Pernikahan adalah tentang kepercayaan. Setidaknya itu yang diyakini oleh Arini selama lima tahun pernikahannya dengan Galang. Namun saat kenyataan itu terungkap secara tidak sengaja, ternyata pernikahan mereka hanyalah sebuah lelucon yang dibuat oleh suami dan selingkuhannya selama ini. Dan dia hanyalah wanita bodoh yang tidak tau apa-apa, dan sudah bekerja keras untuk membangun reputasi suaminya sebagai istri yang baik selama ini.
Hancur dan merasa di bohongi sudah pasti, lalu apa yang akan dilakukan Arini setelah mengetahui semua kebohongan suaminya?
Apakah dia bisa bertahan di kerasnya hidup tanpa Galang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Galang Tak Sadarkan Diri
Waktu terus berjalan layaknya roda yang berputar tanpa henti, membawa dua takdir yang pernah menyatu ke arah yang sepenuhnya berlawanan. Di satu sisi, dunia menyajikan keindahan dan kebahagiaan yang melimpah, sementara di sisi lain, dinding-dinding beton menjadi saksi dari sebuah raga yang perlahan-lahan mulai digerogoti oleh waktu dan rasa sakit.
Di pusat kota Jakarta, kehidupan Arini dan Kevin berjalan dengan begitu sempurna. Setiap sudut apartemen mereka kini dipenuhi dengan kehangatan. Arini tidak lagi menjadi wanita yang dingin, senyumnya kini selalu merekah, terutama ketika ia memasak sarapan pagi bersama Kevin atau saat mereka menikmati secangkir teh hangat di balkon sambil memandangi langit malam. Kevin benar-benar membuktikan janjinya untuk menjadi pelindung dan sumber kebahagiaan bagi Arini. Cinta yang tulus dan tanpa syarat dari Kevin membuat Arini merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia. Fokus mereka kini adalah membangun masa depan dan mengelola Samudera Group yang semakin berjaya di bawah kepemimpinan mereka berdua.
Namun, pemandangan yang sebaliknya terjadi di dalam sel penjara yang dingin dan pengap. Galang, yang kini telah berubah menjadi sosok yang jauh lebih religius dan tenang, harus menghadapi ujian baru dalam hidupnya. Di balik keteguhan imannya yang baru saja tumbuh, kondisi fisiknya justru melemah dan menunjukkan tanda-tanda penurunan yang drastis.
Penyesalan mendalam yang sempat mengendap bertahun-tahun pada Arini, ditambah dengan beban psikologis setelah diceraikan oleh Dita dan kehilangan hak asuh Galih, ternyata perlahan-lahan memakan kesehatannya dari dalam. Tak pernah sedikitpun ia mengeluh atau bercerita pada teman satu selnya. Dia memendam semua sendirian, penyesalan dan kesepian tanpa keluarga yang menemaninya. Hanya mengadu pada sang Kuasa di setiap sujudnya.
Galang yang dulu bertubuh tegap, selalu berpenampilan rapi dengan setelan jas mahal, kini tampak sangat berbeda. Badannya menyusut drastis hingga pakaian tahanan berwarna biru yang ia kenakan terlihat sangat longgar di tubuhnya yang kurus. Tulang pipinya menonjol, dan matanya yang dulu penuh dengan keangkuhan kini tampak cekung, meskipun memancarkan keteduhan yang sunyi.
"Galang, kamu tidak makan lagi?" tanya seorang narapidana tua yang menjadi teman satu selnya, melihat piring jatah makanan Galang yang baru tersentuh beberapa suap.
Galang tersenyum tipis, sebuah senyum hampa yang dipaksakan. "Lambungku rasanya kurang bersahabat akhir-akhir ini, Pak. Agak mual kalau dipaksa makan."
"Meski begitu kamu harus paksa untuk makan. Kamu harus jaga kesehatan, Lang. Badanmu sudah kurus sekali seperti ini. Jangan terlalu banyak pikiran, serahkan semuanya pada Gusti Allah," nasihat pria tua itu penuh prihatin.
"Iya, Pak. Terima kasih," jawab Galang pelan, lalu kembali melanjutkan tadarus Al-Qur'an kecilnya di sudut kamar.
Awalnya, Galang hanya mengalami sakit-sakit biasa. Mulai dari batuk kering yang tak kunjung sembuh selama berminggu-minggu, demam ringan di malam hari yang membuat tubuhnya menggigil di atas lantai semen, hingga rasa nyeri yang hebat di dada bagian kirinya. Setiap kali rasa sakit itu datang, Galang hanya mencoba menahannya dalam diam, membasuh wajahnya dengan air wudhu, lalu membawanya dalam sujud shalat malam. Ia tidak ingin mengeluh atau merepotkan petugas penjara. Bagi Galang, rasa sakit fisik ini adalah bagian dari peleburan dosa-dosa besarnya di masa lalu.
Namun ada hal kecil yang tidak disadari Galang dan dianggap biasa karena itu adalah hal yang wajar. Yaitu sering buang air kecil. Dan pada akhirnya, daya tahan tubuhnya mencapai batasnya.
Sore itu, saat sedang melaksanakan shalat ashar berjamaah di masjid penjara, tubuh Galang mulai gemetar hebat saat posisi iktidal. Pandangannya mendadak mengabur, dipenuhi oleh bintik-bintik hitam yang berputar. Dada kirinya terasa seperti diremas dengan sangat kuat oleh tangan tak terlihat, membuatnya kesulitan untuk menarik napas.
Ketika imam mengucap takbir untuk bersujud, Galang tidak mampu lagi menahan keseimbangan tubuhnya.
Bruk!
Tubuh kurus Galang ambruk ke lantai semen masjid sebelum sempat bersujud. Nafasnya memburu, pendek-pendek, dan kesadarannya perlahan-lahan mulai menghilang. Jamaah di sekitarnya seketika menjadi riuh. Shalat pun diselesaikan dengan terburu-buru oleh beberapa orang untuk segera menolong Galang.
"Galang! Galang! Buka matamu!" seru teman selnya sambil menepuk-nepuk pipi Galang yang sudah terasa sangat dingin dan pucat pasrah.
Melihat kondisi Galang yang sudah tidak sadarkan diri dengan bibir yang mulai membiru, petugas sipir penjara langsung bergerak cepat. Mereka memboyong tubuh ringkih Galang menggunakan tandu menuju klinik lapas. Namun, dokter klinik segera melambaikan tangan tanda menyerah setelah memeriksa denyut nadi dan tekanan darah Galang yang merosot tajam.
"Ini bukan pingsan biasa. Gejalanya mengarah pada komplikasi akut akibat malnutrisi dan gangguan fungsi organ. Dia harus segera dibawa ke rumah sakit yang memiliki peralatan lengkap!" tegas dokter klinik lapas kepada kepala sipir.
Dengan pengawalan ketat dari dua petugas berseragam, mobil ambulans penjara akhirnya meluncur membelah jalanan kota dengan sirene yang meraung-raung. Di dalam ambulans yang pengap itu, Galang terbaring lemah dengan masker oksigen yang menutupi hidung dan mulutnya. Tubuhnya yang kurus kering tampak kontras di atas ranjang dorong yang putih.
Sesampainya di instalasi gawat darurat rumah sakit umum daerah, tim medis langsung berhamburan melakukan tindakan penyelamatan. Berbagai selang infus dan kabel pemantau jantung segera dipasangkan ke tubuh Galang.
Dari balik jendela kaca ruang rawat intensif, petugas sipir hanya bisa menggelengkan kepala melihat kondisi mantan pengusaha sukses tersebut.
"Bagaimana keadannya dokter? " tanya petugas sipir.
Dokter itupun menggelengkan kepalanya. "Perlu dilakukan pemeriksaan menyeluruh. Selain penyakit jantung, sepertinya ada penyakit yang lebih serius, yang menggerogoti tubuhnya. Bagaimana dengan keluarganya? apa kalian sudah menghubungi mereka? "
Petugas itu pun ikut menggeleng, "Kasihan sekali jalannya. Dulu di atas angin, sekarang saat sakit sakitan seperti ini, tidak ada satu pun anggota keluarga yang datang menjenguk atau mendampinginya."
"Benar-benar kasihan, lalu apa yang harus kita lakukan?"
"Saya akan melaporkan kepada kepala sipir dulu tentang keadaannya. Setelah itu, barulah kita bisa melakukan sesuatu. "
"Baiklah kalau begitu, kami menunggu kabar selanjutnya. "
Galang kini terbaring tak sadarkan diri, berjuang di antara hidup dan mati dalam kesendirian tanpa seorangpun yang menemani. Dunia yang dulu ingin ia taklukkan dengan kesombongannya kini benar-benar telah melupakannya.
Sementara di tempat lain, di bawah atap yang megah, Arini sedang tertawa bahagia mendengar cerita lucu dari Kevin, sama sekali tidak mengetahui bahwa pria yang pernah menghancurkan hidupnya kini sedang bertaruh nyawa di atas ranjang rumah sakit dengan tubuh yang tak lagi menyisakan sisa-sisa kejayaannya di masa lalu.