NovelToon NovelToon
Married To Captain Ren

Married To Captain Ren

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Taraline

Aku dijodohkan dengan seorang kapten tentara. Masalahnya, pria itu terlihat lebih cocok menikah dengan jadwal tugasnya daripada denganku.

Mohon dimaafkan apabila ada kesalahan dalam penulisan 🙏 Selamat membaca 😘

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Taraline, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Dua puluh empat jam.

Bagi sebagian orang, waktu itu mungkin hanya berlalu layaknya pergantian siang dan malam biasa. Namun bagi Cia, dua puluh empat jam setelah ultimatum Mayor Ren Adhyaksa kepada ayah kandungnya sendiri terasa seperti berjalan di atas hamparan pecahan kaca.

Setiap kali ponselnya bergetar, jantung Cia serasa melompat ke tenggorokan. Ia takut jika yang masuk adalah notifikasi tiket pesawat elektronik dari ajudan Jenderal Arman, yang berarti karier impiannya harus direnggut paksa, sekaligus karier suaminya akan hancur karena memenuhi janji untuk melepas seragam.

Pukul 14.00 WIT. Waktu Indonesia Timur. Tenggat waktu itu telah habis.

Di ruang poli umum Puskesmas DTP Merauke, Cia baru saja selesai meresepkan obat untuk seorang ibu hamil. Ia tersenyum ramah, menyerahkan kertas resep itu, lalu menghela napas panjang saat pasien tersebut keluar ruangan.

Gadis itu menoleh ke sudut ruangan.

Ren masih duduk di sana, dengan postur yang sama tegapnya seperti empat jam yang lalu. Pria itu sedang membaca sebuah buku bersampul kulit gelap, tampak sama sekali tidak terpengaruh oleh berlalunya tenggat waktu yang ia berikan pada Mabes TNI. Wajahnya datar, napasnya teratur, dan auranya setenang permukaan danau.

"Mas," panggil Cia dengan suara pelan, separuh berbisik agar tidak terdengar ke ruang tunggu. "Udah jam dua siang. Belum ada kabar dari Jakarta?"

Ren perlahan menutup bukunya. Ia melirik jam tangan taktis di pergelangan tangan kirinya, lalu menatap Cia. "Belum."

"Terus gimana?" Cia menggigit bibir bawahnya, mulai panik. "Kalau Papa benar-benar nggak narik surat itu gimana? Mas, aku mohon, jangan nekat wujudin ancamanmu kemarin. Seragam itu hidupmu. Kamu nggak boleh—"

Ucapan Cia terhenti saat suara derap langkah sepatu bot yang sangat cepat dan berat terdengar menyusuri lorong Puskesmas.

Prada Sigit muncul di ambang pintu ruang poli dengan napas tersengal. Prajurit muda itu menenteng koper perangkat komunikasi satelit berwarna hijau gelap. Ia langsung mengambil sikap sempurna dan memberi hormat.

"Lapor, Mayor! Panggilan masuk dari saluran terenkripsi Mabes TNI. Kode otorisasi Jenderal Arman," lapor Prada Sigit lantang.

Jantung Cia berdegup sangat kencang hingga telinganya berdenging.

Ren berdiri dengan tenang. Ia tidak terburu-buru. Pria itu mengancingkan jas PDH-nya yang sempat ia biarkan terbuka, lalu melangkah mendekati Prada Sigit. Ia menerima handset telepon satelit itu dan menekan tombol hijau.

"Adhyaksa di sini," ucap Ren dingin dan formal.

Cia menahan napas. Ia menatap wajah suaminya, mencari perubahan ekspresi apa pun yang bisa memberinya petunjuk. Namun Ren adalah ahli taktik intelijen. Wajahnya adalah brankas baja yang tak bisa ditembus.

Hening selama beberapa saat. Hanya terdengar suara Ren yang sesekali merespons dengan, "Siap," dan "Mengerti."

Lalu, tiba-tiba, Ren mengulurkan handset besar itu ke arah Cia.

Cia membelalakkan mata. Ia menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuk yang bergetar. "B-buat aku?" isaknya tanpa suara.

Ren mengangguk pelan. "Jenderal Arman ingin bicara denganmu."

Dengan tangan sedingin es, Cia menerima telepon satelit itu dan menempelkannya perlahan ke telinga. "H-halo? Siap... Jenderal... eh, Pa?"

Terdengar helaan napas panjang yang sarat akan kelelahan dari seberang pulau sana.

"Almeera," suara Jenderal Arman terdengar berat, namun tak lagi memancarkan amarah seperti kemarin. "Apakah punggungmu sudah benar-benar pulih?"

"S-sudah, Pa. Saya sudah bisa bertugas normal," jawab Cia gugup.

"Baguslah." Jenderal Arman terdiam sejenak, diiringi suara gemerisik kertas di latar belakang. "Surat penarikan kembali dari Kementerian Kesehatan sudah diproses pagi ini. Pembatalan penempatanmu dicabut. Kamu akan tetap bertugas di Merauke hingga program internsipmu selesai."

Lutut Cia serasa kehilangan tulangnya. Sebuah beban raksasa yang sejak kemarin menekan dadanya, hancur berkeping-keping. "B-benarkah, Pa? Terima kasih... terima kasih banyak, Pa."

"Jangan berterima kasih padaku," potong sang Jenderal cepat, nada suaranya berubah menjadi lebih lembut, memancarkan wibawa seorang ayah. "Berterima kasihlah pada suamimu. Dan buktikan padaku, Almeera. Buktikan bahwa pengorbanan suamimu yang berani mempertaruhkan segalanya untuk menentang institusi demi dirimu, tidak sia-sia. Lakukan tugasmu dengan baik, dan pulanglah dengan selamat. Jangan permalukan nama Adhyaksa."

Air mata haru menetes di pipi Cia. Ia menatap lurus ke arah Ren yang berdiri menjulang di depannya dengan sorot mata melindungi.

"Siap, Pa. Saya janji," ucap Cia mantap.

"Kembalikan teleponnya pada Ren."

Cia menyerahkan handset itu kembali. Ren menerimanya, lalu mendengarkan kalimat terakhir dari ayahnya sebelum menutup panggilan tersebut dengan sebuah ucapan, "Terima kasih, Pa."

Begitu Prada Sigit pamit undur diri dan membawa koper komunikasi itu keluar, Cia tidak bisa lagi menahan diri. Ia menabrakkan tubuhnya ke dada Ren, memeluk pria itu erat-erat. Jas putihnya kusut bergesekan dengan kemeja loreng sang Mayor.

"Mas... makasih. Makasih banyak," isak Cia pelan di dada suaminya.

Ren membalas pelukan itu, melingkarkan lengannya di pinggang Cia dan mencium puncak kepala gadis itu. Tembok ketegangannya akhirnya runtuh sepenuhnya. Ia berhasil. Ia berhasil mempertahankan mimpi gadis ini.

"Sudah saya bilang, beliau akan mundur," bisik Ren menenangkan. "Sekarang, berhentilah menangis sebelum pasien di luar mengira saya sedang menyiksa dokternya."

Cia tertawa di sela tangisnya, memukul pelan dada Ren.

Tiga hari kemudian, operasi penanggulangan bencana gabungan resmi dinyatakan selesai. Cuaca di Merauke mulai bersahabat, dan air bah di distrik-distrik pedalaman telah surut sepenuhnya.

Mayor Ren Adhyaksa secara resmi menyerahkan tongkat komando satgas kepada perwira pengganti. Dan tepat di hari yang sama, cuti tahunan selama tiga minggu yang ia ajukan resmi dimulai. Pria itu tidak perlu lagi mengenakan seragam PDL atau PDH setiap pagi.

Pagi itu, di rumah transit perwira, Cia sedang sibuk memasukkan beberapa ampul obat nyamuk endemis, parasetamol, dan antibiotik ke dalam ransel medisnya. Ia mengenakan celana lapangan berbahan ripstop hijau army dan kaus lengan panjang berwarna hitam. Rambutnya dikepang dua agar ringkas.

Ren keluar dari kamar dengan secangkir kopi hitam di tangannya. Ia mengenakan kaus oblong putih dan celana training abu-abu. Pria itu bersandar di ambang pintu dapur, menatap aktivitas istrinya.

"Seingat saya, jadwal jagamu hari ini libur, Almeera. Mau ke mana dengan perlengkapan tempur itu?" tanya Ren, menyesap kopinya perlahan.

Cia menoleh, menyunggingkan senyum semangat. "Dr. Rian baru aja ngabarin. Ada satu desa terpencil di Distrik Sota, dekat perbatasan PNG, yang akses jembatannya putus akibat banjir kemarin. Puskesmas harus ngirim tim ekspedisi medis ke sana pakai perahu ketinting menyusuri sungai, karena kabarnya ada lonjakan kasus malaria parah di desa itu."

Gerakan tangan Ren yang sedang memegang cangkir terhenti seketika. "Menyusuri sungai? Ke desa terpencil dekat perbatasan?"

"Iya, Mas. Cuma tiga hari kok, nginap di balai desa sana. Tenang aja," jawab Cia enteng, kembali sibuk memasukkan stetoskopnya.

"Tidak."

Satu kata yang diucapkan dengan nada bariton mutlak itu membuat Cia menghentikan aktivitasnya. Ia mendesah pelan, sudah memprediksi reaksi ini.

"Mas, ini tugasku. Desa itu butuh dokter, dan dr. Rian nggak bisa berangkat karena dia lagi standby di IGD Puskesmas pusat," Cia berjalan mendekati suaminya, meraih lengan kiri pria itu dengan lembut. "Aku udah janji sama Jenderal Arman buat buktiin pengabdianku, kan? Aku nggak mungkin mundur tiap kali ada tugas lapangan."

Ren menatap Cia dengan pandangan yang sangat tajam. "Kamu baru saja sembuh dari memar di punggungmu, Cia. Medan di dekat perbatasan bukan tempat bermain. Risiko malaria, binatang buas, hingga kelompok bersenjata yang melintas batas itu nyata. Saya tidak akan membiarkanmu pergi sendirian bersama tim medis sipil yang tidak terlatih dalam jungle survival."

"Mas, relawannya udah ada yang biasa ke sana kok. Lagian..." Cia menggantung kalimatnya, menatap Ren dengan raut menantang yang dipenuhi kilat kenakalan. "Siapa bilang aku berangkat cuma sama tim sipil?"

Ren mengerutkan kening. "Maksudmu?"

Cia berjinjit, membisikkan sesuatu dengan nada menggoda tepat di telinga suaminya. "Kan aku punya Mayor Pasukan Khusus yang lagi cuti tiga minggu dan pengangguran di rumah transit ini. Gimana kalau... kamu alih profesi sebentar jadi bodyguard ekspedisi medis?"

Ren mematung. Otaknya mencerna tawaran konyol namun masuk akal dari istrinya. Sebagai komandan yang sedang cuti, ia bebas bergerak ke mana pun, dan mendampingi istrinya ke pedalaman bukanlah sebuah pelanggaran. Terlebih, dengan kemampuannya, ia bisa menjamin keselamatan tim medis tersebut seratus persen.

Mata elang Ren perlahan meredup dari ketegangan, digantikan oleh kilat geli yang jarang ia tunjukkan. Pria itu meletakkan cangkir kopinya di atas meja makan, lalu dengan satu gerakan cepat, ia melingkarkan lengannya di pinggang Cia, mengangkat tubuh gadis itu dan mendudukkannya di atas meja pantry.

"Kamu berani mempekerjakan seorang Mayor sebagai pengawal pribadimu, Dokter Almeera?" bisik Ren, mengurung tubuh Cia di antara kedua lengannya yang bertumpu pada pinggiran meja. Wajahnya sangat dekat, napas kopinya menyapu hidung Cia. "Bayarannya sangat mahal."

Cia menelan ludah, pipinya memanas seketika. "B-berani. K-kamu mau dibayar pakai apa? Gaji internsip-ku belum turun lho bulan ini."

Ren menyunggingkan seringai tipis yang luar biasa mematikan. Pria itu mencondongkan wajahnya, mencium sudut bibir Cia dengan sangat pelan, sengaja memancing detak jantung istrinya hingga berpacu gila-gilaan.

"Saya tidak butuh uangmu," bisik Ren dengan suara serak yang membuat bulu roma Cia berdiri. "Tunggu saya bersiap lima belas menit. Siapkan satu ransel tambahan untuk perlengkapan survival saya. Kita berangkat."

Siang itu, dermaga kecil di tepian Sungai Kumbe tampak riuh. Sebuah perahu kayu bermotor atau perahu ketinting berukuran sedang sedang dimuati oleh beberapa kotak logistik medis. Dr. Rian dan dua perawat lokal berdiri di tepi dermaga, menunggu kedatangan Cia.

"Itu Dokter Cia!" seru salah satu perawat sambil menunjuk ke arah jalan setapak yang menurun menuju dermaga.

Namun, senyum dr. Rian seketika luntur saat melihat siapa yang berjalan tepat di belakang Cia.

Mayor Ren Adhyaksa melangkah dengan tegap, mengenakan kaus taktis lengan panjang berwarna hijau lumut, celana cargo hitam, dan sepatu laras lapangan. Sebuah ransel carrier berukuran empat puluh liter bertengger nyaman di punggungnya, dan sebuah kacamata hitam aviator menutupi mata elangnya. Auranya begitu mendominasi, seolah ia akan pergi memimpin operasi penyergapan alih-alih bakti sosial.

"S-selamat siang, Mayor," sapa dr. Rian gugup saat Ren dan Cia tiba di dermaga.

Ren membuka kacamata hitamnya, mengangguk singkat. "Siang, Dokter. Saya akan mendampingi tim ini sebagai penasihat keamanan dan logistik selama perjalanan. Anggap saya sebagai bagian dari tim relawan."

Rian menelan ludah. Menganggap Mayor Pasukan Khusus sebagai relawan biasa? Yang benar saja, batinnya meratap. Namun ia buru-buru mengangguk. "S-siap, Mayor! Suatu kehormatan bagi kami."

Perjalanan menyusuri sungai memakan waktu hampir tiga jam. Hutan rawa yang lebat mengapit kiri dan kanan sungai. Cia duduk di bagian tengah perahu, menikmati embusan angin yang menerpa wajahnya. Di belakangnya, Ren duduk bersila dengan waspada, matanya terus memindai tajuk pepohonan dan kedalaman air dengan insting militer yang tak pernah tidur.

Sesekali, saat perahu berguncang karena arus yang deras, tangan besar Ren akan secara otomatis meraih lengan atau pinggang Cia, memastikan gadis itu tidak terpelanting ke luar perahu. Sentuhan-sentuhan protektif tanpa kata itu membuat Cia merasa seperti wanita paling aman di seluruh Papua.

Menjelang sore, perahu akhirnya merapat di dermaga kayu reyot Desa Sota.

Warga desa, yang mayoritas merupakan suku pedalaman, menyambut mereka dengan antusias namun berhati-hati. Kepala Suku berjalan mendekat, menyalami dr. Rian dan Cia. Namun tatapan Kepala Suku itu terpaku pada Ren yang berdiri menjulang di belakang tim medis dengan postur siaga.

Bagi masyarakat lokal yang pernah mengalami konflik, kehadiran pria dengan aura militer yang kental sering kali menimbulkan kecurigaan.

Kepala Suku berbicara dalam bahasa lokal yang kental, menunjuk ke arah Ren dengan nada bertanya.

Dr. Rian yang sudah lama bertugas di sana mencoba menerjemahkan dengan terbata-bata. "Bapak Kepala Suku tanya... apakah Bapak ini tentara yang mau razia kampung?"

Cia langsung maju selangkah, tersenyum ramah. "Bukan, Bapak. Ini suami saya. Dia ikut buat bantu angkat-angkat obat dan jaga kami."

Kepala Suku menatap Ren dari atas ke bawah. Ia lalu tertawa terbahak-bahak, menepuk bahu Ren yang keras seperti beton. "Suami Dokter hebat! Badan besar, cocok buat angkat kayu bakar nanti malam di balai desa!"

Cia menahan napas, takut Ren akan tersinggung karena disamakan dengan kuli panggul kayu.

Namun di luar dugaan, Ren justru menyunggingkan senyum tipis. Pria itu menganggukkan kepalanya dengan sopan, lalu menjawab dengan suara baritonnya yang tenang. "Siap, Bapak. Nanti malam saya yang akan siapkan kayu bakar untuk perapian desa."

Rian dan para perawat saling pandang dengan mulut terbuka lebar. Seorang Mayor dengan medali keberanian, setuju untuk mencari kayu bakar di pedalaman?

Malam harinya, di balai desa yang terbuat dari papan kayu dan beratap daun sagu, tim medis bekerja keras melayani puluhan warga yang mengantre. Kasus malaria memang sedang tinggi. Cia dengan cekatan memeriksa pasien, mengambil sampel darah, dan meresepkan obat.

Sementara itu, di halaman luar balai desa, Ren menepati janjinya. Pria itu melepaskan kaus taktisnya yang basah oleh keringat, memamerkan otot-otot dada dan perutnya yang terbentuk sempurna serta punggungnya yang dipenuhi bekas luka pertempuran. Dengan menggunakan kapak pinjaman warga, Ren membelah kayu-kayu gelondongan besar dengan sangat mudah, gerakannya seirama dan mematikan.

Beberapa pemuda desa yang awalnya segan, perlahan mendekat dan ikut membantu Ren, terpesona oleh kekuatan fisik dan efisiensi kerja pria itu. Dalam waktu singkat, Ren berhasil merebut hati warga lokal dengan caranya sendiri—tanpa banyak bicara, hanya melalui tindakan nyata.

Saat jeda istirahat, Cia melangkah keluar balai desa sambil membawa segelas teh hangat. Ia tersenyum geli melihat suaminya yang sedang duduk di batang kayu yang sudah dibelah, dikelilingi oleh bapak-bapak lokal yang memberinya rokok linting (meski Ren menolaknya dengan halus).

"Kerja bagus, Bodyguard," sapa Cia, menyodorkan teh itu pada Ren.

Ren menerima gelas itu, menyesapnya pelan. Keringat membasahi kulit tubuhnya yang kecokelatan akibat paparan matahari. Pria itu mendongak menatap istrinya, lalu menarik tangan Cia hingga gadis itu duduk di sebelahnya di atas batang kayu.

"Desa ini aman. Tidak ada aktivitas mencurigakan dari perbatasan," lapor Ren pelan, insting komandannya tetap menyala. "Tapi cuaca malam ini akan sangat dingin. Pastikan kamu memakai jaketmu saat tidur di dalam balai."

Cia menyandarkan kepalanya ke bahu Ren yang berkeringat, sama sekali tidak peduli dengan bau matahari di tubuh suaminya.

"Aku nggak butuh jaket kalau ada kamu," bisik Cia jahil, mengeratkan pelukannya pada lengan kekar Ren.

Ren menoleh, menatap gadis itu di bawah cahaya api unggun yang mulai menyala terang. Senyum di bibir sang Mayor merekah sempurna, tak lagi tertahan. Pria itu mengecup puncak kepala Cia, membiarkan dunia militer dan dunia medis mereka kembali melebur tanpa batas di bawah kanopi bintang perbatasan timur.

1
NonaAns
Wakakak ngebanyangin ekspresinya 🤣
sri wahyuni
smngat thor
sri wahyuni
/Scowl//Scowl//Scowl/
sri wahyuni
lanjut thor
sri wahyuni
😍😍😍
sri wahyuni
smngat thor
Enz99
Bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!