NovelToon NovelToon
BOUND BY BLOOD, LOCKED BY LOVE

BOUND BY BLOOD, LOCKED BY LOVE

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Percintaan Konglomerat / Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Cinta Seiring Waktu / Aliansi Pernikahan
Popularitas:941
Nilai: 5
Nama Author: indri novianti

Siap, ini deskripsi singkat yang diambil dari naskah yang kamu kirim (lebih sesuai dengan konflik, karakter, dan tensinya):

Dalam sebuah perjanjian yang tak bisa dihindari, Talia harus menerima takdirnya untuk menikah dengan Etnan—pria dingin, penuh kuasa, dan menyimpan banyak sisi yang tak terduga.

Di balik hubungan yang terlihat formal, terselip ketegangan, kecemburuan, dan rahasia yang perlahan terungkap. Kehadiran Sophia yang obsesif, serta perasaan tersembunyi dari orang-orang di sekitar mereka, membuat hubungan itu semakin rumit.

Namun di antara sindiran, sentuhan yang tak diinginkan, dan emosi yang saling ditahan—perlahan tumbuh sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kewajiban.

Cinta yang seharusnya tidak ada… justru mulai mengikat mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indri novianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27 : UNDANGAN BERBINGKAI EMAS

Talia berdiri dari kursinya dengan sentakan kasar, menatap Ethan dengan pandangan menantang penuh luka dan amarah yang membara.

"Bagus kalau begitu," ucap Talia, suaranya bergetar namun tetap terdengar tegar khas putri keluarga Smith.

"Kau bisa menyimpan seluruh keangkuhanmu itu untuk dirimu sendiri, Tuan Taylor. Mulai hari ini, aku juga tidak akan pernah sudi memedulikan keberadaanmu lagi di rumah ini."

Tanpa menunggu reaksi dari Ethan, Talia berbalik dan melangkah lebar meninggalkan meja makan, bersiap memisahkan dunianya sepenuhnya dari sang suami.

Dan benar saja sebulan penuh Ethan tidak menjumpai sosok Talia dirumah ini seakan wanita itu tak ada disana.

Hingga sebuah undangan tiba dikediaman mereka

Sebuah amplop beludru berwarna merah marun dengan cap segel lilin emas berlambang singa kembar mendarat di atas meja marmer ruang tengah mansion.

 Undangan itu datang langsung dari kediaman utama keluarga Taylor. Sebuah titah yang tak bisa ditolak oleh siapa pun yang mengalirkan darah dinasti tersebut di dalam nadinya.

Jamuan Malam Tahunan Musim Gugur Kerabat Taylor-Betrice.

Natalia menatap lembaran kertas beraroma vanila mahal itu dengan tatapan hambar. enam bulan berada dalam sangkar emas pernikahan yang dingin telah menempa mentalnya menjadi sekeras karang.

Ia tidak lagi gadis yang mudah tersinggung oleh tatapan tajam suaminya, tidak lagi meratapi nasibnya di sudut kamar utama saat malam merayap sunyi. Ia telah belajar memakai topengnya sendiri.

Sret.

Pintu geser penghubung koridor bawah terbuka, menampilkan sosok Ethan Noah Taylor yang baru saja menyelesaikan panggilan bisnisnya. Kemeja putihnya yang disetrika rapi tampak kontras dengan ekspresi wajahnya yang sekaku patung marmer.

Pandangan kelam pria itu sempat kaget pada kehadiran Talia yang selama ini tak pernah ia temui setelah pertengkaran waktu itu.

"Ibuku menelepon tadi siang," ujar Ethan, suaranya bariton, datar, dan sarat akan formalitas yang dingin.

"Beliau memastikan kita berdua hadir. Tidak ada alasan absen untuk pasangan pengantin baru."

Talia tidak bergeming. Ia melipat kedua tangannya di dada, menatap suaminya dengan senyuman tipis yang sarat akan sarkasme.

"Tentu saja. Sandiwara akbar harus tetap berjalan, bukan? Jangan khawatir, Tuan Taylor. Aku tahu persis bagaimana cara tersenyum di depan kamera dan di hadapan kedua orang tuamu."

Ethan mengepalkan tangannya di dalam saku celana kain hitamnya. Ada sesuatu yang bergejolak di dalam dadanya setiap kali melihat ketenangan Talia yang baru.

 Selama sebulan ini, ia sengaja menjauh, mengunci diri di kamar atas, dan tubuhnya semakin kurus.

"Gaunmu sudah dikirim oleh perancang pilihan Ibu ke kamar atas," lanjut Ethan, mengabaikan sindiran istrinya.

 "Kita berangkat pukul tujuh malam. Dan Jangan membuatku menunggu."

"Aku tidak pernah membuatmu menunggu, Ethan." balas Talia tajam, sebelum beranjak berdiri dan melangkah anggun menaiki anak tangga, meninggalkan Ethan yang terpaku dengan rahang yang mengeras di tengah keheningan ruang tengah.

Waktu bergerak merayap menuju senja. Di dalam kamar utama lantai atas, Talia berdiri di depan cermin besar yang memantulkan keindahan fisiknya yang memukau. Gaun malam berbahan satin sutra berwarna hijau zamrud membalut tubuh rampingnya dengan sempurna. Potongan gaun itu sangat elegan, dengan bagian bahu yang terbuka (off-shoulder) mengekspos kulit putih porselennya yang mulus, serta siluet yang mempertegas lekuk pinggangnya yang indah.

Talia memulas bibirnya dengan lipstik berwarna merah berani—warna yang sengaja ia pilih untuk menunjukkan bahwa ia bukan lagi mangsa yang bisa diintimidasi. Rambut panjangnya ditata sanggul modern yang rapi, menyisakan beberapa helai yang membingkai leher jenjangnya. Anting berlian warisan Emma Smith berkilauan di bawah pendar lampu kamar.

"Kau adalah seorang Smith, Natalia," bisiknya pada pantulan dirinya di cermin. "Jangan biarkan mereka melihat setitik pun kerapuhan di matamu."

Tepat pukul tujuh malam, suara ketukan pintu yang tegas terdengar sebanyak tiga kali. Talia menarik napas dalam-dalam, meraih tas genggam berlapis kristal miliknya, lalu membuka pintu.

Ethan berdiri di ambang koridor. Pria itu telah mengenakan setelan tuksedo hitam tiga bagian (three-piece tuxedo) yang dijahit khusus untuknya. Ketampanannya malam ini begitu mematikan, tipikal bangsawan metropolis yang mampu membuat semua wanita menahan napas. Namun, saat sepasang mata kelam Ethan bertemu dengan sosok Talia, pria itu tampak mematung selama beberapa detik.

Mata Ethan menggelap, memindai penampilan istrinya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tatapannya tertahan cukup lama pada bahu polos Talia yang terekspos serta bibir merah ranumnya yang berani. Sisa-sisa ingatan tentang mimpi gila dua bulan lalu mendadak menyengat kembali saraf-sarafnya, memercikkan gairah terlarang yang selama ini ia tekan mati-matian di kamar bawah.

Ethan berdeham rendah, mencoba menetralkan suaranya yang mendadak serak. "Potongan gaunmu terlalu terbuka."

Talia melangkah melewati Ethan dengan aroma vanila yang manis menggoda indra penciuman sang pria.

"Ini pilihan ibumu, Ethan. Dan menurutku, ini sangat sempurna untuk malam ini."

Ethan menatap punggung Talia yang berjalan mendahuluinya menuju tangga. Rahangnya mengetat, menyadari bahwa perjalanan menuju hotel tempat acara berlangsung malam ini akan menjadi siksaan batin yang luar biasa bagi pertahanan dirinya yang kian menipis.

Grand Ballroom Hotel Ritz-Carlton dipenuhi oleh kegemerlapan lampu gantung kristal yang membiaskan cahaya keperakan ke seluruh penjuru ruangan. Alunan musik klasik dari kelompok orkestra mini mengalun lembut, bercampur dengan dentingan gelas-gelas sampanye dan tawa anggun dari kalangan elite metropolis. Malam ini, seluruh kerabat besar Taylor dan Betrice berkumpul, merayakan eksistensi dinasti mereka.

Begitu pintu ganda ballroom terbuka, pembawa acara langsung mengumumkan kedatangan sang putra mahkota dan istrinya. Kilatan lampu flash dari para fotografer internal keluarga langsung bersahutan, mengabadikan momen kedatangan pasangan yang paling dibicarakan tahun ini.

Di bawah sorot lampu yang menyilaukan, sebuah transformasi luar biasa terjadi. Ethan yang semalam bersikap sedingin es, kini melangkah dengan penuh wibawa. Tangan kekarnya bergerak halus, melingkar sempurna di pinggang ramping Talia, menarik tubuh istrinya hingga merapat tanpa celah ke dadanya. Gestur posesif itu begitu alami hingga siapa pun yang melihatnya akan percaya bahwa mereka adalah sepasang pengantin baru yang sedang dimabuk cinta.

Talia tersentak kecil merasakan sentuhan hangat tangan Ethan di pinggangnya, namun ia segera menguasai diri. Ia memasang senyuman paling manis dan memesona ke arah kamera, sementara jemari lentiknya bertumpu anggun di atas lengan jas kokoh Ethan.

"Genggamanmu terlalu erat, Tuan Taylor," bisik Talia di balik senyum palsunya, matanya tetap menatap ke arah kerumunan tamu.

"Diam dan ikuti langkahku, Natalia," balas Ethan berbisik tepat di telinga Talia, membuat helaan napas hangatnya yang beraroma mint meremangkan bulu kuduk sang istri.

 "Seluruh mata sedang mengawasi kita. Terutama ibuku."

Di barisan depan, Isabella Taylor dan Noah Taylor berdiri berdampingan dengan senyuman bangga. Isabella melambaikan tangannya, memberi isyarat agar putra tunggal dan menantunya segera mendekati meja utama. Namun, tidak jauh dari posisi orang tua Ethan, berdiri keluarga Betrice. 

Adam Betrice dan Amelia Betrice tampak berbincang dengan relasi bisnis mereka, sementara di samping mereka, Sophia Adam Betrice berdiri mematung.

Sophia mengenakan gaun satin berwarna merah muda pucat. Wajahnya yang cantik tampak sedikit tirus, dan matanya yang berkaca-kaca langsung terkunci pada tangan Ethan yang masih bertengger protektif di pinggang Talia. Dua bulan masa pengasingan dan teguran keras dari orang tuanya ternyata tidak cukup kuat untuk memadamkan api obsesi di dalam dada Sophia. Melihat kebersamaan Ethan dan Talia malam ini seperti menyiramkan asam pada luka egonya yang belum sembuh.

"Kalian berdua tampak sangat serasi malam ini," puji Isabella Taylor saat Ethan dan Talia tiba di meja utama. Ibu Ethan itu langsung memeluk Talia dengan kehangatan seorang ibu mertua.

"Natalia, gaun hijau itu benar-benar memancarkan kecantikanmu. Pilihan Ibu tidak salah, bukan?"

"Terima kasih, Ibu. Gaun ini sangat nyaman dan indah," jawab Talia dengan suara jernihnya yang sopan, memberikan kecupan di kedua pipi Isabella.

Noah Taylor mengangguk tegas, menepuk bahu putra tunggalnya.

 "Kerja bagus dengan proyek merger minggu lalu, Ethan. Kau membuktikan bahwa pernikahan ini tidak mengganggu fokusmu di Taylor Group."

"Tentu saja, Ayah. Semua berjalan sesuai rencana," sahut Ethan, suaranya kembali formal dan berwibawa. Tangannya di pinggang Talia sama sekali tidak mengendur, seolah sedang menegaskan pada seluruh ruangan bahwa wanita di dekapannya adalah miliknya secara mutlak di bawah hukum adat keluarga.

Suasana meja utama mendadak berubah canggung saat Adam Betrice dan Amelia melangkah mendekat membawa putri mereka.

"Selamat malam, Noah, Isabella," sapa Adam Betrice hangat, menjabat tangan kepala keluarga Taylor. Ia lalu menoleh ke arah Talia dan Ethan dengan raut wajah penuh hormat. "Selamat malam, Ethan, Natalia. Senang melihat kalian berdua bisa hadir malam ini."

"Selamat malam, Paman Adam, Bibi Amelia," jawab Talia dengan senyuman anggunnya yang tenang.

Amelia Betrice melirik putrinya, memberikan remasan peringatan pada lengan Sophia agar gadis itu tidak berbuat bodoh. "Sophia, berikan selamat pada sepupumu dan Natalia."

Sophia menarik napas gemetar. Matanya menatap Talia dengan kilat kecemburuan yang tertahan, namun mengingat ancaman ayahnya dua bulan lalu yang bersumpah akan mencoret namanya dari silsilah Betrice jika ia kembali membuat kekacauan, Sophia terpaksa menundukkan kepalanya.

"Selamat untuk kalian, Ethan... Natalia," ucap Sophia, suaranya terdengar bergetar dan dipaksakan. "Aku harap... kebahagiaan ini bertahan lama."

Talia bisa merasakan ketegangan yang menjalar di tubuh Ethan yang berdiri di sampingnya. Namun, sebelum Ethan sempat merespons, Talia sudah mengambil kendali obrolan dengan ketenangan yang luar biasa.

"Terima kasih, Sophia. Doa dari seorang kerabat dekat seperti dirimu sangat berarti bagi kami," ucap Talia, suaranya terdengar sangat tulus namun tersirat ketegasan yang tak terbantahkan.

 "Pernikahan yang dibangun di atas fondasi sumpah leluhur tentu akan selalu kokoh menghadapi apa pun."

Kata-kata tajam berbalut keanggunan itu sukses membuat Sophia bungkam dan kembali menunduk dalam-dalam. Adam Betrice menghela napas lega melihat Talia tidak memperpanjang masalah, sementara Ethan melirik istrinya dari sudut mata dengan kilat kekaguman yang tersembunyi. Gadis Smith ini benar-benar tahu bagaimana cara bertarung di medan perang kalangan elite.

1
Amila FM,IG:amilaeditslife
seruuu, recommended kalau yang suka cerita pasangan powerful
Amila FM,IG:amilaeditslife
tolong itu si Ethan jgn plin plan, nggak usah kebanyakan ngeles dan sandiwara
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!