• Buku ini memiliki 5 cerita ber-sekuel, kalian bisa membacanya dari awal agar lebih mengerti •
• Psycho Man
• My Girl
• Destiny Of Love
• Her Secret
• Possessive Brother
Dulu Eros pergi tanpa alasan dan meninggalkan luka padanya. Kini saat Adara sudah melupakan pria itu dan sebentar lagi akan menikah, Eros malah kembali dan memintanya untuk bersama. Luka dan kesakitan membuat Adara menolaknya, tapi pria itu malah berbuat hal gila yang membuat Adara semakin terluka.
Bagi yang suka cerita berkonflik berat genre hurt mari mampir, di sini hatimu akan di bolak-balik oleh kisah percintaan mereka. Selamat membaca, di tunggu juga dukungan dari kalian semua❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Puluh Delapan
Vote sebelum membaca 😘
.
.
"Pada kesempatan yang berbahagia ini, kiranya tiada kata-kata patut untuk kita ucapkan terlebih dahulu melainkan puji syukur yang sedalam-dalamnya atas rahmat dan karunia-Nya. Pembangunan kantor ini dapat terselesaikan dengan baik yang sebentar lagi akan diresmikan oleh yang terhormat bapak Alvaro Arga Naruna sebagai direktur utama kantor pusat. Dan kepada yang terhormat, kami mohon berkenan untuk meresmikan kantor ini."
Setelah perkataan mc itu diikuti oleh tepuk tangan meriah dari para tamu. Alvaro menaiki panggung kecil, acara ini dilaksanakan tepat didepan kantornya, dan tak menyangka akan semeriah ini.
"Selamat pagi semuanya! Saya Alvaro Arga Naruna tentu merasa bahagia dan terima kasih atas dukungan dan partisipasinya dari semua pihak, sehingga pembangunan kantor ini dapat terselesaikan dengan megah, sebagaimana yang kita saksikan bersama-sama. Mudah-mudahan dengan diresmikannya kantor ini, kerja kita menjadi lebih efektif, terpokus dan terarah, Amin."
Sekali lagi para tamu memberikan tepuk tangannya dan tak kalah meriah saat mendengar penyampaian Alvaro. Matahari yang tak terlalu panas, dengan angin yang sejuk seolah alam merestui peresmian kantornya ini. Selanjutnya acarapun berlanjut, dimana Alvaro menggunting pita sebagai tanda di bukanya kantor, berfoto dengan para klien dan bersalaman dengan para tamu.
"Terima kasih karena sudah datang."
"Sama-sama pak."
"Em hari ini kamu sangat cantik."
Adara tersenyum kecil lalu menunduk, Ia merasa gugup mendengar itu. Ia memang berdandan tapi make upnya juga tak terlalu tebal. Lalu pakaiannya seperti karyawan lain kok, kemeja putih dengan rok span diatas lutut berwarna kuning cerah.
"Terima kasih."
"Oh iya kamu akan saya tempatkan menjadi salah satu manajer di sini."
"Hah? Tapi-"
"Saya percayakan ini kepada kamu, lagi pula kamu wanita yang bagus dalam bekerja." Alvaro meminum sedikit winenya. "Nanti siang kita makan siang bersama."
"I-iya."
Hubungan kedunya memang masih agak canggung, terutama Adara yang terlihat belum terbiasa dengan Alvaro. Padahal Alvaro sendiri sudah seterbuka mungkin, melihatkan sikapnya pada Adara. Tidak apa, mungkin memang wanita itu butuh waktu untuk terbiasa dengannya.
Tanpa disadari dari kejauhan, pria itu menatap tajam kedua orang yang sedang mengobrol dan terkadang tertawa. Kepalan tangannya semakin mengerat dengan rahang yang bergemelutuk. Hatinya panas melihat wanita itu tersenyum dan terlihat dekat dengan pria lain.
Ingin sekali Eros berlari ke sana, memukul pria bernama Alvaro itu lalu menarik Adara untuk pergi bersamanya. Tapi itu tidak mungkin, bisa-bisa Ia disangka orang gila dan membuat acara orang lain kacau balau.
Dengan berat hati Eros berbalik, Ia masuk ke dalam mobilnya tapi belum melajukan kendarannya itu. Tatapannya tajam dengan pikiran tertuju pada wanita yang sangat Ia rindukan. Adaranya, akhirnya Eros melihat lagi wanita itu. Ada sedikit rasa bahagia setelah melihat Adara, tapi Ia juga tak suka karena wanita itu dekat dengan pria lain.
Brak!
Eros memukul kemudi mobil kencang, dadanya naik turun menahan amarah. Tadi Ia memang tak sengaja melewati jalanan ini, dan seperti orang linglung turun lalu melihat acara itu. Tapi ternyata keputusannya tepat, karena di sana ada Adaranya. Akhirnya hampir empat bulan mencari wanita itu, perjuangannya tak sia-sia juga.
"Aku tidak peduli dia siapa, yang pasti kau hanya milikku Adara, tidak akan aku biarkan kau bersama pria lain!" Desis Eros lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
***
"Lo kalau mabuk gue gak bakal ngurusin!"
Eros tak mempedulikan ucapan bernada ketus itu, Ia malah kembali menegak birnya cepat. Ia memang tidak lemah minum, baru akan mabuk bila sudah menghabiskan tiga botol bir.
"Menurut gue lo lebih baik lupain aja si Adara, lagi pula lo juga gak tahu dimana dia sekarangkan?"
"Gue udah ketemu dia."
"Beneran?"
"Hm."
Afif menuangkan lagi bir itu ke gelas Eros dan pria itu langsung meneguknya. Klub memang sepi, tentu saja karena hari masih siang. Lagi pula ini memang klub milik keluarganya, Ia bebas ke sini. Jangan lihat kerjaanya yang menjadi bartender, tak tahu saja kalau pria itu sangat kaya raya.
"Kapan lo ketemu dia? Bukannya seharusnya lo bahagia? Tapi sekarang malah minum kaya orang frustasi."
Eros menyimpan gelasnya keras di meja, pria itu menyandarkan tubuhnya di sofa, menatap langit-langit ruangan. Eros memang bahagia melihat lagi Adara, tapi hatinya sedih karena wanita itu tampak dekat dengan pria lain. Memang belum tahu apa hubungan mereka, tapi Ia bisa melihat tatapan penuh cinta dari Alvaro.
"Kayanya dia udah punya lagi pacar."
"Waw cepet juga mantan pacar lo move on."
"Tapi gue gak suka lihat dia sama pria lain!"
Afif menaikan salah satu alisnya. "Oh lo cemburu gitu? Tapikan kalian udah-"
"Gue gak akan lepasin dia, dia cuma milik gue!"
"Ck gila lo!"
"Hm gue kayanya emang udah gila karena Adara."
Hembusan nafas berat keluar dari bibir Afif, ya begitulah sifat Eros. Memang agak mengerikan, karena terlihat seperti seorang psycho. Tapi Afif juga harus mengerti pada sahabatnya, mungkin Eros sangat mencintai Adara.
"Lo tampan, masih banyak juga wanita cantik diluar sana."
"Gue cuma mau Adara!"
"Hh iya-iya, terserah lo deh!" Afif lalu teringat sesuatu, Ia menoleh menatap kembali Eros. "Oh iya lo dulukan pernah tunangan, terus gimana sama hubungan kalian?"
Mendengar itu membuat mood Eros semakin buruk, Ia paling tidak suka saat ada orang yang mengungkit statusnya dulu. "Ck kita udah gak ada hubungan apapun lagi!"
"Siapa mantan tunangan lo?"
"Melody!"
"Emangnya ada masalah apa sampai lo berpisah sama Melody? Terus kemana dia?"
Eros mendengus sebal lalu berdiri. "Gue gak tahu dan gak peduli, kalau lo tertarik sama dia kejar aja sana!" Ketusnya lalu meninggalkan Afif yang terbengong tak mengerti dengan sikap emosional sahabatnya.
Sekarang Eros ingin pulang ke apartemen, ada suatu hal yang ingin Ia lakukan. Apartemennya sendiri masih sama, tak berpindah. Ia juga semakin jarang berkunjung ke rumah, karena Eros lebih suka berdiam diri di apartemen. Walau terkadang Eros merindukan Mamanya, tapi rasanya sangat berat untuk ke sana.
Karena Adara hidupnya banyak berubah, Ia menjadi pria pendiam dan tak punya masa depan. Setiap hari minum-minum, dan pergi kemana-mana hanya untuk mencari Adara. Tak ada lagi seorang Eros yang berwibawa dan tegas, terbukti kalau Ia benar-benar terpuruk. Bahkan Eros tak peduli dengan rencananya untuk merebut kembali perusahaan dari Ilham, padahal waktu yang Haikal berikan semakin berkurang.
Eros menatap pantulannya dicermin, Ia membawa potong rambut elektrik lalu mulai mencukur rambutnya menjadi cepak. Sudah cukup Ia terpuruk dengan masa lalunya,sekarang Eros akan memulai semua itu dari awal. Tujuannya adalah mendapatkan kembali kebahagiaannya, semua yang menjadi miliknya dulu akan Ia rebut karena itu miliknya.
"Mari kita mulai permainan ini." Desisnya sambil tersenyum sinis.
enak aja ama perempuan..sini lawan emak2 jaman now pasti babak bunyak lo eros 😬😬😡😠