NovelToon NovelToon
Rahasia Sang Mamba Hitam

Rahasia Sang Mamba Hitam

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas / Putri asli/palsu / Chicklit
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Joko Joko

Ayla Prameswari, instruktur latihan keras dengan nama sandi Mamba di Pulau Seraya, terpaksa kembali ke Jakarta setelah sinyal misterius Berkas 531 muncul dekat keluarga kandungnya. Di rumah mewah Prameswari, ia berhadapan dengan orang tua yang lebih menyayangi Alina, anak angkat yang pandai bersandiwara lembut. Ternyata yayasan amal keluarga menyembunyikan jalur obat eksperimen ilegal berdarah. Saat Ayla menyelidiki, Arga Wiratama, penyidik khusus yang pernah ia tembak tiga tahun lalu, datang menawarkan kerja sama. Antara dendam masa lalu, rahasia keluarga, dan kasus mematikan—siapa yang sebenarnya bersembunyi di balik topeng baik hati?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joko Joko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

Bab 28 - Foto yang Hampir Viral

Rumah Prameswari penuh orang saat Ayla tiba.

Pengacara keluarga. Tim keamanan Arga. Asisten Marwan. Manajer Reno. Dua orang dari tim media Maya. Semua bergerak dengan wajah tegang, membawa laptop, ponsel, dan kopi yang sudah dingin.

Ratna duduk di ruang tengah sambil memegang tablet.

Di layar tablet itu ada foto buram seorang anak kecil di laboratorium.

Foto yang sama dari file 531-MB.

Ratna menangis tanpa suara.

Ketika Ayla masuk, Ratna berdiri terlalu cepat sampai hampir jatuh. Reno menahannya.

“Ayla.”

Ayla berhenti di ambang ruang.

Dia belum mandi. Rambutnya sedikit berantakan. Matanya merah karena gas dan kurang tidur. Jaketnya berbau debu gedung tua.

Untuk pertama kalinya, Ratna tidak menegur penampilannya.

“Itu kamu?” tanya Ratna.

Ruang itu langsung diam.

Ayla melihat foto di tablet.

“Belum tahu.”

Ratna menutup mulut. “Apa maksudnya belum tahu?”

Maya masuk dari belakang, menjawab sebelum Ayla. “Fotonya belum cukup jelas. Bisa Ayla, bisa anak lain yang mirip, bisa file yang sengaja dimanipulasi.”

Ratna menatap Maya seperti baru menyadari dia ada. “Tapi kalau itu Ayla...”

Suaranya patah.

Marwan berdiri di samping jendela, wajahnya abu-abu. “Selama ini kami mengira dia hidup liar di luar negeri.”

Ayla menatap ayahnya. “Aku memang hidup liar.”

“Bukan itu maksud Papa.”

Kata Papa keluar terlambat dan terasa asing.

Ayla tidak menanggapi.

Alina turun dari tangga. Wajahnya pucat, tetapi riasannya tetap rapi. Dia melihat tablet, lalu Ayla. Ada rasa takut di matanya, tetapi juga sesuatu yang lebih rumit.

Rasa bersalah?

Atau takut kehilangan panggung terakhirnya?

“Kak Ayla,” katanya pelan, “aku tidak tahu soal foto itu. Aku sungguh tidak tahu.”

Ayla menatapnya. “Aku belum bertanya.”

Alina menggigit bibir.

Reno berkata, “Akun gosip itu belum mengunggah. Tim Maya berhasil menahan?”

Salah satu staf media Maya menjawab, “Untuk akun besar, iya. Tapi file sudah masuk beberapa grup kecil. Kami sedang tekan penyebaran.”

Manajer Reno tampak panik. “Kalau ini keluar, nama Reno ikut terseret. Film Mahardika juga. Yayasan...”

Maya menatapnya. “Empat orang mati dan kemungkinan ada anak-anak jadi korban eksperimen. Kekhawatiran pertamamu karier?”

Manajer itu langsung diam.

Reno berkata pelan, “Masalah karier bisa nanti.”

Ayla melirik Reno.

Kemajuan lagi.

Ratna mendekati Ayla. Langkahnya ragu, seperti mendekati anak liar yang mungkin menggigit.

“Ayla, kalau dulu... kalau waktu kamu hilang kamu mengalami itu...”

Dia tidak sanggup menyelesaikan kalimat.

Ayla berkata, “Menangis tidak mengubah apa pun.”

Ratna tersentak, tetapi tidak marah.

“Mama tahu.”

Ayla tidak suka mendengar kata itu.

Mama.

Dulu kata itu tidak pernah diberikan padanya dengan utuh. Sekarang kata itu datang saat tubuhnya mungkin sudah menyimpan bekas eksperimen. Waktunya buruk. Rasanya buruk.

Arga masuk setelah menerima laporan di luar. “Penyebaran utama tertahan. Tapi kita perlu membuat narasi sebelum Surya mengirim versi berikutnya.”

Marwan bertanya, “Narasi apa?”

Maya menjawab, “Kebenaran sebagian.”

Semua menatapnya.

Maya duduk, membuka laptop. “Kita tidak bisa bilang semua. Berkas 531 terlalu besar. Tapi kita bisa mengumumkan Prameswari Foundation sedang membantu penyelidikan penyalahgunaan dana dan eksploitasi anak. Reno sebagai publik figur bisa menyatakan keluarga bekerja sama dengan aparat.”

Reno mengangguk. “Aku bisa.”

Alina langsung berkata, “Kalau begitu aku juga bisa muncul. Aku wajah yayasan.”

Ruang itu membeku.

Ayla tertawa pelan.

Alina memucat. “Aku cuma ingin membantu.”

Reno menatapnya lama. “Lin, kamu sedang diperiksa karena akses akunmu dipakai.”

“Tapi kalau aku diam, orang akan mengira aku bersalah.”

Ayla berkata, “Kamu memang tidak sepenuhnya bersih.”

Alina menangis. “Kak Ayla, aku tahu aku salah. Tapi aku juga korban Pak Raka dan Surya. Kenapa kamu selalu membuatku seperti monster?”

“Karena kamu selalu berebut mikrofon bahkan saat rumah sedang terbakar.”

Alina terdiam.

Ratna menutup mata. Kali ini, dia tidak membela.

Marwan berkata, “Alina tidak muncul.”

Alina menatapnya tidak percaya. “Papa?”

“Untuk sekarang, kamu diam dan ikuti proses hukum.”

Alina mundur setengah langkah.

Sepertinya baru pertama kali Marwan memilih nama baik keluarga di atas air matanya.

Menyakitkan.

Tetapi juga pantas.

Arga menatap Ayla. “Kamu juga tidak muncul.”

Ayla mengangkat alis. “Aku tidak menawarkan.”

“Bagus.”

“Tapi kalau foto itu keluar?”

“Kami bantah keaslian sambil menyelidiki sumber.”

Maya menambahkan, “Dan kalau perlu, aku beli akun gosipnya.”

Bima yang baru masuk hampir menjatuhkan map. “Beli apa?”

Maya menatapnya. “Kamu punya metode. Aku punya metode.”

Bima menggeleng. “Aku benar-benar butuh cuti.”

Ketegangan sedikit turun.

Namun ponsel Arga berbunyi lagi.

Dia membaca pesan dari Lestari, lalu wajahnya berubah.

“Surya mengirim file baru.”

Ayla langsung menatapnya.

“Ke mana?”

“Bukan ke media. Ke email pribadi Reno.”

Reno membuka ponsel dengan tangan tegang. Ada satu email masuk tanpa subjek. Lampirannya hanya foto.

Reno membuka.

Foto itu memperlihatkan dirinya dua tahun lalu di acara gala Mahardika bersama seorang pria yang berdiri jauh di belakang.

Surya Atmadja.

Reno memucat. “Aku tidak kenal dia.”

Ayla mengambil ponsel, memperbesar foto.

Surya berdiri di belakang, menatap kamera.

Tidak.

Menatap Reno.

Di bawah foto ada satu kalimat.

Keluarga yang kehilangan satu anak biasanya mudah kehilangan yang lain.

Ratna menjerit.

Reno berdiri kaku.

Ayla menatap foto itu lama, lalu tersenyum tanpa kehangatan.

Surya memilih target berikutnya.

Kali ini bukan Ayla.

Kali ini kakak laki-laki yang baru mulai melihat kebenaran.

Reno meminta waktu lima menit untuk merekam pernyataan awal. Maya menulis poin-poinnya dengan cepat, tetapi menolak membuatnya terdengar terlalu licin.

“Kalau terlalu sempurna, publik tahu itu buatan PR,” katanya. “Kamu aktor. Kali ini jangan akting.”

Reno membaca naskah pendek itu, lalu meletakkannya. “Aku bicara sendiri.”

Maya mengangkat alis, tampak cukup puas.

Video direkam di ruang kerja Marwan, tanpa pencahayaan mewah. Reno duduk dengan wajah lelah dan berkata bahwa keluarganya sedang bekerja sama dengan penyelidikan penyalahgunaan yayasan, bahwa korban harus dilindungi, dan bahwa ia meminta publik tidak menyebarkan foto anak-anak yang mungkin menjadi korban kejahatan.

Ia tidak menyebut Ayla.

Tetapi semua orang di ruangan tahu untuk siapa kalimat terakhir itu.

Setelah video dikirim ke tim media, Ratna mendekati Ayla lagi. Kali ini dia tidak menangis. Matanya merah, tetapi suaranya lebih stabil.

“Boleh Mama lihat fotonya sekali lagi?”

Ayla menatapnya. “Untuk apa?”

“Untuk berhenti lari dari kemungkinan itu.”

Jawaban itu membuat Marwan menunduk.

Ayla mengambil tablet dari meja dan menyerahkannya. Ratna melihat foto itu lama. Tangannya gemetar, tetapi dia tidak memalingkan wajah.

“Kalau itu kamu,” kata Ratna pelan, “Mama tidak tahu apakah punya hak menangis.”

Ayla tidak menjawab.

Ratna mengembalikan tablet. “Tapi Mama tetap menangis. Maaf.”

Kata maaf itu tidak menyelesaikan apa pun. Tidak menghapus empat belas tahun. Tidak mengubah malam saat Ayla dipanggil anak angkat.

Namun untuk pertama kalinya, Ratna tidak meminta Ayla memahami Alina.

Dia hanya meminta maaf untuk dirinya sendiri.

Ayla mengambil tablet itu kembali.

“Jangan kirim pesan ke siapa pun tanpa izin Arga.”

Ratna mengangguk.

Itu bukan pelukan.

Tetapi untuk keluarga Prameswari, mungkin itu langkah pertama yang tidak sepenuhnya palsu.

Setelah pesan ancaman pada Reno muncul, Alina diam terlalu lama. Ayla memperhatikannya dari sisi ruangan.

“Kenapa?” tanya Ayla.

Alina tersentak. “Apa?”

“Kamu tidak menangis. Aneh.”

Wajah Alina memerah. “Aku juga takut pada Kak Reno.”

“Takut dia terluka atau takut dia makin jauh darimu?”

Alina membuka mulut, lalu menutup lagi.

Untuk pertama kalinya, dia tidak punya jawaban yang langsung terdengar cantik.

Akhirnya dia berkata, “Dua-duanya.”

Ayla mengangkat alis.

Jawaban itu jujur. Tidak sepenuhnya baik, tetapi jujur.

Alina menunduk. “Aku tahu kamu tidak percaya. Aku juga tidak tahu apakah aku pantas dipercaya. Tapi aku tidak mau Kak Reno jadi korban karena aku pernah bodoh.”

“Pernah?”

Alina menggigit bibir. “Karena aku masih bodoh.”

Ayla menatapnya beberapa detik, lalu berkata, “Kalimat pertamamu yang masuk akal.”

Alina tidak tahu harus tersinggung atau lega.

1
Osie
masih penuh misteri tapi seru..gak bosan nulis up lanjutannya thor💪💪💪💪💪💪
Bonny Liberty
cerita elit,cerdas,no menyerang.. menye...semangat!!!!!
Osie
up lagi ya thoorr🙏🙏🙏🙏🙏 ceritanya bagus bangeett..suka suka suka suka
Osie
datang lagi 1 teman mamba🤣🤣 makin seruuu
Osie
thoor aku baca udah sampai bab ini lho..sumpeh bagus banget alur ceritanya..tapi sayang msh sepi..pdhal kereen abiiss/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/so haraoanku ini cerita sampai end..i hope
Osie
yaaacckk arga kenapa gak langsung di bogor aja sisurya nya..kabutkan dia
Osie
jangan bilang emaknya si ratna juga ikut terlibat
Osie
alina siap siap menuju lubang kematian
Osie
ayla dilawan..ya manaaa bisaaaa..mama cuuyy udah biasa membunuh dlm senyap
Osie
wwaaww aku aku gaya ayla..kereen abiizzz..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!