Cerita ini berawal dari seorang gadis cantik bernama Tari yang sedang melakukan KKN disebuah desa terpencil dipinggir laut. Ia bertemu dengan seorang pemuda yang sedang terjebak di desa itu karena mengalami amnesia.
Mereka pun akhirnya menjalin sebuah hubungan karena merasa saling menyukai, bahkan hubungan mereka sudah melampaui batas sampai Tari bisa hamil anak dari pemuda itu.
Tapi saat pemuda itu ingin mempertanggung jawabkan perbuatannya, ia ditemukan oleh keluarganya yang ternyata adalah pemilik kerajaan bisnis di kota J.
Dan lebih mengejutkan lagi ternyata ia sudah bertunangan dan sebentar lagi akan menikah, ia terpaksa meminta kakaknya yang sekaligus pewaris utama perusahaan keluarganya untuk menikahi Tari yang saat ini mengandung anaknya.
Bagaimana kelanjutan ceritanya??? ikuti terus yah novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enni Chaka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kakak Ipar
Tari yang biasanya bangun lebih awal dari Zafran, hari ini justru keduluan oleh suaminya itu. Zafran memang sengaja bangun mendahului Tari karena tidak ingin kedapatan tidur didekat wanita tersebut. Ia tidak tahu bahwa ini semua sebenarnya adalah rencana licik dari wanita yang saat ini masih memeluk erat pinggangnya.
Sebelum beranjak dari tempat tidur, ia menatap lekat wajah cantik didepannya yang kini terlihat sendu.
"Wanita ini cukup menarik, pantas Zayn menyukainya. Tapi waktu itu kan Zayn sedang hilang ingatan. Kasihan sekali dirimu, Zayn pasti sudah melupakanmu sekarang karena ingatannya sudah kembali "
Zafran seolah berbisik pada dirinya sendiri seraya mengusap lembut rambut Tari. Tapi itu tidak berlangsung lama karena ia kemudian buru-buru beranjak dari sana sebelum Tari terbangun.
Padahal tanpa sepengetahuannya, Tari sebenarnya sudah terjaga sejak tadi. Ia cuma masih ingin berlama-lama memeluk suaminya hingga ia memutuskan untuk membiarkan Zafran turun lebih dulu dari tempat tidur.
"Kamu tidak perlu lagi mengasihaniku, mas. Karena sebentar lagi aku juga akan melupakan kenanganku bersamanya tanpa tersisa saat aku sudah berhasil membuatmu mencintaiku." bisik Tari seraya tersenyum penuh makna.
***
Pagi itu Zayn sudah terlihat rapi dengan setelan jas kantor yang dikenakannya. Ia melangkah dengan elegan keluar dari lift dan langsung menuju meja makan.
"Pagi, ma." sapa Zayn pada mama Elisa yang sudah lebih dulu berada disana.
"Pagi juga, sayang."
Mama Elisa menatap heran kearah putra bungsunya.
"Apa hari ini kamu ada acara?"
"Aku akan bergabung kembali di perusahaan, ma."
"Benarkah? Mama senang sekali mendengarnya, sayang. Apa kakakmu sudah tahu dengan keputusanmu ini?"
"Aku akan segera menghubunginya setelah kita sarapan, ma."
"Iya, sayang. Zafran juga pasti sangat senang mendengarnya.
"Oya, lalu bagaimana dengan rencana pernikahanmu?"
"Tidak ada perubahan dari rencana awal, ma. Minggu depan akan dilaksanakan akad pada pagi harinya dan resepsi dimalam hari."
"Mama berharap semuanya berjalan lancar, sayang. Kalau ada kendala, kamu harus ngasi tahu mama. Mama akan mengatasinya."
"Makasih, ma."
Seperti janji Zayn pada mama Elisa, ia langsung menghubungi Zafran setelah sarapan.
***
Tari sedang duduk didepan meja rias saat mendengar ponsel Zafran berdering. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh sudut kamar tapi tidak mendapati pria yang ia sebut manusia salju tersebut.
Entah kemana Zafran pergi sepagi itu, padahal ia sudah memutuskan tidak akan ke kantor hari ini.
Pada deringan pertama, Tari membiarkannya saja terus berbunyi. Barulah pada deringan kedua ia melangkah mendekati ponsel tersebut dan meraihnya diatas nakas.
Melihat nama si penelfon yang tertera dilayar ponsel, Tari jadi mengurungkan niatnya untuk menjawab panggilan itu. Tapi ternyata si penelfon mengulangi panggilannya untuk ketiga kalinya, membuat Tari jadi bimbang antara ingin menjawabnya atau tidak.
"Tapi bagaimana kalau ini penting, atau terjadi sesuatu pada mama Elisa? Zayn kan sudah berada di mansion saat ini."
Mengingat itu, Tari tidak berfikir dua kali lagi dan langsung menggeser tombol hijau.
"Halo..." ucapnya sedikit ketus.
"Halo, apa aku bisa bicara dengan kak Zafran?" tanya Zayn dari seberang telfon dengan nada sopan.
"Mas Zafran sedang keluar."
"Apa ini kakak iparku yang kata mama cantik itu?"
Zayn berusaha bercanda pada Tari yang ia anggap kakak iparnya. Sementara Tari sendiri tidak tahu harus bicara apa pada pria itu. Bersyukur ia bisa mengatur ritme nafasnya.
"Aku akan sampaikan pada mas Zafran saat ia kembali untuk menghubungimu balik." balasnya lalu memutuskan sambungan telfon.
Zayn yang masih ingin bicara dibuat bingung dengan sikap Tari.
"Kakak ipar kenapa yah? Kog dia sepertinya tidak senang bicara sama aku. Ia berbeda dengan apa yang diucapkan mama." ucapnya pada diri sendiri.
Tapi ia tidak mau terlalu ambil pusing. Ia hanya memajukan sedikit bibirnya dan mengangkat bahunya, kemudian keluar menuju garasi untuk mengambil mobil yang akan dipakainya ke kantor.
***
"Telfon dari siapa?"
Suara Zafran yang baru saja datang mengagetkan Tari.
"Dari Zayn, mas. Maaf aku terpaksa menjawab telfonnya karena sudah berdering beberapa kali." jawab Tari .
Dibagian hatinya kini sudah lebih banyak dihuni oleh pria dingin yang berada dihadapannya saat ini. Hingga hatinya sudah tidak bergetar lagi saat menyebut nama mantan kekasihnya.
"Zayn? Ada perlu apa dia menelfon sepagi ini?"
"Aku tidak bertanya apa-apa padanya, mas. Aku cuma bilang akan memberitahumu supaya menghubunginya balik saat kamu kembali."
"Kamu dari mana, mas?"
Zafran tidak menjawab pertanyaan Tari, ia hanya menyodorkan sebuah plastik berwarna putih pada wanita itu kemudian mengambil ponselnya dan berlalu dari hadapan Tari.
Tari langsung melihat isi dari plastik tersebut dan senyumnya kembali mengembang saat tahu ternyata isinya adalah susu ibu hamil. Ia memang lupa membawa susunya dari mansion karena kepergiannya yang terkesan buru-buru.
"Perhatianmu ini semakin membuatku ingin memenjarakan hatimu dihatiku, mas." ucapnya pelan yang tentu saja tidak terdengar oleh Zafran.
Karena Zafran sekarang sedang berdiri dibalkon sambil menghubungi ponsel Zayn.
"Ada apa, Zayn?"
"Kak Zafran dari mana?"
"Aku habis mencari sesuatu diluar."
"Apa kakak masih lama disana?"
"Aku akan kembali lusa."
"Apa kakak ipar ada didekatmu? Aku merasa dia kurang menyukaiku padahal kita kan belum pernah bertemu sama sekali."
"Itu hanya perasaanmu saja. Sekarang katakan ada apa kamu menelfonku pagi-pagi?"
"Aku akan kembali bergabung di perusahaan, kak. Dan aku mulai masuk hari ini."
"Selamat datang kembali, Zayn. Aku harap kamu dan Arya bisa bekerja sama dengan baik."
"Tentu, kak."
"Kalau tidak adalagi yang ingin kamu katakan, aku akan tutup telfonnya."
"Baiklah kalau begitu, kak. Have fun dengan kakak ipar dan jaga baik-baik calon ponakanku."
Deg...
Jantung Zafran seolah berhenti berdetak. Ia langsung memutus sambungan telfon.
"Harusnya kata-kata itu keluar dari mulutku, Zayn."
"Kata-kata apa itu, mas?"
Tari yang sejak tadi berdiri dipintu mendengar semua ucapan Zafran.
"Bukan apa-apa. Zayn hanya bilang akan kembali bekerja diperusahaan hari ini."
Tari tahu Zafran berbohong tapi ia tidak ingin mempermasalahkannya dan tidak ingin juga membahas tentang pembicaraannya dengan Zayn. Saat ini hatinya sedang bahagia menerima perhatian Zafran.
"Makasih, mas."
"Makasih untuk apa?"
"Kamu sudah membelikan aku susu ibu hamil."
"Aku tadi ke minimarket membeli alat cukur jadi aku sekalian aja membelikanmu juga karena ku lihat kamu semalam tidak minum susu."
"Tapi aku nggak liat alat cukur didalam plastik tadi, mas."
"I-itu kelupaan dimobil."
Tari tahu alat cukur itu tidak ada. Zafran hanya masih gengsi mengakui kepeduliannya pada Tari.
"Kita sebaiknya sarapan sekarang!" ucap Zafran mengalihkan.
Ia kemudian berjalan masuk kedalam cottage, disusul oleh Tari dibelakangnya.
💜 Jika memang wanita ini yang dikirim Tuhan untuk menemaniku menua nanti, tolong utuhkan keyakinanku.../ Zafran💜