Terlahir dengan nama Ulyana Zahra Fitriangsih, orang tuanya berharap anak mereka tumbuh elok seperti namanya.
Namun, itu semua hanyalah angan semata. Masa lalu mengantarkannya untuk menapaki dunia hitam yang tak seharusnya ia jamah. Bahkan, ia yang memegang kendali atas semuanya.
Satu nama yang tersamarkan di publik, nama yang memuat banyak rahasia. Tidak ada yang tahu apa yang ada di balik punggungnya, tapi ketidaktahuan itu lebih baik dari pada membawa petaka.
Darel Ario Kusuma, seorang kakak yang sangat menyayangi Zahra. Gadis itu segalanya, hidupnya.
Lantas, bagaimana cara Rio menjaga Zahra tanpa kehadiran kedua orangtuanya?
****
Simak terus cerita ini, jangan lupa dukungannya dengan vote, like dan komen.
Terimakasih 🌹
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Terkejutnya ke Dua Pangeran
Rio baru saja mendudukkan pantat di ranjangnya, ia senang hari ini bisa menghabiskan waktu dengan orang yang disukainya.
Tidak-tidak, bukan. Orang yang dia cintai tepatnya.
Rio melepaskan jam tangan yang dipakainya lalu berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sepuluh menit kemudian, pria itu keluar dengan rambut yang basah. Rio berjalan ke lemari untuk memilih pakaian. Ia melepaskan handuk yang melilit pinggangnya, lalu memakai kaus oblong dengan gambar Pikachu.
Udara mulai kembali dingin, karena hujan mengguyur lagi—Rio memutuskan mengganti boxer-nya dengan celana panjang.
"Rio ... keluar kamu!"
Rio menajamkan pendengarannya, ini tidak salah? Tumben bibi ke mansion hujan-hujan begini? Ia yang sedang tengkurap, sambil memeriksa laporan penjualan—terpaksa bangun. Berjalan dengan santai menuju pintu.
"Ada apa, Bi?"
"Kamu udah periksa kamar sebelah? Penghuninya ada di dalam?"
Bibi menunjukkan kamar adiknya. Tadinya ia juga mau memastikan Zahra sudah pulang apa belum, tapi tertunda karena anak buahnya memberikan laporan penjualan resto yang ia minta tadi siang.
Rio memasuki kamar itu dengan tergesa. "Ra?" Pria itu membuka pintu kamar mandi dan tak menemukan adiknya di dalam. Ia keluar, mendapati wajah Bi Heni yang tengah khawatir.
"Bibi nunggu kalian tadi, setelah tau salah satu dari kalian pulang—ya udah bibi balik ke belakang. Tapi kok, perasaan bibi makin ga enak, ya. Apalagi hujannya tambah deras."
Rio menuntun Bi Heni ke dapur, lalu membuatkan wanita itu teh hangat. Pria itu meletakkan secangkir teh di depan Bi Heni.
"Bibi minum dulu, Rio mau ke depan. Tanya sama mereka yang tadi Rio suruh ngawal Zahra."
Bibi mengangguk.
Rio menemui Thamrin yang sedang bermain catur di teras. Pria itu segera berdiri ketika mengetahui Rio berjalan ke arahnya.
"Bukannya tadi saya merintahin kamu buat ngikutin mobil Putra?" tanya Rio dengan nada marah. Tangannya terkepal ingin menghajar orang di depannya saat itu juga.
"No-nona meminta saya untuk tinggal, Tuan."
"Bodoh!"
Rio maju, mencengkeram kerah Thamrin. "Berapa kali saya peringatkan kamu untuk tidak meninggalkan Zahra? Berapa kali Zahra hampir terluka karena kelalaian yang kamu buat?"
"Ma-maafkan sa-saya, Tuan."
Rio melayangkan tinjunya pada perut Thamrin. Pria itu memukulnya brutal, tidak peduli keadaan Thamrin kedepannya.
"Rio ...." Suara lirih itu menghentikan aksinya, Rio menendang Thamrin hingga pria itu terguling ke tanah yang telah berlapis paving. Bibi tidak sampai hati melihatnya, wanita itu berbalik dan menunggu Rio di rumah tamu.
"Urus dia," perintahnya pada salah satu pengawal. Dia tidak setega itu untuk menghajar bawahannya tanpa memberikan penawar.
Rio mulai memeriksa handphone-nya, mengutak-atiknya sebentar kemudian menemukan lokasi terakhir sang adik. GPS-nya berhenti di daerah rawan Jakarta Utara.
"Hilman?"
"Ya, Tuan?" Seorang pengawal di sebelah kirinya menyahut.
"Susur daerah Cilincing, ajak beberapa orang. Habis ini saya kirim plat mobilnya."
"Baik, Tuan. Saya permisi."
Pria itu menempelkan handphone ke telinganya. "Lo di mana?" tanyanya langsung.
"Gue di jal—"
"Lokasi?"
"Rorotan, Jakarta Utara."
"Pas banget, lo jangan balik dulu. Belok ke Cilincing sekarang!"
"Idih, ngapain? Gue udah capek banget, pengen istirahat. Client gue ngeselin parah, asli."
"Adik lo belum balik dari tadi siang, jalan sama cowoknya. Lokasi terakhirnya di Cilincing, lo cari mobil mereka. Habis ini gue send nomor platnya, gue udah kirim beberapa orang ke sana. Ntar gue susul."
"Ga ngomong dari tadi!"
Rio mematikan handphone-nya, ia yakin laki-laki di seberang sana tahu maksudnya. Pria itu kembali memasuki mansion dan duduk di depan Bi Heni. "Lokasi terakhirnya kalau dari GPS berada di Cilincing. Rio udah ngabarin Rizki dan kirim beberapa orang ke sana. Habis ini Rio nyusul mereka."
Bi Heni mengangguk, sedikit lega ketika mendengar keberadaan Zahra—meski belum pasti. Wanita itu merapatkan jaketnya, kemudian berdiri.
"Kalau gitu bibi ke belakang dulu, semoga adikmu baik-baik aja."
"Bibi di sini aja, istirahat di kamar Rio atau kamar tamu. Nanti kalau butuh apa-apa bilang sama Jerdan atau yang lain. Rio mau siap-siap dulu."
Bibi mengangguk. "Hati-hati."
"Makasih, Bi."
Rio tersenyum dan berbalik, melangkah menuju tangga untuk kembali ke kamar. Pria itu mengganti pakaiannya.
...****...
Pria dengan hoodie coklat susu tersebut sedang dalam perjalanan menuju Cilincing. Dia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar lebih cepat sampai.
Ponsel yang berada di sakunya bergetar, ia menurunkan kecepatan mobil lalu mengangkat panggilan tersebut.
"Kenapa?"
"Gue udah sampai Cilincing, mereka berdua ditemukan pingsan sesaat setelah hujan reda. Mereka sekarang ada di rumah sakit terdekat."
"Gue sedikit lega dengernya. Jadi, lo nemuin apa di sana?"
"Mobilnya diledakkan. Ga jauh dari mobil, ada beberapa mayat di jalan. Gue udah periksa mobilnya, barang-barangnya masih lengkap, tasnya Zahra ada di dalem, ikut ke bakar. Kasus ini ga bisa kita tanganin sendiri, beberapa warga udah ada yang melapor. Polisi sedang ada di lokasi, gue juga. Mending lo ke sini, ada yang mereka mau tanyain sama kita."
"Oke, kirim lokasi lo! Gue hampir sampai."
Rio mematikan sambungannya, pria itu menambah kecepatan mobil. Setelah 20 menit perjalanan, ia sampai di lokasi. Di sana ada Rizki, anak buahnya dan sekelompok polisi.
Beberapa dari anak buahnya membantu polisi menyeret orang berbaju hitam ke mobil ambulance. Di ujung jalan, ia melihat mobil yang dipakai kekasih adiknya tengah diamankan.
"Bang."
Rio menoleh pada Rizki yang tiba-tiba berada di sampingnya. Pria itu mengangkat sebelah alis.
"Kita dimintai keterangan, habis ini ikut mereka ke kantor."
Rio mengangguk, pria itu menghela napas. "Baru seminggu, udah ada masalah lagi. Gini terus kayaknya pola kehidupan keluarga kita, tiap bulan ada aja masalahnya."
Rizki mengikuti jejak Rio yang terlebih dahulu menyandarkan diri di pintu mobil. "Apa mesti tiap bulan? Ada apa sebenarnya di keluarga ini memang?"
"Kalau dibilang rutin sih engga, tapi ada aja. Kalau misalkan bulan ini ada, bisa aja bulan depan engga, tapi bulan depannya lagi. Makanya gue selalu nyuruh anak buah buat ngawasin Zahra. Mereka sebenarnya udah punya senjata api, tapi gue ga mau kalau senjata itu digunakan pas deketan sama Zahra. Ga tau kenapa sasarannya harus Zahra, tapi seringnya lebih ke dia dari pada gue."
Rizki mengangguk, ternyata seperti itu suasana keluarganya selama ini. Ia menyesal tidak mau tahu kebenaran di balik kejadian beberapa tahun lalu dan malah melancarkan sikap egoisnya yang tak berguna.
Seorang polisi datang ke tempat mereka berpijak, mengajak keduanya untuk ikut serta ke kantor. Keduanya mengangguk dan melangkah ke mobil masing-masing.
Setelah menempuh perjalanan selama beberapa menit, karena kantor polisi lumayan dekat dengan lokasi—akhirnya mereka sampai.
...****...
Bibi yang tengah berbaring di kamar tamu terkejut mendengar ketukan pintu. Wanita itu menguap sebentar sebelum memulihkan kesadarannya. Ia berjalan menuju gagang pintu. Kulit dahinya berkerut kala memandang seorang pengawal berdiri di depan kamarnya.
"Kenapa Jerdan?"
"Tuan meminta saya untuk mengantarkan nyonya ke rumah sakit."
Alis Bi Heni terangkat. "Ke rumah sakit? Siapa yang sakit?"
"Maaf nyonya, nona dan kekasihnya sedang dalam penanganan salah satu rumah sakit di Jakarta Utara."
Bagai tersambar petir, wanita itu hampir roboh jika tidak berpegangan pada gagang pintu. Apa lagi? Rumah sakit lagi? Sepertinya Tuhan belum mau berhenti memberikan cobaan pada keluarga ini. Wanita itu berusaha menetralkan napasnya, menggelengkan kepala untuk menghilangkan kabut yang memenuhi matanya. Ah, tepat. Pandangannya kini berfokus kembali pada pengawal di depannya. Ia bersyukur bisa mencegah dirinya pingsan dari pada membuat keadaan semakin memburuk.
"Nyonya tidak apa?" Jerdan memasang tampang khawatir ketika melihat Bi Heni sedikit limbung.
Bibi tersenyum dan menggeleng. "Saya tidak apa, kamu siapkan mobil biar saya ganti baju dulu."
"Baik, Nyonya."
Wanita itu segera mengganti dasternya dengan baju lengan panjang beserta roknya. Tidak sampai 5 menit, Bi Heni telah berada di dalam mobil.
Jerdan sudah mendapatkan alamatnya dari Rio, pria itu segera menancap gas agar segera sampai.
Di perjalanan pikiran Bi Heni tak terlepas dari Zahra. Gadis itu, sudah beberada kali masuk rumah sakit. Apa dia tidak bosan ke rumah sakit terus, jika boleh jujur—dokter saja sudah bosan melihat pasiennya itu terus.
Mobil masuk ke parkiran, yang menandakan mereka telah sampai. Bibi segera turun, sedangkan Jerdan mengikutinya dari belakang. Wanita itu bertanya dimana ruangan Zahra.
"Kedua pasien masih di IGD, Pak, Bu."
"Terimakasih."
Bi Heni dan Jerdan segera mendekati IGD yang memang sudah terlihat sejak mereka masuk tadi. Ruangan itu masih tertutup, tandanya aktifitas di dalam masih belum usai. Wanita itu duduk di kursi yang tersedia, sedangkan Jerdan berdiri tak jauh dari Bi Heni.
Pintu ruangan terbuka. Seorang pria dengan jas putihnya mengalihkan atensi Bi Heni dan Jerdan. Kedua orang dewasa tersebut berjalan mendekat.
"Keluarga Ulyana Zahra dan Putra Rastungo, benar?"
"Iya, Dok. Bagaimana keadaan mereka?"
"Begini, Bu. Kami sudah mengeluarkan peluru yang tersangkut di tubuh mereka dan juga menetralkan darah karena tubuh mereka terpapar racun. Berhubung antibodi mereka kuat, racunnya tidak berefek banyak, mungkin hanya membuat sedikit kelelahan. Saat ini tekanan darah pasien normal, denyut nadi juga normal. Tinggal menunggu luka-luka itu kering saja. Setelah ini kami akan memindahkan pasien ke ruang rawat inap."
Bibi mengangguk mendengar penjelasan dokter di sebelahnya, sejauh ini mereka baik-baik saja. "Terimakasih, Dok. Pindahkan mereka ke ruang VIP saja."
"Baik, Bu. Disatukan ya kamar mereka?"
"Iya."
Dokter tersebut permisi, bibi duduk kembali sambil memandang ruangan di depannya lega.
"Nyonya?"
Bi Heni menoleh pada Jerdan. "Ada apa?"
"Nona adalah gadis kuat, sejak saya bekerja pada Tuan Rio—saya dibuat salut dengan perjalanannya dan perjuangannya. Dia akan baik-baik saja, beruntung kalian memilikinya."
Bibi tersenyum tulus. "Terimakasih, Jerdan. Dia membawa anugerah dalam hidup kami, sebenarnya kami sudah lelah. Tapi bungsu itu yang membuat kami menatap ke depan kembali, menatap perjalanan kami yang masih panjang. Dia alasan kenapa sampai saat ini kami masih bertahan, di tengah guncangan yang seakan ingin memecah kami."
...****...
"Saya tidak yakin kalau dia sepupu kalian," ucap polisi itu sambil menatap lembaran yang digenggamnya.
"Dia sepupu kami. Tolong buat ini cepat, kami harus ke rumah sakit." Rio memutar bola matanya malas. Sudah beberapa menit ia di sini dan dimintai keterangan oleh petugas, tapi petugas itu malah tidak percaya akan keterangan yang ia berikan.
Polisi itu terkekeh. "Saya sangat ingat beberapa tahun lalu, seorang pria bernama Deron Devranel Ario datang ke sini dengan menggandeng anak kecil memakai seragam merah putih. Ciri dan wajahnya sangat mirip dengan gadis itu."
Rio menggeram. "Baiklah, tapi jangan sampai info ini bocor. Dia anak bungsu keluarga Ario, adik bungsu saya. Tolong segera proses kasus ini."
Pria dengan seragam coklat di depan Rizki dan Rio mengangguk, sementara telunjuknya bergerak menunjuk Rizki. "Yang ini? Adik Anda juga, kan?"
Keduanya memutar bola mata. "Apa perlu dijelaskan lagi?"
Pria itu berdehem singkat dan menatap serius keduanya. "Saya hanya mengantisipasi, jika ada orang lain yang tahu, mungkin kalian akan berada di posisi sulit." Pria itu mengirim pesan pada bawahannya, tak lama seseorang masuk dengan membawa laptop.
"Terimakasih," ucapnya pada orang yang membawanya laptop. "Ini adalah rekam kejadian sebelum semua CCTV di daerah tersebut dihancurkan. Ini CCTV yang kami sembunyikan di balik pohon besar yang berada di sekitar lokasi." Pria tersebut mengarah laptopnya ke samping agar Rio dan Rizki bisa melihat.
Awal video menampilkan mobil Putra yang melaju tanpa halangan, tiba-tiba mobil yang terlihat baik-baik saja tersebut mulai hilang kendali dan berputar-putar. Mobil itu berhenti di tengah jalan, penghuninya turun dengan selamat. Tidak ada yang aneh, sampai kaca mobil tiba-tiba pecah saat penghuninya akan masuk kembali.
Ketegangan dimulai saat beberapa orang pria menodongkan senjata dan reaksi dari kedua penghuni mobil membuat Rio dan Rizki terkejut. Mereka mengeluarkan senjata api dari balik pakaian yang mereka kenakan.
Pak polisi mem-pause videonya. "Sepertinya mereka bukan orang sembarangan, rekan saya terkejut melihat video ini. Mungkin kalian akan lebih terkejut di menit selanjutnya."
"Saya tidak tahu jika mereka memiliki benda itu."
Polisi mengangguk. "Pihak rumah sakit tadi melapor. Mereka menemukan revolver di balik pakaian pasien laki-laki, sedangkan di pasien perempuan mereka menemukan glock, pisau lipat dan sarung tangan."
Rio dan Rizki terdiam, berbagai macam argumen masuk ke otak masing-masing. Lamunan mereka buyar ketika Pak Rafael mulai menyalakan kembali video. Suasana semakin tegang ketika mereka mulai berambisi untuk membunuh satu sama lain. Di sana, Rio melihat pengorbanan seorang Putra Rastungo Mahendra.
"Pemuda itu mempunyai nyali yang tinggi, nyawanya nyaris melayang jika gadis di belakangnya tidak segera menggeser tubuh mereka."
****
Hola, update
Di part sebelum-sebelumnya kan aku udah mau kasih visual tapi kelupaan. Jadi sekarang aku udah nyiapin visual untuk pemeran cwe aja, pemeran Cwo nya bab selanjutnya. Jika kalian ga sreg kalian bisa membayangkan sendiri visual menurut imajinasi kalian. Selamat menikmati....
1. Ulyana Zahra Fitriangsih (Zahra)
Bos kita cemberut ni gaesss,,, udah dibangunkan paksa sama Abang, tau2nya cuma disuruh Poto doang. Padahal masih ngantuk :((
2. Zaria Marina Stevani (Ina)
Si cantik sahabatnya Zahra dari SMP
3. Ardelia Jovanka Wahyu (Adel/Ardel)
Yg paling waras di antara 4 sekawan
4. Fransisca Keysha Olivia (Ica)
Yang paling gesrek di antara 4 sekawan
5. Tria Salma Freezy (Tria)
Si pirang berliannya Bi Heni
6. Una Aryana Windy (Una)
Cantik manis gini Una, gimana Putraa ga kepincut coba?
7. Chelsea Maurelia (Arel)
Sahabatnya Una
8. Aify Zafania (Ify)
Si pencinta pedas
9. Mita Maudia Larissa (Mita)
**Si cantik penyuka ice cream ini pacarnya Jaka
Jangan lupa like dan komen yaaa
See you ❤️**