Clarissa Mahendra adalah ratu kampus yang ditakuti cantik, angkuh, dan tak segan menghancurkan siapa pun yang mendekati cowok pujaannya. Namun, di balik riasan tebal dan gaya hidup mewahnya, Clarissa menyimpan rahasia mematikan: Vonis Leukemia Stadium 3.
Di tengah perjuangan hidup dan mati, ia justru terasing di rumahnya sendiri. Ayahnya sosok yang dingin, dan kakak kembarnya, Bastian, membencinya karena menganggap Clarissa penyebab kematian ibu mereka saat melahirkan.
Kini, Clarissa sengaja memakai topeng "jahat" agar dunia membencinya. Ia ingin pergi dalam sunyi, tanpa ada yang merasa kehilangan. Namun, mampukah ia terus bersandiwara saat waktu yang ia miliki perlahan habis sebelum malam menjemputnya selamanya?
"Satu rahasia, seribu kebencian, dan satu takdir yang tak bisa dihindari."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TITIK NADIR DI NEGERI SEBERANG
Dinding putih Rumah Sakit Mount Elizabeth seolah menjadi saksi bisu betapa rapuhnya seorang Clarissa Mahendra. Seminggu setelah kedatangannya di Singapura, kondisi fisiknya menurun tajam akibat protokol pengobatan baru yang jauh lebih agresif. Tubuhnya menolak beberapa jenis obat, menyisakan mual yang tak kunjung henti dan rasa linu yang menusuk hingga ke sumsum tulang.
Clarissa terbaring lemah, jilbab instannya sedikit miring karena ia terlalu lemas untuk sekadar membetulkan posisinya. Di tangannya, selang infus dan kabel monitor jantung melilit seperti rantai yang mengikat kebebasannya.
"Pa... sakit banget," rintih Clarissa saat Pak Gunawan mengusap keningnya yang panas.
Pak Gunawan hanya bisa terdiam dengan mata berkaca-kaca. Harta bendanya yang berlimpah tidak bisa membeli satu detik pun rasa nyaman untuk putrinya. "Sabar, Sayang. Ini prosesnya. Kamu harus kuat demi Papa, demi Bastian, dan demi Adrian."
*Kerinduan yang Menyiksa*
Di tengah rasa sakit yang mendera, satu-satunya hal yang membuat Clarissa tetap sadar adalah ponsel yang diletakkan tepat di samping bantalnya. Ia merindukan suara Adrian. Ia merindukan panggilan "Sayang" yang diucapkan dengan nada rendah yang menenangkan itu.
Namun, Clarissa sengaja tidak menghubungi Adrian selama dua hari terakhir. Ia tidak ingin Adrian melihat wajahnya yang kuyu, matanya yang cekung, dan bibirnya yang pecah-pecah. Ia ingin Adrian tetap mengingatnya sebagai Clarissa yang cantik dengan jilbab cokelat susunya di bandara.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah permintaan _video call_ masuk. Itu dari Adrian.
Clarissa ragu sejenak, namun ia akhirnya menekan tombol hijau. Wajah Adrian muncul di layar, ia tampak baru saja selesai latihan basket; keringat masih menetes di pelipisnya.
"Clarissa? Kamu kenapa nggak angkat telepon aku kemarin-kemarin?" tanya Adrian, wajahnya langsung berubah cemas saat melihat kondisi Clarissa yang pucat pasi di layar.
"Maaf ya, Adrian... aku cuma... agak lemas," jawab Clarissa, suaranya nyaris hilang.
Adrian terdiam, ia mendekatkan ponselnya ke wajahnya. "Kamu lagi ngerasa sakit banget ya? Kenapa nggak bilang sama aku? Kamu pikir dengan diem begini, aku bakal tenang di sini?"
"Aku nggak mau kamu lihat aku kayak gini, Dri. Aku jelek banget sekarang."
"Dengerin aku, Clarissa Mahendra," suara Adrian mendalam, penuh penekanan. "Di mata aku, nggak ada kata jelek buat kamu. Mau kamu lagi pucat, mau kamu lagi nangis, kamu tetep Clarissa yang aku sayang. Jangan pernah tutup diri dari aku hanya karena kamu ngerasa nggak sempurna. Aku butuh tahu kondisi kamu supaya aku bisa doain bagian tubuh mana yang harus aku sebut dalam sujud aku."
Clarissa menangis sesenggukan mendengar itu. Panggilan 'Sayang' dan kejujuran Adrian adalah oksigen tambahan baginya.
Bastian masuk ke kamar membawa hasil laboratorium terbaru. Ia melihat adiknya sedang menangis sambil memegang ponsel. Bastian segera mengambil ponsel itu dan melihat Adrian di layar.
"Dri, gue tutup dulu ya. Dia harus istirahat buat tindakan biopsi sore ini," ujar Bastian tegas namun tidak kasar.
Setelah mematikan telepon, Bastian duduk di sisi ranjang. "Clar, gue sudah bicara sama dokter. Gue bakal tetap di sini bareng lo. Papa harus balik ke Jakarta lusa buat urusan kantor, tapi gue nggak akan tinggalin lo sedetik pun."
"Bas, lo gimana sama kuliah lo?" tanya Clarissa cemas.
"Gampang. Gue bisa kerjain tugas dari sini. Lagian, adek gue cuma satu. Gelar sarjana bisa nunggu, tapi waktu gue sama lo nggak bisa diganti pakai apa pun," jawab Bastian sambil mencubit pelan hidung adiknya.
Sore harinya, seorang perawat masuk membawakan sebuah kiriman paket dari Jakarta. Di dalamnya terdapat sebuah buku doa saku dan selembar surat dengan tulisan tangan yang sangat rapi. Itu dari Maya.
"Kak Clarissa, aku tahu Kakak sedang berjuang di sana. Aku setiap malam ke masjid kampus, berdoa di tempat yang sama saat Kakak pertama kali ikut kajian bareng Kak Adrian. Semua orang di sini merindukan Kakak. Bahkan Sherly... dia sempat bertanya kabarmu padaku kemarin. Dia tampak menyesal. Kakak harus pulang dengan senyuman ya."
Clarissa mendekap surat itu. Ia tersenyum tipis. Ternyata, perubahan yang ia lakukan telah meninggalkan jejak kebaikan yang jauh lebih luas dari yang ia bayangkan. Rasa sakit di tubuhnya seolah sedikit mereda karena rasa hangat yang memenuhi hatinya.
Malam harinya, saat Clarissa mulai memejamkan mata karena efek obat penenang, ia merasa seseorang menggenggam tangannya. Dalam setengah sadarnya, ia mendengar suara yang sangat familiar.
"Tahan ya, Sayang. Aku bakal nyusul ke sana akhir minggu ini. Aku sudah dapet izin dari pelatih basket buat absen pertandingan."
Clarissa mengira itu adalah mimpi. Ia tersenyum dalam tidurnya, memegang erat tasbih biru yang melingkar di tangannya. Ia tidak tahu bahwa Adrian benar-benar sedang mengurus visanya di Jakarta, bersiap untuk terbang menyeberangi lautan demi memberikan pelukan kekuatan yang paling dibutuhkan oleh Clarissa.
Bagi Clarissa, leukemia mungkin sedang mencoba menghancurkan tubuhnya, namun cinta dari Adrian, Bastian, dan Pak Gunawan telah membangun sebuah benteng yang tak kasat mata di sekeliling jiwanya.