NovelToon NovelToon
Tak Berniat Mengkhianati Sahabatku

Tak Berniat Mengkhianati Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Obsesi / Pengkhianatan
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Lautan Ungu_07

Judul sebelumnya: Obsesi Sahabat Suami.

Regan Han Sebastian dikirim Dady-nya dari Singapura ke Indonesia untuk belajar bisnis di bawah bimbingan Alvero Halim Winata, sahabat sekaligus orang yang paling ia hormati.

Semua berjalan sesuai rencana... hingga Alvero mulai selalu melibatkan kehadiran Regan dalam rumah tangganya.

Kehangatan sebuah keluarga. Tawa seorang anak kecil. Dan perhatian sederhana dari seorang wanita bernama Veyra Alettha, istri dari Alvero.

Regan berusaha menjaga jarak, saat ada perasaan yang tak bisa ia jelaskan kepada siapapun. Ia bahkan memilih kembali ke Singapura demi melupakan semuanya.

Namun saat kembali ke Indonesia, yang pulang bukan lagi Regan yang sama.

Ia membawa perasaan yang tak pernah ia inginkan.

Perasaan yang perlahan berubah menjadi pengkhianatan terhadap satu-satunya sahabat yang paling ia hormati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lautan Ungu_07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33: Target Pertama

Akhir-akhir ini, setiap jam kerja selesai. Selalu ada dua orang yang setia menunggu Regan di dekat mobilnya.

Regan melangkah ke area parkiran kantor. Begitu matanya melihat Ahsan dan Jenar, langkahnya seketika berhenti. Ia mendesis kecil. "Dua anomali itu lagi?" Katanya pelan.

"Regan, ayok traktir aku makan malam lagi," Jenar melambaikan tangan sambil nyengir lebar.

Regan terkekeh. "Aku tidak ada urusan denganmu. Jadi atas dasar apa aku harus mentraktirmu juga?"

Ahsan sontak tertawa. "Lagian, mau aja ngikutin Regan. Kalau aku sih ogah, cuma... karena dia punya hutang traktir makan malam aja."

"Atas dasar kamu baik." Jenar menaik-turunkan alisnya.

Regan menghela napas kecil. "Baiklah, karena aku emang orang baik. Jadi aku traktir kamu juga." Katanya sambil membuka pintu mobil.

Jenar tertawa girang, ia menyusul masuk di kursi belakang.

Mobil melaju keluar dari kawasan perusahaan. Jalanan sedikit macet. Tatapan Regan fokus ke jalanan.

"Kita makan malam di mana?" Tanya Regan tanpa menoleh.

"Terserah, saya ikut kamu saja," jawab Ahsan yang duduk di sebelahnya.

"Restoran Alastor, gimana?" Sahut Jenar dari kursi belakang.

Regan mendecak. Ia menatap Jenar melalui kaca di depannya. Restoran berada di hotel berbintang. Regan bukan tidak mampu untuk menanggung bayaran makan malam dua orang itu.

Hanya saja, Regan malas jika harus datang ke sana. Itu bukan tempat yang cocok untuk Regan. Di sana, hanya ada musik klasik dan obrolan-obrolan seputar dunia bisnis. Dan itu, terlalu formal.

"Kita cari kafe aja, yang realistis sama usiaku yang masih muda."

Jenar mendengus. "Bukannya orang kaya lebih suka makan di tempat seperti itu."

"Tapi aku kurang suka," jawab Regan cepat.

Jenar bersandar sambil melingkarkan tangan depan dada. "Kurang suka atau kurang dana? Aku curiga kamu mendapat hukuman potongan uang jajan juga."

Mendengar kata kurang dana, itu seolah menjatuhkan sebagian harga diri Regan. Ia akhirnya mengangguk setuju. "Baiklah, aku rasa kamu memerasku lagi. Dan mengambil kesempatan untuk makan-makanan mahal malam ini."

Mata Jenar membulat, mulutnya ternganga. Jawaban dari Regan seperti sarkasme untuk dirinya. "Aku tidak sedang memeramu. Aku hanya memberi saran."

"Berisik!" Regan melempar tatapan tajam melalui kaca depan sambil menyeringai.

Ahsan hanya menghela napas. Ia merasa mereka terlalu ribet hanya untuk memilih makan malam. Padahal apa salahnya makan di kaki lima.

Setelah beberapa menit, Regan membelokkan mobil ke parkiran restoran. Beberapa mobil mewah berjajar rapi di sana.

Mereka segera turun, melangkah ke dalam restoran. Lampu gantung kristal menyala terang. Cahanya memantul di lantai marmer.

Benar saja, suasananya terasa begitu kaku bagi Regan. Hanya ada alunan piano klasik dan samar suara obrolan. Jelas jauh berbeda dengan kafe atau tempat makan lain yang di penuhi anak-anak muda dan musik-musik rame atau musik viral.

Mereka memilih meja kosong nomor dua tujuh. Sambil menunggu pesanan, ketiganya sama-sama sibuk dengan ponselnya.

Tapi tak lama pelayan datang, membuat mereka menyimpan ponselnya masing-masing.

"Silahkan," kata pelayan sambil menata pesanan mereka.

Di hadapan Jenar ada girilled salmon steak. Dan di hadapan Ahsan, ada chicken steak mushroom sauce. Sementara di hadapan Regan hanya Australian wagyu steak.

"Seleramu gak main-main Jenar," kata Ahsan sebelum meneguk air mineral.

Jenar hanya menggeram sambil menaikkan alisnya.

Sekarang, mereka fokus pada makanannya. Tapin tengah acara makannya. Ahsan menatap Regan yang sedang memotong steak. Dan tiba-tiba mulutnya melontarkan pertanyaan yang tidak ia pikirkan terlebih dulu. "Regan, kamu kapan menikah?"

Regan langsung menatapnya, ia berhenti mengunyah. "Memangnya kenapa? Kamu saja yang menikah lebih dulu, cerai, kan?"

Ahsan menelan makanannya. Benar saja, jawaban Regan pasti membuatnya menyesal setelah bertanya.

"Nah itu," Ahsan menunjuk Regan dengan garpu. "Kalaupun cerai, seenggaknya jadi duda masih muda."

Regan terkekeh. "Aku tidak ingin buru-buru menikah. Diriku masih belum stabil. Kalian..." Regan nunjuk Ahsan dan Jenar bergantian. "Kalian korban perceraian, kan? Jadi... jangan menanyakan hal itu lagi," lanjut Regan.

Jenar menatapnya tajam, lalu mendecak kesal. "Ganti obrolan, malah bahas pernikahan."

Jenar menegakkan duduknya, tatapannya mengintari sekeliling restauran. Sampai akhirnya, pandangan Jenar terhenti pada seseorang yang ia kenal.

Pria paruh baya, mengenakan pakaian formal. Dan sedang berbincang dengan dua rekannya.

"San, San... ada Pak Predy." Jenar menepuk tangan Ahsan.

"Mana?" Tanya Ahsan sambil celingukan.

"Itu," tatapan Jenar mengarah ke meja belakang Ahsan. Jaraknya terhalang sekitar lima meja.

"Oh, mungkin lagi meeting," jawab Ahsan singkat.

Regan ikut menatap ke arah meja itu, ia menyernyitian alis. "Siapa? Kalian kenal?"

Jenar mengangguk cepat. "Aku kenal, dia temennya orang yang kemarin aku persentasi."

"Lalu?" Tanya Regan.

"Pak Al belum bisa ajak dia kerja sama." Jawab Jenar. Lalu senyumnya melebar, sambil mendekatkan wajahnya ke Regan. "Kamu kan lagi kena tantangan sama Pak Al. Lumayan tuh, bisa jadi target kamu," lanjut Jenar sambil berbisik.

Ahsan mengangguk setuju, "ahh, iya. Kamu coba, siapa tahu bisa."

Regan tidak langsung menjawab. Pandangannya lurus ke meja, di mana tiga orang paruh baya sedang berbincang.

Beberapa detik berlalu. Regan akhirnya mengangguk setuju. "Oke, akan aku coba." Katanya.

"Good," Jenar mengacungkan jari jempolnya.

Regan tertawa kecil. "Sekali-kali idemu memang berguna." Regan menatap Jenar, sebelah sudut bibirnya masih terangkat.

Setelah menunggu beberapa saat, kedua orang yang sedang berbicara dengan Predy akhirnya pergi.

Dan sekarang, Regan bangun dari duduknya. "Aku datangi dia dulu," katanya sambil pergi.

Jenar dan Ahsan menatap Regan yang menjauh, lalu saling melempar pandangan. Awalnya, mereka pikir Regan tidak akan benar-benar mendatangi Predy.

Regan berhenti tepat di hadapan pria paruh baya itu. Ia merapikan jasnya sebentar, lalu berdehem kecil. "Selamat malam, Pak."

Kepala Predy mendongak dari cangkir kopinya. Tatapannya singkat mengamati Regan dari ujung kepala hingga ujung kaki.

"Malam," jawabnya datar.

"Saya Regan." Regan mengulurkan tangan.

Predy membalas uluran itu singkat. "Saya Predy."

"Maaf mengganggu waktu makan malamnya, Pak Predy. Barusan saya sedikit mendengar obrolan Bapak dengan rekannya. Dan itu menarik." Dustanya. Padahal, Regan sebenarnya tidak mendengar sedikit pun obrolan mereka. Kalimat itu hanya umpan agar percakapan bisa dimulai.

"Tidak apa," jawab Predy singkat. "Ada yang bisa saya bantu?"

Regan tersenyum tipis. "Justru saya yang berharap Bapak bersedia membantu saya."

Alis Predy terangkat. "Dengan cara?"

"Saya ingin memperkenalkan perusahaan tempat saya bekerja."

Predy tersenyum kecil, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Anak muda," katanya pelan. "Kamu tahu berapa banyak orang yang menghampiri saya dengan tujuan yang sama?"

"Saya yakin banyak," jawab Regan.

"Lalu, kenapa saya harus mendengarkan kamu?"

Regan diam seperkian detik, bukannya gugup, justru ia tersenyum.

"Karena kalau tidak mencoba malam ini, besok saya tidak punya kesempatan."

Jawaban itu membuat Predy menghembuskan napas pelan, nyaris seperti kekehan.

"Silahkan duduk," katanya.

Kepala Regan menunduk sedikit. "Terima kasih," jawabnya sambil menarik pelan kursi.

"Kamu percaya diri."

"Terpaksa, Pak." Jawab Regan, ia nyengir kecil.

"Kenapa terpaksa?"

"Karena saya sedang diberi tantangan oleh atasan saya."

Predy mengangguk kecil. Tatapannya mulai berubah. Tidak lagi sekaku tadi. "Baik."

Regan menegakkan duduknya. "Saya tidak meminta waktu Bapak malam ini."

"Lalu?"

"Kalau Bapak berkenan... besok pagi saya ingin menunjukkan proposal perusahaan kami." Suara Regan terdengar tenang.

Predy melirik jam tangannya sebentar. "Jam sembilan."

Regan langsung mengangguk.

"Setengah jam."

"Baik, Pak."

"Kalau dalam tiga puluh menit kamu bisa membuat saya tertarik..." Predy menutup buku menu di depannya. "... kita lanjut."

Regan mengangguk, senyumnya jauh lebih lebar dari sebelumnya. Seolah ini adalah keberuntungan yang mendatanginya malam itu.

"Kalau begitu, saya undur diri. Terima kasih atas waktunya." Regan mengangguk.

"Baik, silahkan," jawab Predy.

Regan berdiri, lalu kembali ke mejanya. Di sana, Ahsan dan Jenar menunggu informasi dari Regan.

"Besok aku ketemu sama dia. Jadi, sekarang ayok pulang." Ajak Regan sambil berjalan lebih dulu menuju kasir.

1
Addb_Rh
Veyra... ingatlah trs suamimu.. jan ingat pria lain.. ya...? 🥲
Lenny Utami
go regan🤭
Lenny Utami
holang kaya ini mahj
Addb_Rh
Ini si, gmn pinternya ngendaliin perasaan aja. Btw, congrats Gan. akhirnya bisa ya ngeyakinin kerja sama sama mereka
Agatha soul
tanggung jawab lhoo
Its me
sikap veyra bisa mancing Regan nih
hati-hati lidah tak bertulang vey
mama Al
untung Alvero ga marah.
kebanyakan suami kan ga suka istrinya dekat dengan pria lain walaupun sahabatnya sendiri
arsyila putri
regan Regan kok bisa sih
Laila Sarifah
Kamu udah mulai ada rasa ya Gan sama Veyra?
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
ooooo.. regan memang begitu toh. mudah akrab ke siapa aja
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
di sini aku mulai curiga regan suka sama veyra
SANG
Lanjut👍👍👍💪👍👍👍👍💪💪💪💪👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
SANG
Like iklan plus komen 💪👍
SANG
Semangat ya thor 💪👍
SANG
Apaan tuh
SANG
Tuh, disana
SANG
Aku kasih suka ya Thor 💪👍
SANG
Habis dari mana sih
Pengabdi Uji
Duhh ituu bukann lakik muu 😭😭 Tapi ya netizen gimana lg ya? yaudh lah ya smg km bsa istikomen ttp jd istri yg stia y vey🙄
Pengabdi Uji
Ini siasat Regan buat dketin Veyra apa Al 🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!