NovelToon NovelToon
UNDYING

UNDYING

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Mengubah Takdir / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:253
Nilai: 5
Nama Author: yersya

"I am cursed with an undying soul... forced to return, again and again. And in every life, in every death, it is always you my heart remembers."

"Aku dikutuk dengan jiwa yang tak bisa mati... dipaksa untuk kembali, lagi dan lagi. Dan di setiap kehidupan, di setiap kematian, hanya kamu yang selalu diingat hatiku."

"I cannot follow you beyond death, I cannot chase you through eternity... so I will stay here, loving you with an undying heart in every lifetime I'm given-until time finally takes me away from you."

"Aku tak bisa mengikutimu melewati kematian, tak bisa mengejarmu dalam keabadian... jadi aku akan tetap di sini, mencintaimu dengan hati yang tak pernah mati di setiap kehidupan yang diberikan padaku-sampai waktu akhirnya merenggutku darimu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yersya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25

Satu minggu telah berlalu semenjak gadis bernama Arisya itu mengunjungiku. Dia sempat bilang akan datang lagi... tapi melihatnya tak kunjung muncul, apa dia sudah berubah pikiran? Yah, itu sama sekali tidak penting. Menikmati hidup dengan santai di dalam sel penjara tanpa perlu memikirkan lini masa yang rumit jauh lebih menenangkan.

​Pagi hari di setiap hari Minggu selalu diawali dengan agenda senam pagi yang diikuti oleh seluruh narapidana. Namun, karena para pengawas lapas yang pada dasarnya malas dan enggan berurusan dengan kerumunan kriminal ini, senam pagi hampir tidak pernah benar-benar terjadi. Alhasil, lapangan tengah berubah menjadi gelanggang bebas. Semua orang menghabiskan waktu sesuka hati mereka: ada yang berkelahi melepas stres, bergosip di sudut lapangan, latih tanding kekuatan, adu panco, hingga judi kecil-kecilan.

​Kalau aku? Aku biasanya meladeni siapa pun yang datang menantangku.

​Itu adalah hal yang amat lumrah di tempat ini. Sebagai pimpinan—yang sebenarnya ditunjuk secara paksa oleh mereka semua—banyak narapidana yang mengincar posisiku. Jadi, bermunculanlah orang-orang yang menantangku bertarung dengan taruhan jabatan 'penguasa lapas'. Tentu saja, aku tidak pernah kalah sekalipun sejak satu tahun lalu tradisi taruhan konyol ini diadakan.

​Sejak dulu aku memang gadis yang cukup atletis. Ditambah dengan tempaan kehidupan lapas yang brutal, mau tidak mau aku harus bertransformasi menjadi jauh lebih kuat. Workout harian, gerakan seni bela diri yang kupelajari dan kurekonstruksi ulang dari film-film aksi dalam ingatanku, kemampuan memanfaatkan segala benda di sekitarku sebagai senjata, hingga trik-trik bertarung kotor... aku mempelajari segala hal yang kubutuhkan untuk bertahan hidup.

​Aku mengasahnya baik saat mengurung diri di sel, di jam bebas lapangan, dan bahkan sampai ke dalam mental realm-ku. Aku juga sering terlibat duel berdarah dengan Sena di sana—murni karena dia teramat sangat menyebalkan.

​Bicara tentang mental realm ini, aku sendiri masih tidak paham kenapa aku bisa memilikinya. Entah itu karena manifestasi keberadaan Sena yang abstrak, atau efek samping dari kemampuan "kutukan" bangkit dari kematian yang kuderita. Tapi yang jelas, ruang hampa itu menjadi arena latihan yang sempurna. Aku bisa menirukan, mengulang, dan menyempurnakan teknik bela diri ribuan kali tanpa risiko cedera fisik di dunia nyata—sebuah cheat luar biasa yang sangat menguntungkan.

​Dan pagi ini, lapangan kembali riuh. Doni—pria berkepala botak berotot kekar itu—kembali berdiri di tengah lingkaran kerumunan, memamerkan seringai lebarnya untuk menantangku sekali lagi.

​"Ayo dong, Bos! Kali ini aku pasti bisa menjatuhkanmu!" seru Doni sesumbar, memukul-mukul kedua telapak tangannya yang tebal hingga menimbulkan suara kepakan keras.

​Ratusan narapidana langsung bersorak sorai, membentuk lingkaran besar yang mengurung kami berdua.

​"Halah! Paling-paling tiga detik lagi kau sudah mencium tanah, Don!" teriak Alex dari pinggir lapangan, memprovokasi.

​"Jangan buat malu, Doni! Kalau kalah lagi, siap-siap jatah sarapanmu minggu depan buat Bos!" timpal Anis sambil melipat tangan di dada.

​“Pfft... si gundul berotot itu benar-benar tidak ada kapoknya,” bisik Sena di dalam kepalaku, tertawa terkekeh. “Ayo Luna, patahkan lengannya lagi seperti bulan lalu. Aku mau lihat dia menangis.”

​Diamlah, Sena.

​Aku melangkah tenang ke tengah lingkaran, menggulung lengan baju tahananku hingga ke siku. "Kau yakin, Don? Jangan menyalahkanku kalau pinggulmu tergeser lagi."

​"Hahaha! Harusnya aku yang bilang begitu, Bos!"

​Tanpa aba-aba, Doni meluncur maju. Tubuh bongsornya bergerak cepat bagai banteng terluka. Dengan rentangan kedua tangannya yang lebar, ia berusaha mencengkeram pinggangku untuk melakukan teknik tackle dan menghempaskanku ke semen kasar.

​Di mataku, gerakannya terasa begitu lambat. Sensasi refleks yang sudah terlatih ribuan kali di mental realm seketika mengambil alih kendali tubuhku.

​Tepat saat jemari Doni hampir menyentuh kain bajuku, aku menggeser kaki kiriku sedikit ke samping, memutar poros tubuhku hanya terpaut beberapa sentimeter dari jangkauannya. Serangan Doni meleset menghantam udara kosong.

​"Apa—?!" Doni tersentak kaget karena kehilangan tumpuan.

​Sebelum ia sempat memulihkan keseimbangannya, aku memanfaatkan momentum dorongan tubuhnya sendiri. Tangan kiriku menyambar pergelangan tangannya, sementara telapak tangan kananku menghantam keras bagian bawah dagunya dengan dorongan palm strike berkecepatan tinggi.

​BUG!

​Kepala Doni terhentak ke atas. Sebelum tubuh besarnya sempat oleng ke belakang, aku memutar badan, menyusupkan bahuku di bawah ketiaknya, lalu mencengkeram seragamnya erat-erat.

​Dengan dorongan pinggul yang presisi dan mengalir sempurna—sebuah teknik lemparan judo Seoi Nage yang sudah kuulang ratusan kali bersama Sena—aku mengungkit seluruh bobot tubuh Doni yang mencapai 90 kilogram melompati bahuku.

​DUBRAKKK!

​Punggung lebar Doni menghantam semen lapangan dengan sangat telak. Debu tipis membumbung tinggi, mengiringi suara napas Doni yang seketika tercekat hebat karena seluruh udara di paru-parunya terhempas keluar.

​Keheningan sempat menyergap lapangan selama satu detik penuh, sebelum akhirnya sorakan dan tawa gemuruh memecah udara pagi.

​"WOAAAHHH! CUMA SATU GERAKAN!"

​"SUDAH KUBILANG APA, DON! BAHKAN TIDAK SAMPAI TIGA DETIK! HAHAHA!"

​Aku berdiri tegak di samping tubuh Doni yang terkapar telentang, napasnya tersengal-sengal sembari memegangi punggungnya yang kesakitan. Aku mengibaskan sedikit debu dari celanaku, lalu menunduk menatapnya dengan raut wajah datar tanpa ekspresi.

​"Masih mau lanjut, Don?" tanyaku pelan.

​Doni meringis, meringkuk memegangi dadanya sembari melambaikan tangan kepayahan. "A-ampun, Bos... Tulang rusukku rasanya mau patah... Aku menyerah!"

Aku menghembuskan napas pendek, lalu mengulurkan tangan padanya. Doni menatap uluran tanganku dengan ragu sejenak, sebelum akhirnya menyambutnya dan membiarkan aku menarik tubuh beratnya berdiri.

​"Terima kasih, Bos..." gumam Doni sambil memegangi pinggangnya, tersenyum ringis bercampur rasa hormat murni.

​Namun, di detik ketika tubuhnya hampir berdiri tegak sepenuhnya, urat-urat di lengannya mendadak menegang. Senyum ringisnya berubah menjadi seringai picik. Memanfaatkan pegangan tangan kami sebagai tumpuan, Doni menarik tanganku kasar ke arahnya sembari mengayunkan tinju kirinya yang mengepal erat, membidik telak ke arah pelipisku!

​Sebuah trik licik yang sangat tertebak.

​Sebelum tinjunya sempat menyentuh sehelai rambutku, aku sudah lebih dulu mengantisipasinya. Kepala dan tubuh atasku sedikit menekuk merendah, membiarkan pukulan Doni melayang tipis di atas kepalaku. Tanpa menunda seperseratus detik, tangan kananku meluncur bebas melepaskan sebuah lead hook yang membentur telak di rahang bawahnya!

​BUGGG!

​Kepala Doni terhentak keras ke samping. Tubuh besarnya terhuyung mundur empat langkah ke belakang. Ia memegangi rahangnya yang berderit kesakitan, matanya sedikit berkaca-kaca menahan nyeri sembari pasang kuda-kuda defensif untuk menjaga jarak dariku.

​Aku mengibas-ibaskan jemari tanganku yang sedikit pegal, menatapnya datar. "Kau terlalu sering memakai trik murahan itu, Don. Aku sudah sangat terbiasa."

​Doni menyapu darah tipis di sudut bibirnya dengan punggung lengan. "Heh... namanya juga usaha, Bos!" serunya sembari kembali menerjang maju. Kali ini ia melepas rentetan pukulan kombinasi kiri-kanan secara membabi buta.

​Langkah kakiku bergeser lincah di atas tanah. Aku mengelak ke kiri, menangkis pukulan susulannya dengan sikut, lalu menyusup masuk ke dalam jarak tembaknya yang terbuka lebar. Menggunakan konsep Jeet Kune Do—mencegat serangan lawan di titik paling rapuh dengan serangan tercepat—aku menjejakkan kaki tumpuanku kuat-kuat ke bumi. Aku meluncurkan lead straight punch tepat ke ulu hatinya untuk menghentikan momentumnya, disusul dengan putaran pinggul kejut yang menyalurkan seluruh tenaga ke ujung kepalan tanganku, mendaratkan one-inch punch telak di dadanya!

​BUMP!

​Napas Doni seketika tertahan di tenggorokan. Matanya membelalak lebar, dan tubuh bongsornya ambruk berlutut sebelum akhirnya menelungkup penuh di atas tanah, tak sanggup lagi bangkit.

​"BUAHAHAHA! SUDAH JATUH, MASIH MAU MAIN LICIK! KENA BATUNYA KAN KAU, DON!"

​"KASIAN BANYAK GAYA! MAKAN ITU PUKULAN BOS!"

​Tawa gemuruh dan sorak-sorai riuh seketika meledak di seluruh penjuru lapangan. Seluruh narapidana menunjuk-nunjuk Doni yang terkapar kaku sembari tertawa terbahak-bahak tanpa ampun.

​Aku berdiri di sana, menghembuskan napas panjang sembari memperhatikan Doni yang meringkuk memegangi dadanya. Ada sedikit rasa bimbang di benakku melihatnya kesakitan seperti itu.

​Apa pukulanku tadi terlalu keras? Apakah dia akan baik-baik saja? batinku bertanya-tanya.

​“Cih, jangan mulai bersikap lemah dan naif begitu, Luna,” bisik suara Sena di dalam mental realm-ku. Nadanya sarat akan cemoohan yang tajam. “Seorang pemimpin di tempat sampah seperti ini harus menjadi diktator yang kejam. Jika kau lembek sedikit saja, mereka akan meragukanmu dan menggigit lehermu dari belakang.”

​Aku tidak sama denganmu. Aku tidak perlu menjadi monster diktator hanya untuk membuat mereka tunduk, balasku dingin di dalam pikiran.

​Sena terkekeh pelan—sebuah tawa dingin yang memancarkan kebencian murni. “Oh ya? Kau lupa, Luna? Pria berkepala botak yang sedang kau kasihaninya itu... dia adalah salah satu bajingan yang pernah mencoba memperkosamu di tahun pertama.”

​Kalimat Sena menghantam saraf ingatanku bagai guyuran air es.

​Langkahku membeku. Bayangan-bayangan kelam dari masa-masa awal di penjara ini mendadak berputar ulang di kepalaku. Wajah-wajah haus darah, tangan-tangan kotor yang mencoba meraba pakaianku, ketakutan yang mencekik tenggorokan, dan sensasi dingin saat aku harus berkali-kali menusuk leherku sendiri demi melarikan diri lewat kematian... Semuanya kembali memicu rasa mual dan amarah yang terendap jauh di dasar jiwaku.

​Dahiku menekuk tajam. Perasaan kesal dan sengatan trauma mendadak membakar dadaku.

​Meskipun belakangan ini aku hampir tidak pernah mati lagi sejak memegang posisi puncak sebagai penguasa lapas, kenangan saat aku masih menjadi 'mangsa' yang lemah tidak pernah benar-benar terhapus.

Aku menatap Doni yang masih mengerang di tanah dengan pandangan yang kian dingin.

​Yah... kurasa sesekali menuruti keinginan Sena dan memberi pelajaran ekstra pada bajingan ini bukanlah hal yang buruk.

​“Bagaimana caranya?” tanyaku dalam hati, menyuarakan amarah yang membakar dada.

​“Simpel,” sahut Sena di dalam mental realm-ku, tawanya bergema puas dan sarat akan kekejaman. “Jalan mendekat, angkat kakimu, lalu injak kepalanya ke tanah sampai hidungnya menyium debu. Setelah itu, lontarkan kalimat hinaan paling mematikan yang pernah ada. Buat dia sadar kalau di matamu, dia hanyalah serangga busuk yang kebetulan belum kau penyet sampai mati.”

​Tanpa ragu sedikit pun, aku melangkah mendekat.

​TAP.

​Di hadapan ratusan pasang mata yang mendadak hening, aku mengangkat kaki kananku dan menaruh sol sepatuku tepat di samping pelipis Doni, lalu menekannya turun tanpa ampun.

​DUB!

​Wajah Doni terhenyak kasar, pipinya menempel erat di atas semen lapangan yang berdebu. Pria bertubuh besar itu melenguh kesakitan, mencoba menggerakkan tangannya, namun aku menekan berat badanku lebih dalam.

​"L-L-Luna... Bos..." ringis Doni terbata-bata dari bawah kakiku.

​Aku menunduk, menatapnya dengan pandangan kosong yang teramat dingin—tatapan tanpa kemanusiaan yang biasa kutunjukkan saat mengakhiri hidupku sendiri.

​"Memangnya siapa yang mengizinkan seekor serangga kotor sepertimu menatap mataku?" desisku pelan, namun suaraku merayap tajam ke seluruh sudut lapangan. "Kau pikir dengan bertingkah sok akrab dan berpura-pura patuh, aku akan melupakan kotoran yang pernah kau perbuat? Kau itu cuma sampah tak berguna yang kubiarkan bernapas di sini murni karena aku malas membersihkan bangkai."

​Suasana lapangan seketika pecah. Sorak-sorai dan teriakan histieris dari para narapidana kembali meledak, jauh lebih liar dari sebelumnya.

​"ANJIIING! GILAA! ITU BARU BOS KITA!"

​"INJAK TERUS, BOS! KASIH PAHAM SI BOTAK SAMPAH ITU!"

​"PFFTT! SERANGGA KOTOR KATANYA! DENGAR ITU, DON?! KAU CUMA SAMPAH!"

​"Sudah kubilang, Don! Kau itu tidak ada harganya di depan Bos! Hahaha! Muka diseret ke semen begitu masih sok mau dekat-dekat!" ejek Alex sambil tertawa terbahak-bahak.

​Anis ikut melangkah maju dengan tangan di pinggang, meludahi tanah di dekat Doni. "Dasar jantan tak tahu diri! Muka tembok! Sudah diampuni malah tuman! Rasakan itu!"

​Doni tidak lagi meronta. Di bawah tekanan kakiku dan gelombang hinaan yang memekakkan telinga dari seluruh isi lapas, tubuh besarnya gemetaran hebat. Wajahnya merah padam bercampur malu yang teramat sangat. Pria yang dulu merasa paling perkasa itu kini benar-benar hancur, baik secara fisik maupun mental.

​Aku mengangkat kakiku perlahan, membiarkan Doni menyapu tanah dengan wajahnya yang bersimbah peluh dan debu, lalu berbalik membelakanginya tanpa sedikit pun menoleh lagi.

1
Sarah
For real. 😂
Sarah
Unik sekali, konflik bab 1: Mencari Paman. 😂😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!