"Bagaimana jadinya jika calon besanmu adalah mantan kekasih yang paling gagal kamu lupakan seumur hidup?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 6. Ide Gila
Misi rahasia babak pertama gagal total. Usaha mencarikan jodoh untuk orang tua masing-masing ditolak mentah-mentah tanpa celah. Malam berikutnya, Rayhan dan Ameera kembali bertemu di kafe biasa, memandangi coretan berkas pernikahan dengan helaan napas pasrah yang kompak.
"Papaku keras kepala banget, Ray. Langsung dipotong omonganku, katanya sudah tua gak usah aneh-aneh," keluh Ameera sambil mengaduk minumannya dengan lesu.
Rayhan terkekeh getir, menyandarkan punggungnya ke kursi. "Sama. Ibu juga begitu. Malah matanya berkaca-kaca, bilang melihat aku bahagia saja sudah cukup. Aku jadi makin merasa bersalah kalau nanti harus meninggalkan Ibu sendirian di rumah itu."
“Kata orang, kesepian adalah penyakit yang paling membunuh.” tambah Rayhan.
Ameera terdiam. Jemarinya mengetuk-ngetuk meja, otaknya berputar keras mencari jalan keluar. Ia tidak mau memulai kehidupan baru di atas kesepian orang tua yang telah membesarkan mereka seorang diri.
“Eh, gimana kalau kita minta papaku dan tante bibah menjual rumah yang ada sekarang ini. Terus dananya kita alokasikan untuk membeli lahan, lalu membangun rumah sendiri dengan denah yang kita buat sendiri.” ucap Ameera setelah berpikir keras, karena saran mencarikan pendamping ditolak mentah-mentah oleh orang tua mereka masing-masing.
“Maksudnya?” tanya Rayhan, mengernyitkan dahi bingung namun mulai tertarik.
“Kita tinggal di tengah-tengah lengkap ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan, dan dua kamar juga dapur. Nah kanan dan kiri kita bangun seperti paviliun, gitu. Ada satu ruang untuk bersantai dan nonton TV, kamar tidur, kamar mandi, dapur mungil yang menyatu dengan ruang makan. Jadi kita bisa menemani keduanya dengan adil.” Ameera menjelaskan dengan mata berbinar-binar, jarinya sibuk menggambar pola imajiner di atas meja kafe. "Mereka tidak kesepian, tapi karena judulnya paviliun, privasi mereka tetap terjaga, Ray! Adil, kan?"
Rayhan terpaku sejenak, mencerna ide gila namun brilian dari calon istrinya. Detik berikutnya, senyum lebar terbit di wajah tampannya. "Meer... itu jenius! Sumpah, itu adil banget buat Ibu dan Om Imam. Kita tidak perlu milih mau tinggal di rumah siapa, dan mereka bisa saling bertetangga di halaman yang sama!"
Tanpa membuang waktu, malam itu juga skenario "Paviliun Kembar" resmi mereka bawa pulang untuk dieksekusi kepada target masing-masing.
*
*
Imam baru saja menyalakan televisi untuk mengusir bayang-bayang wajah Habibah yang terus menghantui pikirannya, saat Ameera tiba-tiba merapat dan menyodorkan buku catatan kecil berisi coretan denah amatir.
"Papa, lihat deh. Ini rencana masa depan kita," ujar Ameera manis, menaruh kertas itu tepat di atas pangkuan Imam.
Imam memakai kacamata bacanya, mengernyit heran. "Apa ini, Meer? Kotak-kotak seperti gerbong kereta?" tanyanya sambil tertawa kecil.
"Itu denah rumah baru kita, Pa! Ameera dan Rayhan sudah sepakat. Rumah kita ini dan rumah Tante Bibah bakal dijual, uangnya digabung buat beli lahan luas. Kita bangun rumah utama di tengah, terus di kanan dan kiri dibuatkan paviliun khusus. Satu buat Papa, satu buat Tante Bibah!" Ameera menjelaskan dengan menggebu-gebu. "Jadi Papa tidak kesepian. Tetap punya privasi di paviliun Papa, tapi kita tetap satu halaman!"
Uhuk! Uhuk!
Imam mendadak batuk hebat hingga wajahnya memerah. Ia melepas kacamatanya dengan tangan yang seketika gemetar. Jantungnya berdegup kencang seperti dikejar waktu.
‘Satu halaman? Hidup berdampingan di tanah yang sama dengan Habibah? Hanya dipisahkan oleh sejengkal taman tengah?
Logika Imam berteriak badai. Bagaimana mungkin ia bisa bersikap biasa saja jika setiap pagi ia harus melihat Habibah menyiram bunga dari balik jendela paviliunnya? Bagaimana jika rasa cinta tak lekang waktu yang ia pendam puluhan tahun ini justru jebol karena jarak mereka yang terlalu dekat?
"Ng-ngawur kamu, Meer! Rumah ini banyak kenangan mama kamu, kenapa harus dijual?" sanggah Imam, mencoba mencari alasan rasional untuk menutupi kepanikannya yang luar biasa.
"Kenangan mama bisa kita bawa dalam bentuk foto dan memori, Papa. Tapi masa depan Papa yang tidak kesepian itu lebih penting buat Ameera!" balas Ameera tegas, memeluk lengan ayahnya dengan manja namun penuh penekanan.
*
*
Di tempat lain, reaksi yang tidak kalah hebat terjadi pada Habibah. Wanita paruh baya itu nyaris menjatuhkan cangkir teh kamomil yang sedang dipegangnya saat Rayhan mengutarakan ide yang sama persis dengan Ameera.
"Apa, Ray? Membuatkan paviliun berdampingan untuk Ibu dan... dan Om Imam?" Habibah sampai terbata-bata, beruntung Rayhan tidak menyadari kepanikan ibunya.
"Iya, Bu! Ibu di paviliun kanan, Om Imam di paviliun kiri. Di tengah-tengahnya rumah Rayhan dan Ameera. Halamannya menyatu. Seru, kan?" Rayhan tersenyum lebar, membayangkan masa tua ibunya yang ramai.
Habibah merasakan seluruh darah di tubuhnya berdesir hebat. Kulit wajahnya yang tadi pucat akibat kurang tidur mendadak terasa panas. Pikiran keliarannya langsung berputar tanpa arah.
‘Satu pekarangan dengan Imam di usia senja…’
Jika rencana gila anak-anak ini terwujud, itu artinya Habibah akan melihat Imam setiap hari. Ia akan mendengar suara batuk pria itu di pagi hari, melihatnya membaca koran di teras paviliun seberang, dan mencium aroma kopi yang biasa pria itu seduh. Skenario itu terdengar seperti surga dunia yang paling ia impikan, sekaligus neraka jahanam yang siap membakar kewarasannya sebagai seorang calon besan.
"Rayhan... itu... itu berlebihan. Ibu tidak mau merepotkan keluarga Om Imam," tolak Habibah dengan suara lirih, meremas ujung bajunya kuat-kuat di bawah meja untuk menutupi gemetar tubuhnya.
"Sama sekali tidak merepotkan, Ibu. Ini namanya berbakti," potong Rayhan lembut, menggenggam tangan ibunya yang terasa sedingin es. "Ameera sedang merayu Om Imam sekarang. Kalau Om Imam setuju, Ibu juga harus setuju, ya?"
Malam itu, di kamar mereka yang terpisah, Imam dan Habibah kembali melewatkan malam tanpa bisa memejamkan mata. Anak-anak mereka berniat baik ingin mengusir kesepian di hari tua orang tua mereka. Namun, bagi Imam dan Habibah, rencana paviliun kembar itu laksana menaruh bensin di dekat bara api yang belum padam.
*
*
Suasana malam terasa semakin mencekik bagi Imam. Kamar tidurnya yang luas mendadak terasa begitu sempit dan menyesakkan. Di atas meja rias, jam digital menunjukkan pukul sebelas malam, namun gundah di hatinya justru semakin menjadi-jadi.
Kalimat Ameera tentang "Paviliun Kembar" terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.
Imam berjalan mondar-mandir di dekat jendela. Tangannya menggenggam ponsel dengan erat, ibu jarinya berulang kali membuka kontak bernama "Habibah" yang baru ia simpan tempo hari. Ada gejolak hebat yang bertarung di dalam dadanya, antara logika seorang ayah yang harus menjaga batasan, dan ego seorang pria yang merindukan belahan jiwanya.
“Kalau Om Imam setuju, Ibu juga harus setuju, ya?”
Kata-kata Rayhan yang sempat diceritakan Ameera tadi membuat Imam sadar, bahwa bola panas ini sekarang ada di tangannya. Habibah pasti sedang ketakutan di sana. Wanita itu pasti sedang kebingungan menghadapi todongan ide gila dari anak-anak mereka.
Dengan jantung yang berdebar kencang, debaran yang persis sama seperti saat ia hendak menyatakan cinta puluhan tahun lalu. Imam akhirnya memberanikan diri menekan tombol panggilan.
Tut... Tut...
Setiap nada sambung terasa seperti dentuman godam yang menghantam dada Imam. Ia hampir saja mematikan panggilan itu karena panik, sampai akhirnya di dering ketiga, panggilan itu terangkat.
"Halo, Assalamualaikum, Mas Imam?" Suara di seberang sana terdengar lirih, sedikit terengah-engah, menandakan bahwa sang pemilik suara juga sedang tidak dalam kondisi tenang.
Imam menelan ludah, mencoba membasahi tenggorokannya yang mendadak sekering padang pasir. "Waalaikumussalam. Bah... kamu belum tidur?"
"Belum, Mas. Ada apa malam-malam telepon?" tanya Habibah. Di seberang sana, Habibah sebenarnya sedang duduk meremas dadanya sendiri, terkejut setengah mati mendapati nama Imam berkedip di layar ponselnya malam-malam begini.
Imam menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa wibawanya. "Bah... Rayhan sudah bicara soal... rencana rumah baru?"
Hening sejenak. Hanya terdengar suara helaan napas berat dari ujung telepon.
"Sudah, Mas," jawab Habibah pelan, suaranya sarat akan beban yang teramat berat. "Rayhan menceritakannya tadi setelah makan malam. Aku... aku sampai lemas mendengarnya."
Imam bersandar pada tembok dingin kamarnya, memijat pelipisnya yang mulai berdenyut. "Ameera juga mendesakku, Bah. Dia bahkan sudah membuat denah amatir di kertas. Dia bilang kita akan tinggal di pekarangan yang sama, hanya dipisahkan oleh rumah tengah."
Imam menjeda kalimatnya. Jantungnya berdegup semakin liar hingga ia yakin Habibah bisa mendengarnya dari balik speaker telepon. Dengan suara yang merendah, sarat akan ketidakpastian dan rasa yang tak lekang oleh waktu, Imam akhirnya melontarkan pertanyaan yang sejak tadi menyiksanya.
"Bah... bagaimana ini? Apa kamu... apa kamu setuju dengan ide anak-anak kita?"
Di rumahnya, Habibah langsung membekap mulutnya sendiri. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya luruh juga. Pertanyaan Imam terdengar begitu ambigu di telinganya. Apakah Imam bertanya karena takut, atau justru karena pria itu... mengharapkan sebuah peluang?
"Mas..." bisik Habibah dengan suara gemetar, menyeka air matanya dengan ujung daster yang ia kenakan. "Bagaimana bisa aku setuju? Tinggal satu halaman denganmu? Melihatmu setiap hari sebagai calon besanku, sementara aku... sementara kita..." Habibah tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Bibirnya kelu untuk mengakui bahwa ia takut imannya runtuh jika harus sedekat itu dengan Imam.
Imam memejamkan mata rapat-rapat, ikut merasakan kepedihan yang sama dari nada bicara wanita itu.
"Aku tahu, Bah. Ini gila," ucap Imam parau. "Tapi kalau kita berdua menolak tanpa alasan yang masuk akal, anak-anak akan curiga. Apalagi Ameera, dia anak yang sangat peka. Aku takut... aku takut rahasia kita justru terbongkar karena penolakan kita yang terlalu keras."
"Lalu kita harus bagaimana, Mas?" tangis Habibah akhirnya pecah secara samar. "Kalau kita terima, itu sama saja kita menaruh bom waktu di dalam rumah anak-anak kita sendiri. Cepat atau lambat, mereka akan tahu kalau orang tua mereka... pernah saling mencintai setengah mati." lirih Habibah.
“Bukan hanya pernah, Bah. Tapi sampai saat ini.” balas Imam hanya berani dalam hati.
****