NovelToon NovelToon
Perfect Imperfecta

Perfect Imperfecta

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Cintamanis / Perjodohan / POV Pelakor / Karir / Selingkuh / Dijodohkan Orang Tua / Playboy / Tamat
Popularitas:283.3k
Nilai: 5
Nama Author: Etika

Bella sudah berusia dua puluh delapan. Ia masih belum memikirkan soal pernikahan dengan siapapun. Namun, ketika adiknya dilamar orang lain ia dijodohkan dengan seorang yang bahkan tak ia kenal dan sama sekali bukan tipenya.

Bella si perfeksionis harus menikah dengan Aska si urakan. Lantas kehidupan Bella berubah drastis setelah pernikahan tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Etika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Kafe

" Aska!"

Aska mengangkat wajah. Mendapati Diana berdiri di depannya. Perempuan itu mengambil tempat di depannya dan tersenyum manis.

" Ada apa?" Diana bertanya sembari menaruh tas tangannya di atas meja.

Aska mengernyit, meneliti penampilan Diana yang sangat berbeda. Apalagi pertanyaan 'ada apa?' yang barusan ia dengar.

Diana tak pernah bertanya begitu sebelumnya. Ia lebih suka mengungkapkan 'mau cerita apa?' ketimbang bertanya begitu.

" Kamu nggak pesen minum?" Aska balik bertanya.

" Udah tadi. Es Moka kayak biasa."

Aska tersenyum simpul, ia rindu es moka buatan Diana yang sangat enak, " jadi, gimana kabar kamu?"

Diana terdiam beberapa saat, kemudian menjawab, " nggak tahu, deh."

" Kenapa begitu?"

" Ya, semenjak nggak tinggal bareng kamu, hidup aku terasa hampa."

Aska terkekeh, " lama nggak sekamar sama aku, kamu jadi lebay ya."

" Ya, begitulah. Kalau kabar kamu?"

" Beginilah. Kayak yang kamu lihat."

Diana melihat Aska dari ujung kepala hingga ujung kaki. Lelaki itu terlihat lebih segar dan lebih gemuk dari terakhir kali mereka bertemu.

" Aku tahu kamu baik-baik aja," ucap Diana pada akhirnya.

" Keliatannya emang begitu, kan? tapi, aku nggak seyakin itu."

" Kenapa begitu?"

Aska meraih tangan Diana. Ia usap lembut tangan itu dan menciumnya.

" Kamu baik-baik aja, kan?"

" Aku kangen kamu, Di."

Diana menarik napas dan mengembuskannya perlahan-lahan. Ia lega, karena Aska masih merindukannya sama seperti dirinya yang juga merindukan Aska.

" Di, maafin aku ya."

Diana mengambil alih tangan Aska dan mengekus punggung tangan itu pelan-pelan.

" Maaf, kalau aku udah jadi orang bodoh."

" Maksud kamu?"

Aska tak menjawab. Membiarkan pelayan meletakkan es moka di depan Diana.

" Ka?"

" Aku bodoh, Di."

" Bodoh kenapa?"

" Bodoh karena nggak bisa nepatin janji sama kamu."

Ya. Aska memang bodoh. Diana menarik tangannya, menyentuh gelas es mokanya sebagai alibi untuk menyembunyikan ekspresi terkejutnya.

" Diana, kamu adalah perempuan yang buat aku banyak belajar soal kehidupan."

" Aska, kamu ngomong apa sih?"

" Di, aku sayang kamu."

" Aska, aku juga sayang kamu."

" Di, maafin aku ya."

" Kenapa kamu minta maaf terus?"

" Maaf, kalau sekarang aku juga mencintai Bella."

Ucapan Aska barusan seperti bom yang menghancurkan perasaannya menjadi serpihan kecil tak berarti. Menyebar dan bubar. Diana kebas. Tubuhnya lemas. Pandangannya mulai mengabur karena air mata sudah hampir keluar dari tempat persembunyiannya. Tapi, Diana mengatur napas dan berusaha sekuat tenaga agar tidak menangis di sini.

" Kamu jangan marah ya."

Diana menelan ludah. Mengalihkan pandangan ke gelas es mokanya yang basah. Bahkan, es moka kesukaannya tak berarti apa-apa disaat perasaannya dibuat porak-poranda oleh Aska.

" Di, sekali lagi maaf."

Diana tersenyum simpul dan berdiri, " Aska, aku mau menikah."

Aska terkejut mendengarnya. Terlebih setelah mengatakan itu Diana pergi. Aska terluka. ia pandangi punggung Diana yang berbalut blouse lengan panjang dan celana panjang. Penampilan seperti itu jelas bukan Diana.

Aska terdiam di pojok ruangan. Tatapannya kini mengarah ke luar jendela, melihat Diana menyetop taksi dan hilang ditelan tikungan jalan.

Aska masih mencintai Diana.

***

Sepulang dari kantor, Bella Bella berniat membeli minuman sebagai oleh-oleh untuk Aska. Bersama Jeane yang tak habis-habisnya bicara tentang pekerjaan selama ia tak masuk, Bella mendorong pintu masuk kafe.

" Bells, kamu tahu Pak Indra nggak masuk tiga hari habis datang dari pernikahan kamu?"

Bella tak tahu soal itu. Belum ada yang cerita soal Indra terhadapnya. Indra adalah seorang kepala departmen purchasing yang masih muda, tampan dan katanya naksir Bella. Tapi, Bella tak pernah menganggap Indra lebih dari seorang rekan kerja meski lelaki dua puluh tujuh tahun itu sering mengajak Bella untuk keluar sekadar makan siang waktu istirahat atau pulang bareng.

" Kayaknya dia kecewa deh lihat kamu nikah."

" Jeane, jangan terlalu berlebihan kalau nilai orang."

" It is real, Bells. Dia pernah ngaku sama Mbak Renata."

Bella pernah mendengar pengakuan itu dari Mbak Renata, salah satu teman seruangannya yang paling bisa dipercaya. Baginya, berita dari Mbak Renata beberapa tahun lalu hanya sebuah angin lewat. Lagipula, ia tak pernah memberi harapan apapun kepada Indra.

" Bisa nggak..." Bella menghentikan ucapannya ketika matanya tak sengaja melihat sosok di pojok ruangan.

Aska dan Diana?

Bella mengerjapkan mata berkali-kali, bahkan ia sampai menguceknya, memastikan penglihatannya. Benar. Mereka benar-benar Aska dan Diana.

Jantung Bella terasa turun ke perut ketika melihat mereka Aska memegang tangan Diana. Memandang perempuan itu penuh arti.

" Bells?"

Jeane membuyarkan konsentrasi Bella.

" Why?" Jeane penasaran. Ia mengikuti pandangan Bella yang telah membuang muka. Seorang tukang bersih-bersih kafe sedang membersihkan lantai. Apa yang Bella lihat?

" Nggak apa," Bella menjawab singkat. Ia segera mempercepat langkah menuju barisan take away untuk memesan minumannya. Sesekali, Bella melirik ke pojok ruangan, tempat Aska dan Diana duduk, mengabaikan ocehan Jeane.

" Bells?" Jeane bingung dengan perubahan sikap Bella. Ia sampai memidai seluruh ruangan, barangkali dapat menemukan apa yang dilihat Bella. Tapi, tak ada hal aneh di sini.

" I'm okay, Jeane."

Jeane manggut-manggut paham, " kalau gitu faster deh."

Bella memesan dua cup matcha dingin ukuran besar. Sambil menunggu, ia masih curi-curi pandang, " Jeane, kayaknya nanti aku pulang naik taksi aja ya."

" Loh, kenapa?"

" Nggak apa. Kita kan beda arah. Supaya kamu nggak muter-muter."

" Nggak apa. Kan sekali-sekali."

" Nggak usah. Aku nggak mau ngerepotin kamu."

Jeane mengangguk paham, meskipun ia tahu ada yang tak biasa dengan Bella. Mereka segera pergi setelah pesanannya sudah jadi. Bella ikut Jeane ke mobil untuk mengambil hadiah-hadiah lecil di laci yang dimasukkan ke dalam peper bag dan saling melambaikan tangan.

" Bye, Bells. See you tomorrow!"

Bella tersenyum. Ia melirik Aska yang memandang kepergian Diana dengan tatapan kosong. Namun, ia segera membuang muka dan menunduk ketika Aska menoleh ke arahnya. Bella segera memesan taksi lewat aplikasi.

Saat ini, perasaannya campur aduk. Entahlah. Yang jelas, Bella hanya ingin cepat pulang dan mengistirahatkan diri. Melihat Aska bermesraan dengan Diana di tempat umum, terutama di depan matanya membuatnya nyeri.

Taksi telah tiba. Bella mmebuka pintu belakangnya, namun ketika ia ingin masuk, tangannya ditahan seseorang. Bella menoleh dan mendapati Aska berdiri di belakangnya.

" Kamu mau pulang?" tanyanya.

Bella memejamkan mata, berusaha menenangkan diri dari dadanya yang bergejolak.

" Pak, pesanannya dibatalin ya. Biar saya bayar kerugiannya," Aska berteriak kepada sopir taksi. Ia melepas genggaman tangan Bella dan memberikan beberapa ribu rupiah kapada sopir taksi sebagai tanda permintaan maaf dan setelah taksinya pergi, ia kembali kepada Bella.

" Kamu ngapain ketemu Diana?" akhirnya pertanyaan itu lolos juga.

" Kamu peduli soal itu?"

Bella tak paham dengan pertanyaan Aska, beberapa detik kemudian Aska menarik Bella dalam pelukan. Hal itu membuat Bella terperanjat. Karena ini tempat umum. Aska memeluknya di tengah umum.

" Makasih kamu udah mau peduli soal itu," ucap Aska sambil menggandeng Bella menuju parkiran, " makasih udah mau peduli sama aku."

" Aska, ngapain kamu ketemu Diana?" Bella mengulang pertanyaannya sekali lagi dan masuk ke mobil Aska.

***

1
Resti Chaniago
astaga diana, knp ngga lepas kerjaan itu aja dr dulu sih
Yesi Marlina
rugi donk bela dapat Aska yg sudah celap celup sama diana
Rini Haryati
bagus
sukses
.....semangat
Darah Biru (Bangsawan)
jejak dukungan ❤️
Hello_Clo
Violita Putri
pengen liat azka nyesel karena lebih milih diana
Violita Putri
serakah
Violita Putri
kuat janinnya padahal sempat overdosis
Violita Putri
ntar mutia hamil trs minta tanggung jawab 😏
Violita Putri
jangan Bella dulu dong yg jatuh cinta
Ilan Irliana
y loe buruk lg..celup sana celup sono...wllee
Ilan Irliana
bagus lh aska milih diana...mg mutia nnt dtg trus hamil ank aska....bella bhgia m cnt br'y...aska puyeung m 2 cewek'y...hihi
Ilan Irliana
astaga...mg ktauan y m bella..
widya widya
Bella sama Arya aja.. Aska cuma bikin perasaan galau maju mundur cantik gajel. Labil bener ga sesuai umur.. aska plin plan pula dan gampang tergoda cewe. cuma bikin cape bro
widya widya
lebih setuju bella dan arya. Aska cuma bikin perasaan galau maju mundur cantik gajel. Blm lg aska plin plan dan gampang tergoda cewe. cuma bikin cape bro
Aulia Franisti08
semangat
Jeny Chan
like kakak...
Aulia Caem
mntep
J-nee Suho💃
eeeh udah tamat aja.. seneng liat bella akhirnya bahagia.. semoga aska juga bahagia yah thor nanti nya..
Diary Tika: Kita lihat saja nanti hehe. Terimakasih buat dukungannya! 😁
total 1 replies
J-nee Suho💃
yang langgeng ya bella sama arya..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!