang begitu letih.

“Aku sedang pusing, Ma. Aku ke salon dengan harapan bisa menghilangkan stres tapi malah ketemu pekerja nggak berguna itu!”

Kedua alis Monica menukik.

“Kamu berantem sama Bassta?” tanyanya sambil mencondongkan bahu dan sopir di depan melirik spion saat mendengar nama pria itu.

Jema kini diam, hanya menatap ibunya dengan mata berkaca-kaca.

“Kenapa?” tanya Monica lagi dengan pelan.

“Aku ngerasa Bassta berubah.” Jema begitu pesimis. “Dia nggak pernah tuh menolak apa pun yang aku mau. Ini hari Minggu tapi bisa-bisanya dia beralasan sibuk sama klien.” Dia menyambung dengan nada yang teramat jengkel.

Monica diam, langsung terbayang dengan seorang wanita yang tengah hamil. Yang waktu itu sempat dia lihat digandeng Bassta saat mereka bertemu di rumah sakit. Bassta lengah, dia tidak menyadari bahwa Monica kala itu berbalik badan untuk melihatnya tetapi malah memergoki Bassta sedang menarik-narik Larisa.

Apa perlu dia ungkapkan pada Jema? Tapi anaknya pasti akan frustrasi dan toh juga, apa yang dia lihat waktu itu bisa saja salah. Mungkin saja yang bersama Bassta adalah kerabatnya. Monica masih berusaha berpikiran positif walaupun rasanya tetap mengganjal pikirannya.

“Sayang,” ucap Monica lemah. “Mungkin memang Bassta lagi sibuk. Bukannya beberapa hari yang lalu kalian juga sehabis pergi jalan-jalan bersama? Sabar, kan calon suami kamu itu CEO di perusahaan keluarganya. Setiap hari bekerja, sibuk ini dan itu. Masih untung karena dia selalu bisa ketemu sama kamu di sela-sela kesibukannya,” ujarnya menenangkan.

Jema diam, mendengarkan dengan baik. Apa yang ibunya katakan cukup masuk akal. Seharusnya dia juga mengerti dengan kesibukan Bassta selama ini yang terkadang juga perlu bepergian untuk urusan pekerjaan.

“Sabar, nanti juga kalian bisa ketemu lagi, ya.” Monica membujuk lagi dan Jema perlahan tersenyum padanya. “Dan yang kamu lakukan tadi jangan sampai terulang. Mama takut itu bakalan jadi Boomerang buat kamu,” sambungnya lirih dan Jema mengangguk keras-keras.

Suasana hati Jema terobati. Dia mulai tenang dan menyibak rambutnya dengan anggun ke belakang.

Monica membuang napas lega, kemudian dia sandarkan punggungnya serta menutup mata.

****

“Dek....ke sini sama siapa?” gugup Larisa ketika mengemukakan tanya.

Nurani diam, terus menatap Larisa dan sesekali menatapi perut besar kakaknya. Calon keponakannya ada di sana, keponakan yang dia anggap begitu malang sama seperti ibunya karena ayah dari calon keponakannya main gila dengan wanita lain.

“Kalau tahu kamu mau ke sini. Mungkin tadi kita bisa barengan.” Nayla begitu semringah. Beberapa kali dia saling melirik panik dengan Larisa.

Keduanya sama-sama takut, takut Nurani ketahuan dan menimbulkan permasalahan.

Sekarang Larisa mendekat dan memeluk Nurani erat-erat.

“Mbak kangen sama kamu. Sehat, kan, Dek? Ayah, ibu, gimana? Mbak juga sempet ketemu sama Mas Ganta.” Larisa bersuara dengan lirih.

Nurani diam, tangannya kini bergerak, memeluk pelukan erat kakaknya.

“Mbak,” ucap Nurani serak.

Niat Nurani untuk mengadukan Bassta mendadak mengendur setelah melihat kondisi Larisa dengan perut besarnya. Apa yang akan dia kabarkan padanya apa tidak akan berdampak negatif? Nurani takut niat baiknya malah menimbulkan marabahaya.

Nayla dan Nenden diam, terus memandangi keduanya.

Di sudut lain, Novia mendengus melihat keramaian di rumah anaknya. Dia pun mendekati Asih yang sedang mengelap kaca lemari hiasan.

“Larisa sering membawa teman-temannya ke sini?” ketus Novia bertanya.

Asih menoleh, menatap Larisa di sana kemudian kembali memandangi Novia dengan perasaan was-was.

“Cuman sesekali, Bu. Itu juga izin dulu sama mas Bassta.” Asih berkata dengan jujur.

Bibir Novia menyungging sinis kemudian dia pergi ke dapur untuk mencari sesuatu yang bisa dia nikmati.

Sementara Larisa masih di tepian kolam renang dan sekarang dia mengajak Nurani duduk.

“Mbak bikinin minum, ya.” Larisa sudah akan bangkit tapi Nurani menarik tangannya, ia pun duduk kembali.

“Mbak nanti capek,” ucap Nurani. “Aku juga bawa minum.” Nurani menyentuh tas selempangnya.

Larisa tersenyum bahagia karena Nurani begitu perhatian padanya.

“Kamu sendiri?” tanya Larisa pelan dan Nurani mengangguk.

Nurani perlahan menoleh, menatapi Nenden dan Nayla yang menghindar untuk memberikan kesempatan pada keduanya berbicara.

“Iya.” Nurani menunduk, rautnya tampak bimbang sekarang.

“Ibu sama mas Ganta tahu?” tanya Larisa lagi.

Nurani menggeleng kepala.

“Nggak ada yang tahu. Aku takut ketahuan sama ayah, jadi izin buat pergi ke rumah temen,” kata Nurani dan Larisa terlihat tak suka dengan kebohongan yang adiknya lakukan.

“Jangan kayak begitu lagi. Mbak sedih kalau kamu rela berbohong cuman buat ketemu sama Mbak.”

Nurani menimpali, “Nggak ada cara lain, Mbak. Aku tadi sekilas ngelihat Tante Novia. Tante tinggal di sini juga?”

Larisa menggeleng lalu menjawab, “Lagi nginep.” Matanya melirik sang mertua yang berjalan menuju lantai dua.

Nurani ikut melirik, dia menggigit bibir dan terus berpikir apa perlu dia beritahu Larisa tentang Bassta? Juga mumpung ada Novia. Nurani mengira bahwa Novia akan tercengang dengan kelakuan anaknya dan pasti kakaknya akan dibela mati-matian. Nurani belum paham bahwa tidak ada mertua yang mengiyakan kesalahan anak laki-lakinya dan malah akan terus-menerus menyalahkan kekurangan menantunya.

 

1
Oee Hafiza
mbak kok gak lanjut???
Alyazia Yazuy: apa udah end tah kk author crita nya aq penggemar karya" mu dr novel crita nya asma
total 1 replies
Roudhotul Jannah
bagus... rekomendasi
༄⃞⃟⚡oleng.comKᵝ⃟ᴸ
masih ditunggu lohh, Thor..
༄⃞⃟⚡oleng.comKᵝ⃟ᴸ : entah kemana nih othornya? pdhl gi seru. klo pindah knp gk kasih tau? kn kita jd kehilangan jejak 😢
total 2 replies
Instagram: Melaheyko
assalamu'alaikum semuanya, cerita ini belum tamat ya tapi ada kendala jadi aku gak bisa update dulu. untuk sementara, aku publish cerita yang lain sambil nunggu naskah cerita ini selesai. Cek profil buat baca cerita baruku yaitu Syahdunya Cinta Pertama. semoga suka
Pipit Bawon
lhooo kok uda di lebel "end" ya ? pindah tempat ta kak mela karya nya ?
Pipit Bawon: Terimakasih uda di jawab mbk mela...sekarang uda sembuh mbk mel ? semoga selalu di beri kesehatan buat mbk mela n kluarga...Aamiin,,,semangat trs utk berkarya mbk...
total 2 replies
༄⃞⃟⚡oleng.comKᵝ⃟ᴸ
othor pa kbr?
semoga sehat2 ya
masih setia menunggu kabarmu
༄⃞⃟⚡oleng.comKᵝ⃟ᴸ
mas sepupu blum nungul 🤔🤔🤔
🔥⃞⃟ˢᶠᶻ🦂⃟ᴘɪᷤᴘᷤɪᷫᴛR⃟️𝕸y💞hiat
sookoorlah budu amat nasib Jema kan semua tercipta dari ulah Jema sendiri yang sok dan semena-mena sama orang lain.. Rasain akibatnya
SUMI 🐊🐊
Innalillahi HP nya
SUMI 🐊🐊
maklum negara berbunga y 😂
SUMI 🐊🐊
nah loh bapak² nya Jema kebawa²🤭
SUMI 🐊🐊
utg cuma ngomong dlm hati y Bass🤣🤣
SUMI 🐊🐊
uyel Nay uyel 😂😂
@Hαиıтα 🍀⃝⃟💙
dih sultan mulut nya melebihin ketikan netizen
༄⃞⃟⚡oleng.comKᵝ⃟ᴸ
rasain kmu, Jema. salah sendiri dulu lebih milih karir & populeritas. tau sendiri kekasihnya itu laki2 yg nyaris sempurna. udah ganteng, tajir pula. nyesel kn sekarang kmu dicuekin Bassta... makanya jgn kelewat pede jd perempuan. kmu emang cantik paripurna, tapi sayangnya Bassta keburu married duluan 🏃🏃🏃💨💨💨
⸙ᵍᵏoᷡuͦbᷡliͣer༄༅⃟𝐐
biarkan si jema terpuruk biar keluar lagi emosional nya
G°°Rumai§ha°°🌵
Good looking kalo kelakuan minus ya buat apa 😅
G°°Rumai§ha°°🌵
Oohh senangnya dalam hati, liat si Jemma gilaa 🤣🤣🤣
G°°Rumai§ha°°🌵
Semoga aja Nurani sama ibu nya nginep sirumah Bassta atau paling gak pulangnya malem lah biar makin kelabakan itu si Jemma, trus ntar makin ribut deh sama Bassta 🤣🤣🤣
Ratu Tety Haryati
Artis yang suka buat masalah tapi tak kuat menghadapi hujatan netijen akibat ulahnya sendiri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!