NovelToon NovelToon
ILMU PENGLARIS

ILMU PENGLARIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: HERMAWAN 505

DESKRIPSI CERITA: ILMU PENGLARIS (Ilmu Pemanggil Tamu)"Jangan pernah coba-coba untuk mengingkarinya..."
> Bagi Rahmat, kemiskinan adalah kutukan yang harus dihancurkan, bahkan jika ia harus bersekutu dengan iblis sekalipun. Melalui perantara Mbah Cahyo, kios baksonya mendadak berubah menjadi lautan manusia yang lapar. Namun, di balik kepulan asap dandang yang menggiurkan, ada aroma anyir darah dan hawa dingin yang mengurung tempat itu.
> Di saat Ratna, sang istri yang setia berjuang melayani pelanggan dengan peluh dan ketulusan, ia tidak pernah tahu bahwa suaminya sendiri telah menjual jiwanya ke penguasa kegelapan hutan fajar. Satu per satu keanehan mulai muncul. Angin yang berputar aneh, tatapan kosong para pembeli, hingga sekelebat wajah mengerikan yang mulai menggantikan wajah tulus istrinya.
> Sebuah kisah tentang keserakahan yang membutakan, kebohongan yang menumpuk, dan sebuah jebakan pesugihan searah yang tidak akan pernah membiarkan korbannya kembali ke jalan yang benar dala

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tameng ngidam

## BAB 24 - Tameng Ngidam

Rahmat menatap tajam tepat ke dalam bola mata Bi Sumi. Pandangan mata pria itu terasa begitu mengintimidasi, menuntut penjelasan mutlak, dan seolah tidak akan membiarkan satu pun kebohongan lolos malam ini.

"Bicara, Bi! Jangan diam saja begitu! Kamu pasti tahu sesuatu yang disembunyikan dari saya. Saya lihat sejak sore tadi sikapmu juga sudah aneh. Sekarang istri saya mendadak berubah ketus begitu. Katakan apa yang sebenarnya terjadi selama saya tidak ada!" desak Rahmat, nada suaranya kian meninggi namun terdengar sedikit bergetar karena rasa cemas yang mulai melanda benaknya.

Tekanan psikologis yang menimpa Bi Sumi saat ini sudah benar-benar berada di ambang tidak tertahankan lagi. Keringat dingin mengucur deras membasahi seluruh punggungnya yang gemetar. Di dalam kepalanya, perang batin berkecamuk hebat bagai badai.

"Kalau saya jujur bilang dengar suara bentakan mirip Pak Rahmat di dalam kamar tadi siang, saya mungkin bisa langsung dipecat malam ini karena dianggap ikut campur urusan ranjang. Tapi kalau saya diam terus, dia tidak akan berhenti bertanya dan kecurigaannya pasti akan makin parah," gumam Bi Sumi di dalam hati, meremas ujung nampan dengan cemas.

"Ti-tidak ada apa-apa, Pak. Semuanya baik-baik saja dari tadi siang. Mungkin... mungkin itu hanya bawaan orang hamil saja, Pak. Biasanya memang sering begitu kalau kandungan sudah mulai membesar; bawaannya sensitif dan mendadak benci sama suaminya sendiri tanpa sebab. Hal seperti itu juga dulu pernah Bibi alami sendiri waktu mengandung anak almarhum suami Bibi," jawab Bi Sumi akhirnya, terpaksa berbohong demi menyelamatkan posisi pekerjaannya yang terancam.

Mendengar perkataan yang meluncur dari mulut Bi Sumi, Rahmat mengembuskan napas panjang. Beban berat di dadanya seketika terangkat dan ia merasa sedikit lega. Logikanya yang sempat buntu kini mulai menerima alasan tersebut; ia berpikir bahwa ternyata bukan dirinya yang menjadi penyebab utama perubahan drastis sikap sang istri, melainkan murni karena hormon dan bawaan jabang bayi yang tengah dikandung oleh Ratna.

"Oh, begitu ya, Bi? Syukurlah kalau memang begitu," sahut Rahmat singkat sembari mengangguk-anggukkan kepalanya dengan raut wajah yang kembali rileks.

Bi Sumi yang melihat reaksi majikannya itu langsung menunduk dalam-dalam, menyembunyikan embusan napas leganya karena tameng kebohongannya berhasil menipu Rahmat dengan sempurna.

"Kata orang-orang tua dulu, kalau istri lagi hamil tua atau muda terus mendadak membenci suaminya setengah mati, pasti nanti anaknya lahir bakal mirip sekali dengan bapaknya," gumam Rahmat di dalam hati sembari menyunggingkan senyum tipis penuh kegirangan.

Pria itu sama sekali tidak menyadari arti harfiah dari gumamannya sendiri. Janin berusia empat bulan di dalam rahim Ratna itu memang kelak akan lahir dengan rupa yang teramat mirip dengan ayah kandungnya yang sesungguhnya—sosok hitam legam bermata merah darah yang telah merubung istrinya di siang bolong tadi.

"Ya sudah, Bi. Bibi bisa kembali ke belakang untuk istirahat," ujar Rahmat kemudian sembari meraih sepotong semangka dingin di atas meja.

"Baik, Pak. Permisi," sahut Bi Sumi yang langsung melangkah cepat kembali ke kamarnya di dapur belakang, bersyukur badai interogasi malam itu telah berlalu.

Malam itu pun perlahan berlalu, menyisakan kesunyian yang kembali merayap di setiap sudut rumah mewah tersebut. Suasana malam terasa mereda pasca-ketegangan kecil yang sempat terasa aneh dan begituennesakkan dada beberapa saat lalu.

Sesuai permintaan istrinya, Rahmat memilih untuk mengalah. Ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang kamar tamu di lantai bawah. Pria itu tidur dengan teramat pulas dan tenang. Sesekali, guratan senyum tipis terukir di wajahnya dalam hiasan tidur. Rahmat seolah sedang terbuai dalam mimpi indah, membayangkan hari di mana buah hatinya lahir ke dunia dengan paras yang teramat mirip dengan dirinya.

Sementara itu di lantai atas, dalam kamar utama yang gelap gulita, Ratna hanya bisa meringkuk memeluk perut buncitnya dalam kesendirian. Matanya terbuka lebar menatap kegelapan, meratapi nasib batinnya yang mendadak terasa kosong dan asing, terpisah dinding semen dari suaminya yang tertidur tanpa beban di lantai bawah.

Namun, malam yang tenang itu rupanya sama sekali tidak berlaku bagi Bi Sumi. Di dalam kamar pembantunya yang sempit di area belakang, wanita paruh baya itu justru harus berhadapan dengan teror maut yang teramat mengerikan.

Suasana kamar yang semula sunyi mendadak berubah menjadi sangat pekat dan sedingin es. Bersamaan dengan itu, kepulan asap hitam tipis merayap masuk dari celah bawah pintu, membawa aroma busuk yang teramat menyengat bagai bau kentang yang telah membusuk berhari-hari.

Bi Sumi yang baru saja memejamkan mata sontak terbangun dengan dada sesak. Betapa terkejutnya ia ketika membuka mata dan mendapati sesosok makhluk mengerikan sudah berdiri kokoh di sudut kamarnya, menyundul langit-langit ruangan yang sempit. Makhluk itu berbadan sangat besar, tinggi menjulang, dan seluruh permukaan tubuhnya ditutupi oleh bulu-bulu hitam lebat yang kasar. Sepasang matanya menyala merah darah di dalam kegelapan, sementara jemarinya dihiasi kuku-kuku panjang yang teramat tajam serta mulut berliur yang dipenuhi deretan gigi bertaring.

Tubuh Bi Sumi seketika kaku total, bahkan untuk berteriak pun tenggorokannya seolah terkunci rapat oleh rasa takut yang luar biasa.

Makhluk penjelmaan itu perlahan mencondongkan tubuh besarnya ke arah ranjang Bi Sumi, memberikan tekanan aura gaib yang begitu menghimpit dada.

"Jangan kau ikut campur dengan urusan aku... jika dirimu tidak mau mati dengan cara yang mengenaskan!" ujar makhluk itu dengan nada suara yang teramat berat, bergaung langsung di dalam kepala Bi Sumi, dan diakhiri dengan sebuah geraman lapar yang sangat mengerikan.

Bi Sumi tidak bisa melakukan apa-apa lagi dalam cekaman kengerian tersebut. Dengan sekujur tubuh yang gemetar hebat, ia hanya bisa bersembunyi di balik selimut tipisnya, menangis tanpa suara sambil berharap makhluk mengerikan itu segera pergi meninggalkan kamarnya.

"Jangan... Jangan ganggu saya... Pergi kamu... Pergi!" bisik Bi Sumi dengan bibir bergetar di balik selimut, merapalkan doa-doa pendek sebisanya.

Anehnya, kegaduhan gaib dan hawa mencekam yang tengah menimpa kamar belakang malam itu sama sekali tidak terdengar oleh Ratna yang berada di lantai atas, maupun Rahmat yang tidur terlelap di kamar bawah. Teror jahanam itu seolah dikunci rapat, membiarkan Bi Sumi menanggung beban batin sendirian sebagai saksi bisu yang terancam nyawanya.

Bersambung

1
Mega Arum
sebenarnya kasihan Ratna,..
Mega Arum
kemungkinan itu anak setan 🤨
HERMAWAN 505: bisa jadi karena pak Rahmat itu mandul
total 1 replies
Mega Arum
kasihan Ratna...
Mega Arum
mampir lagi kak.. semoga lbh menarik dr novel sebelumnya,...
HERMAWAN 505: makasih banyak Mega Arumi, mohon dukungannya yah semoga bisa membuat kamu senang dengan hasil akhirnya.👍
total 1 replies
miilieaa
tulisan nya bagus banget😍
HERMAWAN 505: makasih kakak, semoga terhibur yah
total 1 replies
Wulandari Ayuningtyas
halo kak....udah aku like y
jangan lupa like back ke ceritaku 😁
HERMAWAN 505
cerita lokal yang menerik
HERMAWAN 505
makasih sudah mau mampir di novel ku. 🙏🙏🙏
Ara putri
Hay kak, saling dukung yuk. Mampir juga keceritaku TUAN AYAZ TOLONG BERHENTI!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!