Hidupku penuh liku-liku
berawal dari jatuh cinta semasa sekolah menengah atas yang berakhir tanpa jelas, lalu aku jatuh cinta kembali namun aku kehilangan calon suamiku sehari menjelang pernikahan kami.
calon suamiku meninggal dunia karena kecelakaan.
Sampai suatu ketika aku bertemu dengan seesorang yang mengubah duniaku bagai di neraka, hidup bergelimang harta, namun aku tak pernah bahagia
Kamar ini menjadi saksi betapa tersiksanya aku menjalani hidup dengan nya.
Bukan cuma sekali ini suamiku berselingkuh,tapi sepanjang pernikahan kami.
Udara di kamar ini seakan membuatku sesak, hanya suara detak jam yg menemani hatiku yang hancur.
"cerai" hanya kata-kata itu
saja yang ada dalam pikiranku.
"Ya Robb, selama ini aku bertahan karena aku tahu bercerai adalah perbuatan yang kau tidak suka, tapi batin ku sakit untuk kesekian kali. Sabar ku sudah habis...., ampuni hambamu ini...."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desire pooh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Calon Mertua
Saat Agus dan Sofie sedang asik berbincang, pintu ruangan di ketuk dan masuklah sepasang suami istri paruh baya
Wanita itu langsung menghambur memeluk mas Agus sambil menangis,
Sofie langsung menjulurkan tangan bersalaman, ,Sofie mencium hormat ke dua tangan orang tua mas Agus
Mamanya mas Agus melihat Sofie dari ujung rambut hingga ujung kaki, membuat Sofie canggung dan serba salah di tatap seperti itu, sedangkan papa mas Agus hanya tersenyum ramah
" Mami, papi, kenal kan ini Sofie pacar aku sekaligus calon mantu kalian" ucap mas Agus memperkenalkan Sofie formal kepada orang tuanya
Raut wajah mama mas Agus langsung berubah, ia terlihat tidak suka anaknya mempunyai hubungan dengan Sofie
"Kamu sudah makan belom nak, mami bawakan pesenan kamu, mami suapin ya?" tanya Mami penuh kasih
"Mami.. sekarang Agus sudah punya pacar, biatkn nak Sofie yang merawatnya, mami sama papi duduk manis sini dinsofa " sela papi
" Aku belum lapar mih,. mamih cape istirahat di sofa sambil ngobrol sama Sofie” ucap mas Agus
Sofie dan papanya mas Agus sudah berbincang-bincang, sementara mami mas agus membelai penuh kasih anaknya
"Nak Sofie maklumin maminya ya, si mami kalo Agus sakit selalu gitu. panik. maklum lah anak laki satu-satunya makanya selalu manjain agus" ucap papi melihat ku terus melempar pandangan ke arah mas Agus
"Eh iya om, wajar sih om namanya anak laki semata wayang" saut ku
" ya kamu harus sabar-sabar ya nanti menghadapi mami. mami itu sedikit agak bawel, apalagi masalah mengenai agus dia sedikit sensitif " timpal papi lagi
" iya om. saya mengerti"
"oh ya sudah brapa lama kalian kenal?"
" kenal nya sudah hampir dua tahun om, kami satu kerjaan tepatnya saya bawahan mas agus. kami belom lama dekat nya om " ucap Sofie pelan.
Sofie memperhatikan ekspresi papi nya mas agus tapi ternyata ekspresinya tidak berubah
beliau hanya manggut -manggut sambil tersenyum
"baik-baik dan sabar menghadapi agus ya nak.
papi tahu kamu pasti suka kesel hadapin manjanya anak itu, tapi sebenarnya dia itu dewasa, baik dan sangat tanggung jawab, hanya saja kadang kala seperti anak kecil. terutama depan mama nya.
lihat saja itu" ucap papi sambil senyum-senyum memperhatikan anak dan istri nya
" hehe iya om. Insha Allah aku sabar"
kulihat mami sedang mengupas jeruk dan menyuapi mas Agus dengan penuh kasih sayang.
mas Agus yang sadar sedang aku perhatikan tersenyum dan memanggilku mendekat
"sayang sini kita ngobrol sama mami"
aku pamit dengan papi lalu beranjak menuju mas agus, kulihat raut muka maminya kurang seneng
"mami, Agus mau serius dengan Sofie, Agus cinta sama Sofie dan Agus ingin menjadikan Sofie pasangan hidup Agus, mami tolong restui kami ya. ucap mas Agus sambil menggenggam tangan Sofie
mami hanya mengangguk tanpa berkata apa-apa
lalu papi menghampiri kami
" papi setuju dengan pilihan mu. titip agus ya nak sofi" saut papi sumringah
" pih kita gak tau siapa anak ini, dari keluarga bagaimana, bagaimana pendidikan nya? kok papi main setuju aj sih " ucap mami kesel
Sofie hanya menunduk malu, merasakan jurang perbedaan yang jauh antara dirinya dan mas Agus
" Mami, kalau mami gak bisa nerima wanita yang aku cinta, , mami sama aja gak menghormati keputusan aku dong. percaya sama aku mam, Sofie wanita yang di kirim tuhan untuk aku.
mami pasti bakal suka sama Sofie" ucap mas agus membela
mas Agus makin mempererat genggaman tangan nya menguat kan ku
"Nak Sofie bagaimana kalau kita ngopi sebentar di coffee shop, nak Sofie pasti lelah dan perlu sedikit relax, sekalian kita bisa berbincang-bincang santai disana.
Agus, papi pinjam nak Sofie sebentar ya" ucap papi sambil mengedipkan mata
" Siap pih... jangan di apa-apain ya pacar Agus.
limited edition susah dapat nya " goda mas Agus
sontak aku hanya melotot ke arah mas agus dengan muka merah karena malu
" Ayo mih ikut kami... ajak papi sambil menarik tangan mami, sebelum mami berkata apa-pa.
Mami hanya pasrah di gandeng papi keluar ruangan.
Sofie mengikuti kedua orang tua mas agus tanpa bisa membantah