NovelToon NovelToon
Bolehkah Luna Memanggilnya Mama?

Bolehkah Luna Memanggilnya Mama?

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ranaraworld

Di mata dunia, Stellan Alistair Caelmont adalah CEO dingin yang tak tersentuh. Namun di balik kekuasaannya, Stellan terancam kehilangan Luna, putri kecilnya yang menjadi satu-satunya alasan ia bertahan hidup. sebuah ancaman dari masa lalu datang untuk merebut Luna dari pelukannya.

Kekuatan dan uang Stellan tak lagi cukup. Ia butuh sebuah keluarga utuh di mata hukum.

Hingga hadir Elara Vivienne Moreau, wanita hangat yang secara ajaib menjadi satu-satunya orang yang mampu meluluhkan benteng trauma Luna. Melihat itu, Stellan menawarkan sebuah kesepakatan gila: Pernikahan Kontrak.

Satu tahun. Hanya di atas kertas.

Elara menerima demi melindungi Luna, berjanji tak akan melibatkan perasaan pada pria sedingin Stellan. Namun, hidup di bawah satu atap perlahan membongkar rahasia kelam yang Stellan sembunyikan rapat-rahasia.

Saat ikatan palsu itu mulai terasa nyata, mampukah mereka bertahan ketika masa lalu menuntut pembalasan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranaraworld, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan Dua Pelindung

​BAB 28: PERTEMUAN DUA PELINDUNG

​Dada Elara bergemuruh hebat, napasnya tertahan saat mematikan panggilan telepon dari Om Bram. Rasa bersalah seketika membuncah menghimpit dadanya. Selama ini, Om Bram adalah sosok paman kandung yang paling menyayanginya, pengganti figur orang tua yang selalu memastikan keadaan Elara baik-baik saja dari luar kota. Dan kini, paman tercintanya itu berdiri tepat di luar gerbang utama mansion setelah mengemudi sendiri berjam-jam, menuntut penjelasan atas pernikahan mendadaknya yang mendadak viral di seluruh media.

​"Ada apa, Elara?" panggil Stellan lembut, melangkah mendekat dan merangkul bahu istrinya yang tampak menegang pucat.

​Elara mendongak, menatap Stellan dengan pendar mata yang cemas luar biasa. "Stellan... Om Bram. Om Bram mengendarai mobil sendiri dari luar kota dan sekarang ada di luar gerbang depan. Pengawal tidak mengizinkannya masuk sebelum dapat konfirmasi dari kita."

​Stellan mengernyitkan alisnya tipis, namun raut wajahnya tetap tenang dan sigap. Tanpa ragu, pria jangkung itu meraih tablet kontrol keamanan di dekat dinding foyer, lekas menekan tombol interkom ke pos pemeriksaan gerbang utama.

​"Julian," panggil Stellan tegas pada kepala pengawal. "Buka gerbang utama sekarang. Sambut pria di luar gerbang itu dengan sangat hormat dan antar mobilnya langsung ke pelataran utama. Beliau adalah paman kandung istri saya."

​"Baik, Tuan Stellan," sahut suara Julian dari seberang interkom.

​Sienna yang sedang duduk di karpet bersama Luna lekas berdiri, menatap kakak dan mbak iparnya dengan rasa ingin tahu. "Mbak Elara... itu paman Mbak yang tadi ditelepon?"

​Elara mengangguk pelan, memegangi jemarinya yang dingin. "Iya, Sienna. Om Bram itu pamanku satu-satunya. Dia tinggal di luar kota... karakternya sangat tegas, tegas sekali, dan sangat protektif padaku. Aku merasa bersalah sekali karena tidak memberitahunya saat kita menikah..."

​Stellan menangkup kedua telapak tangan Elara yang dingin dengan jemari besarnya yang hangat, menatap lurus ke dalam mata cokelat istrinya dengan pendar ketenangan mutlak.

​"Kamu tidak perlu takut, Elara," bisik Stellan rendah nan protektif. "Apapun pertanyaan atau kekecewaan beliau, itu adalah tanggung jawab saya sebagai suami kamu untuk menjawab dan meluruskan semuanya. Saya yang akan menghadapinya."

​Mendengar bisikan tenang suaminya, gejolak panik di dada Elara perlahan mereda, digantikan rasa aman yang melimpah.

​Sienna menyunggingkan senyum jahilnya, melangkah mendekati Elara. "Mbak tenang aja! Biar Sienna sama Luna di ruang keluarga. Aku juga mau lihat gimana Abangku yang biasanya bikin ciut nyawa ribuan karyawan, sekarang bakal kena sidak sama paman istrinya!"

​Stellan hanya melirik adiknya dengan pandangan datar, lalu menggandeng tangan Elara menuntunnya menuju ruang tamu utama yang megah.

​Suara derum mesin mobil SUV hitam terdengar berhenti di pelataran utama Mansion Caelmont. Tak lama kemudian, pintu jati ruang tamu yang tinggi terkuak lebar.

​Seorang pria paruh baya bertubuh tegap, berwajah tegas dengan garis rahang kokoh dan sedikit uban di pelipisnya melangkah masuk. Pria itu mengenakan kemeja batik bahan katun premium yang digulung sebatas siku, memancarkan wibawa seorang pengusaha daerah yang sukses, tegas, dan sangat disegani. Dialah Bramantyo Moreau, paman kandung Elara.

​Mata tajam Om Bram mengedarkan pandangan ke sekeliling ruang tamu yang begitu mewah dan megah, sebelum akhirnya terkunci tepat pada sosok Elara dan Stellan yang berdiri menyambutnya.

​"Om Bram!" panggil Elara dengan suara bergetar halus. Ia lekas melangkah maju menghampiri pamannya.

​Wajah garang Om Bram seketika melunak saat menatap keponakan tunggal kesayangannya. Pria paruh baya itu merengkuh Elara ke dalam pelukan hangat seorang paman, menepuk-nepuk punggung Elara dengan penuh rasa rindu dan keharuan.

​"Elara... anak nakal," bisik Om Bram dengan suara beratnya, melepaskan pelukan sembari menatap wajah Elara dari dekat untuk memastikan tidak ada raut penderitaan. "Bagaimana bisa kamu menikah dengan konglomerat papan atas tanpa ngasih tahu Om sama sekali?! Om keliling luar kota dengar berita kamu dari orang-orang, sampai Om sengaja nyetir sendiri ke sini buat memastikan kamu nggak kenapa-kenapa!"

​Elara menunduk penuh rasa bersalah, matanya berkaca-kaca. "Maafkan Elara, Om Bram... Sungguh, Elara minta maaf. Semuanya terjadi sangat cepat dan mendadak..."

​Sebelum Elara sempat melanjutkan permohonan maafnya, Stellan melangkah maju satu langkah. Pria tegap yang biasanya berdiri kaku dan berwibawa di hadapan para pejabat dan direktur perusahaan itu kini menundukkan kepalanya secara terhormat di hadapan Om Bram.

​"Selamat sore, Om Bram," sapa Stellan dengan suara berat yang amat sopan dan penuh rasa hormat. Pria es Caelmont Corp itu bahkan secara refleks mengulurkan kedua tangannya untuk berjabat tangan dengan gestur rendah hati, sebuah pemandangan langka yang belum pernah dilihat siapa pun di mansion ini. "Saya Stellan Alistair Caelmont. Suami dari Elara."

​Om Bram bergeming di tempatnya. Mata tajam paman Elara menatap Stellan dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan menilai yang sangat intens dan dingin. Sebagai seorang pengusaha yang sudah makan asam garam kehidupan, Om Bram paham betul betapa berkuasanya dinasti Caelmont.

​Om Bram tidak lekas membalas uluran tangan Stellan. Pria paruh baya itu justru menyilangkan kedua tangannya di dada, menatap Stellan lurus-lurus dengan nada suara yang tegas dan berwibawa.

​"Tuan Caelmont," panggil Om Bram dingin. "Saya tidak peduli seberapa kaya atau seberapa berkuasanya imperium bisnis Anda di negara ini. Bagi saya, Elara adalah putri kandung saya sendiri setelah almarhum ayahnya tiada. Dia adalah satu-satunya keponakan yang saya jaga dengan mempertaruhkan kehormatan keluarga kami."

​Atmosfer ruang tamu seketika terasa tegang. Elara menahan napasnya, memegangi gaun rumahnya dengan cemas, khawatir Stellan akan merasa tersinggung oleh gertakan pamannya.

​Namun, Stellan sama sekali tidak menampakkan raut marah atau kaku. Sebaliknya, sang CEO justru semakin menundukkan kepala dan pundaknya, menerima gertakan Om Bram dengan rasa hormat mutlak seorang junior kepada pelindung utama istrinya.

​"Saya sangat memahami hal itu, Om Bram," sahut Stellan jujur, iris mata gelapnya memancarkan ketulusan yang tak tergoyahkan. "Dan Anda sangat berhak untuk marah kepada saya. Pernikahan kami yang diadakan secara tertutup dan serba cepat adalah murni keputusan dan tanggung jawab saya. Saya yang meminta Elara untuk mendampingi hidup saya dan menjadi ibu bagi putri saya."

​Om Bram mengernyitkan alisnya, menatap raut wajah Stellan yang sama sekali tidak menunjukkan kebohongan atau kesombongan khas anak konglomerat.

​"Silakan duduk dulu, Om," ajak Stellan amat santun, menarikkan satu kursi sofa empuk untuk paman istrinya. "Biarkan saya menjelaskan semuanya secara jujur kepada Anda."

​Om Bram akhirnya menghela napas panjang, mencairkan sedikit ketegangannya lalu duduk di sofa. Elara duduk di samping pamannya, sementara Stellan duduk di sofa seberang dengan postur tubuh yang tegap namun sangat rendah hati, benar-benar dibuat "mati kutu" dan patuh di hadapan wibawa sang paman.

​Stellan menceritakan kondisi trauma awal Luna, sengketa hak asuh yang sedang berlangsung di pengadilan, hingga bagaimana kehadiran Elara bukan sekadar atas dasar perjanjian awal, melainkan telah menjadi belahan jiwa dan kebahagiaan sejati bagi dirinya dan putrinya.

​"Saya mencintai Elara, Om Bram," tegas Stellan dengan nada suara yang dalam dan mantap. "Pernikahan ini mungkin bermula dengan cara yang serba cepat, tetapi rasa hormat, perlindungan, dan kasih sayang saya untuk Elara adalah mutlak. Saya mempertaruhkan seluruh nama besar Caelmont untuk memastikan Elara diratukan dan dilindungi di rumah ini."

​Om Bram menatap Stellan dalam-dalam, mendengarkan setiap kalimat yang keluar dari mulut pria dingin itu. Pengalaman hidup Om Bram membuktikannya: tatapan mata Stellan tidak bohong. Ada pendar cinta dan rasa takut kehilangan yang amat jujur di dalam iris mata sang CEO saat membicarakan Elara.

​Keheningan melingkupi ruang tamu sejenak, sebelum akhirnya Om Bram menghembuskan napas lega yang panjang. Wajah garang sang paman perlahan mencair, digantikan oleh senyuman tipis nan hangat.

​Om Bram mengulurkan tangannya ke arah Stellan. "Terima kasih, Stellan. Hanya itu yang ingin saya dengar dari mulut seorang pria yang berani mengambil keponakan saya."

​Stellan lekas menyambut uluran tangan Om Bram, menjabatnya dengan erat dan penuh rasa hormat. "Terima kasih atas kepatuhan dan kepercayaannya, Om Bram."

​Elara mengusap air mata kebahagiaan di pipinya, menyunggingkan senyum paling lega. "Terima kasih, Om..."

​Sementara di ruang keluarga yang tak jauh dari sana, suasana sama sekali tidak tegang.

​Sienna duduk bersimpuh di atas karpet bersama Luna. Mahasiswi kedokteran itu sedang asyik membantu Luna mengoleskan cat air di atas kertas gambar. Keduanya tampak begitu akrab dan hangat.

​Sienna menunjuk lukisan bunga yang dibuat Luna. "Wah, ini warna ungu nya cantik banget! Luna mau tambahkan daun hijau di sini?"

​Luna menatap Sienna dengan mata bulatnya yang jernih, lalu mengangguk pelan. Jemari mungilnya mengambil kuas, mencelupkannya ke warna hijau, lalu menggoreskannya di kertas.

​Sembari melukis, Luna sesekali melirik ke arah ruang tamu tempat Papanya dan Om Bram berbicara. Bocah kecil itu memegang lengan baju Sienna, lalu membisikkan kata dengan sangat polos:

​"...Ta... takut..."

​Sienna terkekeh halus, membelai rambut halus keponakannya dengan lembut. "Nggak usah takut, Sayang. Itu Om Bram, pamannya Mama Elara. Om-nya cuma mau berkenalan sama Papa."

​Luna mengedipkan matanya, lalu kembali membisikkan kata lain sembari menunjuk cat airnya:

​"...Cat... u... ngu..."

​Sienna membelalak gembira mendengarnya! "Cat ungu!" 

​"Iya! Ini cat ungu!" puji Sienna berbisik gembira, mendaratkan kecupan gemas di pipi empuk Luna. Luna terkekeh riang tanpa suara, menyandarkan kepala kecilnya di bahu Sienna, sebuah kepasrahan emosional yang memperlihatkan betapa Luna telah menerima Onty-nya secara utuh.

​Tak lama kemudian, Stellan, Elara, dan Om Bram melangkah masuk ke ruang keluarga.

​Om Bram menghentikan langkahnya saat melihat sosok gadis kecil cantik berpiyama bintang yang sedang melukis bersama Sienna di atas karpet. Raut wajah garang pengusaha daerah itu seketika meleleh seutuhnya menjadi tatapan seorang kakek/paman yang penyayang.

​"Ini... putri kalian?" tanya Om Bram dengan suara yang amat lembut.

​Elara tersenyum manis, menghampiri Luna dan berlutut di sisinya. "Iya, Om. Ini Seluna... Putri Kecil kami."

​Elara memegang pelan bahu Luna, berbisik halus di dekat telinganya. "Luna Sayang... ini Om Bram, pamannya Mama dari luar kota. Om Bram sayang sekali sama Mama dan Luna."

“Eh harus nya bukan Om ya panggilan nya, Luna panggilan Opa ya” Elara terkekeh sendiri yang membuat Om Bram menerima pasrah.

​Luna menatap Om Bram dengan mata bulatnya. Mengikuti instruksi teknik keamanan dari Elara sebelumnya, Om Bram tidak berteriak atau membuat gerakan mendadak. Pria paruh baya itu hanya berlutut perlahan, menyunggingkan senyum hangat yang sangat mirip dengan almarhum ayah Elara.

​Luna memandangi wajah Om Bram sejenak, mendapati energi kehangatan keluarga yang sama seperti yang dipancarkan Elara. Bocah kecil itu melepaskan kuasnya, meraih sebuah gambar bunga matahari berwarna kuning yang baru saja selesainya dibuat, lalu mengulurkannya ke arah Om Bram.

​Bibir kecil Luna bergerak pelan, mengeluarkan suara bisikan yang jernih dan manis:

​"...Bu...at... Opa..."

​Deg.

​Om Bram membelalak kaget! Air mata keharuan seketika merebak di sudut mata pria tegas itu. Om Bram menerima kertas gambar itu dengan tangan yang bergetar pelan, tersentuh oleh kepolosan dan kebaikan putri kecil keponakannya.

​"Terima kasih... terima kasih banyak, Luna Cantik," bisik Om Bram terharu, mengelus lembut rambut Luna.

​Om Bram bangkit berdiri, berpaling menatap Stellan dan Elara yang berdiri berdampingan dengan tangan yang saling bertaut erat. Sang paman menganggukkan kepalanya penuh rasa bangga dan lega yang sempurna.

​"Stellan... Elara," ujar Om Bram dengan suara berat nan hangat. "Om lega sekali melihat kalian. Rumah ini... keluarga ini... benar-benar penuh dengan berkah dan kehangatan. Om merestui pernikahan kalian sepenuhnya."

​Stellan merangkul pinggang Elara makin rapat, menyunggingkan senyum tampannya yang sarat akan rasa syukur. Di dalam Mansion Caelmont yang kini dipenuhi restu keluarga, suara tawa Luna, dan kehangatan Sienna, Elara tahu bahwa badai keraguan telah berlalu, menyisakan sebuah pondasi keluarga sejati yang tak akan pernah bisa digoyahkan oleh apa pun.

1
Rian Moontero
mampiiirr👍
Mei TResna Rahmatika
akhirnya up kak😍
Mei TResna Rahmatika
lanjut kak,baguss ceritanya 😍
Ranaraworld: makasih kak, tungguin terus ya kelanjutan nyaa
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
bab 1 udah menarik kak,lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!