Sequel dari OH MY JENY
☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘
" Kau selalu bilang padaku, apa yang harus kau lakukan untuk membalas semuanya Dean?"
" Aku akan melakukan apapun untukmu Tuan!"
" Kalau begitu menikahlah dengan putriku!"
Deg
Tubuh Dean menegang seketika
Kebohongan yang dilakukan Bulan membuat sang ayah murka. Hingga Ken memaksa putrinya untuk menikah bersama pria pilihannya yaitu Dean sebastian. Seorang pengusaha sukses yang sangat cerdas dari Paris
"Aku sungguh tidak menyukainya, dia terlalu pendiam dia bukan tipeku sama sekali Dad"
Baca selanjutnya ➡➡➡
Selalu tinggalkan Jejak, Like dan Vote 🤗🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon irra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku sudah menikah sekarang
-
-
" Kau mencintai bocah ingusan itu?" bentak Rivana sampai terdengar ditelinga Bulan yang masih berdiri diluar pintu. Gadis itu malas melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam, ia tak ingin melihat sesuatu yang membuat hatinya kesal dan akan marah-marah pada Dean, Bulan mencoba bersikap dewasa dan mengerti. Toh dirinya pun masih menjalin hubungan bersama James
" Iva kau sedang mabuk."
" Kau mencintainya? kau tidur dengannya?" teriak Rivana memukuli dada bidang Dean
" Kau mabuk berat, aku akan mengantarmu pulang. " ucap Dean pelan mencoba menggandeng bahu wanita itu namun wanita itu meronta dengan menepis kedua tangan Dean
" Jadi benar kau tidur dengannya?" teriak Rivana kembali menangis meraung
" Tidak!. Dia masih kecil kau tahu aku tidak akan menyentuhnya!" bentak Dean geram
" Kumohon jangan berikan hatimu padanya, jangan tidur dengannya aku tidak rela sayang. " Rivana melunak dan kembali menghambur memeluk Dean
" Itu tidak akan terjadi!" saut Dean membalas pelukan Rivana yang masih tak menghentikan tangisannya
" Berhentilah menangis, nanti suaramu habis. " ucap Dean lembut membalas pelukan Rivana, Dean juga usapi rambut yang panjang pirang sebahu itu dengan lembut
Lama Dean harus menenangkan Rivana sampai wanita itu tidur dalam pelukannya, Dean mengurai pelukannya, wajah cantik itu sangat sembab dan sisa-sisa airmata masih menetes dari kedua sudut matanya. Dean mengusapnya dengan lembut dan ia juga kecup keningnya
" Apa dia akan menginap?" Dean tersentak mendengar suara Bulan dan langsung beralih menatap Bulan yang berdiri disamping sofa
" Tidak! aku akan mengantarnya pulang. " saut Dean
Bulan tak bergeming ia malah mengalihkan pandangannya pada Rivana, menatap lekat wajah sembab Rivana. Cantik dan dewasa, tidak seperti dirinya yang masih ingusan pantas saja Dean sangat mencintainya. begitulah pikiran Bulan saat ini
" Tidurlah duluan." perintah Dean
" Tidak! aku mau ikut mengantarnya pulang. " saut Bulan, ia tidak rela Dean terus berduaan dengan wanita itu apalagi mengantar kerumahnya. Bulan takut Dean tak pulang dan menginap di rumah wanita itu
" Ini sudah malam."
" Aku mau ikut. " kekeh Bulan dan Dean hanya bisa menghela nafasnya
Dean menggedong Rivana ala bridal diikuti Bulan dibelakang. Bulan tak henti menatap punggung Dean, ia merasa tak suka melihat Dean memperlakukan wanita lain lebih lembut ketimbang dirinya.
" Dean, apa rumahnya jauh dari sini?" tanya Bulan dari belakang
" Tidak! dia tinggal di gedung sebrang. "
" Kenapa dia tidak tinggal disini denganmu?"
" Kami belum menikah untuk apa tinggal serumah. "
" Jadi kau akan menikahinya suatu hari nantu?" tanya Bulan ragu
Dean tak berkutik ia membungkam, malah semakin mempercepat langkahnya agar cepat sampai ke Apartement Rivana
Nafas Dean tersengal, entah berapa meter ia berjalan sambil memangku tubuh Rivana yang tak ringan, hingga kini mereka sampai didepan pintu Apartment Rivana
" 01012020. " ucap Dean pada Bulan menunjuk dengan dagu passcode pintu Apartement Rivana
" Bahkan passkode mereka sama, apa itu hari jadi mereka. " gumam Bulan dalam hati sembari menekan nomer yang Dean sebutkan tadi
Dean membawa Rivana masuk kedalam dan langsung masuk kekamar, membaringkan dan menyelimuti tubuhnya. Sementara Bulan tampak celingukan melihat sekitar kamar Rivana, banyak sekali foto mesra wanita itu dan suaminya disana
" Ayo kita pulang. " ajak Dean
" Apa dia sendirian disini?"
" Adiknya akan datang sebentar lagi. " saut Dean menarik tangan Bulan untuk keluar dari Apartement Rivana
" Dean. "
" Dean. "
" Ada apa?" tanya Dean geram karena sedari tadi Bulan sangat cerewet dan banyak bertanya
" Kau belum menjawabku. " Dean kembali diam, pria itu tak berniat menjawab pertanyaan Bulan sedikitpun. Jalannya semakin tergesa hingga Bulan kewalahan untuk menyeimbanginya
" Dean, pelan-pelan. " ucap Bulan manja
" Ini sudah malam. Aku lelah. " sautnya lalu masuk kedalam lift tanpa melepaskan tuntunannya
" Kalau begitu lepaskan tanganmu aku bisa jalan sendiri. " seketika tangan itu Dean lepaskan begitu saja
" Cih dasar gila!" umpat Bulan mendelik sebal membuat Dean menatapnya, pria itu menatap lekat bocah ingusan disampingnya. Lalu Dean mundur selangkah kebelakang dan langsung mendekap pundak Bulan dari belakang,
" Apa yang kau lakummmpp. " Dean membungkan bibir Bulan dengan telapak tangannya yang lain
" Mulutmu sepertinya harus kuberi lakban. Selalu bicara tak sopan pada orang dewasa. " ucap Dean geram
Ting
Pintu lift terbuka. Dean segera menggeret Bulan keluar dari sana tanpa melepaskan dekapan dan bungkaman tangannya pada Bulan
" Mmmmmpp."
"Mmmmmpp."
" Mmmmmpp."
" Mmmmmpp. "
Bulan terus meronta sekuat tenaga namun Dean tak membiarkan itu, ia semakin mendekap dada itu erat. Ia juga tak menghiraukan tatapan aneh orang-orang pada keduanya
" Hey bung, apa yang kau lakukan jangan kasar pada wanita!" tegur seorang pria ditengah jalan saat mereka menyebrang menuju Apartement Dean
" Dia istriku! Dia ketahuan sedang selingkuh. " balas Dean asal tak mengentikan langkahnya malah semakin tergesa menyeret Bulan
Tiba di Apartment pun Dean tak melepaskan Bulan, pria itu terus menggeretnya masuk kedalam kamar dan langsung menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang
" Dasar psikopat gila. " umpat Bulan berteriak
" Gila! kau bilang aku gila."
" Iya kau gila. " bentak Bulan sedetik kemudian gadis itu ketakutan saat Dean melepaskan satu per satu kancing kemeja yang membalut tubuhnya
" Kau mau apa?"
" Menurutmu?" Dean menaikan sebelah alisnya lalu menyeringai
" Tidak! kau bilang tidak bernafsu denganku. "
" Ahhh. " Bulan berteriak kencang saat Dean menarik kedua kaki mendekat padanya. Langsung tubuh kekar itu menin*ihnya
" Lepaskan aku. " Bulan meronta sekuat tenaganya dan itu semakin membuat Dean senang mengerjainya
" Kau galak seperti ini aku jadi bernafsu. Bagaimana kalau kita melakukan malam pertama kita."
" Tidak! aku tidak mau kumohon jangan. " Bulan mulai memelaskan wajahnya berharap Dean mengasihaninya
" Eiiiiyyy kau akan menikmatinya, aku yakin itu. " bisik Dean tepat ditelinga Bulan
Bulan menegang, wajahnya mendadak pucat dan ia menggelengkan kepalanya dengan cepat. Kedua matanya mulai berkaca, Dean menunggu sejenak sambil tak henti menatap, Dean menunggu airmata itu jatuh merembes keluar
Dan akhirnya yang ditunggu Dean tiba, airmata itu meluncur deras dari pelupuk mata Bulan
" Momy. " isaknya
" Dasar kau ini. " ucap Dean dengan tawa kecil lolos dari bibirnya membuat Bulan terpaku, ini pertama kalinya ia melihat Dean tertawa
" Kau mengerjaiku?" tanya Bulan kembali terisak
" Menurutmu?"
Plak
Lagi telapak tangan Bulan mendarat di pipi Dean
" Kenapa kau selalu kdrt. " gerutu Dean
" Itu hukuman karena telah berani mengerjaiku. "
" Tapi kau sungguh tidak mau melakukannya denganku?"
" A..aku belum siap. " saut Bulan gugup
" Lalu kapan kau akan siap?" tanya Dean seperti tak ada puasnya mengerjai Bulan
" 4 tahun mungkin 5 tahun lagi. "
" Astaga, lebih baik aku menjadi duda dan menikahi Rivana." keluh Dean lalu turun dari tubuh Bulan
" Kau sungguh akan menikahi wanita itu?" pertanyaan yang belum mendapatkan jawaban Dean sedari tadi
Dean menggelengkan kepalanya pelan
" Aku sudah menikah sekarang. " saut Dean turun dari kasur berjalan menuju kamar mandi meninggalkan Bulan yang mematung ditempatnya
-
-