Syakira Anandita. Gadis cantik berusia dua puluh tiga tahun, rela bekerja menjadi apa saja demi menghidupi diri dan adiknya-Jonathan.
Sepuluh tahun lalu, ibu yang menjadi sandaran satu-satunya harus menghadap Sang Ilahi setelah melahirkan Jonathan, sedangkan sang ayah entah di mana rimbanya.
Hadirnya dua lelaki merubah perjalanan hidup Syakira. Sedih, tangis dan tawa mewarnai hari-harinya.
"Aku memang tak pandai mengungkapkan rasa cinta, tetapi izinkan aku menjagamu semampu dan sepanjang usiaku." Edric Michael Anderson.
"Bertemu denganmu adalah takdir, menjadi temanmu adalah pilihanku, tetapi jatuh cinta padamu di luar kendaliku." Alex Gavin Diaz.
Namun, Syakira, Edric dan Alex harus sama-sama menelan pil pahit karena sebuah kenyataan yang membuat mereka enggan mengenal cinta kembali.
Apa yang sebenarnya terjadi dan siapakah yang menjadi pelabuhan terakhir cinta Syakira?
Daripada penasaran, simak ceritaku, yuk!😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suci Komala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teror
Matahari sudah berada tepat di atas kepala saat Edric memarkirkan mobil sportnya di sebuah restoran mewah. Ya, sebelum ke tempat proyek, mereka memutuskan untuk makan siang terlebih dulu.
Kaki jenjang mereka menapaki beberapa anak tangga untuk sampai ke restoran tersebut.
Beberapa pelayan menyambut mereka dengan ramah.
Edric memilih meja yang berada di pojok, lalu seorang pelayan datang menawarkan beberapa menu makanan.
"Mau makan apa?" tanya Edric.
"Ikut saja," sahut Syakira.
Setelah memesan beberapa menu, bos dan sekretaris itu berbincang hangat.
"Aku tidak menyangka jika sang CEO ini adalah adikku," tutur Syakira.
"Cih! Bagaimana pun juga umurku lebih tua darimu," ucap Edric tak mau kalah.
"Ya, aku akui itu. Tapi, pada kenyataannya kau adalah adikku. So, menurutlah padaku."
Edric merasa gemas kepada gadis di hadapannya. Ia mencubit pipi Syakira sampai gadis itu mengeluh kesakitan.
Di tengah perbincangan mereka, datang seorang wanita.
"Waaah, secepat itukah kau melupakan cintaku, Sayang?" tanyanya sembari membelai pipi Edric.
Mata Edric terbelalak. "Helena? Kau di sini?
"Iya, ini aku," sahutnya, "kenapa? Kau kaget, Sayang?"
"Cih! Jadi dia sebagai penggantiku?" Helena mendelik ke arah Syakira sembari berpangku tangan.
"Mau siapa pun itu bukan urusanmu," tutur Edric sembari menggenggam tangan Syakira dan mengedipkan sebelah matanya.
Syakira mengerti maksud Edric.
"Sayang, perutku udah lapar. Kok, kenapa makanannya lama, ya?" ucap Syakira manja.
Edric mencium tangan Syakira dan berkata, "Sabar, dong, Sayang. Nanti aku suapin, deh."
Syakira tersenyum lebar dengan mata melotot karena Edric sudah berani mencium tangannya.
Helena merasa kesal karena Edric mengacuhkannya dan menghentakkan kakinya.
"Sayang, rupanya kau di sini," ujar seorang pria menghampiri.
Edric mendelik dan kembali menciumi tangan Syakira.
Ya, pria itu adalah Andreas. Laki-laki yang sudah merebut Helena dari tangan Edric.
"Sudah aku katakan, duduk saja ... jangan ke mana-mana. Ingat, kau sedang hamil muda," sambung Andreas sembari mengelus perut Helena.
Helena merasa kikuk karena Andreas sudah membuka satu kebenaran di hadapan Edric yang tentu saja membuatnya malu.
Apa! Helena sedang hamil? Cih! Tentu saja dia akan hamil jika cara berpacaran mereka sudah melebihi batas. Batin Edric merasa kecewa.
"Maaf, Sayang. Aku hanya ingin menyapa mereka saja. Ya, sudah, ayok," ucap Helena kepada Andreas.
Mereka pun pergi.
"Kau in-" Syakira tidak melanjutkan ucapannya. Sebenarnya ia marah karena perlakuan Edric, tetapi melihat wajah Edric yang kesal dan murung, rasa marah itu seolah memuai begitu saja.
Edric melepaskan genggamnya dan meminta maaf kepada Syakira.
"Iya." Hanya kata itu yang mampu Syakira ucap.
Hening.
Syakira merasa bingung bagaimana untuk mencairkan suasana. Akhirnya ia memberanikan diri untuk angkat suara.
"Hey! Sudahlah ... masih banyak gadis di luar sana yang mau denganmu. Dan kau harusnya merasa bersyukur karena perselingkuhan Helena terbongkar lebih awal," tutur Syakira menenangkan.
Edric mengembuskan napas kasar. "Kau benar, Sya. Terima kasih, sandiwaramu patut aku acungi jempol lagi."
Mereka saling menatap dan menyunggingkan senyum.
Tidak berselang lama, pesanan makan siang pun datang. Mereka dengan lahap menyantap diiringi canda dan tawa keduanya.
Tanpa disadari, Helena tengah menatap mereka dengan tatapan penuh kebencian.
Aku tidak bisa memiliki Edric, kau pun tidak akan bisa, wahai gadis gembel. Dan akan aku pastikan, suatu saat nanti kau akan bertekuk lutut memintaku kembali kepadamu, Edric. Batin Helena mengancam.
Setelah selesai menikmati makan siang, Syakira dan Edric bergegas meninggalkan restoran dan meluncur menaiki mobil kesayangan sang CEO menuju tempat tujuan.
***
Roda empat yang terus berputar selama dua jam, mengantarkan mereka ke tempat yang dituju.
Lagi, Syakira dibuat kagum dengan pemandangan sekitar proyek pembangunan hotel karena dirikan dekat dengan laut.
"Waah, aku suka di sini," ucap Syakira.
"Suka laut tapi takut berenang. Bagaimana ceritanya itu?" Edric mengejek.
Syakira tersenyum, ia berkata bahwa dirinya pernah terbawa gulungan ombak sewaktu kecil. Hal itu tentu saja membuatnya trauma karena hidup dan mati sebagai taruhannya saat itu.
"Pantas saja sewaktu kau jatuh di kolam renang sangat panik sekali," tutur Edric yang membuat Syakira terkekeh.
Mereka bersama-sama mendekati area proyek, tak lupa memakai helm yang diberikan oleh seorang mandor di sana.
Netra keduanya menyisir setiap sudut ruangan yang baru saja setengah jadi.
Tiba-tiba saja Syakira dihampiri oleh seorang pekerja tukang di sana.
"Selamat sore, Nyonya. Maaf, ini ada titipan untuk Anda," ucapnya dengan tangan terulur memberikan sebuah kotak berupa kado.
Syakira dan Edric saling pandang, merasa heran.
Gadis itu tidak langsung meraih kotak karena rasa curiga menyelimuti.
"Dari siapa?" tanya Edric.
"Dari jasa kurir, Tuan. Dia berkata jika kotak ini untuk wanita yang bernama Syakira yang bersama Tuan Edric," Kata tukang itu.
Edric mengangguk pertanda Syakira boleh menerimanya.
"Aku baru datang ke kota ini dan tentu tidak mengenal seorang pun di sini. Lalu, ini dari siapa?" ucap Syakira.
Tangan gadis cantik itu terulur meraih kotak, kemudian pekerja itu pergi.
"Bukalah!" titah Edric.
Dengan hati-hati ia mulai membuka kertas yang membungkus kotak tersebut.
Perasaan Syakira mulai tak menentu saat tangannya membuka penutup kotak.
"Aaaaaaaa!" Syakira berteriak dan melempar kotak itu. Ia menghambur memeluk Edric. Tubuhnya gemetar dan bulir bening mulai menetes dari pelupuk mata.
Kotak itu berisi boneka dengan kepalanya yang buntung dan dilumuri darah.
"Siapa saja tolong buang!" titah Edric kepada para pekerja yang ada di sana.
Edric membalas pelukan Syakira. "Tenanglah."
Beberapa pekerja berdatangan dan melihat apa isi dari kotak itu. Hampir semua bergidik ngeri. Salah satu dari mereka menemukan secarik kertas dan memberikannya kepada Edric.
'Bersiaplah, kalian akan menyusul ibumu.' Isi surat itu.
"Si-siapa di-dia, Ed? Aku takut," ucap Syakira dengan suara gemetar.
"Jangan takut, tenanglah. Aku akan selalu bersamamu dan melindungimu," janji Edric.
Syakira meminta pulang saat itu juga dan Edric menyetujui.
Tangan kekar itu tak lepas merangkul sang gadis sampai memasuki mobil, hingga akhirnya mobil buggati warna hitam itu melaju cukup kencang.
Di dalam mobil, Syakira tak hentinya meminta maaf karena gara-gara dirinya urusan Edric menjadi kacau. Sang CEO itu tentu saja tidak mempersalahkan.
Edric berjanji akan menyelidiki siapa dalang di balik teror tersebut. Ia pun bertanya kepada Syakira, apakah gadis itu mempunyai musuh atau tidak. Spontan saja Syakira menjawab jika dirinya tidak memiliki musuh sama sekali. Jangankan musuh, mengenal seorang yang dikatakan teman pun baru ia rasakan di kantor.
Pikiran Syakira terus bergelut dengan isi dari secarik kertas tadi. Kata 'kalian' terus terngiang di otaknya. Ia menebak, apa mungkin dirinya dan Edric? Akan tetapi, ibu dari pria itu masih hidup.
Lalu, siapa? Apa ... Jonatan! Tidak, tidak mungkin! Ya, Tuhan, lindungi adikku. Batinnya khawatir.
Tanpa Syakira sadari ia menggeleng dengan napas memburu dan Edric memperhatikannya.
"Sya ... Syakira!" panggil Edric sembari menepuk pundak.
"Jo-Jonathan, a-aku khawatir dengan anak itu. Aku hubungi papa dulu."
Edric menepikan mobilnya.
"Ada apa, Sya?"
Syakira merogoh ponsel dalam tasnya. Ia menghubungi Diaz.
Satu kali, dua kali, sambungannya tidak Diaz angkat.
Lagi, Syakira terus menghubungi untuk kesekian kalinya.
"Bagaimana ini? Papa tidak angkat teleponnya," ucapnya sembari menatap Edric.
Edric mencoba menenangkan Syakira. Kali ini Edric yang mencoba menghubungi Rachel.
Panggilan terhubung. Edric memberikan ponselnya kepada Syakira.
Tanpa basa-basi, gadis itu bertanya dimana Jonathan, apa yang anak itu lakukan, dengan siapa dia berangkat dan pulang sekolah.
Pertanyaan Syakira tentu saja membuat Rachel merasa heran dan menanyakan ada apa dengan anak tirinya itu. Namun, Syakira tidak menceritakan apa yang baru saja ia alami.
Gadis cantik itu merasa tenang setelah Rachel mengatakan bahwa Jonathan sedang menonton televisi bersama Diaz.
Sambungan telepon pun Syakira akhiri.
Perjalanan dilanjutkan kembali. Edric merasa lega karena Syakira terlihat lebih tenang. Dalam hatinya terus berucap, jika ia akan menjaga Syakira.
SheRaz suka smaa ceritanya🤗🤗🤗🤗🤗