Lika-liku perjalanan rumit antara Frisilia Calista dan Jeni Anggoro yang memiliki ikatan persahabatan sedari kecil yang melahirkan kisah cinta diantara mereka. Banyak konflik dan tragedi yang harus mereka hadapi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lysta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pernyataan Cinta
Di Sore yang sepi ini hujan turun dengan sangat deras.Jeni memandang tumpahan air dari langit hitam itu dibalik kaca tebal yang membatasi ruangan itu dengan taman belakang rumahnya.Dia duduk dengan santai di kursi Bar mininya sambil meminum segelas wine untuk menghangatkan rasa dingin ditubuhnya.
Bergejolak rasa amarah muncul membara saat membayangkan kekejaman yang telah melanda perjalanan hidupnya.Dimulai dari nasib naas sang kakak dan kehidupan dirinya yang tak pernah jadi miliknya seutuhnya sampai kisah cinta pertamanya yang tak kunjung sampai.
Terlintas dibenaknya senyum manis gadis cantik yang terukir di bibir Frisilia yang membuatnya selalu tidak bisa berpaling darinya.Teringat kembali dimana dirinya untuk beberapa kali melakukan adegan mesra lewat cumbuan bibirnya tanpa ikatan sampai adegan panas terakhir yang mereka lakukan hingga membuat Jeni memejamkan matanya.Hubungan macam apa yang telah ia bangun bersama gadis itu.Saling memiliki perasaan namun tak dapat saling mengutarakan.
"Jeni.." Seakan khayalan tiba-tiba menerpanya kini mendengar dengan jelas suara gadis yang ia lamunkan.
"Jeni.." Benar saja kini dia merasa memiliki tambahan kelainan pada dirinya dengan berhalusinasi seakan kenyataan.Terlintas dalam benaknya untuk pergi ke dokter pisikolog pribadinya.
"Jeniii ..."Jeritnya dan membuat dia terperanjat karena suara itu asli terlantun dari bibir manis gadis yang mengisi lamunannya.
Jeni menoleh dengan terburu dan melihat Frisilia dengan keadaan basah kuyup.Air mengalir sampai ujung rambutnya.Terlihat wajah cantik alami yang membuatnya seakan ingin melompat memeluknya dan mencumbunya,godaan iblis sempat melintas diotak kotornya.Diapun mengerjap beberapa kali matanya untuk memulihkan kesadarannya.
Setelah kesadarannya kembali pulih iapun dengan gerak yang kikuk menyimpan gelas bening kosong dipinggir botol wine yang tergeletak dimeja bar itu.Kemudian mengucek kedua matanya mencoba membenarkan kembali penglihatannya bahwa itu bukan sekedar khayalan akibat minuman yang telah ia telan.Ternyata saat matanya terbuka lebar gadis itu masih berdiri utuh di tempatnya.
"Apa yang telah terjadi ? Sampai kau basah kuyup begitu?" Jenipun dengan terburu menghampirinya dan dia melangkah dengan maksud akan mengambil handuk.Tapi tangan Frisilia dengan cepat menggenggam lengannya,menghentikan langkah lelaki itu.
"Tolong aku ! Bantu aku ! Sembunyikan aku agar aku bisa terbebas darinya." Gumamnya pelan sambil menampilkan tatapan sayu seolah keputus asaan sedang menghinggapinya.
"Apa maksudmu..?"
Tapi lagi-lagi Frisilia bukannya menjawab malah bertambah mengejutkannya tak perduli pakaian dan rambut basah dia memeluk lelaki itu dengan erat dan menangis membuat Jeni kebingungan.
"Aku tidak tahu harus berbuat apa ? Dan tidak punya tempat untuk meminta pertolongan selain padamu.Ini memang akan mengganggumu.." lanjutnya masih tersedu dalam pelukan sahabat lelakinya itu.
"Lebih baik kau keringkan badanmu nanti kau sakit." Jenipun menggiring tubuh gadis itu yang masih memelukkannya ke ruangan walk in closernya.Kemudian melepas pelukannya dan membawa sebuah Handuk putih.Iapun langsung mengelap rambut gadis itu dengan handuk tanpa meminta ijin si pemiliknya dengan bibir yang masih terdiam.
"Bajumu basah.Mau tidak mau kau harus menggantinya dan ..."Jeni membawa sebuah kemeja putih panjang dan menyodorkannya pada Frisilia setelah rambut gadis itu dianggapnya sudah kering.
"Untuk sementara pakailah ini ! Sebelum orang suruhanku mengirimkan baju untukmu."
Frisiliapun meraih kemeja yang Jeni berikan tanpa satu katapun yang terucap dari bibirnya matanya masih memerah. Jenipun keluar ruangan itu dan kembali duduk ke tempat semula setelah mengganti pakaiannya yang ikut basah.Ia kembali menyaksikan air yang masih mengalir deras diluar.
Tak lama terdengar derap langkah ditelinganya iapun menoleh.Frisilia tampak bagai bidadari turun dari khayangan bercahaya dan sangat cantik,mulut Jeni dibuat terperangah melihatnya.Namun dengan cepat matanya ia lemparkan ke arah lain.Bagaimana bisa ia menatap seluruh tubuh Frisilia yang hanya memakai kemejanya dengan ujung kemeja hanya sampai atas lututnya.
Ini ujian terbesarku rasanya melebihi pertarungan di medan tempur dalam memperebutkan tander
Bodohnya aku yang tidak terpikirkan sama sekali untuk menyediakan pakaian wanita
padahal wanita ini akan sering berkunjung kerumah
Terdengar langkahnya semakin mendekati.Jeni menggenggam erat gelas wine yang baru saja ia isi.
"Apakah kau memperbolehkan ku untuk meminumnya.." Pintanya tiba-tiba sambil menoleh gelas yang Jeni genggam.
"Tidak..!'' Tolaknya tegas
"Baiklah.." Frisiliapun duduk dikursi bar tepat dipinggirnya dan dengan jelas terlirik bajunya semakin naik dan memperlihatkan pahanya yang putih mulus.
"Sejak kapan kau berubah menjadi wanita penggoda." Gumamnya sangat pelan sambil mendecih dan melempar pandangannya.
"Kau bilang apa barusan ..?"
"Ah tidak.." Jenipun berdiri untuk menstabilkan gemuruh dadanya yang tiba-tiba bergejolak dan memanas.Dia berharap rayuan kotor yang menggelayut difikirannya tidak menjerumuskannya dan pergi dari otaknya.
"Maafkan mungkin kedatanganku telah mengganggumu..." Ocehnya pelan
"Kau boleh kapan saja datang kemari.."
"Jeni bolehkah aku meminta seteguk minumanmu itu.Aku sangat tertekan sekali.Malam kemarin aku meminum salahsatu botol milikmu dan aku bisa tidur nyenyak sekali.Akupun berharap sekarangpun demikian?" Pintanya kembali dengan menampilkan wajah polosnya.
"Ini tidak baik bagi kesehatanmu.Dan kau berfikir untuk lari dari masalahmu dengan meminumnya itu bukan solusi yang terbaik.Ketika kau bangun masalahmu itu akan tetap ada."
"Lantas untuk apa kau sediakan botol-botol yang berjajar ini di bar kecilmu ini ? Apakah kaupun tidak jauh berbeda denganku menjadikannya sebagai pelarian ?" Ocehnya tak mau kalah.
"Kau memang gadis yang pandai memutar kata dan masih saja memiliki sifat keras kepala Frisilia ." omelnya penuh prustasi,namun dia memberikan gelas yang ia pegang.
"Kau boleh meminumnya hanya seteguk.."
Diapun menyodorkannya.Frisilia pun menerimanya dengan senang dengan sekali tegukan wine didalamnya habis seketika.
"Kau langsung menghabiskannya.Apakah kau tidak tau cara meminumnya." dengan kaget.
"ini untuk ke 2 x nya aku meminum minuman beralkohol,Jeni." Dengan jawaban yang polos.
Jenipun mengambil gelas dari genggamannya dan menyimpannya.Dia sengaja mengosongkannya karena tidak ingin gadis didepannya itu memintanya lagi.
"Jeni..bolehkan aku mengatakan sesuatu padamu ?"
"hmm katakanlah.."
Sunyi sesaat.Namun kemudian Frisilia menegakkan badannya dan memandang dengan dekat wajah lelaki itu.
"Aku menyayangimu..juga mencintaimu.." Tercetus dari bibirnya yang polos itu dengan manis.
Jlep sesaat hati lelaki itu tertusuk oleh panah yang membuatnya ingin melompat tinggi setelah mendengar ucapan dari mulut manis Frisilia.
"Kau hanya minum sedikit wine tapi membuat dirimu mabuk dan berkata omong kosong."
"Aku sadar dan aku tidak mabuk Jeni." Terangnya sambil tersenyum.
Jenipun terdiam sambil menatap balik mata gadis itu.
"Aku ingin mengatakannya sebelum aku tidak memiliki kesempatan untuk mengucapkannya padamu." Terangnya kembali.
Jeni hanya tersenyum mendengarnya.
"Apakah kau tidak mau menjawabnya ?'' Ucapnya kembali.
Jeni menundukan kepalanya sambil tersenyum.
"Menikahlah denganku Jeni.Dan bercintalah denganku malam ini." Tiba-tiba terlontar kata yang terucap dari bibir manisnya yang sama sekali tidak terpikirkan sedikitpun oleh lelaki itu.Dan membuat Jeni terperangah.
Bagaimana bisa gadis yang selama ini ia kenal begitu berani dengan lantang mengatakan hal itu.
"Apa yang kau katakan Frisilia ?"
"Kumohon bercintalah denganku..Jeni !" Bisiknya kembali mengulangi kata-katanya dengan pelan dan keluar begitu saja dari bibir mungilnya tanpa ragu sambil memandangnya penuh harap.
"Apakah kau tidak sedang mengigau ?" lelaki itupun berdiri menjauhi gadis itu.Bukan karena membencinya namun rasa tidak percayanya akan ungkapan yang diinginkan Frisilia.
"Aku fikir lebih baik aku menikah denganmu dibandingkan menikah dengan lelaki berengsek itu." Keluhnya dan terlihat bola bening mengalir di kedua pipinya.
Jenipun kembali memandang air hujan yang dari tadi tak kunjung berhenti turun.Sambil memutar otaknya untuk mencerna apa yang ia dapat dari mulut Frisilia.
"Ayahku memberikan pilihan bertunangan dengan Bily dan aku bisa bekerja denganmu.Tidak ada pilihan untukku.Hidupku cukup menyedihkan mengharapkan dekat dengan orang yang paling kusayangi namun harus menerima kenyataan untuk memilih menyerahkan diriku pada lelaki berengsek seperti Bily." Ocehnya dan kemudian dia menangis menunduk bertumpu pada lengannya diatas meja bar.
"Kau harus tahu lelaki macam apa dia.Dia menginginkanku,dia mengatakan padaku bahwa hanya aku wanita yang dia cintai dan berbeda tapi dia memiliki hubungan gelap dengan sekertarisnya itu.Kau pun tahu wanita macam apa yang berada disekelilingnya.Rasanya aku ingin mengubur diriku hidup-hidup." ocehnya kembali.
" Cukup ..." Dengan nada keras dan membuat Frisilia terdiam.
Mereka saling memandang.Entah apa yang akan Jeni jawab atas sebuah permintaan sahabat wanitanya itu.Tepatnya bukan sahabat namun wanita yang dianggapnya sebagai wanita yang layak mengisi hatinya lebih dari sekedar ikatan persahabatan.
Kita lihat saja nanti kelanjutannya..
Apakah Jeni akan memenuhi permintaan Frisilia ?
Apakah menolaknya ?
Jangan lupa like and votenya..
Akhirnya bertemu kembali Semangat frisilia..
lanjuttttttt thor
lanjutt thor
lanjut thor
ikutan nangis
lanjuttttt
tapi ceritanya bagus banget